Soebiyantoro, Enco Gamelan Performance

Catatan Pengamatan Gelar Musik Periodik
Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu, 2 Juli 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Pentas musik periodik di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) kali ini tergolong istimewa, karena kebetulan ada rombongan grup kesenian dari Kalimantan Timur. Tak pelak pementasan bertambah semarak karena sebelum pertunjukan diawali dengan sajian musik Campursari dari Kediri. Sementara yang menjadi sajian utama acara rutin ini adalah Soebiyantoro dengan grupnya yang bernama Enco Gamelan Performance dari Sidoarjo. Baca selebihnya »

Kritik Sosial dalam Ludruk

Catatan Pengamatan Pementasan Bandit Blandong Wiroguno, Ludruk Wahyu Budaya Lamongan di Taman Budaya Jawa Timur, 28 Mei 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Mangan sepur lalap truck gandhengan
Anak pitik dipangan wulung
Nek wong ndhuwur-ndhuwur seneng gegeran
Dadi wong cilik tambah bingung

Itulah kidungan pertama yang dilontarkan ludruk Wahyu Budaya dari Lamongan dalam pementasan di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) Sabtu malam (28/5). Sebuah kidungan yang menyentak, justru pada kesempatan pertama. Sampiran pada kidungannya saja sudah “absurd” dan isinya menyuarakan keprihatinan rakyat kecil terhadap prilaku elit negeri. Dan tawa yang kemudian pecah adalah tawa yang satir, sebuah ekspresi menertawakan (nasib) diri sendiri sebagai rakyat kecil yang tak berdaya berhadapan dengan para pembesar negara. Baca selebihnya »

Ludruk Rasa Ketoprak

Catatan Pementasan “ Asal Usul Reyog Ponorogo “ Ludruk Suro Menggolo, Ponorogo Taman Budaya Jawa Timur – 23 April 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Perbedaan mencolok antara ludruk dan ketropak adalah sajian ceritanya. Ketoprak biasa menampilkan cerita seputar keraton, para raja dan bangsawan dengan dialog bahasa Jawa Mataraman. Sedangkan ludruk lebih bernuansa kerakyatan dengan cerita seputar kehidupan sehari-hari, legenda atau cerita rakyat, dengan dialog yang egaliter. Lantas, bagaimana jadinya kalau ludruk menghadirkan cerita kerajaan dengan dialog cenderung Mataraman? Itu namanya Ludruk Rasa Ketoprak. Baca selebihnya »

Ludruk yang (tidak) Membosankan

Catatan pertunjukan: Ludruk Warna Jaya Sidoarjo, 25 Maret 2011, Taman Krida Budaya (TKB) Jatim, Kota Malang dan Ludruk RRI Surabaya, 26 Maret 2011, di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), Surabaya.

Oleh Henri Nurcahyo

Sebagai sebuah seni pertunjukan, tantangan ludruk adalah bagaimana dapat tampil sebagai tontonan yang tidak membosankan. Ludruk harus mampu memikat dan mengikat penonton sampai dengan pertunjukan berakhir. Persoalan cerita yang dibawakan memang penting, namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana membawakannya. Ludruk menghadapi tantangan stagnasi di tengah laju perkembangan zaman yang sedemikian pesat ini. Baca selebihnya »

Babad Tunggorono, Ludruk Budi Wijaya Jombang

Catatan Pengamatan Pentas Periodik
Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu 26 Februari 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Sekilas Cerita

Tersebutlah seorang lelaki bernama Subanjar yang terkenal brutal, suka berkelahi, menggoda wanita bahkan sampai memperkosa dan membunuh tanpa merasa berdosa. Keluarganya tentu saja resah, apalagi ayahnya adalah pemimpin Padepokan Tunggul Wulung yang disegani. Berdasarkan berbagai masukan, akhirnya Subanjar disarankan agar segera dinikahkan saja. Baca selebihnya »

Keluhan Klise Nasib Bahasa Jawa

OLEH HENRI NURCAHYO

Setiap kali bicara nasib bahasa Jawa, yang terdengar adalah keluhan memelas dan langsung menyalahkan generasi muda. Banyak orang Jawa sudah kehilangan Jawanya, katanya. Maka solusi yang kemudian diusulkan adalah, memasukkan (kembali) bahasa Jawa ke dalam kurikulum sekolah. Apakah memang harus itu solusinya? Baca selebihnya »

Apa Pentingnya Perusahaan Bantu Perpustakaan?

Oleh Henri Nurcahyo

Apa pentingnya membantu mengembangkan perpustakaan sebagai kewajiban sosial perusahaan? Tidak ada dasar hukum yang kuat bahwa perpustakaan layak dibantu. Kalau ada perusahaan yang memiliki kepedulian memberdayakan perpustakaan masyarakat, apakah itu karena belas kasihan atau memang ada alasan lain yang visioner? Atau, jangan-jangan ada agenda tersembunyi….. Baca selebihnya »

Berguru pada Televisi

Oleh Henri Nurcahyo

Kalau saya ditanya, acara apa yang paling saya benci di televisi: Pertama adalah Infotainment, kedua adalah sinetron cengeng. Apa boleh buat, masyarakat kita sudah menjadikan TV sebagai “guru” dalam banyak hal. Mulai dari dakwah agama, politik, kriminal, hukum, termasuk “pendidikan” kesenian. Inilah tantangan paling kontroversial abad ini. Baca selebihnya »

Belajarlah ke Candi Penataran

Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China, kata sebuah hadits. Dan sekitar abad XIV, seorang Bujangga Manik menyerukan, tuntutlah ilmu ke Penataran. Ya, Candi Penataran di Blitar itu, yang dulu dinamakan Rabut Palah. Mengapa China, mungkin bisa dijawab. Tetapi, mengapa juga Penataran? Apa sih istimewanya candi Penataran? Baca selebihnya »

Keteladanan M. Thalib Prasojo

Oleh Henri Nurcahyo

Munthalib Prasojo telah pergi untuk selama-lamanya. Lelaki yang akrab dipanggil Eyang Thalib itu meninggalkan banyak keteladanan yang dapat dikaji dan ditindaklanjuti oleh kita semua. Bapak empat anak ini meninggal dunia saat berumur 79 tahun, akibat penyakit asma yang sudah menahun. Berikut adalah sejumlah keteladanan itu. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.