Posted on 31/05/2009 by henrinurcahyo
Oleh Henri Nurcahyo, Anggota Pleno Dewan Kesenian Jawa Timur
Pertemuan Dewan Kesenian Tingkat Provinsi se-Indonesia di Malang, 21-23 Mei lalu sepakat untuk menindaklanjuti keputusan Kongres Dewan Kesenian se-Indonesia di Papua 2005 tentang pembentukan Dewan Kesenian Indonesia (DKI). Keputusan itu lahir dari perdebatan panjang para delegasi dari 17 provinsi yang hadir dalam pertemuan tersebut. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: seni | Leave a Comment »
Posted on 31/05/2009 by henrinurcahyo
Apakah bedanya Antasari dengan Pangeran Antasari? Pertanyaan seorang teman itu begitu mengusik. Antasari yang disebut pertama terkenal karena menjadi ketua KPK dan kemudian tersandung kasus „stik pendek“ golf itu. Sedangkan Antasari yang kedua adalah pahlawan nasional yang sudah dihapal anak-anak sekolah dalam pelajaran sejarah. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Kolom | Leave a Comment »
Posted on 31/05/2009 by henrinurcahyo
Joni Ramlan melukis sepeda. Bukan sepeda biasa, tapi sepeda tua yang sarat dengan kisah. Sepeda yang agak reyot, dengan tempelan stiker di sana-sini, atau cat yang mengelupas. Ada sepeda yang dilukisnya utuh, atau hanya diambil bagian-bagiannya saja. Malah ada yang tak jelas lagi sosok sepedanya. Bagaikan dimutilasi. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: seni | Leave a Comment »
Posted on 26/05/2009 by henrinurcahyo
Catatan Diskusi Terbatas Budaya Panji
(maaf ini arsip lama, lupa gak disimpan di blog ini, meski sudah pernah saya sebarkan di facebook)
Jika selama ini sering timbul kekhawatiran dampak negatif masuknya budaya asing, maka sesungguhnya negeri ini pernah mengekspor budaya. Hal ini terbukti dengan penyebaran cerita Panji yang asli dari Jawa Timur, ternyata beredar luas di berbagai negara Asia Tenggara. Karena itu diperlukan langkah Konservasi Budaya Panji agar tidak terjadi klaim oleh negara lain. Konservasi Budaya Panji juga mendesak dilakukan karena cerita Panji bukan sekadar karya sastra atau kesenian belaka, namun memiliki relevansi dengan birokrasi pemerintahan, militer, politik, sosial, ekonomi, lingkungan hidup, religi dan budaya. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Budaya | Leave a Comment »
Posted on 04/03/2009 by henrinurcahyo
Kebesaran Majapahit sudah tak terbantahkan. Kejayaannya pernah merebak luas hingga mancanegara. Sumpah Palapa yang dikumandangkan Patih Gadjah Mada seolah masih terngiang hingga kini. Dan sisa-sisa peninggalan kerajaan besar itu, menjadi satu-satunya situs kota purbakala yang sekarang terhampar di kawasan Trowulan. Maka membangkitkan kebesaran Majapahit seharusnya menjadi inspirasi langkah membangun Mojokerto. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »
Posted on 04/03/2009 by henrinurcahyo
Rencana membangun gedung Pusat Informasi Majapahit (PIM) ternyata menggegerkan. Proses pembangunannya dianggap merusak tatanan, karena dibangun persis di atas situs bersejarah, dan sekaligus merusaknya. Maka berbagai pihak saling lempar kesalahan, saling tuding. Bahkan masyarakat yang tahu apa-apa juga kena tudingan kesalahan. Mengapa bisa begitu? Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Budaya | 2 Komentar »
Posted on 04/03/2009 by henrinurcahyo
Permainan melalui sarana internet (game online) sudah mewabah di negeri ini. Jutaan member, terutama anak-anak muda, menggandrunginya. Asal tahu saja, seratus proses produser game online itu ternyata dari mancanegara, terutama Korea Selatan dan Jepang. Pertanyaannya, apakah ini bukan penjajahan budaya? Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Kolom | Leave a Comment »
Posted on 04/03/2009 by henrinurcahyo
Jika ada yang bertanya, bagaimanakah potensi seni rupa Mojokerto? Maka para perupa Mojokerto yang akan menjawabnya. Bukan dengan kata-kata, melainkan langsung dengan perbuatan nyata. Hal ini akan langsung menepis anggapan bahwa perupa Mojokerto adem ayem. Tak bakal ada anggapan bahwa potensi perupa Mojokerto disangsikan keberadaannya. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: seni | Leave a Comment »
Posted on 10/02/2009 by henrinurcahyo
Apakah perlunya kesenian di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga sekarang ini? Apakah dengan kesenian lantas membuat perut menjadi kenyang dan menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Bisakah orang berkesenian ketika perut terasa lapar dan melilit-lilit minta makan? Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Kolom, seni | 1 Komentar »
Posted on 04/02/2009 by henrinurcahyo
Jangan coba-coba telat bayar rekening, karena sanksi langsung berlaku. Telat bayar pajak, bayar listrik, telepon, dan semua bentuk pembayaran atas pelayanan publik, semua harus ditaati tanpa reserve. Tetapi, apa yang terjadi kalau aliran listrik mati? Air PDAM tak mengalir? Telepon tidak ada sambungan? Apakah pemerintah memang hanya bisa menghukum? Sementara rakyat harus dikalahkan? Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Kolom | Leave a Comment »