Mencari Sosok Pahlawan Masa Kini

Jika menyebut kata pahlawan, yang terbayangkan adalah sosok pejuang revolusi berpakaian tentara atau “kostum” gerilya, sambil tangannya menggenggam senjata atau bambu runcing. Seperti itulah sosok pahlawan yang tergambarkan pada berbagai monumen di banyak kota, termasuk di Surabaya. Tapi ada yang menarik, di Jakarta ada monumen yang disebut Patung Pahlawan namun menggambarkan sepasang petani, laki-laki dan perempuan. Karena itulah orang lebih mengenal patung di jalur hijau Prapatan Menteng Jakarta itu sebagai Patung Pak Tani.

Mengapa monumen pahlawan itu tak melukiskan seorang jenderal Indonesia, tak menggambarkan seorang pemimpin yang sedang berpidato, dan juga tak melukiskan apa yang dinamakan “orang besar Indonesia” yang memimpin perjuangan negara ini?
Presiden Soekarno, ketika meresmikan patung itu menjawab sederet pertanyaan yang diajukannya sendiri. “Di dalam ciptaan saya Saudara-saudara, monumen ini harus melukiskan rakyat jelata, rakyat tani yang biasa, wanita tani yang biasa, rakyat buruh yang biasa, wanita buruh yang biasa,” ujar Bung Karno waktu itu.

Jika ditengok dari konteks waktunya, 24 Juni 1964, bisa dipahami mengapa sosok tani (dan buruh) dimunculkan sebagai pahlawan. Profil buruh dan tani itulah yang menjadi simbol perjuangan masa itu, sehingga dimanfaatkan sedemikian rupa oleh pihak-pihak tertentu, dan menjadi catatan berdarah dalam sejarah Indonesia.

Bersikap Bijak
Setelah puluhan tahun patung itu berdiri, barangkali ada baiknya merenungkan kembali pidato Bung Karno waktu itu dengan kepala dingin, bersikap bijak dan hanya mengambil hikmah positifnya. Dikatakan, “revolusi Indonesia adalah revolusi rakyat dan revolusi Indonesia tak bisa berhasil jikalau rakyat tak menjalankan revolusi itu”. Ucapan itu sejalan dengan pidato Mas Isman ketika dielu-elukan rakyat sebagai pahlawan, namun pendiri Kosgoro itu malah menolaknya. “Kami adalah pembunuh, rakyatlah pahlawan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Memberikan tempat pada rakyat (kecil) sebagai pahlawan adalah sikap bijak yang tak gampang dengan rela dilakukan orang pada masa sekarang. Dibutuhkan sikap rendah hati dari para pejabat, figur publik dan para pemimpin organisasi, mereka tak ada artinya apa-apa tanpa peran serta rakyat. Figur kepahlawanan memang tak lepas dari ketokohan dan popularitas, namun sesungguhnya banyak pahlawan yang tak dikenal namanya dan tak punya niat untuk menjadi populer, bahkan tanpa pamrih apa pun.

Yang diperlukan sekarang, bagaimana memberikan iklim yang kondusif agar makin banyak lahir para pahlawan yang sesungguhnya, yang berbuat konkret untuk kepentingan orang banyak. Kepahlawanan masa kini tampaknya harus ditemukan sosoknya, tanpa harus menunggu anak cucu menyebut pahlawan terhadap apa yang diperbuat sekarang. Diperlukan penghargaan yang setimpal kepada mereka yang telah dengan jiwa besar berbuat untuk kepentingan orang banyak dan perbaikan lingkungan hidup. Ambil contoh hadiah Kalpataru yang diberikan tiap tahun. Tanpa disadari, sekarang terasa makin langka menemukan orang yang layak menerima Kalpataru. Yang terjadi malah para pejabat beramai-ramai melakukan mobilisasi untuk merebut Piala Adipura yang justru lebih bermuatan politis ketimbang Kalpataru yang partisipatif.

Di tengah iklim budaya yang cenderung hedonis sekarang, memang dibutuhkan pemberian penghargaan semacam Kalpataru, Upakarti, Pemuda Pelopor, Satyalencana Pembangunan yang selama ini dilakukan pemerintah. Tak menutup mata, pihak swasta juga telah melakukan pemberian penghargaan seperti Yap Thiam Him Award, Adam Malik Award, Ashoka Fellowship, Piala Chairil Anwar, dan sebagainya. Namun yang tak boleh dilupakan, banyak juga pahlawan yang tanpa nama dan tanpa tanda jasa seperti guru (terutama yang bertugas di daerah terpencil), para pekerja sosial, para pekerja LSM dan sukarelawan Palang Merah. Meski harus dicatat juga, ada sejumlah penghargaan yang dengan sengaja direkayasa untuk kepentingan politik dan bisnis.

Jika makna pahlawan diartikan sebagai tokoh atau hero dengan nama besar, maka harus diakui, negeri ini sedang dilanda krisis kepahlawanan. Amat sulit menemukan tokoh yang layak dijadikan panutan, layak diteladani dan diamini tiap kata-katanya, tokoh yang mampu berpikir besar dengan langkah-langkah besar demi bangsa dan negara.
Pada saat seperti itu, mereka lantas menangkap begitu saja tokoh yang telah lama meninggal, dengan mengangkat sisi positifnya saja semata-mata demi kepentingan simbolisasi dan pemitosan. Alhasil, makna pahlawan akhirnya bisa dipahami dalam dua pengertian. Pertama, sosok pejuang, motivator, pemimpin, dan tokoh masyarakat yang betul-betul berbuat untuk kepentingan orang banyak dan lingkungan.

Kedua, pahlawan adalah sebutan untuk “profesi” tertentu yang memberikan banyak kontribusi untuk kepentingan orang banyak, namun para pelakunya belum mendapatkan penghargaan setimpal, bahkan nyaris dilupakan serta diabaikan. Contoh untuk kategori ini misalnya petani. Para petani itu dengan tekun turun-temurun dan terus-menerus menanam padi, menyediakan pangan bagi orang banyak, tanpa mereka sadari betapa vital peranannya. Para petani tak pernah bosan menjadi petani, meski sawahnya sering terserang hama, meski mereka harus tercekik harga pupuk, harus menelan pil pahit penggunaan pestisida dan permainan para tengkulak. Semua orang butuh beras sebagai makanan utama, namun petani tak menjadi kaya karena padi, karena beras adalah sebuah komoditas politik, bukan semata-mata komoditas pertanian.

Lantas, siapakah yang dengan rela hati mau terjun ke desa untuk membela petani dari libatan gurita kehidupannya? Siapakah yang mau turun ke desa tanpa harus berambisi menjadi tuan tanah, memiliki vila dan kebun pribadi yang justru hanya menjadikan orang desa sebagai penonton belaka? Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, katanya. Dalam konteks sekarang, diperlukan kemauan dan keberanian berbuat sesuatu yang berharga untuk masa depan, demi kepentingan anak cucu nanti. (*)

About these ads

4 Tanggapan

  1. memang benar…jika dikatakan sosok pahlawan maka yang terlintas dalam pikiran adlah seseorang yang berpakaian gerilya dengan memegang senjata ,,,tapi itu adalah gambaran / sosok pahlawan di jaman dulu
    lalu bagaimana sosok pahlawan di zaman sekarang pak???
    apakah para generasi muda dapat kita sebut dengan pahlawan ???

  2. jadi kalo misal nya pah lawa olah raga ????? gimana????

  3. benar kk, susah nyari sosok pahlawan itu, saya sangat mendambakn kehadiran mereka…
    dan saya akan ikut andil berjuang bila mereka ada..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: