Pabrik Semen dan Ancaman Ekologis

Diantara sekian banyak manfaatnya, keberadaan pabrik semen dapat menjadi ancaman ekologis yang serius. Mulai dari pengambilan bahan bakunya, proses produksinya, sampai dengan dampak polusi debu yang ditimbulkannya. Kalau toh hingga sekarang belum terasakan, jangan keburu gembira, sebab bahaya ekologis selalu muncul belakangan. Dan ketika kita sudah menyadari bahaya itu, maka roda jaman tak mungkin lagi diputar balik. Bencana ekologis, selalu terjadi akibat keterlambatan menyadari kesalahan.

Ancaman bahaya yang pertama, dapat ditelisik mulai dari bahannya. Karena bahan baku semen sebagian merupakan jenis bebatuan yang tergolong sumberdaya alam yang tidak terbarukan. Eksplorasi yang terus menerus dan berlebihan, pasti akan mengganggu keseimbangan lingkungan. Misalnya, berkurangnya ketersediaan air tanah.
Pelajaran ini dapat dipetik dari kasus yang terjadi di Gombong, Jawa Tengah. Bahan baku semen berupa batu gamping terletak di kawasan gua karst. Kebanyakan penduduk daerah rendah pendapatannya. Pengusaha beranggapan pembangunan pabrik bermanfaat bagi daerah karena mengurangi kemiskinan dan menaikkan pendapatan asli daerah. Tetapi, yang tidak disadari, pembangunan pabrik semen juga merusak gua karst, merusak habitat tempat bersarang burung walet dan kelelawar serta menghancurkan fungsinya sebagai “waduk alam” penyimpan air.
Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim (Kompas, 05 Juni 2003) mengingatkan pentingnya pembangunan berkelanjutan (sustainabke development) yang merajut tiga unsur yang menyatu, yakni sustainabilitas ekonomi, sustainabilitas sosial, dan sustainabilitas ekologi-lingkungan. Agar usaha ekonomi berlanjut, perlu diperhitungkan dampaknya pada keberlanjutan kehidupan masyarakat sosial yang ditopang keberlanjutan fungsi ekologi-lingkungan sebagai sistem penunjang kehidupan makhluk alam.
Unsur ekonomi mencakup ikhtiar memberantas kemiskinan, membuka lapangan kerja, mengembangkan eko-wisata. Unsur sosial memuat penanganan masalah gender dan masalah sosial akibat penutupan penambangan semen setelah bahan bakunya habis. Unsur ekologi-lingkungan meliputi konservasi karst, melestarikan volume dan kualitas air, menggunakan proses dan teknik produksi yang memperkecil pencemaran udara yang berdampak pada pemanasan global, dan mengembangkan produksi semen dengan cara-cara yang ramah lingkungan.
Dari sudut sustainabilitas ekonomi, kehadiran pabrik semen tidak otomatis mengurangi kemiskinan dan membuka lapangan kerja penduduk setempat karena rendahnya tingkat pendidikan rata-rata penduduk lokal sehingga mudah termarginalisasi oleh pendatang. Dari sudut sustainabilitas sosial, perlu dicermati, sejauh mana indeks kesempatan perempuan masuk angkatan kerja dan menduduki jabatan kunci untuk menunjukkan ada tidaknya diskriminasi perempuan. Dari sudut sustainabilitas ekologi-lingkungan, perlu adanya studi amdal yang memperhitungkan fungsi karst sebagai “waduk alam” yang amat penting karena mampu menyimpan air. Kawasan karst bagaikan busa yang menampung dan menyimpan air hujan untuk dialirkan dalam danau, air di bawah kawasan karst, dan sungai sepanjang tahun.
Persoalan berikutnya, ini juga berlaku di Gresik, ketika bahan baku semen nantinya habis, bagaimanakah usaha memelihara keberlanjutan pembangunan kawasan ini sebagai dampak penutupan penambangan bahan baku semen? Perhatikanlah bentangan lahan yang berubah menjadi danau kering, bagaikan lembah yang menganga dan dibiarkan begitu saja ketika tak ada lagi sumberdaya alam yang dapat diambil menjadi bahan baku semen. Mau diapakan jurang buatan ini?

***

Ancaman bahaya yang kedua, menyangkut teknologi. Seiring dengan proses produksi semen, dihasilkan pula gas karbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang banyak sehingga sangat mempengaruhi kondisi atmosfer dan mempercepat terjadinya pemanasan global. Misalnya: Meningkatnya suhu udara perkotaan. Menurut International Energy Authority: World Energy Outlook, produksi semen portland menyumbang tujuh persen dari keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan berbagai sumber.
Celakanya, teknologi produksi semen di Indonesia cenderung boros energi dan menimbulkan emisi CO2 yang menyumbang pada kenaikan suhu global. Karena itulah para produsen semen berbagai negara, antara lain Jepang, sudah menerapkan pola produksi blended cement yang bisa menurunkan separuh emisi CO2.
Merujuk pada besarnya sumbangan industri semen terhadap total emisi karbon dioksida, perlu segera dicarikan upaya untuk bisa menekan angka produksi gas yang mencemari lingkungan ini. Tampaknya perbaikan teknologi produksi semen tidak terlalu bisa diharapkan dapat menekan produksi karbon dioksida secara signifikan. Penggantian sejumlah bagian semen dalam proses pembuatan beton, atau secara total menggantinya dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan menjadi pilihan yang lebih menjanjikan. (Djwantoro Hardjito, Sinar Harapan, 29 Oktober 2001)
Yang ketiga, produksi semen juga menimbulkan dampak tersebarnya abu ke udara bebas sehingga mengakibatkan penyakit gangguan pernafasan. Studi kesehatan lingkungan menyebutkan, bahwa debu semen merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan penyakit sementosis. Oleh karena itu debu semen yang terdapat di udara bebas harus diturunkan kadarnya.
Abdul Rohim Tualeka (FKM Unair) dalam penelitiannya (2003) di desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Tuban, yang menyebutkan bahwa warga desa tersebut sering melihat debu di sekitar lingkungan rumah mereka. Mereka mengalami keluhan sesak saat berjalan, kelainan faal paru dan iritasi mata. Meskipun, Tualeka tidak secara tegas menyebutkan, apakah keluhan-keluhan tersebut disebabkan oleh debu pabrik semen, atau oleh debu udara dalam rumah.
Dari ketiga ancaman ekologis itulah agaknya keberadaan pabrik semen Gresik perlu mengaca diri, melakukan introspeksi dan bersikap terbuka terhadap respon semua pihak. Perlu dilakukan penelitian terus menerus secara berkala untuk mencegah meningkatnya bahaya ekologis dari ketiga sumber ancaman tersebut.
Selama ini pabrik semen Gresik memang menjadi salah satu kebanggaan Jawa Timur karena mampu memberikan pasokan dana pembangunan. Tetapi, sekali lagi, ancaman bahaya ekologis tidak boleh diabaikan begitu saja. Tidak perlu menunggu jeritan korban, atau adanya pengaduan, namun pihak Semen Gresik sendiri harus tanggap dan mengumumkan secara terbuka hasil-hasil penelitiannya selama ini. Itupun, dengan catatan, kalau memang sudah dilakukan. Atau, tidak adakah pihak lain (termasuk pemerintah) yang peduli terhadap adanya ancaman ekologis ini? (*)

6 Tanggapan

  1. Yth. Mas Henry,

    Saya tertarik dengan tulisan mas Henry tentang Pabrik semen dan ancaman ekologis nya … terutama dengan dampak yang kadang tidak pernah kita sadari ..

    bencana ekologis inilah yang terkadang tak pernah disadari oleh masyarkat, pemerintah dan bahkan semua pejabat di daerah.

    Saya semakin prihatin dengan rencana pembukaan pabrik semen HOLCIM di Tuban yang notabene dengan adanya Semen Gresik saja .. Tuban sudah di dalam bencana apalagi dengan tambahan Holcim yang konon akan mencaplok lahan sekitar 1075 ha dan total produksi 3 jutan ton per tahun.

    dengan investasi 300 juta dolar setara dengan 3 triliun .memang itu uang yang besar namun ke depan bencana besar semakin mendekat … bencan ekologi tidak hanya bencan yeng memakan korban secara langsung namun sekaligus bencana kegagalan panen yang emngancam petani karenaserangan hama karena hilangnya populasi keleawar…

    saya lagi concern bagaimana memberikan sumbang sih pada negara ini untuk menghadapi atau mencegah bencana ekologi akibat pabrik semen …

    saya kira itu saja ..
    semoga ada rekan yang bersamasama berjuang menyadarkan dampak pabrik semen dan ancaman bencana ekologisnya …

    salam ..

  2. apakah industri semen sedah ramah terhadap lingkungan ?,
    dan apakah komposisi semen dan limba semen akan meyebkan terjadinya Kerusakan lingkungan….!

  3. pabrik semen dan perusakan lingkungan…????

    kenapa kelestarian ekologi selalu bertolak belakang dengan pembangunan… jadi bingung..
    kalo pabrik semen ditutup, gimana ntar saya bisa bikin rumah ya? kalo bikin rumah dari kayu pasti dituduh mendukung illegal logging.. ya nggak?
    apa bikin rumah dari gedhek bambu aja ya… biar dapat BLT…
    emang susah hidup di negeri yang kaya tapi miskin…

    btw, denger2 HOLCIM bakal mengkonservasi bukit-bukit kapur bergua di area eksplorasinya, coz tuh gua katanya jadi sarang kelelawar…. hmmm… semoga saja…

  4. semoga makalahx cocok bg yg nyari

  5. om..
    kalo saya ingin belajar lebih mengenai karstology saya boleh minta saran gg..??
    web’a atau buku yang bagus untuk memperdalam ilmu karstology..
    thx..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: