Posted on 16/10/2007 by henrinurcahyo
Bonsai termasuk seni rupa? Apa klaim ini bukan mengada-ada? Yang jelas, dalam khasanah seni rupa, memang tidak pernah disebut-sebut bahwa bonsai termasuk di dalamnya. Tetapi kalangan penggemar bonsai, belakangan ini justru sedang giat belajar mengenai seni rupa. Mereka percaya, bahwa untuk bisa memahami bonsai yang baik harus juga memahami seni rupa.
DIarsipkan di bawah: seni | 3 Komentar »
Posted on 16/10/2007 by henrinurcahyo
Sebutlah nama Kota Batu, orang langsung teringat tempat tewasnya teroris Dr. Azahari. Padahal Munir juga berasal dari kota Batu dan dimakamkan hanya sepelemparan batu dari pusat kota Batu. Toh orang-orang lebih suka berkunjung ke bekas rumah kontrakan Azahari. Nampaknya Pemkot Batu suka, dan bakal menjadikan sebagai obyek wisata. Aneh? Itulah kenyataannya.
DIarsipkan di bawah: Kolom | Leave a Comment »
Posted on 16/10/2007 by henrinurcahyo
KARDUS adalah simbol budaya urban. Bekas bungkus air minum dalam kemasan, bungkus mi instan dan semacamnya itu, di tangan Made Wianta menjadi karya seni yang mampu membuat gagap publik seni. Hampir seluruh dinding ruang pamer Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya dibalut dengan kardus. Bukan sekadar membungkus, namun kardus-kardus itu sudah penuh dengan coretan-coretan tak [...]
DIarsipkan di bawah: seni | Leave a Comment »
Posted on 16/10/2007 by henrinurcahyo
Keberadaan pasar-pasar loak di suatu kota merupakan bagian dari budaya kota tersebut. Dari setiap jenis benda-benda yang diloakkan itulah dapat dibaca (meminjam istilah Afrizal Malna) “biografi” masing-masing benda tersebut. Karena itu, rencana pemindahan lokasi (relokasi) sejumlah pasar loak di Surabaya ke Bangkalan berarti mencabut identitas budaya kota (Surabaya) yang sebetulnya juga merupakan asset wisata potensial. [...]
DIarsipkan di bawah: Kolom | 1 Komentar »
Posted on 16/10/2007 by henrinurcahyo
Kabupaten Sidoarjo yang mengklaim sebagai Kota Festival, agaknya harus berpikir ulang untuk mengganti predikat tersebut. Gara-gara ulah Lapindo, maka ratusan hektar lahan di Porong menjadi “Kuala Lumpur”. Bencana itu sudah berlangsung satu tahun lebih beberapa bulan dan entah kapan dapat berhenti. Nama Porong (juga Sidoarjo) menjadi lebih terkenal di seluruh dunia gara-gara [...]
DIarsipkan di bawah: Kolom | 1 Komentar »
Posted on 16/10/2007 by henrinurcahyo
Lalulintas Surabaya macet, itu biasa, juga kota besar lainnya, terutama Jakarta. Banyak alternatif dilakukan untuk mengatasinya. Mulai dari pembuatan jalur satu arah, three in one (sementara ini hanya di Jakarta), jalan tol, jalan layang, by pass, lajur kiri untuk MPU dan roda dua, serta sekian banyak rambu dan marka pengatur arus lalulintas. Toh masih [...]
DIarsipkan di bawah: Kolom | 2 Komentar »
Posted on 08/10/2007 by henrinurcahyo
PADA suatu ketika, seorang Parmin RAS menggelar pertunjukan Metamorfose Daun Batu untuk mengenang kepergian Bambang Ginting. Mengapa Ginting harus dikenang? Bukankah sosok lelaki itu penuh dengan “kasus” yang membuat banyak orang sakit hati? Barangkali, karena dia sudah meninggal dunia, jasa dan kenangan baiklah yang memang seharusnya dikedepankan. Dan seorang Bambang Ginting, harus diakui, pernah menorehkan [...]
DIarsipkan di bawah: seni | 4 Komentar »
Posted on 08/10/2007 by henrinurcahyo
SEKIAN tahun yang lalu, ada pelukis yang “malu” menyebut dirinya pelukis (dari) Sidoarjo. Di kartu namanya tertulis alamat; Sidoarjo – Surabaya Selatan. Seraya bercanda dia katakan, “toh kode teleponnya masih 031….”. Mungkin memang itu sebatas canda alias anekdot belaka. Namun secara tersirat, perasaan seperti itu bukan tidak mungkin juga menghinggapi sejumlah pelukis lainnya, yang secara [...]
DIarsipkan di bawah: seni | 1 Komentar »
Posted on 04/10/2007 by henrinurcahyo
JADI Pelukis itu memang tidak gampang. Salah satu syaratnya adalah harus tahan kritik. Itulah sebabnya ada pelukis yang sempat uring-uringan ketika Gus Mus (KH Mustofa Bisri), D. Zawawi Imron dan Amang Rahman pameran lukisan bertiga di Hyatt Hotel Surabaya dan dibuka oleh presiden RI (waktu itu) Gus Dur. Kata pelukis yang protes itu, posisi [...]
DIarsipkan di bawah: seni | Leave a Comment »
Posted on 04/10/2007 by henrinurcahyo
BAGAIMANA melahirkan sebuah seni pertunjukan yang berangkat dari upacara ritual tradisi, telah dibuktikan dengan munculnya pertunjukan Ronteg Singo Ulung. Sebagai seni pertunjukan, Singo Ulung relatif baru saja muncul ke permukaan, yakni ketika dilangsungkan Festival Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Timur di Malang tahun 2002. Meskipun, sebelum juga pernah tampil sebagai pengisi acara semacam arak-arakan di Bondowoso, [...]
DIarsipkan di bawah: seni | 1 Komentar »