Catatan Pengalaman Umrah (9): Tuhan Mengintip dari Dalam Ka’bah

IMG_4949Ka’bah itu disebut juga Baitullah, Rumah Tuhan. Tapi betulkah memang Tuhan “berumah” di Ka’bah? Mengapa kita sholat harus menghadap Ka’bah? Apa bedanya dengan sembahyang menghadap patung bagi agama lain? Jujur saja, ketika sedang thawaf, saya kadang-kadang merasa bahwa Tuhan sedang berada di dalam bangunan kotak yang dibungkus kain hitam itu. Saya merasa malu sendiri karena seolah-olah saya menjadi orang yang sok alim, yang betul-betul berniat tobat, yang taat beribadah. Padahal Tuhan tahu persis sekian banyak dosa-dosa yang sudah saya lakukan. Waktu itu, saya bayangkan Tuhan mengintip dari dalam Ka’bah dan tersenyum sinis melihat manusia penuh dosa ini sedang thawaf. Astaghfirullah hal adziiiim

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, pertama kali saya melihat Ka’bah saya memang tidak begitu terkesan. Saya hanya merasa “oo… ini yang namanya Ka’bah”. Ketika saya melihat Ka’bah dari dalam masjidil Haram, saya seperti melihat sesuatu yang sudah lama saya kenal tetapi belum pernah ketemu, tanpa perasaan yang menggebu. Hanya terlintas dalam pikiran saya, bahwa Ka’bah itu adalah sebuah bangunan suci, kiblat sembahyang bagi umat Islam di seluruh dunia. Bahwa saya harus berhati-hati membatin yang buruk, harus berpikiran positif, jangan mengeluh, jangan berprasangka jelek, banyak-banyaklah istghfar dan berdoa.

Khawatir saya salah bersikap, segera saya ambil dan membuka buku panduan dari dalam tas kecil. Saya baca doa “melihat Ka’bah” yang artinya: “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini, dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang ber-Haji atau yang ber-Umrah padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan.”

Sambil masih memegang buku kecil itu, pelan-pelan saya turun tangga menuju pelataran Ka’bah, saya kemudian membaca doa “Mendekati Ka’bah” yang artinya: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar, dan berikan pahala dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Bersama rombongan, saya mengarus saja bergabung dengan mereka yang sedang thawaf, mendekati arah Hajar Aswad dan berniat memulai thawaf dengan mengucap doa istilam: “Bismillaahi allahu akbar….” Maka saya memulai thawaf, berdzikir dengan hafalan yang gampang saja, tidak membaca doa thawaf yang panjang dan berbeda-beda dalam setiap putaran. Kecuali diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad saya melafalkan doa sapu jagad yang memang sudah terkenal dan pasti banyak yang hafal itu.

Dalam ritual umrah yang pertama ini, saya masih merasa terlalu teknis menjalankannya. Sayangnya pembimbing tidak memberikan petunjuk yang memadai, sehingga hanya dari buku kecil itulah saya mencoba belajar apa yang harus saya lakukan supaya tidak salah. Akibatnya, saya menjadi tidak khusuk, sehingga akhirnya saya melupakan saja buku petunjuk. Pasrah saja. Saya percaya sepenuhnya bahwa Allah mengerti apa yang saya mau, apa yang seharusnya dilakukan dalam ritual umrah ini. Dan untuk menghindari “kesalahan” saya hanya berdoa semoga apa yang dilakukan ini sesuai dengan petunjukNYA dan mudah-mudahan diterima. Ya sudah, jalani saja.

Jujur saja, satu hal yang membuat saya “kurang sreg” adalah suasana berdesak-desakan ketika thawaf ini. Saya membayangkan, alangkah nikmatnya kalau bisa thawaf dalam kondisi yang sepi, sehingga bisa berjalan pelan-pelan, menikmati langkah demi langkah, merasakan sentuhan telapak kaki dengan lantai marmer yang sejuk, menikmati desir angin dan dinginnya udara. Saya membandingkan thawaf ini dengan membayangkan ketika meditasi di vihara Budha di Singaraja dua tahun yang lalu. Di sana suasananya sepi sekali, terutama ketika hari-hari biasa, bukan hari libur yang menjadi hari kunjungan wisatawan. Saya bisa berjalan amat sangat pelan, dalam satu langkah bisa dibagi menjadi enam hitungan. Lambaaat sekali. Dengus nafas dan aliran darahpun bisa saya rasakan jelas.

Cepat-cepat saya buang khayalan itu. Saya takut berdosa kalau menganggap bahwa “meditasi berjalan” di vihara itu adalah lebih baik ketimbang thawaf di Ka’bah ini. Mudah-mudahan kejujuran saya yang tidak suka berdesak-desakan itu tidak merupakan dosa. Sepertinya mustahil saya menghindari berdesak-desakan, sebab kalau melihat kondisi waktu itu, mana mungkin pelataran Ka’bah ini bisa sepi? Lha wong sudah persis tengah malam alias jam 00.00 saja masih ramainya seperti itu, lha kapan sepinya? Padahal ini baru umrah, apalagi kalau musim haji…… Bisa jadi karena jadwal untuk bisa ikut haji reguler butuh waktu di atas 10 tahun maka umrah menjadi ramai. Orang lebih memilih umrah dulu, soal haji kapan-kapan saja, yang penting sudah mendaftar. Sementara saya, memang menjadikan umrah ini sebagai latihan berhaji yang entah kapan bisa terlaksana. Lha wong mendaftar saja belum kok…

Kondisi berdesak-desakan ini sebetulnya sudah dibayangkan sebelumnya, sudah saya tahu dan seharusnya harus saya terima saja apa adanya. Ketika dulu saya ziarah ke makam Sunan Ampel, pas malam Jum’at, suasananya juga berdesak-desakan. Tidak bisa berjalan jenak. Sering didorong dan diserobot orang dari belakang, didesak dari samping, kadang sandal diinjak, badan disikut. Semula saya uring-uringan, mengeluh terhadap tingkah orang-orang yang “tidak tahu diri” itu. Tetapi kemudian saya menghibur diri dengan membayangkan, “anggap saja saat ini sedang latihan berhaji…” Pasti suasananya juga berdesak-desakan seperti ini.

Teringat dengan pengalaman di Ampel itu, maka saya berusaha menikmati thawaf yang berdesak-desakan kali ini. Saya terus menerus istighfar ketika ada yang mendorong badan saya, pundak saya, bahkan sikunya mampir ke leher saya. Kondisinya lebih ruwet ketimbang di Ampel, sebab di Ka’bah ini saya bersama dengan orang-orang yang berbadan besar dan kuat. Mungkin mereka dari Afrika atau negara-negara yang warganya memang memiliki badan yang besar dan lebih tinggi dari rata-rata orang Indonesia. Saya belajar untuk bisa menikmati kondisi berdesak-desakan ini karena barangkali memang itulah makna umrah atau haji yang sesungguhnya. Apa asyiknya umrah atau haji dalam suasana yang lengang, bisa jalan-jalan santai seperti beriwisata? Apa asyiknya kalau pas haji menjalankan ritual lempar jumrah dalam kondisi yang sepi? Justru suasana berdesak-desakan itulah letak seninya umrah dan haji. Bahwa berdesak-desakan itu merupakan kondisi yang menyatu dengan umrah atau haji itu sendiri. Apa asyiknya bisa thawaf tanpa berdesak-desakan? Saya dengar cerita, ada orang yang posisi hotelnya berhimpitan dengan pelataran Ka’bah, sehingga bisa sholat dari dalam kamar yang langsung menghadap Ka’bah. Memang enak, tapi dimana seninya? Tidak ada perjuangan berjalan dalam keruwetan lalulintas sebagaimana yang saya alami.

Dalam umrah yang pertama itu, sepanjang perjalanan thawaf saya berjalan mekanis saja. Saya berdzikir sebisanya, membaca doa sapujagad, dan mengulang-ulang bacaan yang sama. Dan setiap kali menengok ke Ka’bah, saya merasa malu sendiri seolah-olah sedang bertatapan dengan Tuhan. Astaghfirullah hal adziiiiim…. Itu Ka’bah, bukan Tuhan. Itu hanya bangunan beton, sebagai penanda kiblat. Bukan batu untuk disembah. Dalam hati saya bertanya, apa kira-kira sama dengan patung Budha yang “disembah” umat Budhis ya? Ketika saya retret di Vihara dulu, pembimbing meditasi menjelaskan, bahwa umat Budhis sembahyang menghadap patung itu bukan berarti menyembah Budha. Sebab Budha itu bukan Nabi, apalagi Tuhan, jadi tidak usah disembah. Makanya di kompleks Brahma Vihara Arama itu sempat saya hitung kalau tidak salah ada sekitar 28 patung Budha, dan hanya satu-satunya patung yang berada dalam ruang meditasi yang “disembah” ketika menjalanlan ritual.

Membandingkan Ka’bah dengan patung Budha ini bagi saya ada manfaatnya juga, supaya tidak larut untuk mengkultuskan batu kotak hitam bernama Ka’bah ini. Sebab, berkali-kali saya ingatkan diri sendiri, Ka’bah adalah Ka’bah, bukan Tuhan untuk disembah. Kalau kita terlalu mensakralkan Ka’bah, lantas apa bedanya dengan berhala-berhala yang dulu pernah berada di sekitar Ka’bah? Bukankah masyarakat Mekah pada zaman sebelum Muhammad Rasulullah adalah penyembah berhala? Bahkan jauh sebelum itu, ribuan tahun sebelum Masehi, mereka juga menyembah berhala, meski nabi Ibrahim pernah menghancurkan puluhan berhala di kompleks Ka’bah. Itu sebabnya saya bisa memahami para Askar yang marah-marah ketika ada jamaah yang menangis dan menarik-narik kain penutup Ka’bah, menciumi dinding Ka’bah, atau sekadar mengelus-elus saja. Toh jumlah Askar yang hanya beberapa gelintir itu pasti kuwalahan melarang ribuan orang thawaf dan banyak yang melakukan hal-hal yang cenderung berbau syirik itu.

Saya berusaha terus menerus mengingatkan diri sendiri, bahwa saya hanya diwajibkan sembahyang menghadap Ka’bah dan bukan untuk menyembah Ka’bah. Jujur saja, membedakan perasaan “menghadap Kabah” dengan “menyembah Ka’bah” ini bisa jadi sulit dilakukan ketika kita berada sangat dekat dengan bangunan Ka’bah yang sakral tersebut. Bangunan batu hitam yang magis itu wajar kalau sangat mempengaruhi setiap orang untuk menghormatinya yang kemudian malah menjadi berlebihan. Saya jadi teringat ketika ikut retret meditasi dan berada dalam ruangan khusus dimana terdapat patung besar Budha di dalamnya. Waktu itu orang-orang melakukan ritual dengan “menyembah” Budha. Pembimbing sudah mengingatkan, bagi yang non-Budhis tidak usah ikut ritual ini. Kemudian juga dijelaskan, bahwa sebetulnya yang mereka lakukan itu bukan sedang menyembah Budha, apalagi menyembah patungnya. Keberadaan patung Budha itu sendiri hanyalah semacam alat bantu untuk mengarahkan konsentrasi kita menyerahkan diri pada alam semesta. Karena Budha adalah manusia biasa yang sudah berhasil mencapai tahap penyempurnaan diri. Dalam hati saya terbersit adanya kesamaan memperlakukan patung Budha itu dengan Ka’bah. Memang banyak bedanya, tetapi kali ini saya menangkap ada sisi kesamaannya. Lain kali akan saya ceritakan, mengapa saya sering membandingkan pengalaman umrah ini dengan (agama) Budha.

Saya memang sedang tidak menyelidiki sejarah Ka’bah, apalagi melakukan investigasi. Pengetahuan saya mengenai Ka’bah hanyalah biasa-biasa saja. Saya hanya mencoba berkonsentrasi ibadah umrah dengan sedikit mengenal deskripsi Ka’bah, supaya umrah saya tidak menjadi “ritual buta”. Dari bacaan yang saya tahu, konon Ka’bah itu dibangun pada masa Ibrahim, meski ada yang menyebut-nyebut Ka’bah sudah ada sejak zaman nabi Adam. Saya tidak terlalu pusing dengan anggapan tersebut. Bahwa Ka’bah adalah bangunan mirip kubus yang katanya tidak sama sisi, bahkan masing-masing dindingnya tidak persis menghadap arah mata angin. Justru sudut-sudutnyalah yang searah dengan mata angin. Maka itu dinamakan Rukun Iraqi misalnya, karena sudut itu mengarah ke negara Irak. Begitu pula dinamakan Rukun Yamani, karena posisinya mengarah ke negara Yaman. Dengan demikian maka sudut Ka’bah yang terdapat Hajar Aswad mengarah ke timur. Dan itu adalah arah yang kira-kira menuju negara Indonesia. Jadi alangkah beruntungnya warga dunia yang berada di arah timur Ka’bah, termasuk Indonesia, karena sholatnya langsung “menghadap” Hajar Aswad, atau dekat-dekat dengan pintu Ka’bah dan Multazam. Sebuah tempat yang dimuliakan.

Sepanjang sejarahnya, Ka’bah memang mengalami renovasi berkali-kali, bahkan pernah dihancurkan sama sekali, hanya tertinggal pondasinya yang masih tetap sejak kali pertama dibangun. Dulu Ka’bah juga tidak setinggi sekarang ini. Saya membayangkan apa yang pernah terjadi ketika masa nabi dulu, betapa dramatisnya ketika seorang Bilal berdiri di atap Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Namun saya tidak pernah bisa menduga-duga apa yang terdapat di dalam bangunan Ka’bah tersebut. Kalau ada pintunya, tentu Ka’bah bisa dimasuki sebagaimana sebuah ruangan, dan karena bukan benda massif. Saya pernah membaca, Nabi Muhammad dan beberapa sahabatnya pernah berunding di dalam bangunan Ka’bah. Entah siapa lagi yang bisa dan boleh masuk ke dalam ruangan Ka’bah ini. Saya tidak berani berkhayal dapat memasukinya, karena mendekat ke pintunya saja sudah diusir Askar.

Ketika saya thawaf, saya sebetulnya tidak berkeinginan kuat untuk bisa mencium Hajar Aswad, cukup melambai dari jauh saja. Saya juga tidak berambisi untuk bisa thawaf dekat-dekat Ka’bah, sebab harus rela mendorong-dorong dengan banyak orang. Saya khawatir menyakiti orang lain dan juga tidak mau disakiti. Saya merasa tidak ada kewajiban apapun untuk mencium Hajar Aswad. Yang penting thawaf biasa saja. Tetapi banyak orang yang merasa bahwa thawaf yang biasa itu kurang memuaskan, termasuk isteri saya. Maka dia mengajak saya mendekat Maqom Ibrahim, mengintip jejak kaki nabi Ibrahim yang ada di dalamnya. Istri saya pula yang “memaksa” saya mendekat ke dinding Ka’bah, memegang dan mencium kain penutupnya. Saya menurut saja, termasuk ketika mendekat ke Hijir Ismail, sekadar mengelus-elus pagarnya. Dan kemudian saya baru tahu, bahwa persis di Rukun Yamani ternyata ada bagian Ka’bah yang tidak tertutup kain hitam. Sepertinya sengaja diperlihatkan bangunan aslinya. Teman sekamar saya yang sudah tiga kali pergi haji, mengaku tidak tahu bahwa ada bagian Ka’bah yang terbuka itu. Maka saya menyempatkan diri memegang dan menciumnya, setidaknya supaya saya bisa lega kalau-kalau tidak berhasil mencium Hajar Aswad nantinya.

Hari kedua di Makkah, ketika menjalankan Thawaf Sunnah, isteri saya mengajak berusaha mencium Hajar Aswad. Saya menurut saja, meski dalam hati tidak terlalu berharap mengingat sangat ramainya orang thawaf. Waktu itu kondisi badan saya juga kurang fit, sebab pagi harinya saya buang hajat berupa darah. Badan saya lemas. Saya sudah katakan pada isteri saya, “sudahlah tidak usah memaksakan diri mencium Hajar Aswad, kalau Allah mengizinkan kita pasti bisa menciumnya. Saya pernah dengar cerita “keajaiban” orang-orang yang bisa mencium Hajar Aswad karena ditolong orang tidak dikenal. Ada yang mengarus saja tahu-tahu berada persis di depannya. Saya hanya pasrah saja, yang penting thawaf, biarlah tangan malaikat yang akan menggandeng saya menuju Hajar Aswad. Tetapi yang kemudian menggandeng saya adalah seorang lelaki yang entah berkata apa, namun saya tahu maksudnya, kira-kira dia bersedia membantu supaya mudah mendekati Hajar Aswad. Tiba-tiba saya sadar, ini bukan malaikat, tapi memang semacam calo yang mengharap imbalan dari jasanya menolong mencium Hajar Aswad. Beruntung keberadaan calo semacam ini sudah pernah saya dengar sebelumnya.

Begitulah, pada thawaf kedua itu saya memang tidak berhasil mencium Hajar Aswad. Menurut Abah Ali alias Abah Yan, teman sekamar saya, memberikan saran kalau memang berniat mencium Hajar Aswad sebaiknya sudah berjalan mepet di dinding Ka’bah sejak Rukun Yamani. Dari situ tinggal bergeser sedikit-demi sedikit sehingga lama-lama bisa mencapai posisi Hajar Aswad. Saya sependapat. Maka hari ketiga, saat umrah kedua, saya ikuti saran itu. Saya langsung menempel di dinding sebelah kanan Rukun Yamani, maunya bergeser ke kanan pelan-pelan. Isteri saya sudah mengkapling dinding itu. Tetapi wanita di sebelahnya ternyata seperti tidak punya keinginan untuk bergeser. Dia hanya menempelkan tubuhnya ke dinding Ka’bah sambil menangis sesenggukan. Lelaki yang menjaga di belakangnya, mungkin suaminya, malah menjaga agar posisi wanita itu tidak bergeser sama sekali. Saya mengatakan sebisanya: move right, move right, to Hajar Aswad. Tetapi dia tetap bergeming. Wah payah. Sementara askar mulai menarik-narik mereka yang menempel di dinding Ka’bah karena sebentar lagi sudah masuk waktu sholat Asyar. Di balik garis tali yang tahu-tahu sudah terpasang sekitar dua meter dari dinding Ka’bah, sudah banyak orang yang duduk menantikan waktu sholat.

Ya sudah saya meninggalkan dinding Ka’bah, mengarus dalam lapisan kedua sampai akhirnya terseret pada posisi sedemikian dekat dengan Hajar Aswad. Sadar dengan posisi yang menguntungkan ini, isteri saya sangat bersemangat dapat mencapai batu hitam itu. Namun berulangkali kami terdorong keluar, masuk lagi, terdorong lagi, dan saya peluk pinggang isteri saya agar tidak terlepas dalam situasi yang kacau itu. “Ayo Pak, Ayo Pak….” ujarnya antusias. Saya memang agak menyerah, namun begitu menyadari posisi saya hanya selisih dua orang dari Hajar Aswad, saya tidak ingin kehilangan kesempatan emas ini. Saya teringat ketika diserbu ombak di Parang Tritis, bahwa cara aman agar tidak hanyut adalah memposisikan badan miring, jangan frontal. Sekilas pengalaman “hampir mati” di Parang Tritis itu melintas dalam kepala saya. Waktu itu, saya mandi-mandi di pantai, ombak datang menerjang dari arah tengah laut. Yang kemudian membahayakan adalah ketika ombak itu kembali, kekuatannya jauh lebih dahsyat dibanding ketika datang dan sanggup menyeret apa saja. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang terseret ombak sehingga hilang dan dinyatakan mati. Mungkin karena belum belum takdirnya mati, secara naluriah saya memiringkan posisi badan sehingga ketika gelombang balik ke tengah laut, saya tidak terseret, karena posisi badan seperti pemecah gelombang. Saya rasakan air sempat mencapai leher, tetapi saya selamat dengan salah satu kaki terbenam dalam pasir laut hingga lutut.

Ingatan di Parang Tritis itulah yang saya praktekkan. Segera saya miringkan badan saya, sehingga ketika gelombang manusia bergerak dari arah Hajar Aswad, saya selamat tidak ikut terlempar. Gelombang ini terjadi karena mereka yang sudah berhasil mencium batu itu berusaha keluar dari desakan banyak orang. Bahkan ada yang menjatuhkan dirinya begitu saja ke tengah kerumunan. Tidak henti-hentinya isteri saya bergumam, “Ya Allah beri saya kesempatan Ya Allah, beri saya kesempatan Ya Allah…..” Tahu-tahu terbukalah kesempatan itu, “Ayo Pak……” Tangannya menyeret tanganku. Dan saya hanya menunggu giliran seorang perempuan di samping saya, maka langsung saya sorongkan muka ke dalam ceruk yang terdapat Hajar Aswad itu dan menciumnya. “Alhamdulillaah….. Alhamdulillah……” Saya teriak histeris. Mata saya sembab. Lamat-lamat saya tahu ada Askar yang nyeletuk, “Masya Allah”. Saya tidak peduli, saya bergeser ke kanan yang ternyata sudah kosong. Seorang Askar kemudian menarik tangan saya agar menjauh. “My wife…, my wife…..,” teriakku. Segera saya sadar, bahwa saya sudah terpisah dengan isteri. Dan itulah peristiwa dramatis “kehilangan” isteri sebagaimana yang pernah saya ceritakan sebelumnya.

Bersambung.

11 Tanggapan

  1. Subhanallah !

    • Terima kasih Pak Farid kalao memang mengikuti tulisan saya. Mohon saya dikoreksi ya kalau ada yang salah. Sampeyan kan sudah pernah Haji soalnya….

  2. untuk tambah pengalaman, barangkali kelak bisa kesana.

  3. Subhanallah Allahu Akbar…tks catatanya..

  4. alhamdulillah mas saya sama istreri dapat mencium hajar aswad atas ijin Allah SWT,

  5. kenapa klo msuk kabah tidak boleh mlihat k’atas

    • Wah maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini Mas…. Mungkin ada pembaca lain yang tahu? Lagi pula, dari mana sumbernya larangan itu?

  6. Apa Berhala Menurut Islam Itu? Tidak boleh menyembah patung, batu, pohon, dan apapun yang ada di dunia ini. Sebab AL’QURAN pun menuliskan demikian. Tetapi di dalam teori Islam dan prakteknya sungguh sangat bertentangan. Mengapa demikian?? Islam di saat sholat selalu mengarah dan sujud di depan KA’BAH. Pertanyaannya apakah itu KA’BAH?? Didalam KA’BAH adalah BATU yang berwarna HITAM.. Jadi Islam jelas-jelas sujud menyembah menghadap KA’BAH yang berisikan BATU berwarna HITAM.. Tetapi umat Islam jelas dengan tegas akan menjawab “Kami umat Islam tidak menyembah KA’BAH-nya, Tetapi menyembah allah”. Pasti benar bukan jawaban Anda begitu?? Coba Anda tanyakan kepada umat Hindu, Budha, Konghucu, Pasti jawaban mereka pun akan sama seperti umat Islam “Kami umat hindu, budha, konghucu, tidak menyembah patungnya tetapi kami menyembah tuhan. Padahal secara mata jasmani kita melihat bahwa mereka sembahyang menghadap patung dan pasti 100% umat Islam akan berkata “mereka itu agama hindu, budha, konghucu KAFIR alias penyembah berhala”. Apakah umat Islam tidak MENGACA diri?? Sedangkan mereka sendiri (umat Islam) sujud menyembah di depan KA’BAH yang berisi BATU berwarna HITAM?? Lantas apa bedanya umat Islam dan Umat hindu, Budha, Konghucu yang sama-sama menghadap terhadap benda yang ada di dunia ini?? Berarti kesimpulannya agama Islam, Hindu, Budha, Konghucu, sama-sama menyembah BERHALA.. Sebab di dalam AL’QURAN tidak boleh menyembah patung, batu, pohon, dan sebagainya.. Umat Islam kalau tidak mau dibilang penyembah berhala sungguh NAIF.. Sebab kenyataan dan prakteknya seperti itu. ISLAM SUJUD MENGHADAP BATU HITAM DI DALAM KA’BAH!! BERHALA..

    • betul itu…. org2 islam yg haji ke mekah itu semua salah kaprah bego dan tolol padahal haji yg d mksut adalah bersatunya tuhan dan muhammad d dlm diri kita sendiri..

  7. Seru banget y bagus juga mas membandingkan ka’bah dengan patu budhha sehingga terhindar dari kemusrikan tapi ingat ada 1 hal yang berbeda dari ka’bah dan patung yang disembah agama lain jika yang pendeta budhha katakan bahwa mereka tidak menyembah patung budhha tak apa kami puntak meyembah ka’bah namun dizaman nabi muhammad bilal bin robah adzan dia atas ka’bah lalu anda tanyakan kembali sama pendeta budhha itu pernah adakah pendeta buddha yang berdiri diatas patung buddha??? Hehhe

    • pendeta buddha yang berdiri diatas patung buddha???…. secara teknis yaa gak mungkin gak, bisa berdiri di atas patung. Trims atensinya…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: