Berguru pada Televisi

Oleh Henri Nurcahyo Kalau saya ditanya, acara apa yang paling saya benci di televisi: Pertama adalah Infotainment, kedua adalah sinetron cengeng. Apa boleh buat, masyarakat kita sudah menjadikan TV sebagai “guru” dalam banyak hal. Mulai dari dakwah agama, politik, kriminal, hukum, termasuk “pendidikan” kesenian. Inilah tantangan paling kontroversial abad ini.

Belajarlah ke Candi Penataran

Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China, kata sebuah hadits. Dan sekitar abad XIV, seorang Bujangga Manik menyerukan, tuntutlah ilmu ke Penataran. Ya, Candi Penataran di Blitar itu, yang dulu dinamakan Rabut Palah. Mengapa China, mungkin bisa dijawab. Tetapi, mengapa juga Penataran? Apa sih istimewanya candi Penataran?

Bersatu Padu Membela Pemerintah

Oleh Henri Nurcahyo Ini kasus menarik. Ada eksekusi atas sebidang lahan, berbagai elemen masyarakat justru membela pemerintah yang selama ini mengklaim atas lahan tersebut. Itulah yang terjadi dalam kasus Taman Flora Surabaya alias Kebun Bibit (KB). Padahal, biasanya pemerintahlah yang melakukan eksekusi (baca: penggusuran) dan masyarakat berunjuk rasa melawan pemerintah.

Siapakah yang Layak Terpilih?

Sebuah Catatan Penyeleksian Oleh Henri Nurcahyo Seperti apakah Guru Kesenian (yang dinilai) Berprestasi? Hampir seluruh kota/kab mengirimkan dua wakilnya, dipilih 20 nominasi, dan akhirnya terpilih 5 terbaik. Memang, karena kendala keterbatasan waktu, sosialisasi kurang maksimal, sehingga sangat mungkin masih ada guru-guru lain yang berpotensi namun tidak bisa dikirimkan mengikuti seleksi ini.

Seleksi Siswa dan Guru Kesenian Berprestasi

Bisa Jadi Program Percontohan Nasional Oleh Henri Nurcahyo Hajatan seleksi Guru Kesenian dan Siswa Berprestasi Kesenian Jawa Timur ini memang baru kali pertama diselenggarakan. Sebagai sebuah upaya, kompetisi ini setidaknya sudah menjadi hal yang bagus. Sebab baru provinsi Jawa Timurlah yang memiliki hajatan seperti ini. Bisa jadi, ini akan menjadi percontohan di tingkat nasional.  Bukankah [...]

Cak Kadar itu Kompor, Bukan Provokator

Oleh HENRI NURCAHYO Cak Kadar telah pergi untuk selama-lamanya. Ya Cak Kadar, bukan Cak Kandar. Dua nama yang sering terbolak-balik penyebutannya. Mantan ketua Pusura dan penggerak kesenian itu masih memikirkan Festival Seni Surabaya (FSS) pada hari-hari terakhir menjelang kepergiannya. Arek kelahiran Maspati itulah yang membidani FSS ketika masih bernama Pekan Seni Surabaya 700 tahun 1993.

Antasari dan Pangeran

Apakah bedanya Antasari dengan Pangeran Antasari? Pertanyaan seorang teman itu begitu mengusik. Antasari yang disebut pertama terkenal karena menjadi ketua KPK dan kemudian tersandung kasus „stik pendek“ golf itu. Sedangkan Antasari yang kedua adalah pahlawan nasional yang sudah dihapal anak-anak sekolah dalam pelajaran sejarah.

Melestarikan Sejarah via Game Online

Permainan melalui sarana internet (game online) sudah mewabah di negeri ini. Jutaan member, terutama anak-anak muda, menggandrunginya. Asal tahu saja, seratus proses produser game online itu ternyata dari mancanegara, terutama Korea Selatan dan Jepang. Pertanyaannya, apakah ini bukan penjajahan budaya?

Ranting Kesenian dalam Pohon Kehidupan

Apakah perlunya kesenian di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga sekarang ini? Apakah dengan kesenian lantas membuat perut menjadi kenyang dan menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Bisakah orang berkesenian ketika perut terasa lapar dan melilit-lilit minta makan?

Memberi Penghargaan, Perlu Dibudayakan

Jangan coba-coba telat bayar rekening, karena sanksi langsung berlaku. Telat bayar pajak, bayar listrik, telepon, dan semua bentuk pembayaran atas pelayanan publik, semua harus ditaati tanpa reserve. Tetapi, apa yang terjadi kalau aliran listrik mati? Air PDAM tak mengalir? Telepon tidak ada sambungan? Apakah pemerintah memang hanya bisa menghukum? Sementara rakyat harus dikalahkan?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.