Kutukan Bencana Korban Lumpur

Bencana demi bencana akan terus terjadi selama ribuan korban Lumpur Sidoarjo tidak ada yang bertanggungjawab. Ini bukan kutukan, tapi jangan salahkan kalau ada yang memiliki suara batin seperti itu. Pemerintah telah lepas tangan, Lapindo terus mengelak, rakyat unjuk rasa dianggap penjahat pengganggu kepentingan umum, ribuan pengungsi berdesakan di los-los pasar, Hak Azasi Manusia mereka telah dirampas habis-habisan. Jadi, salahkah kalau kemudian muncul kutukan seperti itu???

Bayangkan, sudah 10 (baca: sepuluh) bulan lumpur merendam Porong, tapi hingga sekarang status peristiwa itu belum jelas. Pemerintah belum secara formal menetapkannya sebagai bencana, sehingga menganggap tidak berkewajiban membantu korban. Tidak ada gerojokan bantuan seperti yang dialami korban-korban bencana di daerah lain. Pemerintah hanya punya rencana mengembalikan kondisi infrastruktur, itupun dananya masih belum jelas. Tapi yang sudah jelas, rakyat dibiarkan berhadapan langsung dengan raksasa Lapindo dan aparat keamanan.

Sudah 8 (baca: delapan) desa atau 800 hektar lahan terendam lumpur, sekitar 24 ribu warga menjadi korban. Unjuk rasa demi unjuk rasa yang dilakukan warga Perumtas Tanggulangin yang rumahnya sudah terendam lumpur ternyata tidak membuat pemerintah terbuka hatinya. Mereka sudah memblokir jalan dua hari penuh, sehingga ekonomi Jatim langsung terguncang. Mereka juga sudah teriak-teriak di depan Gubernur Jatim, mengirim delegasi sampai ke DPR di Jakarta. Sementara unjuk rasa dilakukan hampir tiap hari di kawasan Porong. Terakhir, mereka menduduki pendapa Kabupaten Sidoarjo. Apa boleh buat, tangisan mereka dianggap sepi. Derita mereka dianggap tak ada. Bahkan eksistensi mereka hanya berupa angka-angka.

Tidak kurang-kurangnya rakyat mencoba mengatasi sendiri bagaimana mengakhiri semburan lumpur ini. Ada istighosah, ada puasa 10 hari, dan ada yang menggelar sayembara. Suka atau tidak suka, apa yang telah dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya paranormal dan bertapa di sekitar pusat semburan, harus dihargai sebagai langkah positif untuk mengatasi masalah. Memang sekarang mereka sudah hengkang, terutama sejak jalan tol ditutup, pipa gas Pertamina meledak. Jangan-jangan, merekalah yang melontarkan kutukan ini.

Bayangkan pula, selama satu tahun terakhir ini bencana demi bencana terus menerus terjadi. Baik bencana alam ataupun kecelakaan transportasi. Sampai-sampai Presiden bingung mengatur jadwal kunjungan. Editorial di mediacenter ini yang berjudul “Setelah NTT, Mana Lagi?” baru saja on line, bencana gempa terjadi di Sumatera Barat. Disusul bencana transportasi, Garuda terbakar. Sementara, ribuan warga Porong masih meratap, tak bisa lagi menangis karena air matanya sudah habis. Tak bisa lagi teriak karena tenggorokannya kering. Mereka tak bisa berharap ada bantuan, meski sama-sama menjadi korban bencana. Toh nyawa mereka masih dianggap “terselamatkan”, alias bencana Porong dianggap tidak menimbulkan korban jiwa. Semburan lumpur dianggap tidak membawa celaka. Perkara pipa gas yang meledak, ah itu kan kecelakaan biasa. Apa begitu?

Sekali lagi, bayangkan, ribuan pengungsi tidur berdesakan di los-los pasar, dikerubut nyamuk, sebagian tak bisa tidur, apalagi belakangan hujan deras terus mengguyur. Kalau toh mata mereka terpejam, pikirannya pasti melayang-layang. Mereka bayangkan andaikata kalau semburan gas semakin kuat, maka bola-bola beton yang dipakai menyumbat lumpur itu akan terlempar ke udara, jatuh di alun-alun, di bandara Juanda, terminal Bungurasih, atau terlempar jauh ke hotel mewah bintang lima di Surabaya, tempat orang-orang Lapindo dan Timnas bekerja. Ada pula yang merasa cemas, kalau-kalau penyumbatan dengan cara ini malah menimbulkan malapetaka baru. Lumpur memang tidak akan menyembur di tempat semula, melainkan memunculkan pusat semburan baru. Bisa di sumur-sumur warga, bisa menjadi mata air bercampur lumpur baru di mana saja, termasuk di pusat pengungsian Pasar Baru Porong yang belum pernah berfungsi menjadi pasar itu.

Kita saksikan saja, apakah longsor di NTT dan gempa Sumbar tak disusul bencana yang lain? Apakah Garuda yang terbakar di Yogyakarta menjadi insiden transportasi terakhir dan semata-mata kesalahan manusia? Kita memang tak boleh mendahului kehendak Yang di Atas, tetapi DIA-lah yang menentukan segalanya. Kita hanya bisa berusaha, ikhtiar. Itupun kalau betul-betul serius dan tulus kita lakukan serta mau berendah diri menyadari kesalahan. –henri@airputih.or.id

NB: silakan kunjungi: http://www.mediacenter.or.id

Satu Tanggapan

  1. Saya tidak heran kalau di Indonesia banyak masalah dan bencana. Itulah hasil dari dampak perbuatan manusianya sendiri.
    Masalah negara dan rakyat tidak cepat ditangani para pemimpin bangsa, dan rakyatnya pun susah dibilangin, ada larangan tetap saja banyak yg bermasak bodoh. Sebagian gembar gembor mengenai Agama, apakah perilaku mereka juga sudah sesuai menurut ajarannya? Kalau sudah sesuai kenapa kriminalitas dinegeri beragama ini malah bertambah? Logikanya dimana?

    Tidak heran kalau ALAMPUN JADI KACAU karena pancaran energi manusia disekelilingnya menebar pancaran NEGATIVE dan ALAMPUN terkena dampaknya. Pancaran energi di Indonesia sudah tidak seimbang, perbandingan antara energi positive dan negative sudah lebih banyak negative-nya. Andaikan dari 10 orang tapi 7 orang bermuatan energi negative, 3 orang yg positive tentu bisa menyerap 3 orang negative, tapi kemana larinya sisanya 4 pancaran negative itu? siapa yg menyerap kalo bukan alamnya?
    Maka dari itu peliharalah energi positive alampun akan menjadi tenteram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: