Mimpi Pelukis Jadi Kaya

BAGAIMANAKAH caranya untuk bisa menjadi pelukis yang terkenal dan laris? Ini pertanyaan sederhana dan memang dapat dimaklumi. Sepintas memang dapat dilihat, ada yang dengan mudahnya mencapai tujuan tanpa perlu susah payah. Ada pula yang cepat terkenal, sering masuk koran, ditulis di majalah dan diliput televisi, padahal karyanya hanya biasa-biasa saja. Dalam belantara seni rupa juga dapat disaksikan ada yang berulangkali menang festival, lomba dan semacamnya, padahal namanya tidak pernah beredar dalam percaturan seni rupa. Sungguh sulit memahami, ketika dalam belantara seni rupa ditemukan ada yang mampu menjual karya dengan harga yang fantastis, meskipun kualitasnya tidak istimewa betul. Namun juga dapat ditemukan dalam belantara karya-karya yang bagus, berbobot, namun orangnya biasa-biasa saja, tidak terkenal namanya, dan amat jarang muncul di perbincangan seni rupa. Dalam belantara seni rupa, seakan-akan sulit memahami, apa sesungguhnya hukum yang berlaku. Benarkah dalam belantara seni rupa hanya berlaku satu hukum, yakni Hukum Rimba?

Saya memulai perbincangan ini dengan menyajikan persoalan belantara lantaran memang sudah sedemikian ruwet persoalan yang terjadi dalam dunia seni rupa yang ada di negeri ini. Ada semacam revolusi wacana yang membuat dunia seni rupa mengharu biru sehingga sulit terpetakan sekarang ini. Revolusi itu (kalau boleh disebut begitu) adalah suatu masa dimana karya seni rupa menjadi komoditas yang mampu bersaing dengan komoditas lainnya dalam blantika bisnis. Karya seni rupa telah mampu hadir sebagai ikon baru dalam bisnis yang memiliki karakter spesifik lantaran tidak memiliki aturan baku, tidak ada standar yang jelas dan tidak mengenal inflasi. Apa yang pernah disebut-sebut sebagai booming itulah yang saya katakan Revolusi tersebut. Barangkali, soal booming ini memang tidak punya kaitan langsung dengan dunia penciptaan seni rupa, tak ada hubungannya dengan proses kerja seorang kreator. Tetapi dengan adanya booming maka berubahlah semua tatanan dalam seni rupa yang telah ada sebelumnya. Dan celakanya, hingga sekarang carut marut tatanan itu masih juga belum terbereskan.

Dalam percaturan kesenian, memang ada juga cabang-cabang seni lain yang telah berurusan dengan kaidah bisnis, yang mampu ditakar dengan hukum ekonomi. Sebutlah musik, selama ini dengan gampang dipahami sebagai bentuk komoditas yang sanggup diperjualbelikan dalam berbagai bentuk produk. Musik menjadi identik dengan mobil, rumah, busana, sepatu dan sebagainya. Meskipun, ada juga musik yang berada di wilayah yang sepi”. Tetapi nasib yang serupa tidak menimpa dunia tari, meskipun orang bisa mendapatkan keuntungan dengan berprofesi menjadi penari. Demikian juga dengan teater atau seni drama, dimana orang masih dapat berharap mendapatkan sesuatu ketika tahu harus bermain dimana dan dalam konteks apa. Kalau saja pemain drama mampu menjadi pemain sinetron misalnya, bukankah ketrampilan dramanya telah berhasil mendatangkan penghasilan tersendiri? Nasib yang paling mengenaskan memang seni sastra, dimana orang masih belum dapat berharap penghasilan apa-apa ketika dia telah berhasil menjadi penyair atau sastrawan yang handal. Salah satu bentuk karya sastra, novel misalnya, hanya dapat menjadi best seller pada satu dua orang sastrawan saja. Itupun tidak setiap tahun.

Sedangkan dalam seni rupa, tahu-tahu ada berita bahwa ada lukisan yang terjual dengan harga satu milyar rupiah (sebutlah karya Djoko Pekik). Kita juga mendengar ada pelukis yang mampu membeli beberapa mobil hanya dengan menukar satu dua lukisan. Ada pelukis yang mampu mendapatkan sebuah rumah, juga dengan menukarnya dengan lukisan. Ada pelukis yang berhasil masuk balai lelang Christie atau Southeby tanpa kita tahu bagaimana asal usulnya. Harap diingat, bahwa kondisi semacam itu masih baru saja terjadi sekitar 20 tahun belakangan ini. Barangkali ini memang nasib baik bagi perupa, bahwa karya-karyanya telah mampu menembus blantika bisnis yang mencengangkan sehingga menggoda para pelaku bisnis untuk kemudian menjadikannya sebagai komoditas andalan.

Tetapi persoalannya kemudian, tatanan dalam seni rupa menjadi kacau balau. Banyak pelukis yang tahu-tahu bermimpi menjadi orang kaya hanya dengan mengandalkan kemampuannya melukis yang biasa-biasa saja. Banyak pelukis yang kemudian mematok harga seenaknya, puluhan juta rupiah, dalam sebuah pameran (namun diam-diam menggotongnya naik angguna untuk ditukar dengan nilai berapa saja). Banyak pelukis yang menggebu-gebu pameran di hotel, minta dibuka pejabat atau artis, diramaikan dengan bermacam hiburan, minta ditulis di banyak koran dan diliput televisi, padahal lukisannya masih amburadul. Singkat kata, dalam situasi yang seperti itu, terjadilah pembodohan demi pembodohan. Manipulasi kaidah seni rupa dilakukan dengan cara-cara yang canggih hanya semata-mata untuk mencapai tujuan. Dan masyarakat pun semakin dibuat bingung, mana sesungguhnya karya seni rupa yang bermutu itu.

Bagaimanapun citra mengenai pelukis dalam dasawarsa belakangan ini memang sudah berubah. Kalau dulu ada anggapan: “Mau makan apa kamu kok jadi pelukis?” Maka ejekan tersebut sudah terbantahkan dengan lahirnya pelukis-pelukis yang kaya raya, yang punya mobil mewah dan rumah megah, serta namanya berulangkali muncul di koran dan majalah. Wajahnya juga sering disorot kamera televisi. Bahwa dengan menjadi pelukis sesungguhnya dapat dirintis untuk menjadi terkenal dan kaya, itu bukan hil yang mustahal (kata Asmuni).

Banyak orang yang memang silau dengan keberadaan pelukis-pelukis “selebritis” tersebut, sehingga seolah-olah dengan menetapkan diri menjadi pelukis maka tinggal menunggu waktu (dan nasib) untuk juga dapat menjadi selebriti. Padahal, dari segi kuantitas, berapa sih jumlah mereka? Bahwa banyak pelukis yang kaya raya itu betul, namun pelukis yang masih miskin juga jauh lebih banyak dari yang kaya.

Soal kaya dan tidak kaya sengaja disodorkan dalam tulisan ini karena seni lukis telah menjadi ladang mata pencaharian yang menjanjikan dalam satu-dua dasawarsa belakangan ini. Artinya, dengan menjadi pelukis bukan sekadar menjalani kegiatan berkesenian yang memuaskan rohani, tetapi juga berharap mampu hidup dari lukisannya. Hal ini berbeda (baca: belum terjadi) pada dunia sastra dan teater. Kalau dengan menekuni tari, setidaknya bisa berharap sering dapat permintaan menari di berbagai tempat, bahkan keliling mancanegara. Sementara kesenian yang sudah betul-betul menjadi wacana bisnis adalah musik. Nah, seni lukis (seni rupa) agaknya belakangan ini mulai mengikuti jejak langkah seni musik. Itulah yang menebar pesona banyak orang.

Karena melukis sudah menjadi mata pencaharian, maka jangan coba-coba mengkritik sembarangan pada pelukis kalau tak mau dianggap mengganggu dapur mereka. Bahwa kritik yang “menjatuhkan” bisa dituduh merusak mata pencaharian mereka. Bahkan menolak untuk bisa ikut dalam sebuah pameran saja sudah dianggap “tidak memberi kesempatan mendapatkan rejeki”. Singkatnya, lukisan telah menjadi sebuah komoditas alias barang dagangan, dan pelukis tak lebih dari seorang tukang gambar. Apakah kondisi ini patut diprihatinkan ataukah memang telah menjadi sebuah keniscayaan?

Dalam kaitan antara melukis dan mata pencaharian ini, tersebutlah seorang OH. Supono (almarhum) yang sudah sanggup mendirikan galeri seni rupa di TIM Jakarta, ketika banyak pelukis yang terseok-seok untuk menggelar pameran. Ketika banyak pelukis masih harus menggulung lukisan, mengepit di ketiak, menjajakan dari rumah ke rumah (meski tidak secara harfiah), maka seorang OH. Supono mengantarkan lukisan ke pembelinya dengan mobil Mercy miliknya sendiri. OH. Supono bahkan tak malu menepuk dada, bahwa dia mampu menghidupi seluruh anak-anaknya dengan hanya menjadi pelukis. Dia mampu membangun rumah yang lumayan megah pada masanya, juga hanya dengan mengandalkan dari kerja sebagai pelukis.

Sementara itu, lukisan-lukisannya mampu menciptakan genre tersendiri dalam perjalanan seni rupa di negeri ini. Supono bukan pelukis kacangan yang melukis hanya untuk sekadar laku. Salam salah satu periodenya, yakni serial Borobudur, gaya lukisan yang seperti itu sampai pernah mewabah, ditiru anak-anak muda karena memang bagus dan ternyata sangat disukai pembeli mancanegara. “Relief-relief Borobudur itu,” katanya, “tanpa dilukis saja sudah bagus, apalagi kalau dilukis.”

Bagaimana Pak Pono (begitu panggilannya) mampu melukis bagus namun tetap bisa laris dengan harga mahal? Jawabannya adalah, “kalau saya sedang melukis maka saya adalah seorang pelukis. Tetapi ketika lukisan saya sudah jadi, maka saya adalah seorang pedagang.” Karena itulah maka keberadaan mobil Mercy yang disopirinya sendiri merupakan faktor penting dalam kariernya sebagai pelukis. Apa yang hendak disampaikan Pak Pono adalah, bahwa antara melukis dan menjual lukisan adalah dua hal yang berbeda. Bahwa dia melukis memang untuk menjadi pelukis, dan menjual lukisan memang untuk menjadi penjual (pedagang). Perkara kemudian yang dijual adalah lukisannya sendiri, itu faktor kebetulan yang disengaja. Artinya, seorang OH. Supono memang kebetulan memiliki dua ketrampilan, yakni sebagai produsen dan penjual.

Ketrampilannya sebagai pelukis sudah diakui banyak orang. Bayangkan, dengan lukisan-lukisan yang berukuran besar, ternyata Pono mampu membuat detil-detil yang mengagumkan. Dengan lukisan-lukisan yang besar, ternyata Pono mampu menghasilkan dalam jumlah yang lumayan banyak. Perkara ternyata dia menggunakan rol pengecat (sebagaimana digunakan untuk mengecat tembok), itu adalah soal lain. Yang penting dia telah mampu menghasilkan lukisan dengan ukuran besar, detil dan dalam jumlah banyak, serta (ini yang penting) hasilnya bagus. Perkara bagaimana teknik membuatnya, itu urusan lain. O.H. Supono adalah pelukis bertangan emas. Apa-apa yang disentuhnya berubah menjadi bagus dan laku mahal. Apakah ini berlebihan? Mungkin iya, mungkin pula tidak.

Lantas, pertanyaan; Apakah untuk menjadi pelukis memang dibutuhkan syarat-syarat tertentu? Apakah setiap orang berhak dan boleh menyebut dirinya sebagai pelukis hanya karena kebetulan bisa melukis? Apakah memang yang namanya pelukis merupakan status tersendiri sehingga tidak semua orang berhak menyandangnya? Deretan pertanyaan ini sebetulnya biasa saja, karena sesungguhnya setiap orang punya hak menjadi pelukis. Asalkan dia memang mampu melukis, mengumpulkan lukisan dan memajangnya dalam sebuah pameran.

Namun ada yang bilang, untuk menjadi pelukis tidak gampang. Tidak semua orang boleh dan semaunya menjadi pelukis, sebagaimana tidak sembarang orang lantas berdiri di mimbar dan berkhotbah di tempat ibadah. Menjadi pelukis adalah sebuah wilayah otoritas tersendiri yang otonom, merdeka, bahkan cenderung sakral. Dan menyebut diri sendiri sebagai pelukis, mengandung konsekuensi yang tidak ringan. Bagaimanapun, katanya, seniman adalah manusia pilihan Tuhan.

Pada tataran inilah kemudian ada yang mencoba membedakan pelukis (dengan p kecil) dan Pelukis (dengan P besar). Ya sudah. Seorang Affandi yang jelas-jelas seorang pelukis unggul malah menyebut dirinya sendiri sebagai Tukang Gambar. Lim Keng yang menjadi pelukis sketsa kelas raksasa, malah asyik berkaos singlet, bercelana pendek, asyik menunggui toko pracangan. Orang-orang Bali setiap hari mencangkul di sawah, merawat ternak, namun juga mengerjakan seni lukis, mengukir dan mematung dengan sepenuh hati. Orang bijak berkata, harga diri manusia ditentukan oleh apa yang telah diperbuatnya untuk orang lain.

Jika direnungkan lebih dalam, alangkah kuasanya seorang pelukis menjadikan kanvasnya sebagai medan penciptaan terhadap apa saja yang dikehendakinya. Posisi pelukis seperti Dewa (untuk tidak menyebut Tuhan) dalam skala kecil yang memiliki dan berkuasa penuh atas wilayah yang dimilikinya. Karena itu, satu titik, garis, bidang dan warna, menjadi elemen-elemen baku untuk membangun sebuah dunia tersendiri. Persoalannya memang, seberapa jauh para pelukis itu telah menyadari kekuasaan dalam genggamannya? Juga, apakah mereka telah secara bijak telah mengelola kekuasaan tersebut dengan arif? Mungkin soal satu ini menarik diperdalam dalam kesempatan lain.

Bagaimanakah caranya mampu bertahan di tengah belantara seni rupa yang sangat rumit sekarang ini? Ada yang bilang, milikilah akar budaya, yakni suatu modal dasar berupa penguasaan kultural atas apa yang menjadi cikal bakal dari lingkungannya sendiri. Artinya, ketika hendak menjadi pelukis, atau sedang menjadi pelukis, bertanyalah pada diri sendiri; Modal apakah yang telah dimilikinya? Bahwa melukis sesungguhnya hanya terdiri dari dua hal; yaitu ketrampilan teknis dan bagaimana mengisi lukisannya. Kalau hanya trampil, jadilah tukang gambar, jadilah pengrajin, tekunilah seni kriya. Dan itu semua bukan profesi yang hina. Antara pelukis dan pengrajin bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya memiliki dunia (dan nasib) sendiri-sendiri.

Barangkali kita bisa belajar dari Bali. Ada yang bilang, orang Bali itu sudah menjadi seniman sejak masih dalam kandungan. Mereka melukis, namun juga mencangkul di sawah. Tanpa sekolah pun mereka sudah mampu menjadi pelukis. Dan bagaimana corak lukisan Bali, semua orang sudah tahu. Maka ketika anak-anak muda Bali bersekolah seni rupa di Jogjakarta misalnya, maka jadilah mereka pelukis-pelukis yang lain, yang berbeda dengan pelukis daerah asalnya. Mereka telah mampu memberikan resep yang lain dengan bahan baku yang sama. Itulah sebabnya dari Bali lagi pelukis-pelukis yang bernama Made Wianta, Nyoman Erawan, Made Sukadana, Nyoman Gunarsa, dan banyak nama lagi.

Ibarat seseorang menanak singkong menjadi singkong goreng, maka dengan bersekolah mampu mengolah singkong menjadi masakan yang bercitarasa tinggi. Hanya dengan ketela pohon, bukan sekadar dapat dibuat menjadi gethuk, tetapi dengan ketrampilan tertentu mampu disulap menjadi bakpao.

Apakah Bali harus dibuat perkecualian? Sebutlah seorang Nasirun, yang menggenggam erat budaya klenik Jawa dan pewayangan, namun setelah sekolah di ISI akhirnya mampu menerjemahkan modal kulturalnya menjadi kekuatan tersendiri. Dari tangan Nasirun, seolah tak pernah henti mengalir ide-ide kreatifnya. Dan meski dengan langkah kecil, seorang Bagas Karuniaputra mencoba melakukan hal yang sama, dengan mengakrabi budaya kampung dan metropolis Surabaya. Lukisan-lukisannya dalam periode terakhir telah menemukan jatidirinya sehingga dia sudah saatnya melesat di relnya sendiri.

Sementara Erica Hestu, adalah sebuah contoh yang lain. Dia mengklaim masa kecil sebagai modal kreativitasnya. Lukisan-lukisannya sepintas mirip lukisan anak kecil, karena Erica memang menjadikan masa kecil sebagai modal kreativitasnya. Artinya, bahwa yang disebut modal budaya bukan hal yang mengada-ada. Seorang Erica malah mengklaim masa kecilnya sendiri, yang sebetulnya bukan hal yang istimewa, alias telah dialami oleh siapa saja.

Apakah harus juga menyebut seorang Amang Rahman? Dia pelukis otodidak, namun dengan setia menggenggam apa yang bisa dilakukannya, terus menerus menekuni apa yang dikuasainya. Dia tidak melebar dan meluas, melainkan mendalam dan meninggi hanya dari satu lingkaran kecil yang dimilikinya. “Ketika daun hijau menjadi kuning, kemanakah perginya hijau?” Renungan ini terus menerus mengusik pikirannya, dan lahirlah lukisan-lukisan religius dan kontemplatif yang sedemikian memukau.

Lantas, dimanakah kita dapat memulai untuk mengurai benang ruwet ini? Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini memang membutuhkan jawaban yang panjang, sebab persoalannya memang tidak sederhana. Salah satu langkah yang barangkali dapat segera dimulai adalah menetapkan parameter dalam perjalanan berkesenian. Artinya, kita tentukan sendiri, parameter apakah yang kita gunakan untuk menjadi pelukis atau perupa yang sukses itu. Beberapa contoh parameter tersebut misalnya: Pelukis yang sukses adalah yang mampu menjual karyanya dengan harga mahal. Pelukis yang sukses kalau karyanya menang di Biennale, menang kompetisi Phillips Morris, mampu menjadi peserta dalam lelang di Christie atau Southeby. Pelukis yang sukses adalah yang mampu pameran tunggal setiap tahun. Pelukis sukses adalah yang mampu melukis setiap hari, sehingga karyanya terus bertumpuk dan tiada hari tanpa melukis. Pelukis yang sukses adalah pelukis yang meskipun tidak pernah pameran namun karyanya dikenal di seluruh dunia karena telah dikenal lewat jaringan internet. Atau, apakah parameter yang hendak kita tetapkan? Dari sinilah dimilai untuk membangun otoritas sebagai pelukis, sebagai perupa dan sesungguhnya di sinilah letak otoritas seorang seniman. (Selengkapnya: Baca tulisan “Parameter Keberhasilan Pelukis” dalam buku ini).

Dalam belantara yang ruwet itu, sesungguhnya persoalannya hanyalah bagaimana menempatkan teks dalam konteks. Artinya, bagaimana kita mampu melihat sesuatu yang nampaknya biasa-biasa saja, namun dengan kecerdasan tersendiri, kita tempatkan teks tersebut dalam konteks yang baru. Penjelasan sederhananya adalah, kalau ada sebuah batu terserak di jalan raya, lalu kita pungut, kita bersihkan, kita letakkan di atas tatakan dan ditempatkan dalam sebuah pameran seni rupa, lantas kita beri judul. Pertanyaannya, apakah ini tidak berarti telah menciptakan sebuah teks baru dari sebuah batu dari konteksnya di jalan itu tadi? Sebongkah batu yang semula tidak diperhatikan sama sekali (karena masih berada dalam konteksnya) menjadi batu yang mengundang berbagai penafsiran dan melahirkan teks baru.

Teks dalam konteks dalam pemahaman yang lain, adalah bagaimana kita mampu melihat potensi diri sendiri, tahu persis apa yang terjadi di sekitar kita, dan dengan kecerdasan tertentu kita mampu menciptakan sebuah teks baru. Dari pemahaman yang sederhana ini, maka setiap pelukis sesungguhnya memiliki peluang yang sama untuk dapat berkembang dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Kalau memang berpotensi menjadi pengrajin misalnya, pahamilah seni kriya dengan baik, sehingga nantinya berhasil menjadi pencipta seni kerajinan yang handal. Itu hanya sekadar contoh.

Dalam seni (yang disebut gampang dengan nama) instalasi itu, banyak ditemukan contoh-contoh bagaimana membangun teks baru dengan cara menghadirkan benda-benda yang dicerabut dari konteksnya. Instalasi, memang sebuah proses meng-instal sejumlah elemen sehingga menjadi sebuah pemahaman baru. Justru dari seni instalasi inilah sebetulnya dapat dipetik banyak pelajaran, bagaimana menjadikan sesuatu yang nampaknya “kurang bermanfaat” untuk kemudian dihadirkan menjadi hal yang memiliki makna tersendiri.

Persoalan teks dalam konteks inilah yang masih banyak seniman mengabaikannya. Banyak pelukis yang hanya sibuk berkutat di atas selembar kanvas atau bidang gambar, banyak penari yang hanya sibuk menggerak-gerakkan tubuhnya, banyak musisi yang hanya serius membunyikan instrumennya, juga banyak dramawan yang hanya terfokus akting di panggung. Mereka cenderung melupakan relasi-interalasi dengan ruang dan waktu di sekitarnya yang sebetulnya justru menjadi konteks baru bagi sebuah karya seni.

Dalam kaitan ini, ada baiknya dikutip sedikit ulasan tentang pameran Roedjito di Balai Pemuda Surabaya. Puluhan karya yang dipajangnya “hanya” berupa coret-coretan di atas kertas, kebanyakan digabung beberapa helai yang ditempel di atas lembaran kaca. Sejumlah komentar pribadi dari seniman terkenal menjadikan pameran ini penuh dengan sofistikasi.

Rudjito adalah seniman gaek yang selama ini dikenal sebagai skenografer yang tidak tertandingi di Indonesia. Dialah yang selalu menggarap skenografi teater karya-karya WS. Rendra sejak tahun 70-an. Berbagai pertunjukan teater dan tari dari seniman ternama negeri ini juga tak luput dari tangan dingin Mbah Djito (begitu panggilannya). Rudjito adalah seorang empu yang sarat dengan muatan kewibawaan. Maka ketika dia menggelar karya lukisnya di TIM Jakarta, berlanjut di Yogyakarta dan akhirnya di Surabaya sekarang ini, orang pun tak bisa lepas dari beban kewibawaan tersebut. Tidak heran ketika sejumlah tokoh dimintai komentarnya dengan tulisan tangan di atas selembar kertas, berbagai pujian meluncur deras, penuh dengan sanjungan yang cenderung tidak memberikan celah sedikitpun untuk memandang secara kritis terhadap karyanya. Bahkan, beberapa diantaranya (Wayan Sadra misalnya), malah memberikan komentar juga dalam bentuk sketsa yang ikut dipamerkan.

Komentar-komentar tersebut datang dari Goenawan Mohammad, Ratna Sarumpaet, Nano Riantiarno, Merwan Yusuf, Boi G. Sakti, Soetardji Calzoum Bachri, Garin Nugroho, dan sekian banyak nama lagi, yang kesemuanya merasa hormat dan kagum terhadap Rudjito. Fakta inilah yang kemudian menjadi semacam tabir pelindung yang tidak membuka peluang untuk mengkritisi karya-karya Rudjito. Padahal, (bisa saja orang bertanya) apa sih kehebatan corat-coret tinta di atas kertas itu? Apakah yang begitu itu sudah pantas disebut lukisan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat wajar dan sah-sah saja. Namun bahwa pada tataran tertentu memang seorang seniman bisa menganggap bahwa apa yang dilakukannya bukan sebuah karya seni. Seorang pelukis bisa saja menolak disebut pelukis dan telah menghasilkan lukisan, meski namanya telah mencitrakan sebagai pelukis dan telah sekian banyak lukisan dihasilkannya.

Apa yang sesungguhnya hendak disampaikan seniman yang dedikatif ini adalah, bahwa sesuatu yang biasa saja kalau diperlakukan dengan serius akan menjadi hal yang luar biasa. Bayangkan kalau yang memamerkan karya-karya seperti itu bukan Rudjito dan tidak dikomentari oleh seniman-seniman besar yang punya nama di negeri ini. Dengan kata lain, teks sederhana yang disajikannya telah benar-benar mendapatkan konteks yang tidak sederhana. Sebagai karya seni rupa, apa yang disajikan Rudjito memang cenderung seperti goresan tangan orang iseng sambil mengisi waktu senggang. Dia hampir tidak menampilkan bentuk apa-apa, tidak bermaksud melukiskan sesuatu, bahkan tidak ada judul karya ketika dipamerkan. Ibarat sebuah sampiran dalam sajak, maka isinya diserahkan sepenuhnya pada apresian. Sebagaimana judul pamerannya, “Merenung”, itulah yang memang ajakan Rudjito bagi publik. Maka penataan karya, biografi Rudjito dan komentar-komentar pujian dari banyak seniman ternama itulah yang kemudian membentuk konteks baru bagi karya-karyanya.

Coret-coretan Rudjito di atas kertas itu tidak dipresentasikan sebagai lukisan atau sketsa sekalipun. Dia hanya menggerak-gerakkan pena di tangannya di atas kertas yang kemudian mewujud seperti sketsa nonfiguratif. Rudjito melakukan hal itu seperti ibadah, bagaikan berzikir dalam keseharian untuk menemani kerja kreatifnya. Rudjito seolah-olah sedang menuliskan catatan hariannya, jam demi jam, detik demi detik. Di atas kertas-kertas itulah dia bicara dalam bahasa hati dengan ungkapan yang sangat personal. Sama dengan Made Wianta, Rudjito melakukan hal ini juga bukan untuk membunuh waktu, melainkan mengisi waktu, atau “me-rupa-kan” waktu. Dia sedang mencatat detak jantungnya, dengus nafasnya, aliran darahnya, bahkan juga sebisa mungkin melukis nafasnya sendiri. Kalau orang mengenal Rudjito sebagai skenografer pertunjukan-pertunjukan seniman ternama, maka pada karya-karya sketsanya inilah tergambar dengan gamblang jatidiri Rudjito yang sebenarnya.

Dan, ketika pamerannya masih berlangsung, Roedjito menghembuskan nafas terakhirnya. (*)

Catatan:
Tulisan ini adalah cuplikan buku “Tantangan Perupa” yang segera terbit.

13 Tanggapan

  1. Penilaian tentang seni menjadi ruwet disebabkan oleh publik sendiri yg. memang sudah ruwet pikirannya, sedangkan pelukisnya biasa2 saja tidak menjadi ruwet.
    Mengenai harga tentu saja itu hak pelukis, bisa mahal bisa murah dan mungkin saja juga tidak dijual walaupun ibaratnya mau ditukar 10 RollsRoyce kerena keterikatan perasaan si pelukis pada lukisannya. Bagi publik hal spt. itu sangat mengherankan dan membuat publik tidak rasional lagi. Lukisan adalah expresi perasaan, jadi bukan seperti suatu produk umum. Disini publik harus tau, jadi bila harga lukisan tidak terjangkau jangan beranggapan pelukis mau jadi kaya .. padahal pikiran mau jadi kaya tsb. diciptakan dan direkayasa oleh publik sendiri. Publik bingung sendiri oleh rekayasa pikiran sendiri .. jadi bukan pelukisnya yg mau jadi kaya .. itu hanya ilusi publik.

  2. Bila ingin meng kritik seni lukis tentu seorang pelukis lebih propotional dalam kritikannya, karena dia lebih mengerti bidangnya. Publik boleh2 saja meng kritik, pada umumnya publik hanya meng kritik soal HARGA saja , inilah yg menjadi dilema, segala sesuatu dilihat dari kacamata yg salah dan berdampak amburadul.
    Lukisan jangan disamakan dg produk handphone, mobil dsb.nya, saya rasa publiknya yg kurang pengetahuan. Mereka hanya melihat HARGA seperti belanja di Mall.

  3. Sangat mengesankan sekali, karena aku sadari benar bahwa karya seni adalah sesuatu yang sangat agung,luhur dan patut dihargai. Sekecil apapun karya seni seseorang adalah wujud nyata kreativitas yang membutuhkan perhatian, bukan mencela tetapi harus mencermati dari segala sudut pandang. Seni itu luas seluas Samudera yang tiada habis terkuras hingga kapanpun, selama itu pula manusia dituntut untuk mampu menghargai hasil karya seni.

  4. aku ini memmang sangat menggemari dunia rupa.atau lukis.sering aku dimintai tolong orang untuk melukis foto mereka ataou foto anaknya untuk hadiah ulang taun ataopun pajangan.namun apakah aku ini bisa hidup dari hasil lukisku….apakah suatu saat nanti lukisan tetap masih di minati oleh semua kalangan..di jaman yang semakin modern ini banyak cara cara mudah untuk bisa menghasilkan gambar/lukisan yang mirip seperti lukisan beneran namun dengan cara serba modrn & digital,menggunakan komputer,.mskipun saat ini aku seadng bekrja,,dan gaji yang pas-pasan….aku gak pernah merasakan kenyamanan dalam hidupku karna telah meninggalkan kebiasaanku,karena tak pernah ada waktu.dan pikiran sering stress.apkah aku bisa menafkahi keluargaku jika aku mengikuti keinginan hatiku untuk terus melukis..kemana aku akan menjualnya..adakah yang minat..kdang orang berasumsi bahwa lukisan itu relatif mahal…mereka lebih memilih karya-karya yang serba instan yang pake cetakan ,,serba digital..dan tentu harga lebih murah,,sekali lagi bisakah aku hidup dari lukisan.dimanapun aku bekerja tak pernah aku rasakan senag,damai ,nyaman,dan tentram,karna ku tinggalkan hobiku…saat ini streeesss teruuus hidup di perantauan…tak punya keluarga…kerja gaji tak seberapa…namun keluarga terus berharap aku bisa bawa uang…..untuk kbutuhan sehari hari.

  5. bEhg rA LEngkAp tenAn,..

    • melukis butuh skill tapi itu saja masih jauh dari kata cukup, keterampilan memvisualisasikan ekspresi jiwa akan sesuatu dalam bentuk yang tepat adalah hal yang menembus teori relativitas yang berati tidak ada kata yang tepat untuk posisi itu, sebab di barengi dengan pengikutsertaan seluruh indra tubuh , jasmani dan ruhani, perenungan tentang sesuatu, .penguasaan akan pemahaman estetis sangat mutlak di miliki perupa meskipun nilai estetis itu sendiri sudah mengalami pergeseran yang sinifikan dari waktu ke waktu dari orang ke rang dan dari generasi ke generasi. suatu karya lukis tidak ada yang imortal sekelas monalisa sekalipun. itulah kenapa hingga saat ini aku belum memutuskan terjun kedunia antah berantah ini sebagai penopang kehidupan keluarga. benar katamu orang bali tetap melukis meskipun sebenarna dia adalah seorang pencangkul yang handal. tetaplah bekerja menghidupi keluarga , menjadi seniman adalah proses yang sangat panjang tiada henti. bekerjalah dan melukislah , dan berproseslah, belum saatnya nyemplung dan bertotalitas ria , selamat berkaya

  6. ilustrasi sedikit tentang kalimat di bawah ini:
    Kalau dulu ada anggapan: “Mau makan apa kamu kok jadi pelukis?”. orangtua saya juga dulu berpikiran seperti itu, saya dipaksa masuk sekolah kejuruan yg pada saat itu sedang digaungkan oleh pemerintah. setelah 2 tahun terakhir ini saya balik ke bakat saya seni lukis, ternyata saya menemukan kebahagiaan bathin, ketenaran walau belum besar dn yang utamanya saya dapat berbagi bagi orang lain dengan bakat yang telah diberikan oleh Tuhan sementara selama ini yang saya tekuni/belajar bahkan saya lanjut keperguruan tinggi malah tidak bisa diberikan kepada orang lain. yang saya mau garis bawahi adalah jadikan pekerjaan yang kita senangi menjadi hal yang bisa diberikan kepada orang lain, walaupun keinginan untuk menjadi besar/tenar sebagai seorang pelukis itu ada dan sebagai pembuktan nyata bahwa melukis sama dengan profesi lain semisal dokter atau insiyur ada yang sukses dan kaya padahal juga ilmunya biasa saja, saya pikir sama saja setiap, tinggal bagaimana kita bukan hanya sekadar hebat/ahli melukis tapi tak mampu menjual, sekarang jamannya era informasi “orang bisa tenar hanya dalam hitungan menit bukan puluhan tahun lagi”. (lukisan saya ke arah kerajinan),

  7. salam kenal untuk smua,
    membaca artikel ini menarik karena melahirkan pandangan beragam spektrum seni rupa….
    sukses slalu mas henri dan blognya.
    salam

  8. boleh kutip artikelnya gk om? .. artikel ini lumayan lengkap untuk semangat ..mau tak post di blog

  9. pelukis yang baik adalah pelukis yang menafkahi anak dan istrinya dengan baik, semua media seni memerlukan biaya, kelangsungan berkarya memerlukan biaya, ketenaran dan lakunya karya adalah karunia Allah swt,,,

    support to : mas HENRI,,,,,,tulisanya sangat membuat saya merenung!!!

  10. Sangat benar rangkuman yang anda tuliskan,,
    saya termasuk berkecimpung Dalam Seni rupa Mulai 3 Smp Sampai Saat Ini ,, saya Pernah memenangkan Lomba Berkali2 Namun Nama Saya Tak Jua Di kenal Setumpuk Coretan Tangan dan sebagainya Telah Tersusun Di galery Milik Org, Karena Saya Bukanlah Org Kaya Jadi Tak Mampu Membuat Sebuah Galery Untuk Diri saya Sendiri,,,

    masih Bercengkrama Dalam Pergelutan Arus Kehidupan Yang Kini Hanya Mampu Mecoretkan Karya Ke kanvas Setelah Pulang Berjualan Saja,,,

    Tulisan Anda mengingatkan Saya Tentang Pertama Kali Saya Menapakkan Kaki Di bali Di mana Seniman Yang di Hargai adalah Semiman Yg sudah Kaya Raya,, Bukan Dari Karya Tangannya Sendiri,,,
    sempat Saya Miris Melihat Ada Beberapa Org Yg Hanya Menjiplak Dari Ide Orang Lain,,

    Membuat Saya Terdolong Menggeluti Seni Abstrakis,,, Yang Mungkin Tidak Akan Di kiplak Selain Menggunakan Mesin Laser ,,,

    Salam Sejahtera Untuk Anda Disana

  11. butuh waktu 15 tahun bagi saya utk memutuskan menekuni seni lukis bordir mulai tahun ini. meski hasilnya belum seberapa dibanding ketika saya kerja di tambang batu bara dan resign tahun lalu. saya suka dg apa yg saya lakukan sekarang. karya2 saya selalu ludes terjual karena emang saya bandrol dg harga terjangkau!! saya ingin agar banyak orang tak sekedar suka lukisan bordir saya, tapi jg bisa memiliki dan memajangnya di sudut2 kamar mereka. saya hanya ingin mereka senang dan sedikit mengurangi stress ketika mereka melihat dan menyentuh lukisan2 bordir yg terpajang di kamar, ruang kerja atau ruang kantor. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: