Habitat Ludruk Memang Bukan di Surabaya

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ternyata tidak memberikan tempat bagi ludruk dalam peringatan Hari Jadi tahun ini. Sebagaimana tulisan Widodo Basuki, bahwa HUT Surabaya (ternyata) melupakan ludruk (JP, 10 Mei, 06). Memang ironis, tetapi itu realistis, karena pada prakteknya ludruk memang bukan lagi menjadi ikon kota Surabaya. Kalau selama ini ludruk masih disebut-sebut sebagai milik kota Surabaya, itu hanya sebatas realitas politis, bukan realitas empiris. Baca lebih lanjut

Iklan

Dicari, Seni Tradisi Layak Tonton

NEGERI ini memiliki potensi seni tradisi yang amat sangat kaya, tidak terkecuali Jawa Timur. Itulah sebabnya pemerintah mendapatkan amanat dari rakyat untuk melestarikan seni tradisi karena diyakini dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi pembangunan rohani bangsa. Bahkan, telah memberikan peluang untuk mengkreasi seni tradisi menjadi sebuah pertunjukan yang layak tonton. Persoalannya adalah, untuk melakukan proses pengemasan itu ternyata bukan soal yang gampang. Baca lebih lanjut

Pabrik Semen dan Ancaman Ekologis

Diantara sekian banyak manfaatnya, keberadaan pabrik semen dapat menjadi ancaman ekologis yang serius. Mulai dari pengambilan bahan bakunya, proses produksinya, sampai dengan dampak polusi debu yang ditimbulkannya. Kalau toh hingga sekarang belum terasakan, jangan keburu gembira, sebab bahaya ekologis selalu muncul belakangan. Dan ketika kita sudah menyadari bahaya itu, maka roda jaman tak mungkin lagi diputar balik. Bencana ekologis, selalu terjadi akibat keterlambatan menyadari kesalahan. Baca lebih lanjut

Perspektif Budaya Pencemaran Sungai

PENCEMARAN sungai akibat limbah tetes tebu yang pernah menggegerkan Surabaya dan sekitarnya ternyata “tidak terlalu dipermasalahkan” masyarakat. Buktinya, tidak ada gugatan class action atas inisiatif warga sendiri, bahkan surat-surat pembaca di media tak ditemukan protes keras untuk menuntut penyelesaiannya. Mengapa persoalan yang sedemikian serius itu justru dianggap sepi? Barangkali, inilah salah satu bentuk sikap budaya masyarakat yang sudah terbiasa dirugikan kepentingannya, sehingga ketika mereka tenggelam sebatas leher pun tetap tak protes karena air memang belum masuk ke lubang hidung.
Baca lebih lanjut

Siapa yang Membela Seniman Tradisi?

KALANGAN seniman tradisi memang tidak pernah mengeluh dengan segala keterbatasannya. Tetapi, jangan-jangan keluh kesah itu memang tak mampu ditangkap oleh kita (yang mengaku seniman modern dan orang kota) karena kita kurang punya telinga peka untuk dapat mendengar keluh kesah mereka.
Baca lebih lanjut

Mencari Sosok Pahlawan Masa Kini

Jika menyebut kata pahlawan, yang terbayangkan adalah sosok pejuang revolusi berpakaian tentara atau “kostum” gerilya, sambil tangannya menggenggam senjata atau bambu runcing. Seperti itulah sosok pahlawan yang tergambarkan pada berbagai monumen di banyak kota, termasuk di Surabaya. Tapi ada yang menarik, di Jakarta ada monumen yang disebut Patung Pahlawan namun menggambarkan sepasang petani, laki-laki dan perempuan. Karena itulah orang lebih mengenal patung di jalur hijau Prapatan Menteng Jakarta itu sebagai Patung Pak Tani.
Baca lebih lanjut

Buah Simalakama Pelestarian Cagar Budaya

Sudah berulangkali terdengar keluhan, bahwa kesadaran masyarakat terhadap peninggalan-peninggalan purbakala sedemikian rendah. Banyak arca-arca dirusak dan dicuri, candi-candi yang diinjak-injak begitu saja, atau batu-batu candi dicoret-coret, bahkan pernah ada kabar bahwa batu bata bermutu tinggi bekas candi malah digunakan untuk pengerasan jalan. Masyarakat dikecam karena prilaku vandalismenya. Padahal berbagai larangan berupa papan peringatan, seruan petugas purbakala atau ceramah para guru, sudah sering dilakukan agar menghormati berbagai arca dan peninggalan purbakala yang sangat tinggi nilainya bagi sejarah budaya bangsa itu.
Baca lebih lanjut