Perspektif Budaya Pencemaran Sungai

PENCEMARAN sungai akibat limbah tetes tebu yang pernah menggegerkan Surabaya dan sekitarnya ternyata “tidak terlalu dipermasalahkan” masyarakat. Buktinya, tidak ada gugatan class action atas inisiatif warga sendiri, bahkan surat-surat pembaca di media tak ditemukan protes keras untuk menuntut penyelesaiannya. Mengapa persoalan yang sedemikian serius itu justru dianggap sepi? Barangkali, inilah salah satu bentuk sikap budaya masyarakat yang sudah terbiasa dirugikan kepentingannya, sehingga ketika mereka tenggelam sebatas leher pun tetap tak protes karena air memang belum masuk ke lubang hidung.

Sikap budaya suatu masyarakat akan terbentuk manakala suatu hal terjadi secara terus-menerus, menjadi kebiasaan, dan tidak menimbulkan gejolak berarti untuk menjadi perubahan. Demikian pula soal pencemaran sungai, terjadi berulang-ulang, tak pernah ada penyelesaian, sehingga masyarakat menjadi abai untuk memikirkannya. Apalagi, kasus-kasus lingkungan pada umumnya memang baru terasa urgen justru ketika akibatnya sudah menjadi terlambat untuk mengatasinya. Sering kali orang tidak menganggap penting persoalan selama akibat yang dirasakannya bukan terjadi saat itu juga.

Lebih parah lagi, ketika sudah diketahui akibatnya pun, masih saja terus berlangsung perusakan lingkungan, karena pihak yang merusak bukan pihak yang merasakan akibatnya. Atau, perusakan tetap berlangsung, karena akibatnya ditanggung secara bersama-sama oleh semua orang, bukan hanya pihak yang merusak saja.

Secara langsung, yang dirugikan akibat pencemaran Sungai Brantas tersebut adalah para konsumen PDAM. Yang kurang diperhitungkan adalah, siapa saja yang mengonsumsi ikan-ikan yang diracuni akibat pencemaran tersebut? Bukan hanya ikan sungai yang mabuk itu, tetapi ikan-ikan (dan fauna lain) di tambak dan laut yang pasti juga teracuni. Itulah salah satu bentuk sikap budaya juga, bahwa selama ini orang cenderung mengatasi persoalan pencemaran dengan cara memindahkan masalah dan bukan menyelesaikannya.

***

SIKAP budaya yang berikutnya, masyarakat selama ini masih belum menghargai apa yang disebut sebagai milik umum. Logikanya, kalau sesuatu disebut “milik umum” berarti menjadi milik semua orang. Jadi, setiap orang wajib menjaganya, karena sesuatu itu adalah miliknya juga. Tetapi yang terjadi, karena dianggap milik umum lantas dipahami menjadi “bukan milik siapa-siapa”. Yang artinya, siapa saja boleh memperlakukan dengan seenaknya tanpa ada kewajiban untuk memeliharanya. Contohnya sungai, jalan raya, air, udara, dan lain-lain.

Secara sempit, pencemaran sungai Brantas (hanya menyebut contoh) terjadi karena pembuangan limbah pabrik yang belum dinetralisasi. Namun kalau mau dihitung, berapakah andil masyarakat sendiri dalam hal pencemaran sungai tersebut? Pencemaran domestik seperti limbah rumah tangga, bukan berarti lebih kecil artinya dibanding pencemaran industri.

Pertanyaannya kemudian, apakah karena kita merasa semua orang ikut memiliki andil terhadap pencemaran sungai, maka kita menjadi apatis ketika kasus pencemaran yang dilakukan oleh Pabrik Gula Ngadirejo belum lama ini? Atau, sikap apatis tersebut menjadi lantaran selama ini kasus-kasus pencemaran lingkungan nyaris tidak pernah ada penyelesaian tuntas.

Bagaimanapun, persoalan lingkungan memang harus diteropong secara holistik, bukan secara sepotong-sepotong, hanya berorientasi sesaat atau jangka pendek. Karena budaya, pasti menyangkut manusia, yang menjadi aktor utama dalam semua persoalan di muka bumi ini. Apa boleh buat. (*)

2 Tanggapan

  1. yahh..pencemaran lagiii..dimana2 ada pencemaran ywahh….
    bingung deh ama dunia ini…..?!!”££%$^%&*^%^%&$&*^(*&**^”£”£%

  2. bagaimana cara mengatasi air itu,,,,,,,,,,,,,,,,,,?????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: