Siapa yang Membela Seniman Tradisi?

KALANGAN seniman tradisi memang tidak pernah mengeluh dengan segala keterbatasannya. Tetapi, jangan-jangan keluh kesah itu memang tak mampu ditangkap oleh kita (yang mengaku seniman modern dan orang kota) karena kita kurang punya telinga peka untuk dapat mendengar keluh kesah mereka.

Oleh karena itu, terlalu naif kalau kemudian kita mengklaim bahwa para seniman tradisi serba pasrah dan mau menerima hidup apa adanya demi menjalani lakon kehidupannya dalam berkesenian.

Kehidupan seniman tradisi lebih ironis bila dibandingkan dengan kehidupan para seniman modern, namun itu tidak berarti mereka tidak punya keluh kesah dan mau menerima apa adanya. Klaim seperti itu amat melecehkan keberadaan seniman tradisi.

Dan lebih melecehkan lagi manakala lantas muncul anggapan bahwa “karena mereka tidak mengeluh berarti tidak perlu ditolong” (ini pengandaian dari saya). Ibarat kita melihat orang hendak tenggelam, tanpa korban berteriak minta tolong pun kita wajib menolongnya. Memang dibutuhkan kepekaan tersendiri untuk dapat menyaksikan, apakah yang kita lihat itu orang sedang tenggelam atau latihan menyelam.

Cobalah melakukan pengamatan lebih arif, betapa masih banyak seniman tradisi yang tersandung-sandung oleh birokrasi perizinan, pungutan upeti sana sini, dan ke sana kemari ditendang oleh kepentingan banyak pihak. Menurut kesaksian Yuwono (pekerja seni dari Malang) betapa para seniman tradisi masih harus bersusah payah hanya sekadar untuk mempertahankan agar mereka tetap bisa pentas. Orang-orang macam Yuwono itulah yang dibutuhkan agar keluh kesah seniman tradisi dapat diformulasikan untuk kemudian diperjuangkan agar nasib mereka mendapatkan perbaikan.

JANGAN dikira kalau mereka setiap hari berpentas tanpa penghasilan, penonton, dan tempat (gedung yang representatif) yang jelas, lantas mereka berdiam diri tanpa keluhan apa-apa. Jangan-jangan karena telah sedemikian kenyangnya penindasan yang mereka terima sehingga untuk mengeluh saja mereka sudah tidak sempat. Menurut bahasa sinetron, untuk menangis saja sudah tak punya persediaan air mata.

Mereka memang mau saja menempati, balaidesa, bekas gedung film, tobong-tobong yang hanya dikelilingi oleh sesek, di lapangan rumput, bahkan di perkampungan. Tetapi yang harus diingat, tempat-tempat seperti itu bukan lantas harus dimaknai sebagai bentuk kemelaratan yang harus dikasihani.

Bagaimanapun konteks kesenian rakyat memang tak bisa disamakan dengan kesenian modern yang membutuhkan pranata tersendiri untuk menghadirkannya. Seni pertunjukan rakyat yang pentas di pekarangan rumah misalnya, pada satu sisi justru menunjukkan bahwa memang itulah habitatnya.

Selama ini memang ada anggapan salah kaprah yang menganggap bahwa pentas di gedung kesenian dianggap lebih terhormat dibanding langsung berbaur dengan masyarakat. Untuk konteks seni pertunjukan rakyat atau tradisi, meski tidak semuanya, banyak yang memang harus dipentaskan dengan cara begitu dan bukan dipaksakan untuk manggung di gedung pertunjukan yang memiliki panggung prosenium.

Dalam pengamatan saya, banyak sekali jenis-jenis pertunjukan rakyat yang “disiksa” untuk pentas di panggung prosenium dalam sebuah gedung pertunjukan yang megah. Saya saksikan betapa mereka harus memaksakan diri untuk dapat tampil baik (menurut kacamata orang modern) sementara banyak hal yang harus dikorbankan. Siksaan tersebut lebih terasakan bagi pertunjukan rakyat yang berangkat dari tradisi atau ritual masyarakat setempat.

Dalam festival seni pertunjukan rakyat misalnya, ada syarat bahwa pertunjukan yang ditampilkan harus memiliki kaitan dengan adat istiadat masyarakat setempat

Namun yang kemudian menjadi konyol adalah, bahwa pertunjukan rakyat yang berasal dari upacara adat itu lantas dipaksakan untuk pentas di panggung prosenium. Betapa sulitnya (kalau tak bisa disebut tersiksa) upacara adat bersih desa harus dipanggungkan seperti tontonan teater modern.

Begitu juga Ronteg Singa Ulung yang memiliki habitat di pekarangan harus diangkat ke panggung sehingga lantas direkayasa menjadi seperti Barongsai. Bentuk-bentuk siksaan seperti ini masih dapat dideretkan contoh-contohnya.

Karena itulah saya sependapat dengan apa yang pernah disuarakan oleh AM Munardi (almarhum) bahwa Jawa Timur tidak terlalu membutuhkan gedung kesenian dalam pengertian yang memiliki panggung prosenium. Sebagian besar pertunjukan rakyat di Jatim ini justru lebih membutuhkan ruang arena terbuka ketimbang gedung tertutup yang mewah sekalipun.

Kalau memang berniat membantu seni pertunjukan tradisi atau pertunjukan rakyat, keberadaan teater arena itulah yang lebih dibutuhkan. Dengan demikian Sandur Tuban dengan leluasa memancang tiang-tiang bambunya, seniman jaranan bebas menyemburkan api dari mulutnya, dhadhak merak reog juga bebas berkibar, para penari tayub bebas berinteraksi dengan penonton dan sebagainya.

SEMENTARA jenis-jenis kesenian tradisi yang membutuhkan panggung (ludruk, ketoprak, wayang orang) juga tidak bisa lantas diartikan bahwa mereka akan menjadi lebih bernasib baik kalau dipentaskan di gedung kesenian yang bagus.

Harus diingat, bahwa ludruk dan sebagainya itu masih berada dalam kategori seni pertunjukan rakyat yang memiliki habitat di tengah masyarakat desa. Kalau toh harus berada di kota, mereka harus berada di tengah masyarakat urban. Itulah salah satu sebab mengapa ketoprak, wayang orang, ludruk dan juga Srimulat di THR Surabaya tak bisa hidup.

Habitat seni pertunjukan rakyat seperti itu, memang bukan berada di Kompleks THR, bukan di convention hall atau gedung kesenian semacam Gedung Cak Durasim misalnya. Kalau toh sesekali mereka pentas di sana, itu tak ubahnya sebuah bentuk rekreasi yang tak mungkin dijalani secara rutin.

Berkaitan dengan hal ini, saya pernah menulis pernyataan kontroversial, “sebaiknya Srimulat dibubarkan saja.” Artinya, keberadaan Srimulat di Kompleks THR Surabaya itu memang bukan habitatnya. Kalau pemerintah memang serius membantu untuk menghidupkan Srimulat, berikan gedung pertunjukan di tengah atau tak jauh dari kampung.

Keberadaan gedung-gedung “sederhana” seperti itulah yang harus disubsidi oleh pemerintah agar kesenian rakyat dapat tetap hidup secara wajar di habitatnya sendiri, dan bukan dipaksa masuk di akuarium. Celakanya, kelompok Srimulat sendiri tidak memiliki keberanian untuk keluar THR.

Saya tetap berpendapat bahwa Srimulat adalah “salah satu kelompok penghibur” dan bukan jenis seni pertunjukan.

Demikian pula, subsidi yang diberikan pada seni tradisional lainnya, kalau tidak diimbangi dengan penataan suprastruktur maupun infrastruktur yang menyertainya, akan menjadi aliran beras di karung bocor.

Buktinya, pemerintah sudah pernah menyubsidi pementasan ludruk selama setahun penuh di THR Surabaya. Masyarakat boleh menonton gratis, karena pemerintah sudah memberi subsidi bagi pertunjukan tersebut. Tapi apa yang terjadi?

Ludruk itu pun hengkang dari THR seiring dengan berhentinya subsidi. Dan tampaknya pola seperti ini diulangi lagi oleh kemurahan hati Amien Rais yang menyumbang kesenian ketoprak.

Sementara itu, sungguh naif kalau mempertentangkan keberadaan gedung kesenian dengan proses kreatif seniman.

Menurut saya antara gedung kesenian dan proses kreatif itu adalah dua hal yang tidak harus dihubungkan. Bahwasanya seniman harus kreatif itu adalah satu hal, sedangkan kewajiban pemerintah menyediakan gedung kesenian adalah satu hal yang lain lagi.

Ingat, membangun gedung kesenian adalah kewajiban pemerintah, dan itu sudah dituangkan dalam produk hukum bernama Instruksi Mendagri Nomor 05 A Tahun 1993 (baca: sepuluh tahun yang lalu). Apakah produk hukum semasa Orde Baru itu memang dianggap kedaluwarsa dan diabaikan begitu saja? (*)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. numpang pendapat ya Om…
    kalo menurut saya nih… (pribadi banget)
    kebudayaan di indonesia sekarang jadi sedikit peminatnya karena kebudayaan itu “dipertahankan” bukannya “dikembangkan” budayawan indonesia seolah ogah jika budaya kita dicampuri atau dikawinkan dengan kemajuan teknologi. makanya gak bisa maju.

    kalo kita liat orang Jepang, budaya mereka masih bisa diminati oleh kawula mudanya kaena budaya mereka “dikembangkan” bukan sekedar “dipertahankan”

    mau bukti??
    lihat saja film2 anime / manga / kartun jepang. dalam film2 tersebut, jagoan bersamurai dan memakai baju tradisional jepang masih banyak terlihat. bahkan para jagoan itu, sekalipun membawa samurai juga dilengkapi dengan teknologi GPS (global positioning sistem *kalo gak salah*) berbeda dengan budaya Indonesia yang selalu meninta dijaga keasliannya.

    menurut saya lagi, agar budaya indonesia bisa diminati oleh banyk orang, khusunya kawula muda, maka budaya tersebut harus disesuaikan dengan jaman. jadi sekali lagi “dikembangkan”, bukan ” dipertahankan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: