Dicari, Seni Tradisi Layak Tonton

NEGERI ini memiliki potensi seni tradisi yang amat sangat kaya, tidak terkecuali Jawa Timur. Itulah sebabnya pemerintah mendapatkan amanat dari rakyat untuk melestarikan seni tradisi karena diyakini dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi pembangunan rohani bangsa. Bahkan, telah memberikan peluang untuk mengkreasi seni tradisi menjadi sebuah pertunjukan yang layak tonton. Persoalannya adalah, untuk melakukan proses pengemasan itu ternyata bukan soal yang gampang.
Bagaimana mengemas sebuah tradisi menjadi sebuah tontonan, ada forum yang disediakan untuk itu, yakni Festival Seni Pertunjukan. Ini ajang yang sudah lama dilaksanakan oleh pemerintah Jawa Timur, sejak masa Orde Baru hingga masa (yang katanya) Reformasi sekarang ini. Biasanya, forum ini dijadikan satu dengan beberapa festival lainnya yang kemudian diberikan payung bernama: Festival Budaya. Soal nama payung inipun sudah berulangkali mengalami pergantian. Mulai dari Pekan Budaya, kemudian Pekan Budaya dan Pariwisata, Pekan Seni Budaya dan Pariwisata, dan entah akan berubah menjadi apa lagi.
Bahkan, dulu ada semacam rebutan kepentingan antar berbagai institusi pemerintah terhadap even yang satu ini. Pernah suatu ketika, institusi yang terlibat menangani Pekan Budaya ini adalah Dinas P dan K, Kanwil Penerangan, Kanwil Pariwisata, Kanwil Pendidikan (Bidang Kesenian), Taman Budaya, serta bidang protokol pemerintah provinsi sendiri. Akibatnya, rapat demi rapat koordinasi berulangkali diselenggarakan meski hasilnya toh masih saja kurang memuaskan. Dan sekarang, ketika memasuki era reformasi, hanya Dinas P dan K yang kemudian menangani sendiri.
Terlepas dari sekian banyak nama itu, ada hal menarik yang layak dicermati dalam Festival Seni Pertunjukan yang terdapat di dalamnya. Pertama, seni tradisi yang disyaratkan untuk dapat ditampilkan adalah seni tradisi yang telah digarap sedemikian rupa sehingga layak menjadi sebuah tontonan atau seni pertunjukan. Artinya, seni tradisi yang tampil bukan disajikan secara mentah begitu saja. Sebab kalau ditampilkan “mentah” itu sudah ada forumnya sendiri, yakni Festival Upacara Adat, yang dulu juga berada dalam satu payung Pekan atau Festival Budaya. Meskipun, dalam proses pementasan tetap saja harus dilakukan penyingkatan waktu dan editing seperlunya.
Dalam prakteknya, ternyata memang sangat beragam soal bagaimana sang koreografer menampilkan seni tradisi sebagai pengisi acara Festival Seni Pertunjukan tersebut. Atas nama memenuhi persyaratan “tradisi” maka ada yang mengusung seni pertunjukan rakyat yang memang sudah menjadi tradisi di suatu kawasan budaya tertentu. Misalnya Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto atau Jombang bahkan Malang mengusung ludruk. Kemudian dari kawasan etnik Mataraman menampilkan ketoprak, dari Madura menyuguhkan Tonil, dan sebagainya. Bahkan ada yang mencoba menampilkan seni tradisi yang menjelang punah, seperti Dungkrek (Madiun) atau Sandur (Tuban).
Pengalaman saya menjadi anggota Tim Pengamat Festival Seni Pertunjukan dalam dua tahun berturut-turut (2002-2003) di Taman Krida Budaya Malang, dapat disaksikan adanya penyajian dari berbagai daerah dengan aneka ragam potensi dan keunikan Jawa Timur. Semua peserta menunjukkan keseriusan untuk menyajikan penampilan yang bagus, meskipun bisa jadi mereka memiliki sejumlah keterbatasan yang menjadi kendala. Masing-masing peserta juga telah berupaya menunjukkan potensi lokal dari daerah masing-masing. Dengan demikian, keseluruhan potensi lokal tersebut dapat menjadi kebanggaan Jawa Timur dan sekaligus dapat dikelola dengan baik untuk dipromosikan secara luas.
Disamping itu, rata-rata peserta telah berani melakukan terobosan-terobosan (baca: sudah ada upaya) untuk menyiasati seni tradisi yang baku, dengan menampilkan kreasi-kreasi yang menjadikannya sebagai sebuah pertunjukan yang enak ditonton. Hal ini merupakan kabar baik bagi penyelamatan seni tradisi yang hampir atau sudah punah dan/atau memunculkan seni pertunjukan baru yang memiliki akar kuat dari seni tradisi atau ritual dari daerah.
Memang bukan persoalan yang gampang ketika dihadapkan muatan tradisi yang tetap harus ada ketika pertunjukan sudah dikemas dalam tempo singkat dan dimainkan di panggung prosenium. Sebuah upacara bersih desa yang jelas-jelas merupakan acara ritual, biasanya digelar di lapangan dan berlangsung berjam-jam, terpaksa harus dipermak sana-sini agar sesuai dengan keinginan penyelenggara festival. Kalau tidak begitu, seni tradisi upacara ritual bersih desa atau sedekah bumi sulit ditemukan unsur seni pertunjukannya.
Sebagai sebuah seni tradisi yang dilakukan penggarapan, nampaknya ada hal-hal yang masih menjadi persoalan. Yaitu, bagaimana mengubah seni ritual atau seni pertunjukan rakyat yang biasa dimainkan di lapangan atau arena, menjadi seni pertunjukan yang dipentaskan di panggung prosenium. Ada kalanya juga mereka dihadapkan pada persoalan, bagaimana memisahkan aspek ritual yang menjadi bagian inheren dari seni tradisi aslinya, menjadi seni pertunjukan yang harus dikemas di panggung.
* * *
MENGAPA tidak dibiarkan saja tampil utuh? Memang menyangkut soal teknis, terutama soal waktu, karena ada banyak seni tradisi yang biasa dipentaskan semalam suntuk. Ini catatan kedua, yakni menyangkut soal waktu. Sebagai pertunjukan yang disajikan untuk suatu keperluan (dalam hal ini Festival Seni Pertunjukan), mau tidak mau soal waktu memang harus dibuat ketat. Dalam festival di Malang itu hanya disediakan waktu maksimal 25 menit, sudah termasuk persiapan dan pembenahan pasca pementasan. Bahkan dalam festival yang sama dalam skala nasional di Bukittinggi (Oktober 2003), hanya disediakan durasi pergelaran 15 (lima belas) menit.
Persoalan penyutradaraan memang menjadi kendala utama bagi kesenian rakyat ketika hendak diangkat menjadi seni pertunjukan yang dikemas dalam durasi singkat. Karena banyak seni pertunjukan yang berdurasi semalam suntuk, maka aparat birokrasi menginginkan dapat dilakukan pemampatan agar dapat dinikmati wisatawan. Itulah sebabnya hingga sekarang masih berkembang polemik ketika wayang kulit harus disajikan dalam tempo satu jam atau bahkan lebih singkat lagi. Ludruk atau ketoprak juga harus bisa dimainkan singkat lantaran wisatawan (juga Bapak-ibu pejabat) tidak punya waktu banyak untuk menyaksikannya secara utuh.
Ketoprak yang konvensional misalnya, memang butuh waktu pementasan panjang sehingga membosankan orang-orang kota yang maunya serba instan. Sementara untuk mempersingkatnya, belum tentu mampu mengedepankan ciri khas ketoprak itu sendiri. Hal yang sama juga dihadapi ludruk, sehingga ketika ada permintaan ludruk singkat, maka yang muncul lebih banyak dagelannya.
Manajemen produksi seni pertunjukan (khususnya manajemen waktu) itulah yang nampaknya menjadi persoalan yang tak gampang dikuasai oleh kalangan seniman tradisional. Meskipun, kadang-kadang secara alami mereka telah berhasil menciptakan pethilan (fragmen) dari sebuah pertunjukan. Hal ini pernah dilakukan dengan relatif baik oleh kelompok Wayang Topeng dari Situbondo, juga (Ludruk) Lerok dari Malang, atau ludruk (Misri) dari Sampang.
Memang seni pertunjukan yang semalam suntuk dan konvensional, sulit untuk dijual pada wisatawan. Mereka lebih suka pada pertunjukan yang instan ketimbang harus semalam suntuk menonton pergelaran. Demikian pula ketika seni pertunjukan digelar untuk kepentingan sebuah festival. Atas nama pariwisata, memang banyak kesenian rakyat atau kesenian tradisi yang dipaksa harus tampil singkat, padat dan siap disajikan kapan saja.
Pengemasan waktu ini memang bukan soal yang gampang. Dalam hal seni pertunjukan yang berasal dari seni tradisi yang dipentaskan semalam suntuk, diperlukan cara pemenggalan yang kreatif sehingga tetap utuh meskipun hanya ditampilkan dalam waktu yang pendek. Ludruk misalnya, ada bagian tari pembuka (Remo), lawak dan sajian cerita. Bagaimana menampilkan kesemuanya itu dalam durasi pementasan yang singkat? Apakah semua elemen itu harus diambil sedikit-sedikit, ataukah dikombinasi sedemikian rupa sehingga tetap menjadi satu keutuhan.
Sebaliknya, ada tari yang semustinya cukup digelar dalam beberapa menit saja, lantas dipanjang-panjangkan untuk dapat mencapai target waktu yang disediakan oleh panitia. Tentunya cara ini juga kurang tepat. Mengingat, kalau memang seharusnya sebuah tarian hanya berdurasi pendek, kemudian ada keinginan untuk tampil lebih panjang, tentunya harus digarap ulang dengan cara memberikan muatan baru, bukan lantas mengolor-olor penyajian. Muatan baru itu misalnya memberikan selingan adegan dialog, nyanyi, atau aksi teater yang lain. Bahkan, kalau perlu, dikombinasikan dengan tari yang lain, sehingga menjadi satu kesatuan seni pertunjukan. Soal bagaimana melakukan kombinasi ini juga merupakan persoalan tersendiri.
* * *
CATATAN ketiga, adala kalanya koreografer melakukan kombinasi dari beberapa elemen pertunjukan atau tari tradisi. Pilihan seperti ini memerlukan konsep dramaturgi yang jelas soal apa yang hendak dicapai dengan penggabungan tersebut. Dramaturgi, sebagai esensi dari seni pertunjukan, kalau tidak digarap secara maksimal, maka pertunjukan menjadi tidak fokus, kurang konsisten dengan ide garap yang diinginkannya, dan tidak jelas bagian mana yang menjadi inti dan hendak ditonjolkannya. Penggabungan beberapa elemen seni tradisi sangat memungkinkan terjadinya kompetisi seolah ingin lebih menonjol satu sama lain, padahal masing-masing memiliki kelebihan tersendiri. Karena itu diperlukan perpaduan sedemikian rupa agar penggabungan tersebut menjadi mozaik yang enak dinikmati sebagai sebuah pertunjukan.
Penggabungan beberapa elemen yang diambil dari sejumlah seni tradisi pernah dilakukan oleh Ki M. Soleh Adipramono dalam Festival Seni Pertunjukan bulan Agustus 2003 yang lalu. Dalam sebuah pergelaran Ontran-ontran Tirta Kamandalu, dimunculkan sajian seni musik lesung, disusul Jaran Monelan (Jaran Kencak), Caplokan, pethilan Wayang Topeng, bahkan sampai beberan kelir besar untuk sajian pendek Wayang Kulit. Sebagai sebuah tontonan, masing-masing elemen tersebut mengesankan saling berkompetisi dan tidak menjadi mozaik yang enak ditonton.
Ibarat semua masakan itu rasanya enak, namun kalau beberapa masakan enak digabung dalam satu piring malah tidak karuan rasanya. Padahal masing-masing seni tradisi tersebut memiliki keunggulan atau kekuatan tersendiri manakala digarap lebih intensif. Dari segi keunikan, kalau saja Soleh hanya menitikberatkan pada permainan jaran monelan dan wayang topeng, maka akan menjadi tontonan yang menarik. Karena itu diperlukan editing yang lebih ketat untuk memunculkan fokus pertunjukan dan menjadi lebih konsisten sehingga karakter pertunjukan tidak hampa.
Soal editing ini pula yang menjadi tantangan bagi Subiyantoro alias Ki Toro dari Sidoarjo yang nampaknya punya keinginan memunculkan seni tontonan “baru” dengan berangkat dari tradisi Wayang Ngamen yang sudah punah. Dalam prakteknya, selain ada sajian wayang kulit (dengan layar mini) Toro juga menampilan kentrung, bahkan para kru musik langsung memegang beberapa sosok wayang kulit dan berdialog satu sama lain, atau dialog wayang di kelir (baca: dialog dengan dalang).
Bagaimana melakukan kemasan yang tepat memang membutuhkan kemampuan koreografi dan penyutradaraan yang tepat pula. Pengemas harus paham betul, pada bagian-bagian yang mana yang menjadi intisari dari sebuah seni pertunjukan tradisi. Atau, alternatifnya, kalau memang mau melepaskan diri dari batang tubuh kesenian itu sendiri, jadilah sebuah seni pertunjukan baru yang merupakan fragmen. Tari Remo misalnya, telah mampu berdiri sendiri sebagai sebuah fragmen tanpa harus muncul dalam pergelaran ludruk.
Banyak kalangan seniman tari atau seni pertunjukan pada umumnya seperti berada di simpang jalan ketika berhadapan dengan pilihan untuk melakukan kemasan. Sebuah seni pertunjukan tradisi tertentu, bisa jadi merupakan seni pertunjukan yang lebih bernuansa ritual. Tetapi ketika harus dikemas menjadi pertunjukan yang instan, maknanya telah berubah menjadi hiburan belaka. Barangkali, hal ini terjadi karena pemahaman terhadap tradisi hanya sebatas kulitnya saja. Padahal tradisi memiliki ruang yang cukup luas untuk dapat melakukan penafsiran.
Dalam perjalanannya, seni tradisi memang mengalami perubahan-perubahan yang terjadi akibat penyesuaian dengan kondisi masyarakat, terutama berkaitan dengan pasar. Karena itu, mengangkat seni tradisi untuk kepentingan sebuah pertunjukan misalnya, sangat tergantung bagaimana penggarapannya. Bisa jadi muatan tradisi itu hanya sebagai tempelan (asal artistik, apa salahnya), atau juga merupakan batang tubuh sebuah pertunjukan, atau juga unsur tradisi hanya menjadi pelengkap.
Karena seni tradisi dihadapkan pada tantangan untuk dapat tetap hidup, maka perlu dipertimbangkan untuk mengemas seni pertunjukan yang praktis, hanya dengan sedikit pemain, menggunakan properti yang minimal serta dapat dipentaskan dalam waktu yang singkat. Meskipun hal ini bukan merupakan keharusan, namun ada baiknya dipertimbangkan agar memudahkan untuk dipromosikan dan memiliki mobilisasi yang tinggi.
* * *
KEEMPAT, persoalan muncul ketika mengemas seni pertunjukan yang biasanya dimainkan di arena terbuka lantas harus dipentaskan di panggung prosenium. Sebuah upacara ritual bersih desa misalnya, bagaimana mungkin dapat tersaji dengan baik manakala harus diangkat ke sebuah panggung prosenium? Kesulitan itulah yang muncul bagaikan sedang berada di simpang jalan, antara semangat untuk mengangkat upacara tradisi sebagaimana aslinya, dengan keinginan untuk menghadirkan sebuah pertunjukan. Persoalan seperti ini sebetulnya menjadi kendala utama bagi kebanyakan seni pertunjukan rakyat. Bagi ketoprak misalnya, memang tak jadi soal ketika harus pentas di panggung prosenium. Demikian pula halnya ludruk, wayang orang dan semacamnya. Banyak seni pertunjukan rakyat yang terpaksa harus menyesuaikan diri dengan format prosenium, sehingga mengalami sejumlah kendala yang kadangkala mengganggu artistik. Sebutlah reyog misalnya, betapa sulitnya memainkan dadak merak dengan bebas di atas panggung. Juga Sandur (Tuban, Lamongan dan Bojonegoro) ketika sampai pada adegan Kalongking yang membutuhkan tiang bambu tinggi.
Keterbatasan arena panggung juga menjadi kendala ketika dibutuhkan permainan arak-arakan atau ketika harus menyemburkan api, memuncratkan air, bahkan juga ketika membutuhkan lumpur sebagai bagian dari pertunjukan. Pertunjukan Ronteg Singo Ulung dari Bondowoso pasti akan terlihat lebih atraktif kalau dimainkan di teater arena, sehingga penonton dengan nikmat dapat menyaksikan dari tempat duduk di ketinggian. Karena adegan singa akrobat memang membutuhkan arena yang luas. Lagi pula, di habitat aslinya, pertunjukan ini memang digelar di arena terbuka.
Dalam kaitan itulah, sekian tahun yang lalu, ketika banyak seniman yang teriak soal perlunya Gedung Kesenian, maka AM Munardi (alm) malah mengklaim bahwa Jawa Timur tidak membutuhkannya. Mayoritas seni pertunjukan rakyat yang ada di Jatim, kata Munardi, justru merupakan seni pertunjukan arena. Jadi, meskipun gedung kesenian bukan berarti tidak penting, namun keberadaan Teater Arena jauh lebih dibutuhkan untuk komunitas seni pertunjukan rakyat.
Menyimak sejumlah penyelenggaraan festival seni pertunjukan selama ini, semuanya selalu terpaku untuk memberi format panggung prosenium, termasuk bagi seni pertunjukan yang lebih pas dimainkan di teater arena. Tidak pernah ada pemikiran untuk menyediakan teater arena sebagai ajang unjuk kebolehan bagi kebanyakan seni pertunjukan rakyat yang memang membutuhkannya. Apalagi, ada niatan membangun Teater Arena sehingga dapat dimanfaatkan oleh banyak kelompok seni pertunjukan yang membutuhkannya. Bukan hanya seni pertunjukan rakyat, teater modern pun juga butuh teater arena.
Dalam konsep seni pertunjukan rakyat, apa yang disebut teater arena itu memang hanya berupa kalangan atau lingkaran penonton yang mengelilingi pementasan. Dengan model seperti ini memang menimbulkan keterbatasan kebebasan pandang bagi banyak penonton yang berjubel. Sementara dalam konsep teater modern, teater arena diatur sedemikian rupa sehingga penonton dapat duduk nyaman di kursi yang dibuat bertingkat seperti tribun.
Bagaimanapun, pemaksaan dari format arena ke prosenium ini, cepat atau lambat akan menimbulkan dampak tersendiri.
* * *
KELIMA, soal bahasa. Barangkali di sinilah letak persoalan yang menjadikan seni-seni tradisi di berbagai daerah menghadapi tantangan ketika hendak muncul di forum yang lebih luas. Kenapa Lenong lebih populer, ini karena bahasa Betawi sudah nyaris tak ada bedanya dengan bahasa Indonesia. Demikian pula berbagai kesenian dari kawasan Sumatra yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, tidak mengalami kesulitan ketika harus tampil di forum nasional.
Itulah sebabnya Srimulat dapat menasional karena seluruh dialognya menggunakan bahasa Indonesia. Kiat seperti ini sangat cocok untuk konsumsi siaran televisi. Hal ini kemudian diikuti oleh pengemasan ketoprak menjadi Ketoprak Humor, ludruk menjadi Ludruk Humor dan semacamnya. Hanya saja, yang perlu diingat, bahwa memberikan warna humor ini hanyalah salah satu kiat untuk bertahan hidup dan bukan satu-satunya alternatif. Apalagi lantas mengklaim bahwa untuk menyelamatkan seni tradisi lantas menempatkan Ketoprak Humor sebagai parameternya. Ini jelas salah besar.
Penggunaan bahasa Indonesia bagi seni tradisi berbahasa Jawa, justru merupakan nilai lebih ketika tetap mempertahankan dialeknya. Besutan misalnya, memiliki dialek yang khas Jombangan. Kekuatan lokal ini tentunya dapat memberikan warna tersendiri ketika menggunakan bahasa Indonesia. Demikian pula parikan-parikan yang berbahasa Jawa itu akan mudah dikenal mirip pantun Melayu, namun dengan nuansa dialek yang berbeda. Kalau saja Besutan mampu dikemas dalam hal bahasa ini saja, bukan tidak mungkin di kemudian hari akan mampu dikenal lebih luas melalui siaran-siaran televisi.
Persoalan yang sama juga dihadapi oleh tonil dari Sampang yang menggunakan bahasa Madura. Manakala dimaksudkan untuk mudah dikenal dalam forum yang lebih luas, maka penggunaan bahasa Indonesia merupakan pilihan yang tepat. Apalagi dialek Madura sudah sangat khas dan mudah dikenal lantaran banyak dipergunakan oleh pelawak-pelawak tertentu. Meskipun, mereka ternyata justru bukan orang Madura. Malah orang Madura sendiri yang seperti kikuk ketika harus berdialog dengan bahasa Indonesia dengan dialek Madura seperti yang sudah dikenal itu.
* * *
KEENAM, sebuah seni pertunjukan rakyat akan cenderung mudah mendapatkan sambutan meriah manakala mampu tampil atraktif. Ini memang wajar, mengingat masyarakat cenderung mudah terhibur oleh tontonan yang segar, mengandung humor dan menyemarakkan suasana. Dalam sebuah “pesta” seni pertunjukan yang menghadirkan kesenian dari berbagai daerah, dengan penonton yang heterogen, maka hanya karya yang atraktif yang akan mendapatkan sambutan meriah. Karya seni hanya akan dimaknai sebagai hiburan ringan yang menyegarkan, enak ditonton dan mampu mengundang tepuk tangan. Penonton akan begitu murah bertepuk tangan kalau menyaksikan adegan yang dianggap lucu atau berbeda dengan tampilan pada umumnya.
“Ronteg Singo Ulung” dari Bondowoso, ketika tampil dalam Festival Seni Pertunjukan Nasional 2002 di Banjarmasin, harus menerima kondisi tersebut. Kesenian yang sebetulnya berasal dari upacara adat ini telah dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi sangat atraktif ketika keberadaan singa dieksploitasi sedemikian rupa. Suasana magis yang dibangun di awal pertunjukan dengan prosesi sesaji, seperti sia-sia belaka ketika tiga buah singa berakrobat jungkir balik, bahkan memberikan bingkisan makanan tape (sebagai identitas makanan khas Bondowoso) pada penonton.
Di desa Blimbing, Kecamatan Klabat Bondowoso, seni pertunjukan rakyat ini hadir untuk memeriahkan upacara adat Selamatan Desa yang diadakan sebulan menjelang bulan puasa setiap tahun. Tarian Singo yang menarik itu dibawakan dua pemain yang secara bersama-sama menjadi satu tubuh singa berbulu putih, seolah-olah menjadi binatang singa yang sesungguhnya. Bulu-bulu ini dulu menggunakan serat nanas dan benang untuk karung goni, namun belakangan diganti dengan tali rafia.
Memang, diluar acara ritual tahunan tersebut, properti singa itu sendiri sering dijadikan hiburan dalam atraksi menyambut tamu atau karnaval pada perayaan hari besar nasional dan agama. Hampir setiap desa memiliki perangkat singa ini, meski patut disayangkan bahwa pembuatnya hanya satu orang tanpa terlihat ada kaderisasi. Bahkan, di desa Blimbing sendiri ada satu singa yang secara khusus disimpan oleh Kepala Desa, sebagai keturunan langsung dari Juk Seng (Mbah Singo), sesepuh desa setempat yang kemudian melahirkan kesenian ini.
Ronteg Singo Ulung, sebagai sebuah seni pertunjukan, memang merupakan gabungan antara repetisi upacara ritual dan seni akrobatik singa. Pada prakteknya penggabungan ini amat sulit dilakukan (ibarat api dan air) sehingga banyak penonton yang lebih tertarik oleh atraksi singa ketimbang substansi keseluruhan pertunjukannya. Banyak pula penonton yang langsung mengklaim bahwa pertunjukan ini muncul akibat seni Barongsai yang sudah populer dalam masyarakat Cina. Termasuk, seni pertunjukan Sesingaan (Subang, Jawa Barat) atau Basingaan di Kalsel. Anggapan seperti ini dapat dimaklumi, mengingat gerakan-gerakan singa yang akrobatik itu sangat mirip dengan Barongsai.
Maka sambutan penonton sedemikian meriah ketika singa-singa itu turun panggung, mendekati penonton dan membagi-bagikan tape dalam bungkus besek. Berulangkali tepuk tangan menggema ketika singa-singa itu melakukan akrobat, berguling-guling, memainkan adegan tarung atau saling bertumpuk seperti pertunjukan cheer leaders.
* * *
SEBAGAI catatan penutup, memang untuk menyelamatkan kesenian tradisi diperlukan upaya tersendiri untuk mengemasnya. Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah adanya pakem yang biasanya masih menggelayut. Beberapa seni tradisi memang sedemikian kuat dicengkeram soal pakem ini sehingga seolah-olah tabu untuk diubah sedikitpun. Perdebatan mengenai hal ini hingga sekarang masih saja terus berlangsung. Termasuk, pemunculan Ketoprak Humor di televisi yang dianggap merusak pakem ketoprak. “Kalau mau bikin pertunjukan seperti itu jangan sebut-sebut nama ketoprak,” katanya.
Insan pariwisata selalu menuntut, bahwa untuk mempromosikan seni tradisi sebagai atraksi wisata haru memenuhi kriteria “layak jual”. Istilah ini memang terdengar kurang sreg di telinga seniman. Seolah-olah kesenian harus rela dipermak sedemikian rupa demi menuruti selera konsumen. Akibatnya, ini yang dikhawatirkan, terjadinya pemerkosaan, profanisasi bahkan penghancuran nilai-nilai senio tradisi itu sendiri.
Bagaimanapun sebutan “layak jual” memang mengacu pada prinsip dagang. Dan yang namanya dagang maka konsumen selalu diposisikan sebagai raja. Mungkin perlu sebutan lain yang lebih sejuk, bukan layak jual tetapi layak tonton. Artinya, sebuah seni tradisi agar mendapat sambutan di masyarakat harus mampu tampil sebagai sebuah pertunjukan atau tontonan. Dengan sebutan ini yang berlaku adalah hukum komunikasi, antara pelaku seni tradisi sebagai komunikator dengan publik (penonton) sebagai komunikan. Perkara dalam hubungan komunikasi itu kemudian juga terjadi transaksi ekonomi, itu soal lain.
Dengan demikian seni tradisi dapat disebut layak tonton manakala masyarakat dapat menerimanya sebagai seni pertunjukan yang dapat menghibur (tidak harus berupa lawakan), dapat menyegarkan suasana, dan memberikan kontribusi batiniah yang menggembirakan. Bagaimana mencapai tahapan seperti itu, kriterianya ada 6 (enam) sebagaimana yang sudah disebutkan di atas.
Tentu saja, enam kriteria tersebut bukan ukuran baku, melainkan ada variabel lain yang sangat memungkinkan mempengaruhinya. Apalah sebagai seni pertunjukan tentunya terus menerus berinteraksi dengan masyarakat, sehingga memudahkan terjadinya perubahan demi perubahan berdasarkan situasi, tempat dan waktu.
Hanya saja, jika seni tradisi sudah mampu tampil menjadi seni pertunjukan yang layak tonton, bukan berarti keberadaan seni tradisi aslinya harus berubah. Biar saja wayang kulit dikemas menjadi pertunjukan satu-dua jam misalnya, namun wayang kulit yang semalam suntuk toh tetap harus hidup karena memang begitulah aslinya. Demikian pula keberadaan ludruk, ketoprak, sandur dan sebagainya.
Justru dengan adanya kemasan yang instan itu dapat berfungsi menjadi semacam sample bagi seni tradisi yang sesungguhnya. Dengan adanya sample itu orang mudah mengenal, mudah tertarik dan untuk kemudian akan berupaya mencari tahu lebih jaun mengenai seni tradisi aslinya. Tinggal sekarang, bagaimana keberadaan seni tradisi yang instan itu mampu memberikan kontribusi bagi seni tradisi yang asli. Ini persoalan lain yang menarik dibahas di kesempatan lain. (*)

Iklan

2 Tanggapan

  1. Matur nuwun sudah “nyenggol” Jombang, masih ingat Jombang ya! coba Guk! Sampeyan mbukak : tomboatijombang.multiply.com
    Sekilas info Guk! Jombang 2008 ini akan marak pentas lho. Kira-kira kalau tak kasih kabar, sampeyan kerso rawuh ta?InsyaAllah saget nggeh!
    Mulai bulan Maret, April, dan Agustus ada pementasan teater.
    Ini nomer rumah Guk Imam Gozali : 0321-861716, lha punika nomer HP nipun 08885304497.
    Kalau yang nulis ini Bakir Ramlan (arek lemu dari Jombang koncone Guk Iin)

    SALAM dari KELUARGA BESAR KOMUNITAS TOMBO ATI JOMBANG

  2. Kir…ojo ngurusi teater terus……….
    mikiri rabi,engko selak karaten.Oke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: