Seni Rupa Bonsai, Bukan Sekadar Tanaman Hias

Bonsai termasuk seni rupa? Apa klaim ini bukan mengada-ada? Yang jelas, dalam khasanah seni rupa, memang tidak pernah disebut-sebut bahwa bonsai termasuk di dalamnya. Tetapi kalangan penggemar bonsai, belakangan ini justru sedang giat belajar mengenai seni rupa. Mereka percaya, bahwa untuk bisa memahami bonsai yang baik harus juga memahami seni rupa. Baca lebih lanjut

Iklan

Munir Diabaikan, Azahari Dipahlawankan?

Sebutlah nama Kota Batu, orang langsung teringat tempat tewasnya teroris Dr. Azahari. Padahal Munir juga berasal dari kota Batu dan dimakamkan hanya sepelemparan batu dari pusat kota Batu. Toh orang-orang lebih suka berkunjung ke bekas rumah kontrakan Azahari. Nampaknya Pemkot Batu suka, dan bakal menjadikan sebagai obyek wisata. Aneh? Itulah kenyataannya. Baca lebih lanjut

Gagap Menatap Seni Rupa Kardus Made Wianta

KARDUS adalah simbol budaya urban. Bekas bungkus air minum dalam kemasan, bungkus mi instan dan semacamnya itu, di tangan Made Wianta menjadi karya seni yang mampu membuat gagap publik seni. Hampir seluruh dinding ruang pamer Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya dibalut dengan kardus. Bukan sekadar membungkus, namun kardus-kardus itu sudah penuh dengan coretan-coretan tak beraturan, meski masih bisa dilacak membunyikan kata-kata atau beberapa kalimat pendek Baca lebih lanjut

Relokasi Pasar Loak, Buruk Muka Cermin Dibelah

Keberadaan pasar-pasar loak di suatu kota merupakan bagian dari budaya kota tersebut. Dari setiap jenis benda-benda yang diloakkan itulah dapat dibaca (meminjam istilah Afrizal Malna) “biografi” masing-masing benda tersebut. Karena itu, rencana pemindahan lokasi (relokasi) sejumlah pasar loak di Surabaya ke Bangkalan berarti mencabut identitas budaya kota (Surabaya) yang sebetulnya juga merupakan asset wisata potensial. Pemkot Surabaya nampaknya hanya mau cari gampangnya saja. Ibarat kata pepatah, buruk muka cermin dibelah. Baca lebih lanjut

Sidoarjo, Kota Festival atau Kota Lumpur?

Kabupaten Sidoarjo yang mengklaim sebagai Kota Festival, agaknya harus berpikir ulang untuk mengganti predikat tersebut. Gara-gara ulah Lapindo, maka ratusan hektar lahan di Porong menjadi “Kuala Lumpur”. Bencana itu sudah berlangsung satu tahun lebih beberapa bulan dan entah kapan dapat berhenti. Nama Porong (juga Sidoarjo) menjadi lebih terkenal di seluruh dunia gara-gara bencana lumpur tersebut. Jadi, masih pantaskah Sidoarjo menyebut Kota Festival? Bagaimana kalau disebut Kota Lumpur saja? Baca lebih lanjut

Menghapus Hari Libur, Mengapa Tidak?

Lalulintas Surabaya macet, itu biasa, juga kota besar lainnya, terutama Jakarta. Banyak alternatif dilakukan untuk mengatasinya. Mulai dari pembuatan jalur satu arah, three in one (sementara ini hanya di Jakarta), jalan tol, jalan layang, by pass, lajur kiri untuk MPU dan roda dua, serta sekian banyak rambu dan marka pengatur arus lalulintas. Toh masih saja macet. Jika kemacetan memang disebabkan kepadatan arus masyarakat yang bekerja (juga sekolah dan kuliah), bagaimana kalau dicoba cara “menghapus hari libur?” Baca lebih lanjut

Penari Harus Olah Tubuh, Bukan Menghitung 1 Sampai 8

PADA suatu ketika, seorang Parmin RAS menggelar pertunjukan Metamorfose Daun Batu untuk mengenang kepergian Bambang Ginting. Mengapa Ginting harus dikenang? Bukankah sosok lelaki itu penuh dengan “kasus” yang membuat banyak orang sakit hati? Barangkali, karena dia sudah meninggal dunia, jasa dan kenangan baiklah yang memang seharusnya dikedepankan. Dan seorang Bambang Ginting, harus diakui, pernah menorehkan prestasi tersendiri dalam dunia tari, teater dan even kesenian yang hingga sekarang belum tertandingi. Baca lebih lanjut