Pelukis Sidoarjo, Sebuah Counter Culture

SEKIAN tahun yang lalu, ada pelukis yang “malu” menyebut dirinya pelukis (dari) Sidoarjo. Di kartu namanya tertulis alamat; Sidoarjo – Surabaya Selatan. Seraya bercanda dia katakan, “toh kode teleponnya masih 031….”. Mungkin memang itu sebatas canda alias anekdot belaka. Namun secara tersirat, perasaan seperti itu bukan tidak mungkin juga menghinggapi sejumlah pelukis lainnya, yang secara administratif memang berdomisili di Kabupaten Sidoarjo.
Jika merujuk pada domisili, maka banyak ditemukan pelukis yang selama ini dikenal sebagai pelukis (dari) Surabaya, namun sesungguhnya mereka adalah pelukis Sidoarjo. Hal ini merupakan kewajaran dari sebuah kota besar (tidak terkecuali Surabaya) yang mendesak penghuninya untuk memilih bermukim di luar kota sambil tetap mencari nafkah di Surabaya. Biasanya, mereka justru tergolong orang-orang yang relatif telah mapan atau setidaknya telah berada di rel yang benar dalam meniti profesinya. Orang-orang semacam ini kadang suka diolok-olok, “hanya numpang tidur di kota tempat tinggalnya belaka.”
Dengan demikian, apa yang sesungguhnya disebut pelukis Sidoarjo tersebut, tidak bisa diremehkan begitu saja dengan sebutan “pelukis daerah”. Hal ini karena Sidoarjo adalah kota satelit Surabaya, berbeda dengan kota-kota lain yang jauh secara geografis dari ibukota propinsi Jawa Timur ini. Meskipun, apalah artinya sebutan Sidoarjo, Surabaya, atau kota dan negeri manapun. Pelukis ya tetap Pelukis, titik.
Penyebutan Pelukis Sidoarjo, Lamongan, Banyuwangi atau kota-kota lain itu barangkali merupakan sebuah penegasan, bahwa yang pantas disebut Pelukis itu bukan hanya ada di kota Surabaya. Ini adalah sebuah bentuk perlawanan dari hegemoni kota besar. Demikian pula ketika muncul sebutan Pelukis Surabaya (atau Jatim), juga merupakan bentuk ekspresi perlawanan terhadap hegemoni Jakarta sebagai ibukota negara. Lebih luas lagi, penyebutan Pelukis Indonesia pun juga menyiratkan upaya untuk melawan hegemoni negara-negara Barat (Amerika dan Eropa) yang selama ini mengklaim sebagai pemilik seni lukis (yang sesungguhnya, kata mereka).
Contoh paling ekstrim adalah ketika pameran KIAS tahun 1990-an dilecehkan oleh publik Amerika Serikat, maka sekian tahun kemudian Jim Supangkat dan kawan-kawannya menggelar Pameran Seni Rupa Negara-negara Gerakan Non Blok di Jakarta. Gerakan perlawanan itupun bahkan mencuat dari benua Australia, yang rajin menggelar event seni rupa berkaliber dunia. Posisi benua Kangguru yang ada di bagian bawah dari peta dunia itupun tidak memuaskan sementara pihak. “Kalau memang bumi bulat, mengapa Australia tidak boleh di atas,” kilahnya. Maka dibuatlah peta dunia dengan posisi Australia di bagian atas.
Benang merah dari kesemuanya itu adalah, bahwa persoalan-persoalan yang diributkan tersebut di atas sesungguhnya berada dalam wilayah Politik Kesenian, dan bukan substansi dari kesenian itu sendiri. Ini adalah Counter Culture. Bahwasanya Politik Kesenian memang juga diperlukan dan tidak harus dipisahkan dari sebuah gerakan berkesenian, namun toh tetap harus dibedakan dari keseniannya itu sendiri. Bagaimanapun publik akan menilai, pada bagian mana kadar masing-masing elemen berkesenian itu terasa lebih berat.
Catatan itulah yang setidaknya perlu direnungkan. Bukan hanya sebatas bagi pelukis yang berdomisili dan/atau berkatepe Sidoarjo, namun juga berlaku bagi pelukis manapun yang selama ini masih merasa perlu membawa-bawa nama kotanya. Kalau toh pelukis Sidoarjo memang harus mengibarkan bendera seperti itu, sah-sah saja, dan memang itulah bentuk kebanggaan dan bakti mereka terhadap kotanya. Sama sahnya dengan pelukis yang justru tidak bangga disebut pelukis (kota Anu). “Saya Pelukis, titik,” katanya. Ya sudah.
Korelasi antara pelukis dengan daerah tempat tinggalnya memang merupakan satu studi tersendiri yang layak dikaji. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa domisili pelukis ikut berperanan dalam menentukan arah visi, karakter atau sesuatu yang menjadikannya berbeda dengan pelukis dari daerah (negara atau bahkan benua) yang lain. Langsung atau tidak, sadar atau tidak, hal-hal yang menjadi bagian dari lingkungan si seniman (pelukis) itu sedikit banyak ikut memberikan andil yang akhirnya tercuat dalam karya mereka.
Khusus untuk hal yang disebut dalam alinea terakhir ini, tentunya memerlukan pembahasan yang lebih panjang lagi. Sekian dulu.
(Henri Nurcahyo, pengamat seni, tinggal di Sidoarjo)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. hehehe… Betul juga. Surabaya katanya lebih keren. Selamat Lebaran, maaf lahir dan batin. Selamat beruntung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: