Penari Harus Olah Tubuh, Bukan Menghitung 1 Sampai 8

PADA suatu ketika, seorang Parmin RAS menggelar pertunjukan Metamorfose Daun Batu untuk mengenang kepergian Bambang Ginting. Mengapa Ginting harus dikenang? Bukankah sosok lelaki itu penuh dengan “kasus” yang membuat banyak orang sakit hati? Barangkali, karena dia sudah meninggal dunia, jasa dan kenangan baiklah yang memang seharusnya dikedepankan. Dan seorang Bambang Ginting, harus diakui, pernah menorehkan prestasi tersendiri dalam dunia tari, teater dan even kesenian yang hingga sekarang belum tertandingi.
Mungkin Parmin lebih bernuansa emosi pribadi ketika pertunjukan “setengah jadi” yang dipersiapkan untuk acara di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta itu lantas dimunculkan dalam pertunjukan di Taman Budaya Jatim (TBJT). Diam-diam antara Parmin dan Bambang Ginting sesungguhnya berada dalam posisi saling mengagumi etos kerja masing-masing.
Bagi Parmin, mungkin sosok Ginting adalah pekerja seni yang serius, tekun dan profesional, lepas dari sifat spekulasinya yang membuat sport jantung. Sementara bagi Ginting, Parmin adalah seniman otodidak yang potensial dan memiliki masa depan yang bagus. Sekadar contoh, ketika dilangsungkan Parade WR. Supratman 1995 di Balai Pemuda, yang menampilkan banyak koreografer dari berbagai kota (termasuk Boi G. Sakti), dengan tegas Ginting memberi kesaksian, bahwa semua pertunjukan tari tersebut nyaris tidak ada apa-apanya. “Untung ada Parmin,” itulah judul artikel Ginting di Surabaya Post.
Sebagai jebolan jurusan tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ketika kembali ke Surabaya tahun 1986, Ginting memiliki paradigma yang berbeda dengan rata-rata koreografer Jawa Timur waktu itu. Kedekatannya dengan Afrizal Malna, Boedi Otong, Taufik Rahzen, Farida Faisol dan tokoh-tokoh lainnya, membuatnya lebih “menasional” dalam memahami dunia tari. Bahwasanya seorang penari, katanya, harus memiliki kemampuan olah tubuh, bukan sekadar menari dengan hitungan 1 (satu) sampai 8 (delapan). Kredo itulah yang kemudian dipertegas lagi dalam ceramah tarinya di Galeri DKS tahun 2002.
Dengan demikian, bisa dipahami mengapa Ginting mengagumi sosok Parmin Ras, yang menapak karier tarinya tanpa harus menjejakkan studi di perguruan tinggi (meski sekejap pernah di STKW). Parmin adalah sosok koreografer yang menganut kredo sebagaimana dikatakan Ginting tersebut. Parmin rela dicemooh, disikapi sinis oleh para akademisi tari yang menyebutnya “memang tidak bisa menari”. Toh kemudian sejarah membuktikan, bahwa dengan tarian tanpa hitungan 1-8 itulah Parmin justru laris ditanggap keliling Inggris dan Prancis selama berbulan-bulan dalam beberapa tahun terakhir ini. Sang penjual gado-gado itu telah membuktikan dirinya sebagai orang yang diperhitungkan dalam festival-festival eksklusif di Eropa.
Sebagai koreografer, Parminlah yang mempopulerkan apa yang kemudian disebut Teater Tari di Jawa Timur. Sementara Ginting yang berlatarbelakang akademis tari, justru tidak menyentuh tari sama sekali ketika dia melahirkan Teater Api Indonesia (TAI) yang masih eksis hingga sekarang. Waktu itu, orang lantas menuduh Ginting mengekor Teater SAE yang ditrapkan dalam TAI, padahal orang juga tak tahu persis kredo SAE yang sebenarnya. Soal ada pengaruh, itu wajar saja, karena konsultan teks teater yang digunakannya dari Afrizal Malna, sama dengan yang dilakukan Boedi Otong.
* * *
KETIKA Surabaya belum ramai festival seperti belakangan ini, Bambang Ginting telah memulai dengan Festival Karya Tari selama seminggu di LIA (sebelum berganti nama PPIA, waktu itu masih di) Jl. Dr. Soetomo. Pernyataannya waktu itu, “Di Surabaya tidak ada penari.” Tentu saja membuat banyak orang kebakaran jenggot. Bahkan, tahun 1992 dia sudah menggelar Surabaya Festival ‘92 di Hyatt Regency Hotel selama 4 (empat) bulan. Prestasi ini tak bisa ditandingi oleh Cak Kadar sekalipun. Sekali lagi, lepas dari sikap-sikapnya yang sembrono soal finansial, Ginting adalah sosok organiser seni yang profesional. Diskusi kecilpun ditangani sangat rapi. Diskusi-diskusi kesenian yang serius digelar di hotel mewah itu, sementara kalangan seniman Surabaya masih minder untuk masuk ke hotel mewah bintang lima Hyatt Regency.
Masih terbayang dalam ingatan, betapa sebuah kelompok Orkestra Musik Klasik dari Chekoslovakia didatangkan ke Surabaya, sampai-sampai GM Hyatt tergopoh-gopoh menjemput Dubes Cheko di bandara Juanda dengan sedan mewah eksklusif. (Belakangan Ginting baru sadar, bahwa sosok Dubes identik Presiden di negaranya, hn). Made Wianta pameran tunggal di Hyatt, juga Bagas Karunia Putra, Bagong Kussudiarjo dan Lini Natalini. Meskipun, inilah kelemahannya, ketika memamerkan Masmundari kemudian berbuntut masalah (apalagi kalau bukan soal) keuangan.
Apa yang disuarakan Ginting soal Olah Tubuh di atas harus diakui masih belum banyak digubris oleh penata tari Jawa Timur. Paling-paling Parmin yang setia dengan tuntutan yang esensial bagi pekerja tari tersebut. Atau, kemudian diikuti oleh Herry Lentho, yang juga mengibarkan bendera teater-tari, serta beberapa nama lagi yang melakukannya secara sporadis. Sementara banyak koreografer yang masih sibuk menghitung 1-8, sibuk menggarap karya-karya pesanan, dan karya mereka tidak banyak bicara apa-apa. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang.
Tahun 1990, Bambang Ginting bahkan menggarap koreografi Penalti dari Jawa Timur yang merekrut banyak pekerja tari dan teater untuk tampil di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Ini juga catatan tersendiri yang sulit dilakukan koreografer Jatim waktu itu. Dan orang juga mengakui perihal kewibawaan GKJ.
Terus terang, memang banyak orang yang tidak suka dengan sosok Bambang Ginting, namun dalam kesempatan yang sama diam-diam banyak seniman yang sebetulnya ingin ditangani oleh Ginting. Teater API telah ditinggalkannya, meski disayangkan penerusnya justru menolak figur sutradara tunggal yang sesungguhnya menjadi think tank sebagaimana peran Ginting. Sampai sekarang, TAI harus mengakui jasa Ginting, dan karena dialah kelompok teater itu diakui, karena sepeninggal Ginting TAI belum mencetak prestasi yang berarti.
Dunia tari di Surabaya memang harus digebrak, juga teater, agar tidak hanya sibuk dalam riak-riak kecil tanpa berhasil mencetak karya besar yang fenomenal. Kesemarakan teater di Surabaya antara lain juga karena jasa Ginting, yang pernah memprovokasi “Teater Surabaya Telah Mati” dalam diskusi teater di TBJT tahun 1986. Jujur saja, teater manakah yang masih layak dibanggakan sekarang ini di Surabaya? Bengkel Muda Surabaya (BMS) yang masih berdenyut dan berkelana ke beberapa negara sebetulnya bukan lantas menjadi parameter prestasi.
Parmin Ras masih terus berproses, memilih pentas dan mencari pengakuan di luar negeri, sebelum akhirnya dipandang keberadaannya di negerinya sendiri. Pentasnya kali ini di TUK setidaknya menjadi bukti prestasi Parmin, karena orang seni pasti tahu standar kualitas yang layak pentas di TUK. Memang ini penyakit, kalau mancanegara sudah mengakui, baru kita sendiri mengekor mengakuinya. Dan yang harus dicatat, Parmin tampil di mancanegara bukan dalam konteks festival Pasar Malam atau sekadar meramaikan misi perdagangan.
* * *
BAGAIMANAPUN cacat seorang Bambang Ginting memang cukup besar, namun dalam satu helaan nafas yang sama, jasa dan prestasi serta dedikasinya terhadap dunia kesenian di Surabaya (Jatim) juga harus diakui tersendiri. Tubuhnya yang gendut, bicaranya yang sangat meyakinkan, kreativitasnya yang cemerlang, menjadikan lelaki kelahiran 4 Maret 1959 ini masih belum tergantikan posisinya hingga sekarang.
Sungguh ironis, ketika dunia kesenian Jatim masih membutuhkan tangan dinginnya, berulangkali Ginting harus terjerembab dalam kasus demi kasus yang membuat orang mengurut dada. Banyak orang mengakui kehebatannya dan sekaligus menyayangkan prilakunya. Tapi barangkali memang itulah dua sisi dalam satu mata uang yang sama yang melekat sebagai citra dirinya.
Betapa mengenaskan, ketika vonis pengadilan di Banyuwangi menghukumnya 3 (tiga) bulan karena kasus “penipuan” armada taksi, Bambang Haryanto Ginting harus pergi untuk selama-lamanya pada malam hari, tanggal 9 September 2003. Ibarat pepatah klise mengatakan “tak ada gading yang tak retak”, maka Bambang Ginting memang sebuah gading yang retak. Tapi setidaknya, dia telah berhasil menjadi gading dalam dunia kesenian. (***)
Henri Nurcahyo, Pengamat Seni, tinggal di Sidoarjo

9 Tanggapan

  1. Salut, dan sangat membanggakan punya sahabat yang rajin, tekun dan terampil mencatat kemudian di tulis dalam sebuah kajian yang menginspirasi para pembacanya. selamat Jawa Timur punya mas Henry
    Siiiiiiiiip Cak

    • masak!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

      iya ta!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

      hwk………….ha..ha

  2. maksih dah buat tulisan soal alm.Ginting
    sy br menemukan blog ini, dan baru membaca tulisan om henry..
    memang seorang ginting mempunyai dua sisi kehidupan yg berbeda, layaknya kehidupan manusia normal yg memiliki sisi baik dan buruk. sy yakin om henry sangat tau soal sepak terjang ayah saya baik di dunia kesenian maupun sosial biasa. tapi yang perlu saya luruskan atau ralat disini..
    pada saat alm.Ginting meninggal, pengadilan banyuwangi belum memberikan vonis hukuman atas kasusnya mengenai koperasi angkutan (bukan armada taksi seperti yang ditulis). dan Ginting juga belum ditetapkan BERSALAH dalam kasus itu..
    trimaksh banyak atas apresiasi anda terhadap alm.Ginting.

  3. Catatan dari Minola Ginting, puteri almarhum:

    maksih om krn ternyta om henry sempt membuat tulisan soal alm.Ginting pada thn 2007, hanya saja sy br menemukan blog om henry dan membaca artikel itu..

    disini sy hanya ingin mengklarifikasi saja, krn bagi sy, sampai saat ini sy msh mempunyai tanggung jwb penuh untk menjaga nama baik alm.Ginting..

    pada artikel yg om tulis disebutkan bahwa Ginting meninggal saat pengadilan banyuwangi menetapkan hukuman 2bln penjara krn kasus armada taksi.

    Yang Benar..

    alm. ginting meninggal saat msh proses sidang dan pengadilan banyuwangi belum menetapkan hukuman bagi Ginting, dan pada saat meninggal Ginting belum ditetapkan bersalah atas kasus koperasi angkutan desa banyuwangi (bkn armada taksi)..

    saya hanya ingin meralat itu saja,, memang saat ini semua ralat yang sy sampaikan tidak berguna.. tapi bagi saya hingga saat ini dan sampai kapanpun ayah saya meninggal bukan saat menjalani hukuman di LP Banyuwangi. buat saya, saat itu ia blm tentu brsalah dalam kasus trsbt.. hanya saja Tuhan sangat menyayangi Ginting, hingga dengan cepat “memanggilnya” sblm semua itu terbukti dengan jelas.

    memang ginting bkn manusia “putih” yang selalu menorehkan prestasi dan karya yg baik, tapi jg jgn dipungkiri bahwa pemikirannya yang “gila” dan tidak wajar telah mewarnai kehidupan pada saat itu..

    trimakasih untuk semuanya..

  4. Dear ananda Minola Ginting,

    Om baru menemukan/baca halaman ini yang memuat tanggapanmu atas tulisan om Henry, aku setuju banget tulisanmu, dan lewat tulisan ini aku melancangi meminta ma’af kalau ada pada tulisan tsb. yang kurang benar/akurat terutama mengenai sa’at sa’at terakhir almarhum Ginting meninggal, yang om ingat waktu itu almarhum sudah janji mau datang sebagai pembicara dalam acara bedah parmin ras dalam event ” Parmin Ras, 30 tahun meretas jalan” 01 Mei s/d 05 Mei 2003. Bagi Parmin pribadi Bambang Ginting adalah sosok yang luar biasa, terutama dalam memacu kreatifitas dan semangat berkaryaku, pendapat dan pemikiranya dalam dunia seni/tari, benar benar telah melecut seorang parmin ras yang waktu itu belum diperhitungkan di dunia seni tari.
    Dalam kurun waktu 1991 – 1996 banyak sekali karya karyaku yang bersinggungan secara langsung dan tak langsung dengan pemikran pemikiranya, sampai dikemudian hari setelah aku sering diundang kebeberapa negara Eropa, sosok Ginting tak pernah terlupa !
    Kini setelah waktu belasan tahun sejak aku mengenalnya dan 5 tahun sesudah beliau meninggal dunia, bagi parmin ras Ginting adalah seorang sahabat , seorang teman yang tak pernah ragu memuji dan mengkritik secara jujur! Bagiku, Ginting alm, sangat ahli dalam memompa semangat, membangkitkan harga diri, bahwa seniman punya peran sangat besar dalam menjalin kesetaraan hubungan dengan sesama manusia diseluruh belahan bumi ini, bahkan dalam perjalanan terakhirku Maret s/d juni 2009 di New York, Washington dan beberapa kota di Jepang, diantara perjalanan dan pentas pentasku, beberapa kali aku menulis surat kepada almarhum, so ananda Minola ( Dian?) percayalah, ayahmu almarhum adalah orang hebat, berbanggalah engkau punya ayah seperti Bambang H Ginting .

    Parmin Ras
    25 Nopember 2009

  5. mas kirimin aku tentang teori_teori olah tubuh tari atu teater.untuk kalangan anak SMA

    • setahu saya olah tubuh tak ada teorinya, itu kan semacam senam aja. gerakkan aja seluruh bagian tubuhmu, ikuti pelahan, hayati, respon lingkungan dengan pancaindra (ingat, panca), respon detak jantung, pernafasan, perlahan gerak penuh penghayatan… setahuku gitu aja.

  6. kalau bisa di jelaskan juga tentang pengertian olah tubuh dan langkah-langkah melakukan gerak olah tubuh yg baik .
    terima kasih ….
    salam hangat dari anak2 seni tari unila angkatan 2008

  7. Saya tak mengenalnya. Saat dirinya bersinar saya masih jauh dari Surabaya. Ketika ‘kasus’nya meruak, saya masih berkutat dengan masalah kettidakberesan sistem di kampus. Kawan rerasanan di API pun jarang sekedar bercerita tentang riwayat atau kerja2nya.

    Pertemuan dengan putrinya (yang demikian gigih membela sang Ayah dan nyaris membenci ibundanya-yang saya yakin demikian mencintai almarhum dengan kedalaman cinta tak terperi), Pak Authar, dan Afrizal Malna beberapa hari lalu di perpustakaan dbuku meninggalkan banyak pertanyaan dibenak saya. Lalu kemudian cerita demi cerita berdatangan. Dari kawan segenerasi putrinya, dari koran-koran lawas, juga dari Paman Google yang membawa saya ke blog ini.

    Adakah buku khusus yang mengulas tentang dirinya atau kerja-kerja yang dilakukannya?
    Saya belum menemukan satu buku pun yang membahas khusus tentang teater di Surabaya dalam proses penelitian Surabaya Book Review. Plz Help

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: