Gagap Menatap Seni Rupa Kardus Made Wianta

KARDUS adalah simbol budaya urban. Bekas bungkus air minum dalam kemasan, bungkus mi instan dan semacamnya itu, di tangan Made Wianta menjadi karya seni yang mampu membuat gagap publik seni. Hampir seluruh dinding ruang pamer Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya dibalut dengan kardus. Bukan sekadar membungkus, namun kardus-kardus itu sudah penuh dengan coretan-coretan tak beraturan, meski masih bisa dilacak membunyikan kata-kata atau beberapa kalimat pendek.

Made Wianta memang identik dengan sosok pelukis. Karena itu ketika dia menggelar pameran di CCCL Surabaya, orang menganggap dia sedang memamerkan karya seni rupanya. Padahal, dia diundang dalam konteks menyemarakkan Bulan Puisi yang memang menjadi tradisi di Prancis. Tentu saja dengan model puisi seperti itu tak bakal nyambung dengan kalangan penikmat (termasuk penyair) puisi konvensional. Kalangan perupa justru lebih merasa dekat. Itu sebabnya, karya Wianta ini disebut Puisi Rupa.

Puisi Rupa memang bukan sembarang puisi. Sebagai puisi, seringkali tidak ada kaitan antara baris yang satu dengan yang lain, kata yang satu dengan yang lain, seperti lepas-lepas. Made Wianta menulis bukan untuk menulis, tetapi untuk kenikmatan. Ia lakukan sesuka hatinya, mengabaikan konvensi penulisan puisi. Karena itu ia menuliskan puisi-puisi itu di atas sobekan koran, kertas tissu, karcis bekas, bungkus rokok, dan kertas daur ulang. Tidak ada judul yang tegas dalam puisi-puisinya, kecuali sekadar menerangkan bahwa puisi itu ditulis ketika: Sedang menunggu isteri belanja, sedang mengantar ke dokter, saat berada di pesawat, bertamu ke rumah sahabat, saat di WC, bezuk di rumah sakit dan sebagainya.

Bahkan, bukan hanya kata-kata, melainkan juga coretan-coretan yang menyertai kata-kata itu. Itulah sebabnya puisi Made Wianta disebut Puisi Rupa, yang merupakan gabungan antara karya sastra (puisi) dengan seni rupa. Kata-kata yang ada di dalamnya tidak bisa hanya dipahami sebatas apa yang dapat dibaca, melainkan musti diterima lengkap dengan keberadaannya sebagai karya seni rupa. Dan sebagai perupa, agaknya Made Wianta tak bisa mengekang diri untuk tidak menjadikan kata-kata sebagai teks seni rupa, yang bisa ditulis dimana saja, termasuk di karton-karton bekas yang dipajang di dinding pameran sekarang ini.

* * *

Cucu mantu Ki Hadjar Dewantara ini lahir di Tabanan, Bali, 20 Desember 1949, serius menulis puisi sejak tahun 1977, kini sudah mencapai ribuan, yang dibendel rapi seperti kliping koran. Sebagian sudah diterbitkan dalam 3 (tiga) buku, yaitu: Korek Api Membakar Almari Es (1995), 2 1/5 Menit (2000) dan Kitab Suci Digantung di Pinggir Jalan New York (2003). Namun semuanya hanya mengutip kata-katanya saja. Padahal, keberadaan kata-kata dalam puisi Made Wianta sudah menyatu dengan kertas atau media tempat dituliskannya, lengkap dengan coretan-coretan yang menyertainya. Akan lain halnya kalau misalnya puisu-puisi rupa itu ditampilkan apa adanya sebagai karya seni rupa, meski dengan risiko menyulitkan aspek keterbacaan.

Puisi yang ditulis di atas kertas atau media seadanya itu pernah dipamerkan di Bentara Budaya Jogjakarta sekitar dua tahun yang lalu. Tetapi, Wianta langsung berubah pikiran ketika materi yang sama diminta dipamerkan di Surabaya. “Sekitar dua minggu sebelum Hari H, saya langsung punya ide membuat karya seperti ini,” ujar Wianta, yang juga menceritakan perlu waktu lima hari nonstop mengerjakan karya (mirip) graffiti itu. Dia memang tak mau mengulang menampilkan karya yang sama begitu saja.

Anak pendeta yang tak mau terkungkung tradisi ini pernah kuliah empat tahun di jurusan seni rupa ASRI Jogjakarta (sekarang ISI), lantaran ada tawaran tinggal di Belgia selama 4 tahun. Pameran seni rupa sudah dijalani di banyak negara, sudah puluhan ribu lukisan dihasilkannya, yang kemudian menjadikannya memiliki cukup banyak modal untuk membuat karya gila-gilaan yang nonprofit. Seperti misalnya, karya instalasi, performing arts, sebagian dengan skala kolosal sampai pernah melibatkan 2.000 pelaku.

Kalau toh mau sedikit bersusah payah, akan ditemukan teks-teks yang berhasil terbaca dalam puisi rupa kali ini, yang barangkali sedikit menuntun ke arah pemahaman yang mencerahkan. Misalnya saja, Through darkness for light, Flowing and Flowering, Ada di Permukaan, One Love on Other, Nah Apa Lagi yang Sedang Diiyakan dan Berarti, Tak Semudah Menari di Payudara, dan masih banyak lagi kata-kata lepas dan kalimat tak beraturan yang saling tumpah tindih dengan kalimat atau kata-kata lain.

Dalam kajian mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Udayana, Refly, puisi rupa Wianta merupakan cerminan dari masyarakat pascaindustri era kapitalisme global sekarang ini. Dalam budaya masyarakat industri, rotasi atau siklus perubahan dan pergantian dari suatu bentuk ke bentuk lain terjadi sangat singkat dan cepat. Residu benda budaya berbentuk sobekan berbagai kertas dan material lainnya yang dijadikan Wianta sebagai media ekspresinya menunjukkan penggunaan beragam bentuk yang berbeda-beda, berganti-ganti dan berubah-ubah. (kajian ini kemudian dibukukan dengan judul “Bahasa dan Esetitika Postmodernisme”).

Namun dalam sebuah diskusi yang digelar saat pembukaan pameran (9/3) seorang pengunjung yang mengaku dari Lembaga Javanologi meragukan klaim tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan Wianta dengan membuat coretan-coretan di atas kardus yang kemudian dibuat menjadi dinding itu tak ubahnya seperti masyarakat primitif yang membuat coretan-coretan di dinding gua. Agaknya, keraguan seperti itu memang tidak terlalu salah.

Yang kemudian menjadi disayangkan, meski disebut puisi toh kalangan seniman sastra nampaknya kurang sreg dengan karya yang “tidak bisa dibaca” itu. Sementara kalangan perupa, tidak sepenuhnya mau menerima karya yang “tidak jelas ujudnya” itu. Dengan kata lain, Puisi Rupa yang semula dimaksudkan sebagai perpaduan antara karya sastra (puisi) dengan karya seni rupa itu seakan-akan menjadi karya seni tanpa wilayah, sastra bukan, seni rupa (apalagi seni lukis) juga bukan.

Meski demikian, tentu saja Wianta tak peduli dengan anggapan orang. Alih-alih mengklaim sebagai karya rupa atau puisi, kalau toh tidak ada yang mengakui sebagai karya seni pun agaknya Wianta juga tak peduli. Karena apa yang oleh orang banyak disebut “kesenian” itu telah melekat dan melebur dalam diri seorang Wianta dalam keseharian, bahkan (sebagaimana orang Bali pada umumnya) sejak lahir Wianta boleh dikata sudah menjadi seniman. Lebih ekstrim lagi, Wianta malah tak peduli tidak diakui sebagai orang Bali, lengkap dengan Hindunya.

Dalam perkembangannya, ketika teknologi sudah semakin maju, beberapa tahun belakangan ini Made Wianta semakin meluaskan wilayah media keseniannya. Ia seperti tak puas menulis dan melukis sebagaimana yang dipahami orang kebanyakan. Berkolaborasi dengan penyair Afrizal Malna (yang kemudian menekuni videografi), mereka berdua lantas mencoba (meminjam istilah Akhudiat) menulis dan melukis dengan kamera. Karya-karya video art itulah yang kemudian menyertai pameran Puisi Rupa Made Wianta kali ini.

Apa yang kemudian dapat ditarik dari pameran ini adalah, bahwa kreativitas tak boleh diam membeku dalam diri seniman. Made Wianta, lelaki asli Bali, pernah kuliah di ASRI, telah mendobrak tembok-tembok pembatas kreativitas itu. Musik, teater, sastra, tari, termasuk yang berasal dari tradisi dan juga film, telah melebur dalam dirinya. Kalau toh kemudian yang tampil kali ini adalah pajangan kardus-kardus bekas penuh graffiti, kelahirannya telah melalui proses panjang dan matang serta dilandasi pemahaman yang mendalam. Karya puisi rupa Made Wianta agaknya bukan semata-mata dipahami sebagai sesuatu yang ber-rupa (yang nampak) melainkan mencoba menelusuri The man behind the gun, bahkan lebih dalam lagi, The mind behind the man. (henri nurcahyo)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. wah apa mungkin juga menjadi petimbangan ketika wiante menggarap karya seperti itu lantas karena proses panjang yang telah di laluinya atau hanya sekedarnya saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: