Munir Diabaikan, Azahari Dipahlawankan?

Sebutlah nama Kota Batu, orang langsung teringat tempat tewasnya teroris Dr. Azahari. Padahal Munir juga berasal dari kota Batu dan dimakamkan hanya sepelemparan batu dari pusat kota Batu. Toh orang-orang lebih suka berkunjung ke bekas rumah kontrakan Azahari. Nampaknya Pemkot Batu suka, dan bakal menjadikan sebagai obyek wisata. Aneh? Itulah kenyataannya.

Bagaimanapun kematian Munir masih tetap menyisakan misteri, meski Polycarpus sudah divonis bersalah dengan hukuman 14 tahun penjara. (Belakangan statusnya mengambang lagi, karena MA “membebaskannya”). Banyak hal yang aneh dengan peradilan terhadap kasus ini. Masyarakat awam pun semakin dibuat bingung, lantaran banyak celah yang nampaknya sengaja dibiarkan menganga. Tapi begitulah peradilan di negeri ini berjalan. Polycarpus nampaknya sengaja diposisikan sebagai obyek yang harus dibuat salah agar ada yang disalahkan. Kalau toh betul dia salah, sulit diterima akal sehat kalau dia hanya melakukannya sendiri, dan bukan bagian dari sebuah konspirasi.

Seandainya Munir bisa “bersaksi”, dia sendiripun tak bakal tahu siapa yang telah meracuninya. Bukankah sepertinya terlihat wajar dan biasa-biasa saja. Keanehan demi keanehan justru baru terlihat ketika Munir kemudian meninggal dunia di atas pesawat. Sungguh malang nasib Polycarpus, karena dialah orang yang paling “aneh” dalam satu pesawat dengan Munir, yang ternyata menemui ajalnya justru ketika dia berada di pesawat yang sama. Maka pengusutanpun dilakukan untuk menelusuri keanehan yang terjadi pada pilot yang kebetulan tidak sedang bertugas itu.

Munir tentu tak bisa bersaksi, lantaran dia telah terbaring sepi di kompleks pemakaman yang luas di Desa Sisir, di Kecamatan Batu, kota Batu. Tak ada tanda-tanda yang sedikit membedakan pada makamnya dengan makam lainnya Setidaknya untuk sekadar menandai bahwa di situ, telah terbaring seorang pejuang Hak Azasi Manusia dan Demokrasi. Juga tidak ada petunjuk apapun di depan kompleks pemakaman itu, untuk memudahkan orang lalu lalang sedikit menengok dan menjadi tahu, bahwa anak muda yang gagah perkasa itu dimakamkan di situ.

Selama ini nampaknya tidak ada yang punya kepedulian kuat untuk berbuat sesuatu terhadap makamnya. Juga pemerintah kota Batu, yang seolah-olah tidak punya rasa bangga bahwa kotanya adalah tempat kelahiran dan juga tempat dimakamkan sang pahlawan. Pemerintah nampaknya lebih bangga karena di kota Batu, telah dilakukan “penangkapan” pelaku pengeboman bernama Dr. Azahari. Bekas rumah kontrakannya, kini menjadi obyek wisata baru dan nampaknya akan dijadikan semacam monumen untuk diabadikan dan “dikenang” sepanjang masa.

Mengapa kematian seorang teroris menjadi peristiwa yang harus dikenang? Mengapa kematian seorang pejuang malah diabaikan? Mengapa bekas rumah kontrakannya yang hancur karena bom malah dilestarikan? Mengapa makam Munir yang sepi malah semakin diasingkan? Siapakah Dr. Azahari? Siapakah Munir?

* * *

Munir lahir tanggal 8 Desember 1965, satu hari setelah hari ulang tahunnya yang ke-40, (tanggal 9 Desembe, dua tahun yang lalu), sebagian peserta Temu Kebudayaan Nusantara (TKN) yang berlangsung di wanawisata Coban Talun, Batu, menyempatkan ziarah ke makamnya. Ada yang membaca puisi, ada yang mengaji, ada yang berdoa, ada yang menghujat penguasa. Ada pula sumpah serapah, mengapa peristiwa kematiannya masih menjadi rahasia? Kebetulan saya juga diantara mereka. Tiba-tiba saya teringat Dr. Azahari, teroris yang (ditembak?) mati di kota yang sama. Saya tumpahkan dalam tangisan di makam semua kekesalan itu. Mengapa justru Azahari yang lebih dikenang orang-orang? Mengapa Azahari malah dipahlawankan?

Mengapa orang-orang merasa lebih bangga ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bekas rumah kontrakan Azahari? Mengapa tidak ada yang tertarik berziarah ke makam Munir? Saya bayangkan, alangkah damainya Munir kalau banyak orang yang mengaji di makamnya, banyak yang berdoa, atau membaca surat Yaasin. Kalau betul bahwa kita memang mau menghargai jasa pahlawan, semuanya ini bisa dikondisikanuntuk menjadikan makam Munir sebagai obyek wisata ritual. Mengapa tidak?

Sudah tiga tahun lebih kematiannya, sejak 7 September 2004, namun nama Munir masih tetap berkibar di media massa. Hal ini karena persidangan atas kematiannya memang masih terus berlanjut, meski Polycarpus yang, katanya, menjadi pelaku pembunuhan malah bebas di luaran. Dapat dipastikan, nama Munir setidaknya masih tetap terngiang di telinga banyak orang. Dan itu juga berarti, masih “layak jual” (maaf Cak Munir), dijadikan obyek wisata ritual.

Menjadikan makam sebagai obyek wisata, tentu bukan perbuatan dosa, malah mendapat pahala. Karena berwisata ke sebuah makam, tentunya bukan untuk berhura-hura, melainkan memanjatkan doa. Memohon kepada Tuhan agar memberikan ampunan bagi yang dimakamkan. Mendoakan kepada yang Maha Kuasa, agar yang dimakamkan diterima di sisi-Nya, dan diterima amal baiknya serta jasa-jasanya.

Sudahlah, lupakan saja Dr. Azahari. Bongkar saja bekas rumah kontrakannya. Ratakan dengan tanah, dan bangun di situ sebuah mushola, agar orang-orang juga berdoa terhadap mereka yang terpaksa tewas akibat perbuatan teroris itu. Buat apa menjadikan puing-puing rumah itu menjadi obyek wisata. Apalagi tidak ada konsep sama sekali untuk mengelolanya, tak ada pemandu wisata dan informasi apapun mengenai peristiwa yang sebenarnya.

Bisa dipastikan, pengunjung yang datang ke situ, bertanya pada siapa saja yang ada di dekatnya (tukang parkir, pedagang makanan dan kaos, atau siapa saja yang kebetulan ada di sana). Bayangkan sendiri, betapa simpang siur informasi yang bakal didapatnya. Jangan-jangan, yang kemudian terjadi bukan rasa benci terhadap Azahari yang telah menewaskan ratusan orang, namun justru rasa simpati dan kagum atas perbuatannya yang “gagah berani” itu. Kalau sudah begitu, hanya tinggal selangkah lagi Dr. Azahari menjadi pahlawan. Dan itu sudah dibuktikan oleh sejarah, bahwa tokoh-tokoh yang dikagumi dan menjadi hero ternyata termasuk juga para pemberontak, pembunuh, perampok, pemerkosa dan penjahat pada umumnya.

Bekas rumah kontrakan Azahari memang sudah menjadi obyek wisata baru di Batu. Jangan beralasan karena telah tercipta lapangan kerja kemudian membiarkan dan bahkan mendorong hal itu terus terjadi. Kalau pemerintah mau, cobalah kelola dengan baik makam Munir. Pasang papan petunjuk jalan, sejak dari jalan masuk perbatasan Kabupaten Malang, di sudut-sudut jalan, hingga di depan pemakaman. Buatlah sebuah prasasti yang berbunyi: Di sini, dimakamkan pejuang Hak Azasi Manusia dan Demokrasi.

Buat calon Walikota Batu, beranikah kalian mengkampanyekan hal ini??? (*)

HENRI NURCAHYO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: