Seni Rupa Bonsai, Bukan Sekadar Tanaman Hias

Bonsai termasuk seni rupa? Apa klaim ini bukan mengada-ada? Yang jelas, dalam khasanah seni rupa, memang tidak pernah disebut-sebut bahwa bonsai termasuk di dalamnya. Tetapi kalangan penggemar bonsai, belakangan ini justru sedang giat belajar mengenai seni rupa. Mereka percaya, bahwa untuk bisa memahami bonsai yang baik harus juga memahami seni rupa.

Kata bonsai berasal dari bahasa Jepang. Bon berarti wadah atau pot, sedangkan sai berarti tanaman. Jadi bonsai adalah tanaman yang ditanam di dalam pot. Tetapi tidak semua tanaman yang ditanam dalam pot dapat disebut bonsai.

Dalam pemahaman kalangan penggemar bonsai, bahwa bonsai bukan sekadar pohon mini yang ditanam dalam pot. Bonsai harus nampak berkesan tua dan pertumbuhannya diatur, sehingga memandang bonsai ibarat menikmati pohon besar sebagaimana pohon di alam aslinya. Meskipun, apa yang disebut “alam asli” itu tidak selalu alam yang subur sehingga penampilan bonsai tidak otomatis menjadi miniatur pohon besar yang anggun.

Syarat yang lainnya, tanaman mini dalam pot tersebut seyogyanya berpenampilan menarik dan berbentuk indah. Nah, ketika menyebut “menarik dan indah” itulah maka bonsai sudah memasuki wilayah kesenian, tepatnya seni rupa. Mengapa demikian?

Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) telah menetapkan standar penilaian terhadap bonsai, yang memberikan batasan sebagai berikut; Bonsai adalah merupakan suatu hasil karya seni tanaman bernilai tinggi yang ingin menampilkan keindahan dan kesempurnaan dalam mengekspresikan keindahan alam. Karya seni bonsai merupakan hasil bentukan imajinasi seniman bonsai berdasarkan fenomena alam sebagai sumber inspirasinya. Sebagai suatu karya seni, maka keindahan karya seni bonsai sangat dipengaruhi oleh tingkat pemikiran dan wawasan sesuai dengan jiwa, cita rasa serta kepribadian seniman bonsai pembuatnya.

Wahjudi D. Sutomo, seorang pakar bonsai Surabaya, pakar pertamanan yang juga sarjana serta praktisi seni rupa, dikenal memiliki perhatian yang serius terhadap kajian bonsai sebagai karya seni rupa. Mengutip Peter Chan dalam bukunya The Art of Growing and Keeping Miniature Trees, bahwa ada dua kelompok besar dari faktor yang membedakan kualitas visual dari bonsai yang bagus, yakni faktor estetis dan faktor organik. Dengan memperhatikan pertimbangan dari berbagai sumber, kata Wahjudi, maka uraian tentang faktor estetis dan faktor organik dapat dijelaskan sebagai berikut; Yang termasuk faktor estetis diantaranya: Garis, bentuk, tekstur, warna, komposisi, keseimbangan, perspektif, proporsi, pusat perhatian, keselarasan, harmoni dan unity. Sedangkan faktor organik, diantaranya; Akar, batang, cabang dan ranting, daun, buah dan bunga, wadah atau pot.

Artinya, sebagai tanaman hidup maka bonsai memiliki anatomi sendiri. Pada anatomi inilah yang dicoba dibentuk, diolah dan ditata dengan berbagai macam variasi guna mendukung penampilannya. Penilaian terhadap bonsai dilakukan pada masing-masing elemen anatomi tersebut yang kemudian ditentukan berdasarkan standar tersendiri. Dalam penilaian anatomi bonsai maka perlu diperhatikan berbagai aspek yaitu; Kreativitas dan inovasi (tidak bertujuan negatif atau manipulasi), Gaya dan corak; Geram irama; Keseimbangan anatomi; Keseimbangan optik; dan Penjiwaan.

Seperti Patung

Sebagai karya seni rupa, bonsai dapat disejajarkan dengan patung atau seni rupa tiga dimensi. Karena itu agar bonsai dapat dinikmati dengan baik maka bonsai harus diletakkan dalam tatakan kira-kira setinggi perut orang dewasa. Pada posisi seperti itulah dapat diamati dan dinilai faktor-faktor estetis untuk diterapkan pada pengamatan faktor organik.

Maka merawat sebuah bonsai, bukan hanya membutuhkan penguasaan terhadap teknis tanam-menanam, melainkan juga dituntut memiliki pemahaman yang memadai mengenai seni rupa. Paduan antara teknik dan seni inilah yang perlu dikuasai secara seimbang oleh pecinta bonsai. Jika terlalu berat pada aspek teknis, maka hanya akan didapat bonsai yang sehat, tumbuh subur atau memiliki percabangan yang lengkap. Sementara kalau terlalu berat pada faktor estetis maka akan didapati bonsai yang memang indah dipandang namun bisa jadi tidak bertahan lama karena terserang penyakit, tidak sehat atau mudah keropos sampai akhirnya mati.

Hal ini sejalan dengan seni keramik, yang juga merupakan paduan dua hal, antara ketrampilan teknis (teknologi keramik) dan kepiawaian seni rupa. Keramik yang berkualitas memang keramik yang memiliki nilai fungsi sesuai dengan yang dibutuhkan. Namun keramik yang indah manakala memenuhi syarat-syarat estetis tertentu. Dengan kata lain, keramik dan seni keramik adalah dua hal yang berbeda.

Karena itulah maka ada yang menyebut bahwa bonsai ibarat “karya seni rupa yang tak pernah selesai”. Disebut “tak pernah selesai” karena memang pada dasarnya bonsai adalah pohon yang hidup yang terus tumbuh dan mengalami perkembangan secara alami maupun direkayasa. Inilah bedanya dengan karya seni rupa pada umumnya, yang sudah statis pada kondisi semula (ketika diciptakan) dan tidak bakal berubah sampai kapanpun. Sekali perupa membuat patung misalnya, sampai kapanpun bentuk patung itu ya akan tetap seperti kondisi ketika diciptakan.

Sementara dalam bonsai, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sampai pada bentuk yang diinginkan. Dan ketika bentuk itu sudah tercapai, dibutuhkan perawatan yang teliti, tekun dan penuh kesabaran agar keindahannya tetap terjaga atau bahkan bisa meningkat lagi.

Meski berupa pohon mini dalam pot, justru bonsai yang baik manakala berada dalam kondisi sehat. Syarat tetap hidup dan sehat itulah yang harus dijaga meski bonsai di-training sedemikian rupa (diikat, dibelokkan pertumbuhannya, disambung, dipotong dan sebagainya). Syarat sehat ini yang kadang dilupakan sehingga banyak orang yang mengira bahwa merawat bonsai disamakan “menyiksa” tanaman. Kalangan pecinta lingkungan hidup pun mengira bahwa seni bonsai seperti memperkosa tanaman karena tidak membiarkan pohon tumbuh alami. Padahal, apa sih batas alami? Selama tanaman berada dan menjadi bagian dari keseharian manusia, maka tidak ada satu tanamanpun yang betul-betul tumbuh alami. (Ah, itu soal lain yang berada diluar topik kali ini).

Kembali ke soal seni rupa, bahwa menjaga dan mengatur pertumbuhan bonsai memang membutuhkan penguasaan teknis tanaman dan sekaligus pemahaman seni rupa. Kapan harus dipotong, harus dibelokkan, disambung, dibiarkan membesar, dikecilkan dahannya, semuanya tetap dalam kontrol kesehatan sebuah pohon dan juga memenuhi citarasa artistik.

Sebagai sebuah karya seni rupa, maka bonsai akhirnya hadir dalam berbagai ragam penampilan. Pohon mini dalam pot itu bukan lagi hanya menjadi sebuah miniatur pohon besar, melainkan memunculkan sekian banyak gaya sebagaimana juga dalam karya seni rupa. Ada gaya natural yang memang mirip miniatur pohon aslinya. Ada gaya bonsai yang meliuk-liuk, tumbuh miring, gaya seperti pohon tertiup angin, atau juga gaya menggantung bagaikan air terjun. Pada mulanya hanya terdapat lima gaya bonsai, yaitu gaya formal, informal, tegak, wind swept (tersapu angin) dan gaya air terjun (cascade). Namun dalam perkembangannya jumlah gaya itu terus bertambah banyak hingga mencapai ribuan sehingga semakin sulit menemukan kosa kata yang tepat untuk menamakannya.

Perkembangan seni bonsai yang ditandai dengan munculnya gaya dan corak baru yang tidak lagi berpatokan pada pola tradisional dengan kaidah, aturan atau pakem tertentu yang mengikat, melahirkan garis-garis seni baru yang mempunyai gaya dan corak tersendiri. Hal ini dapat terjadi sesuai rentang perjalanan hidup dari obyek/materi yang digunakan.

Hanya saja, ini bedanya dengan seni rupa atau patung, bagaimanapun keindahan bonsai harus dipandang dari satu sisi lebih dulu. Dengan kata lain, setiap bonsai harus memiliki “wajah” dimana dari sudut itulah orang akan menilai kualitasnya. Perkara kemudian dilakukan penilaian dengan memandang dari samping kiri dan kanan, dari atas atau dari belakang serta pengamatan menyeluruh, itu semua merupakan pendukung yang ikut menentukan nilai bonsai ketika diamati dari tampak depan.

Karena itu dalam pameran bonsai selalu ditempatkan sketsel di belakangnya agar dengan mudah diketahui mana bagian depan dan belakangnya. Sketsel itulah yang juga ikut mendukung keberadaan bonsai sebagaimana peranan sketsel pada lukisan atau seni rupa dua dimensi. Justru di sinilah keunikan bonsai, yakni sebuah karya seni rupa tiga dimensi namun untuk menikmati keindahannya diperlakukan mirip karya seni rupa dua dimensi.

(henri nurcahyo)

6 Tanggapan

  1. asyiikkkk berarti aku juga termasuk katagori perupa dong, karena aku pembuat sekaligus penggemar bonsai.mau liat koleksi bonsainya pak wahjudi bolehkah ?tks cak

  2. saya pernah melihat-lihat bonsai, asyik juga membayang seniman mengkhayalkan bagaimana tanaman di potnya nanti tumbuh, dan merekayasa melalui bantuan tali, kawat untuk mewujudkan imajinasinya. ia seniman yang rajin merawat imajinasinya. selamat. apik tenan.

  3. Salam perkenalan,
    Saya setuju dengan bapak henry.Bonsai merupakan karya 3 dimensi dan bonsai juga termasuk dalam seni rupa.Prinsip penghasilan bonsai juga memerlukan asas seni rupa.Untuk penghasilan bonsai prinsip seni seperti garisan,jalinan ,ruang, rupa,bentuk dan warna juga diambil kira.Untuk mengayakan bonsai pula prinsip rekaan juga memainkan peranan penting seperti harmoni,penegasan,imbangan,kontra,kepelbagaian,irama dan kesatuan.Justeru bonsai merupakan satu karya seni yang tiada kesudahannya dan karya seni ini akan selesai (tamat) bila pokok itu mati.
    Bapak boleh layari blog saya di http://bonsaikita.blogspot.com untuk berkongsi bicara dengan kami semua pencinta bonsai di malaysia

  4. Emg btul bonsai dapat di buat dengan berbagai bentuk sperti apa yg di imajinasikan oleh kita. Dalam pembuatan prinsip bonsai perlu ditekankan http://newstechnology.info/check-page-rank-2/

  5. Ada Pameran Bonsai tgl 3 sd 11 Juli 2010 di Siwalan Tuban Daftar Rp.40.000,- Hadiah Kambing

  6. Temen2 mampir aja di :

    http://samsarabonsai.com

    Tersedia Aneka Bonsai Cemara Udang berkualitas.

    Main2 yaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: