Catatan Terapi Alami (1): Hidup Sehat dengan Flora

Manusia memang mahluk pemakan segala (omnivora), tetapi apa salahnya menjadi vegetarian? Toh segala kebutuhan gizi bagi tubuh dapat dipenuhi dari bahan makanan nabati. Sementara bahan makanan hewani, memang tak ada yang salah. Namun ternyata lebih selama ini dikonsumsi lantaran ”sekadar memuaskan selera.”
Kesehatan, adalah problem besar manusia sepanjang jaman. Kesehatan sering diremehkan sepanjang dianggap tidak menimbulkan dampak yang merugikan. Kesadaran terhadap kesehatan justru baru muncul ketika kondisi tubuh mengalami gangguan yang parah, akibat penumpukan ”kesalahan” yang dilakukan puluhan tahun. Padahal, kunci utama menjaga kesehatan sesungguhnya ada pada makanan. Sesungguhnya, tubuh kita adalah yang kita makan.

Menjaga dan mengembalikan kondisi tubuh menjadi sehat melalui makanan itulah yang ”diajarkan” di sebuah lembaga bernama Newstart Indonesia, di kawasan Trawas, Mojokerto.

Marketing Communications Newstar Indonesia, Syailendra, menjelaskan, pada mulanya, semua makanan itu baik-baik saja untuk tubuh manusia. Persoalan baru muncul ketika kita memakan jenis makanan tertentu secara berlebihan, terus menerus, cara memasaknya yang keliru, dan cara makannya yang sembarangan. Dampaknya memang tidak terasakan seketika, tetapi terakumulasi selama puluhan tahun, sedikit demi sedikit, sehingga baru terasakan akibatnya ketika sudah sakit. Sakit adalah sebuah peringatan alami dari tubuh kita sendiri, bahwa ada sesuatu yang keliru dari pola makan kita selama ini.

Itu sebabnya pola makan sehat perlu diajarkan sejak dini pada anak-anak. Kalau saja sejak anak-anak kita sudah makan makanan yang sehat, memasak dengan cara yang tepat, dan memakannya secara benar, maka tidak akan ada persoalan kesehatan sepanjang hidup. Tetapi banyak orang meremehkan soal makanan, dan baru menganggap penting ketika badan sudah sakit.

Jenis makanan misalnya. Banyak makanan yang sebetulnya kurang bermanfaat untuk tubuh, banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. Daging misalnya, lebih banyak mengandung lemak yang membawa dampak negatif bagi kesehatan. Bahan makanan produk nabati, terbukti banyak mengandung serat, sangat baik untuk kesehatan. Susu itu penting, toh tidak harus susu sapi, ada susu kedelai. Ada suplemen sari kelapa yang dijual instan, mengapa tidak langsung minum kelapa muda saja? Bukankah orang-orangtua kita dulu mengajarkan, kalau keracunan diberi minum degan. (Cobalah biasakan minum kelapa muda, tanpa es, tanpa gula).

Cara memasak makanan juga menimbulkan persoalan. Minyak termasuk bahan yang sensitif. Jika pengolahannya tidak tepat, sebagus apa pun kandungannya, itu tidak akan memberi manfaat kesehatan. Kebalikannya, bahan untuk menggoreng tersebut adalah biang munculnya penyakit.
Dijelaskan Solichah Wulandari Amd, Nutritionist Newstart Institute of Indonesia, jika tak tersentuh panas, segala kebaikan minyak belum terusik sehingga dikonsumsi pun aman. Minyak zaitun, misalnya. Kandungan minyak tak jenuhnya jika diminum ampuh menurunkan kadar kolesterol. Namun, jika sudah dipanaskan (terutama ketika digunakan untuk menggoreng), segala kebaikan itu lenyap. Minyak pun berubah menjadi jahat. “Kandungan minyak tak jenuh berubah menjadi jenuh. Ini yang berbahaya bagi kesehatan,” kata perempuan berambut pendek tersebut.

Karena itu, kata Wulan, cara paling aman ya jangan mengolah menu dengan jalan digoreng. Sebagai alternatif, makanan diolah dengan dipanggang, rebus, atau kukus. Jangan salah, walau diolah dengan jalan demikian, bukan berarti bahwa menu sayur hanya bisa disajikan dengan kuah bening. Olahan bersantan pun memungkinkan meski tanpa minyak.
Memasak sayur lodeh, contohnya. Haluskan bumbu-bumbu seperti biasa. “Lantas, digoreng di atas penggorengan panas saja,” jelas lulusan Akademi Gizi Malang tersebut. Setelah masak, bumbu-bumbu dimasukkan bersama bahan-bahan pendukung lainnya. “Setelah sayur matang, angkat dari api, baru santan dimasukkan,” lanjut dia. Sebelumnya, santan diperas menggunakan air hangat.
Cara tersebut dilakukan untuk meminimalkan supaya santan (yang mengandung minyak) tidak terpapar panas terlalu banyak. Juga, itu mencegah kandungannya agar tidak banyak berubah. Memang, jika begini, menu bersantan jadi tidak tahan lama. “Makanya, supaya makanan tidak bersisa dan basi, masak secukupnya saja,” tambah Wulan, staf ahli gizi pada Newstart.

Kemudian, cara makan, juga perlu diperhatikan. Minum air baru dilakukan satu jam setelah makan. Gunanya, supaya memberi kesempatan air liur mengeluarkan enzym penghancur makanan. Itu sebabnya dulu kita diajari guru di sekolah agar mengunyah makanan 30 kali, sampai lumat. Ajaran Rasul Muhammad SAW, mengatakan: Makan sepertiga, minum sepertiga, sisanya untuk bernafas. Jangan makan sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang. –henri nurcahyo

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: