Catatan Terapi Alami (2): Menjadi Vegetarian, Sebuah Alternatif

Mungkin juga, menjadi pemakan bahan makanan nabati saja (vegetarian) tidak menjadi pilihan mutlak. Menjadi vegetarian memang bukan sebuah keharusan manakala sejak dini manusia sudah terbiasa dengan pola makan yang sehat, baik dari jenisnya, cara mengolahnya maupun cara makannya. Vegetarian menjadi alternatif ketika penyakit jadi persoalan atau bagaimana menjaga kesehatan.

Solichah Wulandari Amd, Nutritionist Newstart Institute of Indonesia menjelaskan, vegetarian adalah pola makan yang sepenuhnya menggunakan bahan-bahan nabati, menghindarkan diri dari bahan hewani. Tingkatan vegetarian paling bawah adalah Peskotarian, yaitu tidak makan makanan hewani, namun masih mengkonsumsi daging ayam. Varian dari tingkatan ini adalah, mengkonsumsi bahan makanan hewani, selama berasal dari hewan yang tidak berdarah (ikan, udang dan sebagainya). Ada yang menyebut, tidak mengkonsumsi daging merah. Aliran ini banyak diikuti di Inggris.

Tingkatan di atasnya, adalah vegetarian Lacto-Ovo, yaitu tidak mengkonsumsi bahan makanan hewani kecuali susu dan telor. Di atasnya lagi ada Ovo Vegetarian (tidak mengkonsumsi hewani kecuali telor) dan Lacto Vegetarian (kecuali susu).

Jenis vegetarian yang paling tinggi disebut Vegan, itulah yang diterapkan sebagai menu sehari-hari di Newstart. Sama sekali tidak mengkonsumsi bahan makanan hewani, termasuk ikan, susu hewani, telur, termasuk juga tidak menggunakan minyak goreng. Bahkan, minyak yang berasal dari bahan nabati pun tidak menggunakan.

Vegatarian memang banyak motifnya. Ada yang berdasarkan religi (seperti yang berlaku bagi umat Budha), ada yang berangkat dari etika, berdasarkan pola makan yang sehat, atau juga berdasarkan budaya. Seperti suku Hunza di Tibet, karena tinggal di pegunungan yang tinggi, secara budaya menerapkan ajaran vegetarian. Namun ada juga vegetarian yang berangkat dari motivasi mistik, namanya Sprot Vegetarian, hanya makan bahan nabati yang berkecambah. Aliran ini terdapat di Jepang.

Menurut Wulan, panggilan akrabnya, kendala utama bagi penganut vegetarian adalah porsinya. Dengan kandungan gizi yang hanya berasal dari bahan-bahan nabati, dibutuhkan porsi yang lebih banyak. Hal ini karena ada beberapa elemen yang tidak terdapat dalam menu vegetarian. Misalnya, asam amino dan vitamin B-12. selama ini kebutuhan asam amino esensial maupun non esensial dipenuhi dari bahan makanan hewani dan nabati.

Namun di kemudian hari, lulusan Akademi Gizi Malang itu baru tahu, bahwa berbagai kekurangan yang diakibatkan tidak mengkonsumsi bahan makanan hewani itu ternyata dapat dipenuhi dari bahan makanan nabati. Ada yang disebut Diet Pelangi, yaitu mengkonsumsi berbagai jenis bahan makanan nabati sehingga diistilahkan seperti warna pelangi. Dengan pola diversifikasi ini kebutuhan asam amino dapat tercukupi. Memang asam amino banyak terdapat dalam bahan makanan hewani, namun unsur yang sangat berguna itu sekaligus juga diikuti ribuan unsur yang tidak bermanfaat. ”Nah, apa salahnya kita membuang satu unsur itu saja, kalau akibatnya juga harus menanggung ribuan unsur lain yang merugikan?” cetus alumnus SMAN 1 Pandaan itu.

Sementara itu, elemen vitamin B-12 ternyata terdapat dalam kandungan tempe. Temuan ini baru diketahui Wulan saat bergabung di Newstar. Sebab, menurut versi Amerika, tempe tidak mengandung vitamin B-12. ternyata, tempe Amerika berbeda dengan tempe Indonesia. Dimungkinkan, karena proses pengolahan tempe di Indonesia tidak steril sehingga justru menjadi stimulan bagi hadirnya vitamin B-12. sedangkan di AS, semua proses dilakukan dengan steril.

Pertanyaannya kemudian, apakah pola makan vegetarian yang diterapkan di Newstart dapat ditiru di rumah masing-masing? Kata Wulan, tak ada masalah. Sebab menu vegetarian sebetulnya bukan menu yang aneh. Justru dengan cara vegetarian dapat dilakukan penghematan biaya, sekaligus mempermudah prosesnya.

Yang jadi masalah, bagi pasien yang membutuhkan pelayanan tersendiri, ketika di rumah harus juga ada pembantu khusus yang mampu menyediakan menu vegetarian sebagaimana diberlakukan di Newstar. ”Kadang-kadang makanan dihangatkan berkali-kali, itu yang menjadikan kandungan gizinya hilang,” tutur gadis kelahiran 1985 yang nampak dewasa ini. ­henri nurcahyo

Iklan

3 Tanggapan

  1. Om,boleh nanya kan??Kenapa ya para vegan menghindari minyak goreng??

    Dah om,tengkyuu..seneng bisa mbaca tulisan sampean..

  2. terimakasih informasinya

  3. lumayan menarik. tapi apa bener semua kebutuhan protein hewani bisa digantikan dengan yang bukan sejenisnya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: