Perupa tak Kenal Menyerah

Tak ada kata menyerah di kalangan perupa. Meski berbagai kesulitan mendera, mereka terus berkarya. Meski tak menemukan galeri yang tepat, mereka terus berpameran dimana-mana. Perupa, memang tak pernah mau menyerah. Merekalah seniman yang berusaha berdiri di atas kakinya sendiri.

Cobalah perhatikan aktivitas mereka selama ini. Pameran demi pameran selalu digelar dimana-mana. Di berbagai tempat sambung menyambung. Bahkan satu kesempatan yang sama dapat digelar dua tiga pameran seni rupa. Ada yang pameran di plaza, perkantoran, pendopo kantor pemerintahan, pertokoan, restoran, rumah sakit, di stasiun kereta api, bahkan sampai bandar udara.

Mereka tak peduli, apakah pameran harus di galeri. Yang penting dapat menyajikan kepada publik, bahwa aktivitas kesenian masih terus berdenyut, bahwa seni rupa masih terus berjaya. Mereka terus melukis, masih berkarya, dan berusaha terus berpameran, terlepas dari ada yang mau membeli atau tidak. Toh mereka sudah berusaha. Mereka sudah menunjukkan eksistensinya di tengah problema hidup yang makin kompleks ini.

Justru di tengah problematika itulah mereka bahkan menunjukkan kepeduliannya pada sesama. Mereka menggelar pameran untuk kepentingan amal, menggalang partisipasi masyarakat agar peduli dengan bencana, dan mengetuk hati setiap orang agar memiliki rasa empati pada kemanusiaan. Merekalah yang sesungguhnya telah banyak memberi selama ini. Maka sudah sewajarnyalah kalau kita bertanya, apa yang diperbuat kepada mereka secara sepantasnya.

Barangkali, ada perhatian yang memadai saja sudah menjadi seteguk air yang menyejukkan. Mereka sudah berkarya, tinggal kita sendiri apakah yang kita lakukan sebagai bentuk apresiasi. Apresiasi adalah sebuah bentuk penghormatan sekaligus penghargaan. Apresiasi adalah memberikan perhatian terhadap yang telah mereka kerjakan. Karena mereka sudah mengeluarkan keringatnya, menunjukkan darma baktinya, membuktikan kepeduliannya pada sesama.

Kadang mereka berkompetisi diantara mereka sendiri, saling berebut kesempatan. Toh dalam satu helaan nafas yang sama, mereka juga guyub lagi dalam kebersatuan yang mengharukan. Persaingan dan perkawanan, adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Bukankah demi hidup memang diperlukan survivalitas?

Bahwasanya perupa memang tak pernah kenal kata menyerah. Itu sudah terjadi, dan tak pernah lekang sampai akhir zaman nanti. Apakah yang sudah, sedang atau yang akan kita perbuat sendiri?

henri nurcayo

Satu Tanggapan

  1. Tetap Semangat Dan Jangan Menyerah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: