Berharap Kebangkitan Wayang Orang

Grup Wayang Orang Warga Budaya yang beralamat di Sambirejo, Kota Madiun, berdiri sejak tahun 1978, namun sudah sangat lama tidak pernah aktif. Tidak pernah memiliki pengalaman nobong, hanya sesekali saja melakukan pementasan. Masa kejayaan terjadi sampai dengan tahun 1986, pentas 2-3 kali dalam sebulan. Namun setelah itu sangat jarang pentas. Pementasan terakhir adalah tahun 1995, ketika diundang meramaikan hajat penganten di Bojonegoro.

Kegiatan yang masih rutin berjalan adalah siaran langsung di RRI Madiun sebulan sekali. Namun sejak tahun 2000, kegiatan ini juga berhenti, karena banyak pemain yang pindah domisili ke Surabaya, banyak yang berusia tua, dan tidak ada kaderisasi.

Ketika mendapat permintaan pentas di Surabaya oleh Dinas P dan K Jatim (18 April 2008), maka kesempatan itu ibarat reuni anggota setelah terpisah waktu selama belasan tahun. Jumlah anggota yang berhasil dikumpulkan sebanyak 30 orang, termasuk pengrawit dan 2 anggota baru. Padahal dulu anggotanya sebanyak 50 orang. Ketika dilakukan pemantauan, tanggal 5 April 2008, ternyata baru latihan dua kali, termasuk waktu itu. Itupun banyak pemain yang tidak hadir latihan. Maka perkembangan latihan berikutnya hingga saat pementasan, tidak dapat terpantau dengan baik.

Dan apa yang terjadi ketika mereka pentas kali pertama sejak belasan tahun vakum? Sebagaimana dapat diduga, pementasan yang memilih lakon “Gatutkaca Kembar” di pendopo Dinas P dan K Jagir Sidoresmo Surabaya ternyata berlangsung kurang maksimal. Banyak hal-hal teknis pementasan, dan dramaturgi, yang masih kedodoran. Mereka masih terlihat gagap untuk menguasai panggung, bloking sudah baik meski masih belum sempurna, namun ada beberapa saat panggung sering kosong.

Meski demikian, secara teknis pemeranan, rata-rata tidak ada persoalan. Dialog-dialog dapat berlangsung lancar hanya dengan sedikit pengarahan saja. Maklum, mereka adalah pelaku seni tradisi yang sudah mendarahdaging dengan kesenian, dan dikaruniai bakat alam.

Beberapa kelemahan yang ditemukan, rata-rata disebabkan karena kurang sering latihan. Misalnya saja, tari gambyong maih perlu belajar banyak, cak-cakan lemah, iringan gamelan dan vokal uyon-uyon juga sangat lemah. Juga bentuk gerak-gerak wayang masih belum mantap. Dan beberapa kelemahan dramaturgi lainnya.

Ucapan terima kasih yang diulang-ulang dengan adegan punokawan malah menjadi rusak. Suasana jadi mati setelah pembacaan sinopsis diselingi gending nyidamsari, seharusnya langsung masuk tablo. Namun malah tablo terlalu panjang, sebaiknya cukup adegan perang Gatutkaca lawan Brajadenta, perang Brajadenta lawan Brajamusti. Namun keluarnya gareng petruk terlalu lama, juga joget mereka yang sampai menghabiskan satu gending. Demikian pula adegan lawakan yang sangat terasa membosankan, sering diulang ada yang sampai 3-8 kali, bahkan ada yang lepas kontrol.

Dalam hal sastra, pocapan tokoh Semar sering lepas dari peranannya. Sebagai sosok orang tua yang jadi panutan, maka pocapannya selayaknya yang dapat dianut.

Mengingat pementasan ini memang baru kali pertama sejak tahun 1995, maka segala kekurangan tersebut tentu dapat dimaklumi. Justru dengan adanya pementasan ini diharapkan grup Wayang Orang dari Kota Madiun ini dapat tumbuh kembali. (henri nurcahyo)

Surabaya, 18 April 2008

Iklan

8 Tanggapan

  1. untuk selanjutnya,semoga para seniman wayang orangnya,lebih sengat lagi!

    sore pak hendrik,mohon diijinkan,klo tidak keberatan,webnya saya link.
    terimakasih sebelumnya.

    http://heniodori.blogspot com/

  2. terima kasih mas artikelnya dapat membantu tugas kuliah

  3. Seni Kulit telur

  4. Itu foto Gatotkaca yang dipakai di novel Gatotkaca Tanding, ya?

  5. Minta ijin ngopy artikelnya pak, terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: