Estetika Kain Perca

Potongan-potongan sisa kain (perca) dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Bukan hanya menjadi bahan baku kerajinan, namun sebagai bahan dasar membuat karya seni rupa yang bermutu. Potongan kain buangan itu ternyata dapat menggantikan fungsi cat dalam lukisan. Bukan sekadar ditempel-tempel menjadi karya kolase. Itulah yang saat ini dikerjakan oleh Endang, seniwati kain perca dari Porong Sidoarjo.

Proses kreatif Endang membuat seni rupa kain perca ini dapat disebut ada tiga tahap (bahkan empat tahap). Pertama, pada mulanya, memang Endang hanya menjadikan kain perca itu menjadi elemen kolase untuk membentuk karya seni rupa. Karena dia memiliki dasar melukis, maka dengan mudah dapat menyusun potongan-potongan kain berbagai warna itu menjadi karya seni yang indah. Pada tahapan ini, apa yang akan dibuat Endang masih tergantung pada bahan baku berupa jenis dan corak serta warna kain perca yang dia dapat.

Tahap yang kedua, Endang tidak mau tunduk pada ketersediaan bahan. Apa yang dilakukannya bukan sebatas memanfaatkan potongan-potongan sisa sebagaimana adanya. Dia tidak mau menyerah begitu saja pada warna dan corak kain perca yang didapatnya. Namun dia sengaja berburu untuk mendapatkan motif-motif tertentu yang diinginkannya. Dia merancang lebih dulu apa yang hendak dilukisnya, kemudian mencari bahan-bahan kain yang dibutuhkannya. Dengan kata lain, Endang bukan menjadi pengrakit dari kain perca yang kemudian disulap menjadi karya seni rupa. Tetapi, dia memang sengaja membuat karya seni rupa dengan bahan baku berupa kain perca.

Tetapi dalam perkembangannya, ternyata masih saja ada anggapan bahwa yang dikerjakannya tak ubahnya sebagai seni kerajinan belaka. Padahal, tema karyanya bukan hanya menyajikan gambaran realis seperti suatu pemandangan misalnya, namun sudah merambah ke bentuk-bentuk nonfiguratif.

Menjadi pengrajin adalah satu pilihan. Dan menjadi seniman perupa adalah pilihan yang lain. Tanpa bermaksud merendahkan posisi pengrajin, Endang lebih memilih menjadi seniman perupa yang menjadikan kain perca sebagai bahan bakunya. Sudah banyak pengrajin kain perca, tetapi perupa atau seniman kain perca, rasanya Endang belum mendapatkan saingan yang berarti.

Tantangannya kemudian adalah, bagaimana membuat karya seni rupa dari kain perca supaya tidak mengesankan sebagai hasil karya kerajinan belaka? Endang lantas memasuki tahapan ketiga, yaitu setelah menjalani proses beberapa tahun, Endang menemukan cara orisinal yang menarik. Pada dasarnya, hakekat dari kain adalah tenunan benang. Maka di tangan Endang, kain-kain perca itu, dia kembalikan lagi menjadi benang, dicerabuti kembali, kemudian dipotong pendek-pendek, dan dipilah-pilah dalam botol sesuai dengan warnanya. Maka potongan serabut benang itu lantas dilekatkan dengan lem ke kanvas, sehingga fungsi potongan benang itu menggantikan fungsi kain dalam lukisan.

Dari sisi bahan baku, rasanya Endang menggenggam orisinalitas. Tinggal kemudian bagaimana mengembangkannya menjadi karya seni rupa yang berkualitas. Itulah tantangan dalam estetika kain perca, sebuah estetika seni rupa yang memanfaatkan kain perca sebagai bahan baku utamanya. Cobalah amati satu persatu karya Endang kali ini. Sepintas memang tak ubahnya seperti seni lukis biasa, yang menggunakan media cat. Terlepas dari sisi obyek yang digambarkannya, maka karya Endang sudah mengantongi satu kelebihan, yaitu berbahan baku kain perca, atau lebih tepatnya potongan-potongan benang yang menggantikan fungsi cat.

Kalau sudah begini, maka sebetulnya yang dilakukan Endang bukan lagi melukis dengan kain perca, melainkan dengan benang. Hanya saja, benang yang digunakan itu bukan benang baru, melainkan didapat dari serabut-serabut kain perca.

Estetika kain perca adalah sebuah wilayah tersendiri dalam seni rupa. Wilayah ini masih sepi, jarang dimasuki oleh kalangan perupa lantaran dianggap seni kerajinan yang lebih pantas dikerjakan ibu-ibu sebagai pengisi waktu luang. Estetika kain perca, memiliki kaidahnya sendiri, tak dapat disamakan dengan seni lukis konvensional, namun juga tak dapat diremehkan sebagai seni kriya atau sekadar kerajinan ibu-ibu.

Tantangan berikutnya adalah, bagaimana menjadikan bahan baku kain perca itu menjadi karya seni yang berkualitas. Artinya, meski seni rupa kain perca ini memiliki kelebihan dibanding seni lukis, namun kalau hasilnya begitu-begitu saja, ya percuma saja. Kelebihan dari sisi bahan baku saja tidak cukup. Harus disertai kualitas hasil karya akhir pengolahan kain perca itu sebagai karya seni rupa. Kalau mau disebut tahapan, inilah tahapan keempat yang masih harus dijalani Endang.

Dalam hal hasil akhir ini, nampaknya Endang masih harus berpacu dengan pelukis-pelukis lain yang menggunakan media konvensional. Memang masih proses, Endang baru saja menemukan bahan baku kain itu sebagai media seni rupa. Ibarat seorang pelukis, masih dalam taraf mengenali dan menguasai bahan bakunya. Tapi untungnya, Endang sudah memiliki pengalaman sebagai pelukis. Setidaknya, dia pernah belajar serius tentang seni lukis konvensional. Sehingga, misalnya ada dua lukisan yang sama-sama menggambarkan sebuah pemandangan. Yang satu menggunakan cat konvensional, dan yang satunya lain dengan media kain perca hasil karya Endang, maka jujur saja, pilihan akan jatuh pada lukisan pemandangan yang terbuat dari kain perca itu. Apa boleh buat.

Henri Nurcahyo

Iklan

7 Tanggapan

  1. hai…………..

  2. idenya sangat menarik, dahulu sewaktu saya SMA juga pernah diajarkan membuat kesenian dari kain perca akan tetapi akhirnya “merotol” atau lepas, bagaimana mengatasinya?
    terimakasih..

  3. dari artikel di atas … berarti keunikan kain perca bertambah lagi…
    andai ada yang menulis/ buat buku ( all about kain perca… )

    plus di tambahkan sejarah or keunikan tersendiri dari kain perca….

    bisa jadi tambahan referensi penulisan karya ilmiah…..

  4. Sangat kreatif sekali mbak. ingin mencobanya..
    Lem yang digunakan untuk merekatkan kain percanya, pakai lem apa ya mbak??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: