Urgensi Data Base Kesenian Jawa Timur

Ketika reyog Ponorogo disebut-sebut diklaim oleh Malaysia, demonstrasi meletus dimana-mana. Badai protes tanpa henti. Sampai akhirnya, Malaysia mengakui bahwa sesungguhnya reyog memang milik Indonesia. Padahal, klaim itu sebetulnya tidak ada. Dalam situs http://www.heritage.gov.my/ yang berisi klaim terhadap Reyog Ponorogo yang menggegerkan itu, disebutkan bahwa reyog sebagai salah satu Tarian Tradisional Melayu, yang dinamakan: Tari Barongan. Dan sejatinya tarian yang dicatat sebagai salah satu Tarian melayu itu memang sudah mendarah daging bagi etnis Melayu di Malaysia. Sebagaimana sejumlah tarian lain yang dicatat atas nama etnis Cina, India, Sikh, Sabah dan Serawak. Jadi, klaim itu dapat dimaknai sebagai “kesenian yang ada di Malaysia” dan bukan “kesenian milik Malaysia”. Hal yang sama dapat terjadi kalau ada pertanyaan, jenis kesenian apa yang “ada di Surabaya” maka pasti salah satunya akan menyebut tari ballet yang menjadi milik Rusia atau Negara-negara Eropa. Kasus semacam ini bukan tidak mungkin akan terjadi lagi, bahkan bukan hanya dengan Malaysia. (Kasus lagu Rasa Sayange, juga Batik, adalah sebagian diantaranya).

2. Dalam konteks lebih sempit, klaim kesenian masing-masing daerah juga dapat terjadi. Siapakah yang berani mengklaim pemilik Tayub misalnya. Kesenian ini ada di banyak daerah, misalnya Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Blitar, Malang dan sebagainya. Namun ketika Nganjuk mengklaim sebagai kesenian khas, apanya yang salah? Fakta menyatakan, pemkab Nganjuk telah berbuat banyak terhadap Tayub, mulai dari pendidikan waranggananya, pusat latihan, sampai dengan upacara wisuda waranggana (sinden) yang kemudian dikemas menjadi atraksi wisata tahunan di Sedudo yang menarik itu. Tradisi pengantin Loro Pangkon sudah lama menjadi ciri khas Surabaya, namun Sidoarjo justru sudah mendahului hak patennya. Hal yang lain, siapakah yang menyangkal bahwa ludruk adalah kesenian khas Surabaya? Tetapi faktanya Jombang lebih subur dan lebih terurus sehingga kemudian mengklaim sebagai kesenian unggulannya.

3. Hak Cipta, memang bukan solusi terbaik, sebab legitimasi yuridis itu lebih ditentukan oleh siapa yang berkuasa, yang punya duit dan yang lebih dulu merebutnya. Kasus desain kerajinan perak di Bali baru-baru ini hanya contoh kecil, dimana pengrajin Bali digugat oleh pengusaha Amerika karena dianggap menjiplak desainnya. Juga mebel Jepara desain Kursi Kepiting, ditolak masuk Cina karena sudah dianggap menyamai produk mereka. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa Hak Cipta malah menguatkan si penguasa, pemodal dan orang-orang yang “pinter tapi suka minteri”. Banyak kekayaan tradisi Indonesia yang justru terancam akan terampas oleh orang luar hanya gara-gara belum dilindungi oleh Hak Cipta. Belakangan desain-desain dan hasil seni kerajinan Asmat sedang diajukan untuk mendapatkan hak cipta.

4. Database kesenian Indonesia (termasuk Jatim) memang masih sangat lemah, khususnya yang dapat diakses secara mudah melalui internet (ada beberapa buku yang mencoba membuatnya, namun oplagnya sangat terbatas, sulit dicari dan sangat tidak lengkap). Apa yang dilakukan lewat blog brangwetan, sesungguhnya hanya kliping belaka, ditambah pendataan yang sebetulnya sudah dilakukan oleh Dinas P dan K Jawa Timur dan hasil penelusuran pribadi. Kliping media massa itu dianggap sangat penting karena sampai saat ini tidak ada satu media massapun yang khusus memiliki segmen berita kesenian, apalagi khusus Jawa Timur. Setidaknya langkah ini mempermudah ketimbang harus melalui jalur google lebih dulu, yang anehnya ada meda massa yang sulit dicari di google. Membuat blog adalah alternative paling mudah, murah dan efektif, meski untuk pengelolaannya membutuhkan ketekunan, dan rutinitas yang seringkali makan waktu. Persoalannya lagi, tidak semua media massa cetak memiliki edisi online sehingga sulit diakses dan kemudian di upload ke dalam situs (Misalnya Kompas Jatim dan beberapa Koran local, sementara Radar Surabaya edisi onlinenya dalam bentuk pdf). Atau, edisi onlinenya ternyata tidak selengkap edisi cetak (misalnya Jawa Pos). Rutinitas update inilah yang menentukan apakah blog tersebut akan sering dikunjungi atau tidak. Dalam konteks Indonesia, sudah ada situs www.beritaseni.com.

5. Mengacu pada kasus reyog, maka database kesenian setidaknya akan memberikan legitimasi factual terhadap potensi kesenian Jawa Timur, meski belum sampai pada legitimasi yuridis yang mengarah pada hak cipta. Legitimasi factual itu adalah langkah minimal yang harus dilakukan, lengkap dengan deskripsi, foto, video dan kalau perlu posisi keberadaannya. (brangwetan sedang menyiapkan fitur “pustaka” yang berisikan deskripsi semua jenis-jenis kesenian Jatim, ini juga pengembangan dari program yang dilakukan Dinas P dan K Jatim). Sejak adanya kasus reyog, mulai muncul situs atau blog yang membuat database kesenian Indonesia, bahkan sudah ada yang mencoba membuat semacam Wikipedia seni budaya Indonesia. (www.budaya-indonesia.org).

6. Dalam perkembangannya, database kesenian bukan hanya data pasif. Sekadar info bocoran, di Jakarta sedang ada yang menyiapkan pembuatan database budaya Indonesia dalam bentuk interaktif, bukan sekadar online, tetapi juga lewat buku dan CD. Bahkan, ada game online tentang petilan sejarah budaya, yang pengunjung dapat langsung masuk menjadi salah satu pelakunya. Terlepas dari siapa yang melakukannya, nampaknya kasua reyog tersebt di atas telah menumbuhkan kesadaran untuk menyelamatkan kekayaan seni budaya Indonesia. Diperlukan aksi-aksi lebih banyak lagi, lebih kongkrit, dari banyak pihak, termasuk perguruan tinggi. Apa yang saya dengar bahwa FIB Unair menyiapkan semacam Pusat Kajian Kebudayaan Jawa Timur, perlu mendapatkan apresiasi yang bagus.

7. Dalam kondisi sebagaimana yang disebutkan di atas, tidak perlu menyalahkan siapa-siapa, tetapi lebih baik berbuat sendiri saja, mulai dari diri sendiri, sekecil apapun kontribusi yang dapat diberikan. Rutinitas brangwetan misalnya, sangat banyak membutuhkan partisipasi semua pihak yang berkepentingan, namun ternyata upaya yang sudah dilakukan selama ini belum membuahkan hasil. Ajakan via berbagai mailist masih belum mendapatkan tanggapan satupun. Padahal, dari data jumlah kunjungan di brangwetan dapat mencapai di atas 300 hit setiap hari (belakangan malah sekitar 700 hit perhari). Dibutuhkan pengembangan dari sisi aplikasi teknologi. Brangwetan yang selama ini masih numpang di wordpress, mulai hari ini pindah ke www.brangwetan.com, namun tentunya masih butuh waktu untuk melakukan migrasi data yang sudah amat sangat banyak itu. Siapa yang melakukannya? Ini juga soal tersendiri. Bukan sekadar migrasi, melainkan perlu ada penataan rubrikasinya yang lebih rapi, dan liputan dari lapangan. Siapa bersedia menjadi voluntir untuk brangwetan? Ini yang saya tunggu. Terima kasih. Henri Nurcahyo

Surabaya, 29 Oktober 2008

Catatan:

Makalah ini sebagai bahan diskusi dalam “Data Base Kesenian Jawa Timur” oleh Dewan Kesenian Jatim dan FIB Unair, di Surabaya 30 Oktober 2008.

Biodata:

Henri Nurcahyo, lahir di Lamongan 22 Januari 1959. Anggota Pleno Dewan Kesenian Jawa Timur, Ketua Bidang Diklitbang Dewan Kesenian Sidoarjo, Direktur Lembaga Ekologi Budaya (ELBUD – http://www.elbud.or.id), Pemimpin Redaksi Majalah GREEN Hobby, Pengelola Pusat Informasi Kesenian Jawa Timur (brangwetan.wordpress.com). Pengalaman berkesenian: Sering menjadi panitia inti festival seni, pengamat dan juri festival seni pertunjukan, juara lomba kritik seni tingkat nasional, pernah menjadi wartawan kesenian di Surabaya Post, dan penulis seni budaya di Jawa Pos. Menulis beberapa buku kesenian, dan masih menulis di media massa (cetak dan internet). Sedang menyiapkan buku: “Skenario Pengembangan Seni Pertunjukan” dan “Monografi Kesenian Jawa Timur”. HP: 0812 3100 832, email: henrinurcahyo@yahoo.com, web blog: http://www.henrinurcahyo.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: