Kenangan Indah dari Wakatobi (1)

kenangan-1Tanggal 1-3 Desember lalu, saya menjadi satu-satunya wakil Jawa Timur dalam acara Seminar dan Festival Tradisi Lisan VI, di kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Banyak hal yang layak dicatat sebagai kenangan yang tak terlupakan. Berikut ini adalah catatan saya yang pertama.

Mencari tahu tentang nama Wakatobi, tidak akan ditemukan di peta. Ternyata, Wakatobi adalah akronim dari nama empat pulau, yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Wakatobi adalah nama kabupaten baru yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 29/tahun 2003, sebagai pemekaran dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Pemerintahan definitif baru dimulai tahun 2005, dengan Bupati Ir. Hugua dan Wakil Bupati Ediyanto Rusmin. Sementara di peta, keempat pulau itu bernama Kepulauan Tukang Besi. Untuk mencapainya, butuh waktu sekitar 5 jam dengan kapal cepat dari Kendari, ibukota Sultra.

Lantas, mengapa seminar dan festival tradisi lisan nusantara ini diselenggarakan di pulau terpencil itu? Ternyata hal ini tidak lepas dari semangat menggebu jajaran Muspida Wakatobi untuk mempromosikan kabupaten baru itu. Tak kurang dari Bupati dan ketua DPRD Wakatobi sendiri sejak setahun yang lalu, langsung melobi Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) di Jakarta agar kali ini acara diselenggarakan di luar Jakarta, dan bersedia memilih Wakatobi menjadi tuan rumah. Pemkab siap menyediakan dana Rp 1,5 M, meski pada akhirnya berkembang menjadi Rp 2 M lebih. Soal anggaran ini sempat menimbulkan aksi unjuk rasa sejumlah mahasiswa di Wakatobi, namun sebetulnya sebagian besar dana itu justru kembali lagi pada rakyat, antara lain berupa subsidi pementasan kesenian, menyewa 50 pengemudi ojek gratis untuk peserta serta subsidi bagi penginapan yang menampung lebih dari 400 orang.

Disamping itu, menurut Pudentia, ketua ATL, terpilihnya Wakatobi sebagai tempat seminar karena Wakatobi memiliki tradisi lisan yang kuat. Tidak aneh bila tuan rumah mendapatkan kesempatan membedah topik ‘Potensi Tradisi Lisan Wakatobi sebagai Kekuatan Kultural.‘ Tentu saja, hal ini memang tidak cukup beralasan lantaran banyak daerah lain yang tidak kalah kuat tradisi lisannya. Yang jelas, dengan kegiatan yang baru pertama kali di luar ibu kota negara ini, Pemkab Wakatobi dengan cerdas memanfaatkannya untuk go international melalui pendekatan budaya sekaligus peresmian Bandara Wakatobi (sayang saat acara berlangsung, bandara belum siap diresmikan, hn).

Dalam konteks promosi internasional pula, sebelumnya, pemkab setempat juga menyelenggarakan lomba foto bawah laut tingkat internasional. Bahkan, bupati Ir. Hugua berusaha menjual obyek wisata bawah laut Wakatobi di London dalam Bursa Pariwisata Dunia (World Travel Market – WTM) yang berlangsung di gedung pameran Excel London, Selasa (11 November 2008). Bukan hanya itu, mantan Puteri Indonesia, Nadine Chandrawinata yang memang hobi menyelam itu, pernah diundang khusus mengarungi keindahan bawah laut Wakatobi dan kemudian ditetapkan menjadi Duta Wisata Wakatobi. Sementara ke depan, sutradara ternama Garin Nugroho, sudah dijadwalkan membuat film promosi Wakatobi.

Wakatobi, memang mengandalkan kekayaan wisata bawah laut, yang konon keindahannya melebihi Taman Laut Nasional Bunaken di Manado yang sudah terkenal lebih dulu. Tak heran dunia internasional lebih mengenal pulau-pulau terpencil ini ketimbang wisatawan dalam negeri sendiri. Apalagi, di salah satu pulau di wilayah Wakatobi, sudah bercokol perusahaan asing yang menggarap wisata bawah laut ini secara profesional, sudah memiliki lapangan terbang sendiri, siap menjemput wisatawan dari Bali atau Makasar dengan pesawat terbang pribadi. Bahkan area sekitar pulau itu seolah menjadi satu teritori khusus lantaran penduduk sekitar tak boleh mendekatinya. Hal ini sudah dilakukan ketika wilayah kepulauan ini masih termasuk kabupaten Buton.

Tetapi, kekayaan Wakatobi bukan hanya ada di bawah laut. Keyakinan itulah yang hendak diungkap oleh pemkab setempat dengan menyediakan diri sebagai tuan rumah seminar dan festival tradisi lisan ini. Bahwa Wakatobi, menurut Ir. Hugua, adalah surga nyata di darat dan laut. “Kami ingin membangun peradaban dunia di pulau terpencil,” tegas lelaki kelahiran Pulau Tomia tanggal 31 Desember 1962 ini. Dengan satu keyakinan bahwa Tradisi Lisan sebagai kekuatan kultural (dapat) membangun bangsa, Hugua ingin mendorong masyarakat masuk surga. Bagaimana menjadikan masyarakat yang berbudaya. Soal kesiapan lokasi dan segala fasilitas lainnya, itu soal nanti. “Yang penting merdeka dulu, baru mengisinya,” tekadnya. Sudah ada hotel “bintang tujuh”, berupa rumah-rumah masyarakat yang siap menampung tamu.

Soal “merdeka dulu” itulah yang nampaknya harus dimaklumi peserta. Bayangkan, acara welcome dinner di lapangan Benteng Liya, terpaksa ditunda beberapa jam karena tiba-tiba listrik mati sejak sore hari. Panitia sudah mengganti dengan genset, toh mati lagi. Sebagian peserta tidak mendapatkan penginapan yang nyaman. Air bersihnya ternyata agak asin, tidak lancar mengalir, kamar mandi yang bocor, kamar yang pengap tanpa ventilasi (apalagi AC), padahal udara pantai membuat gerah. “Saya hanya masuk kamar ketika tidur,” kata seorang peserta. Soal listrik mati ini malah terjadi berulang kali, termasuk saat pembukaan acara hari Senin pagi (1/12) ketika Bupati Hugua pidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan bahasa lokal). Beberapa kalimat Hugua sempat menggunakan megaphone. Tapi apa kata mantan aktivis LSM Lingkungan ini? “Listrik mati, itu biasa, justru kalau semua lancar itu abnormal, karena ini memang kabupaten baru,” ujarnya disambut tawa pengunjung. “Terima kasih PLN yang sudah menghidupkan kembali listrik,” tambahnya dengan wajah tetap ceria.

Toh panitia berusaha semaksimal mungkin menjamu peserta. Sebanyak 50 pengemudi ojek sepeda motor dicarter panitia mengantarkan peserta, gratis kemana saja tujuannya. Juga 15 (lima belas) mobil Avanza plat merah yang joknya masih terbungkus plastik, baru kali ini digunakan, siap mengantar tamu kemana saja, kapan saja. Makanan selalu berlebih dihidangkan. Setiap kali memang tak lepas dari ikan laut yang dimasak beragam resep, terutama ikan bakar. Sampai mblenger (bosan). Sambutan dari penduduk sangat ramah, siap membantu tanpa reserve, keamanan juga terjamin, tak perlu ada rasa was-was ada barang hilang. Belum lagi panitia menyediakan kapal khusus yang sengaja dicarter untuk pergi pulang peserta ke dan dari Kendari, lantaran tidak setiap saat ada pelayaran regular.

Dan yang menggembirakan, suami Ratna Sari Dewi itu tidak mengira acara ini menjadi acara rakyat. Dari ujung Binongko hingga Wanci, rakyat berbondong-bondong menyaksikan acara ini, bukan sekadar menjadi penonton, namun langsung terjun sebagai partisipan, membawa kekayaan budaya masing-masing daerahnya. Puluhan kesenian rakyat berupa tarian dan tradisi lisan dari berbagai pulau ditampilkan di acara ini. Juga beragam tradisi lokal berupa upacara adat, puluhan jenis makanan adat dan khas, serta permainan anak, semuanya tumplek bleg selama acara berlangsung. Sayang sekali, acara hari pertama, gagal dilaksanakan sempurna karena hujan turun deras. Padahal, waktu itu sudah siap ratusan penduduk membawa makanan khas daerah masing-masing, dikemas dalam tatanan dan wadah yang juga khas. Rencananya, mereka akan menyuapkan makanan itu pada semua tamu seminar dan festival, sebagai ucapan selamat datang.

Sementara itu, disela-sela seminar yang padat dari pagi hingga sore hari, sempat diagendakan kunjungan wisata ke pulau Hoga, yang menjadi kawasan para peneliti bawah laut. Pulau ini memang disediakan khusus untuk wisatawan ilmiah, dengan puluhan rumah-rumah khas sebagai resort, dan sarana pertemuan. Dalam perjalanan menuju pulau Hoga selama tiga jam, sempat digelar dua sesi seminar pendek dengan peserta terbatas di atas kapal. Peserta hari kedua itu memang dibagi tiga kelompok, seminar di atas kapal ini hanya salah satunya, khusus jaringan ATL dari berbagai daerah. Meski semua kelompok akhirnya juga berkesempatan mengunjungi pulau ini. Namun ketika sampai di pulau Hoga, nampaknya panitia tidak sampai hati memaksakan menggelar lagi seminar yang sudah dijadwalkan berlangsung di pulau Hoga. Semua peserta menyebar dengan acara masing-masing. Ada yang menyelam, snorkeling, berenang, sekadar bermain di pantai berpasir putih dan berendam di laut, ada yang asyik menelusuri pulau kecil yang penuh dengan santigi dan cemara ini, atau sekadar asyik menikmati hawa segar dan pemandangan indah tepi laut. “Ya sudah, tenang-tenang saja, nikmati saja,” kata Sutamat Arybowo, panitia yang memaklumi kondisi ini. Terpaksa, sesi seminar yang mustinya diisi oleh Rahayu Supanggah ini dijejalkan pada keesokan harinya.

Acara berlangsung memang sangat padat. Peserta harus pandai-pandai “mencuri waktu” untuk mengunjungi benteng Liya ketika matahari masih bersinar, bagaimana caranya mengunjungi perkampungan suku Bajau yang dibangun di atas laut, juga menikmati pantai Hua, apalagi kalau mau menyelam. Bupati menyadari hal ini. Sehingga dia hanya katakan, “bagi peserta yang tidak terlalu berkepentingan dengan seminar, dan ingin menyelam, silakan hubungi kami agar dapat disediakan speedboat khusus menuju titik-titik penyelaman.”

Memang tidak cukup waktu untuk menikmati Wakatobi selama lima hari. Ini memang bukan acara wisata murni, tapi seminar dan festival. Sejak berangkat dari Surabaya (juga Jakarta), peserta harus menginap dulu di Kendari (29 November), dilanjutkan perjalanan dengan kapal selama 5 jam keesokan harinya. Tiba di pelabuhan Wanci sudah tengah hari, disambut dengan kalungan selendang tenun bertuliskan “Wakatobi” oleh panitia gadis-gadis cantik, kemudian peserta menyebar diantar mobil yang masih baru untuk istirahat sebentar di penginapan, dan acara penyambutan di benteng Liya malam harinya. Sementara satu rombongan tersendiri dari Jakarta, langsung terbang dari Makassar menuju pulau Tomia, dilanjutkan perjalanan kapal ke Wanci. Tak urung mereka sempat terlambat lantaran kapal tak dapat melaju cepat saat malam, ditambah salah satu mesinnya yang mati. Dan ketika acara selesai tanggal 3 Desember, baru dapat meninggalkan Wakatobi siang hari berikutnya, menginap lagi di Kendari, sehingga praktis sejak berangkat sampai kembali ke rumah butuh waktu 7 (tujuh) hari termasuk perjalanan. Padahal acara resminya hanya 3 (tiga) hari.

Ya sudah, ini memang hanya sekadar pembuka pintu bagi rencana-rencana berikut terkait Wakatobi, terkait tradisi lisan nusantara, yang diselenggarakan secara tradisi dua tahun sekali. Dan ternyata, prakarsa Wakatobi ini hendak ditiru daerah lain. Tercatat Jambi dan Bangka Belitung siap menjadi tuan rumah acara yang sama dua tahun lagi. Lewat rapat internal ATL yang diikuti 15 perwakilan daerah, akhirnya disepakati seminar dan festival tradisi lisan VII tahun 2010, diselenggarakan di Bangka Belitung.

Sampai jumpa di tanah kelahiran Yusril Ihza Mahendra dan Andrea Hirata, daerah Lasykar Pelangi…… (henri nurcahyo)

Iklan

8 Tanggapan

  1. memang pulau wakatobi pulau yang paling indah…saya sendiri keturunan wanci(wangi-wangi) dari ibu kandung saya

  2. Salam kenal bang,
    Bisa di ceritakan gak gimana perjalannya. Kendaraan apa aja yg ditempuh n hotelnya di mana? soalnya saya cek di internet gak ada penginapan lain yg lumayan murah. yg ada cuman Wakatobi resort yg harganya melebihi kalo liburan ke maldives. tolong di email ke saya dong bang. Thanks ya

    • Salam kenal juga.
      Perjalanan yang saya lakukan, dari Surabaya ke Kendari, transit di Makasar. Trus dari kendari ada kapal ke Wangi-wangi (pelabuhan Wanci) lebih kurang 5 jam. Tetapi sekarang sudah ada pesawat langsung dari Makasar ke Wangi-wangi. Bandaranya baru jadi. Keliling Wangi-wangi ada angkot. Tapi kalo mau naik ojek juga bisa, tanya dulu harganya. Soal penginapan, ada beberapa hotel kecil, murah (sayang saya lupa), misalnya: Hotel Wakatobi di pulau Wangi-wangi (itu yang saya ingat). Nanti kalo berkas saya ketemu saya coba kirim lebih detil.
      Btw, emang mau kesana? POsisi sekarang dmana?

      salam
      henri nurcahyo

  3. Lam knal..^_^
    Yupz bener bgt Wakatobi memiliki kekayaan laut yang super dahsyat…!!!
    Aq aina asli 100% dari Wakatobi tepatnya di “wanci”. sayangnya sekarang, saya dah jauh sekali dari kampung halamnQ yg indah permai. Coz gi menempuh penddkkn… tapi never mind karna sesekali pulang kampung tu kberlibur,,, biasa kangen ma makanaX heheeheh…
    Z juga merasa seneng bgt saat wakatobi dijadikan slaah satu tempat pariwisata yang lebih fantastic ketimbang tempat pariwisata yang lain…^_^
    Ekh… sekedar info diwanci tempat aQ tinggal tepatnya di “LIYA” ada acara adat yang diramaikan dengan acara saling tendang yang mana sepatunya tuch ada pisaunya… uch,,NGeri bangat…
    Hm,,, Mat berkunjung Ke wakatoBi gi yac,,,,
    Tahnk’s..^_^

  4. Mas, nanya ya…saya dan suami ada rencana berlibur di wakatobi. kami memiliki dua anak yang masih kecil2. kira2…cocok nggak ya Wakatobi untuk anak2. karena kata teman, tempat itu hanya cocok untuk yg udah gede, atau yg hanimuun…bener nggak ? thx…

  5. makasih udah berkunjung ke daerah saya yang kecil
    namun mau banga atau tidak
    t[i
    orang-orang nya
    ramah
    aq harapkan kunjungan mas kembali moga itu jadi kenagan massssssssss
    dari putri daerah yang bangga akan indonesia

  6. menarik sekali membaca kenangan anda…. btw, mungkin suatu saat nanti anda akan menulis juga kenangan saat mengunjungi Pulau Belitung. Salam Kenal!

    • terima kasih, pasti nanti saya akan menulis soal Belitung. Tengah November nanti saya berkunjung ke sana, Festival Lisan ke VII. Salam kenal juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: