Kenangan Indah dari Wakatobi (2)

bajauNama Wakatobi itu sendiri masih saja menjadi pertanyaan setiap orang yang pernah mendengarnya. Meski sudah dijelaskan sebagai akronim nama empat pulau, selalu saja masih belum memuaskan. Mengapa Wakatobi? Kok mirip bahasa Jepang? Mungkin ada kemiripan, dengan bahasa Jepang, yang kira-kira dekat dengan makna “orang suka laut”. Dan ternyata, kebingungan nama daerah itu juga terjadi dengan Bupatinya, yang hanya punya nama satu kata saja, Hugua. Dalam terminologi Barat, selalu terdiri dari dua kata. Jadi, Hugua siapa? “Waktu di Australia, saya bilang saja nama saya Bob Hugua, biar mirip dengan perdana menterinya, Bob Hawk,” ujar Hugua. Toh. Ketika masih menjadi persoalan di Negara lain, Hugua lantas menyebutkan nama “lengkapnya”, yaitu Hugua Hugua. Nah, masih kurang?

Satu hal yang harus disadari, bahwa Wakatobi adalah wilayah kabupaten yang sebagian besar justru berupa wilayah lautan. Terdiri dari 4 pulau besar (Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko) serta puluhan pulau kecil yang tersebar dari utara ke selatan, dengan atau tanpa penduduk. Pusat pemerintahan terletak di pulau terbesar (54,43 persen), yaitu Wangi-wangi, yang terbagi dalam dua kecamatan. Wakatobi terdiri atas 48 pulau dengan jumlah penduduk 100.563 jiwa dengan luas wilayah daratan hanya mencapai 823 km persegi (1,5 persen), sementara luas wilayah perairan 55.113 km persegi (98,5 persen). Dimana 55.953 hektar diantaranya sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional berdasarkan SK Menbudbar No 393/tahun 1996, 118 ribu hektar merupakan terumbu karang. Sebagian besar mata pencaharian penduduknya menjadi nelayan, pedagang antar pulau atau penambang pasir dan batu karang. Sebagian kecil bekerja di darat sebagai pengemudi, pedagang pasar atau bekerja di proyek bangunan. Itu sebabnya, secara berseloroh, bupati Hugua mengatakan, “saya ini dapat dikatakan sebagai bupati terumbu karang dan ikan-ikan karena lebih banyak terumbu karang dan ikan ketimbang populasi manusianya.”

Mengapa disebut kepulauan Tukang Besi? Anggapan umum mengatakan, karena masyarakat di kepulauan ini memang dikenal mengembangkan kebolehan sebagai “tukang besi” atau pande besi, yaitu produsen parang dan alat-alat logam lainnya. Dan hal itu memang masih banyak dilakukan penduduk pulau Binongko. Dalam acara pembukaan festival tradisi lisan ini, malah promosi Binongko (dan Wakatobi umumnya) dilakukan dengan memamerkan parang buatan Binongko sepanjang 6,35 meter. Menurut Camat Binongko, M. Djakfar, SE, parang itu dibuat oleh 20 pekerja dalam waktu 10 hari.

Namun ternyata, anggapan itu keliru. Menurut La Ode Bosa, sejarawan Buton, Tukang Besi diabadikan menjadi nama kepulauan berawal dari peristiwa kehadiran beberapa ratus tokoh rakyat Maluku dibawah kepemimpinan Raja Hitu (di pulau Ambon) yang bernama Tuluka Bessi. Bersama dengan pengikutnya, Raja tiba di pantai Patuno (Patahuano) di pulau Wangi-wangi sebagai tawanan VOC. Mereka disingkirkan keluar dari Maluku karena pemberontakan yang dilakukan melawan VOC dengan cara memusnahkan pohon rempah-rempah (pala dan cengkeh) milik raja dan rakyat Maluku. Gerakan politik bumi hangus ini dikenal sebagai Hongi-Tochten. Setiba di pulau Wangi-wangi para tawanan itu berontak lagi bahkan membunuh habis semua serdadu VOC yang menjaga mereka. Maka para tawanan itu dipencarkan ke beberapa pulau yang saling terpisah di kawasan itu.

Dari tindakan pemencaran para tawanan itulah maka penduduk dan aparat dari Kesultanan Buton menyebut gugus kepulauan itu menjadi Kepulauan Tukabesi (lavas ucapan orang Buton menjadi Tuluka Besi). Oleh Belanda (VOC) sebutan Tukabesi tersebut lalu diabadikan menjadi Tukang Besi. Penyebutan ini terjadi sejak pertengahan abad 17. (Baca: Profil Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kepulauan Wangi-wangi. Asosiasi CV Sulawesi Raya Konsultama, 2007).

Terumbu Karang Terkaya

Kepulauan Wakatobi mempunyai 25 gugusan terumbu karang yang masih asli dengan spesies beraneka ragam bentuk. Terumbu karang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan makhluk hidup laut lainnya seperti moluska, cacing laut, tumbuhan laut. Wakatobi memiliki sekitar 750 jenis terumbu karang dari total 850 jenis yang ada di dunia. Dibandingkan dengan Karibia yang hanya memiliki 50 jenis, Laut Merah (Mesir) hanya 300 jenis. Secara geografis, posisi Wakatobi berada di pusat segitiga karang dunia, yang memiliki keaneka ragaman hayati laut tertinggi di dunia. Wakatobi adalah wilayah karang terbesar kedua setelah Australia. Sementara ikan hiu, lumba-lumba, dan paus juga menjadi penghuni kawasan ini. Kesemuanya menciptakan taman laut yang indah dan masih alami. Taman laut yang dinilai terbaik di dunia ini sering dijadikan ajang diving dan snorkling bagi para penyelam. Memerlukan waktu 3 bulan untuk menjelajah seluruh kekayaan laut Wakatobi. Terdapat 20 site penyelaman, masing-masing membutuhkan waktu 1-2 hari untuk menikmatinya.

Secara geologis, kepulauan Wakatobi kemungkinan merupakan pulau karang timbul, yaitu pulau yang terbentuk oleh terumbu karang yang terangkat ke atas permukaan laut, karena adanya gerakan ke atas (uplift), dan gerakan ke bawah (subsidence) dari dasar laut akibat proses geologi. Pada saat dasar laut berada di dekat permukaan, terumbu karang mempunyai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang di dasar laut yang naik tersebut. Setelah di atas permukaan laut, karang akan mati dan menyisakan terumbu. Jika proses ini terjadi terus menerus maka akan terbentuk pulau karang timbul. Itu sebabnya Bupati Hugua tidak khawatir dengan gejala pemanasan global (global warming) yang dapat menyebabkan hilangnya pulau-pulau kecil. “Kami tak menemukan adanya tanda kenaikan air laut yang berpengaruh pada tenggelamnya pulau-pulau di kawasan konservasi Wakatobi saat ini,” urai Wahju Rudianto, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi. Justru yang ada saat ini, menurutnya, merupakan kecenderungan naiknya permukaan gosong-gosong (pulau karang) di sana. Seperti gosong Kabota, yang malah tumbuh terus permukaan tanahnya.


Penetapan Wakatobi sebagai Taman Nasional tahun 1996 menarik minat para peneliti untuk meneliti terumbu karang. Salah satunya adalah Yayasan Pengembangan Wallacea lewat Operasi Wallacea. Bersamaan dengan penetapan kawasan taman nasional, investor swasta asal Swiss, Lorentz Mader, juga membangun bungalo bertaraf internasional sebagai sarana untuk menikmati keindahan taman laut tersebut. Bungalo yang disebut Wakatobi Dive Resort (WDR) ini berada pada pulau kecil yang disebut Onemobaa di depan Pulau Tomia. Keberadaan kawasan wisata tersebut sedikit banyak memberi dampak positif bagi penduduk. Selain menciptakan lapangan kerja, masyarakat juga dilibatkan pada pengembangan pariwisata, di antaranya sebagai pemasok kerajinan rakyat tenun Tomia dan pande besi, serta terlibat dalam pertunjukan kesenian budaya. Selain snorkling dan diving, aktivitas pariwisata lain yang bisa dinikmati adalah pemandangan pantai, menyusuri gua, fotografi, berjemur, dan camping. Alhasil, Taman Nasional Laut Wakatobi yang sebelumnya hanya menyedot 3.000-an wisatawan setiap tahun, saat ini mampu menarik sekitar 20.000 wisatawan.

Hugua sadar betul bahwa pariwisata sedikit banyak akan memberikan dampak negatip bagi kebudayaan. Karena itu diperlukan sikap arif untuk menjadikan pariwisata sebagai komoditas daerah ini. Bahwa turisme itu identik dengan kebudayaan. Karena itu kebudayaan harus dijaga. Wakatobi memiliki kekayaan budaya berupa tarian, budaya tutur dan sebagainya, yang semuanya itu inheren pada setiap orang. Bahwa yang kelihatan indah itu lebih sedikit dari yang dimiliki. Maka Wakatobi menawarkan sorga di laut dan juga di darat. “Setiap hari saya masuk masjid di kampung-kampung, mengajak warga agar menjaga kebudayaan,” tutur Hugua.

Mungkin, yang kelihatannya biasa-biasa di Wakatobi malah menjadi luar biasa bagi orang luar. Ada yang takjub melihat ikan terbang, ikan paus, juga lumba-lumba ketika berada di laut. Padahal bagi warga setempat itu biasa saja. Di Wakatobi dapat ditemui lumba-lumba yang dapat menyanyi sampai menangis. Orang-orang yang suka snorkeling sering disapa ikan Marlin. “Saya sendiri pernah berenang hanya 3 meter dari ikan Paus,” kata Hugua. ”Saya ucapkan salam “Hallo My Darling”, saya dekati dia, kemudian dia menyelam lagi,” tambahnya.

Selain pariwisata, sektor lain yang sudah lama menjadi urat nadi kegiatan ekonomi Wakatobi adalah perikanan. Di perairan wilayah ini hidup berbagai jenis ikan karang seperti botana, bendera, beberapa ikan hias, dan napoleon. Selain itu terdapat beberapa ikan ekonomis seperti cakalang, kerapu, sunu, cucut, tuna, dan kakap. Hasil perikanan laut tersebut ditampung oleh perusahaan kapal ikan lokal maupun asing. Selanjutnya ikan-ikan tersebut diekspor dalam keadaan hidup atau beku ke Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Ikan napoleon, kerapu, dan lobster dijual sebagai hidangan eksklusif berharga mahal. Sayang, proses ekspor tidak bisa langsung dari Wakatobi karena tidak tersedia pelabuhan laut yang memadai. Biasanya komoditas ini diekspor melalui Makassar (Kompas, 4 Agustus 2004).

Wangi-Wangi pulau pertama yang dijumpai saat memasuki Kabupaten Wakatobi, menjadi pintu gerbang dan paling dekat dengan Pulau Buton. Penduduk setempat dulu menyebut Wangiwangi dengan nama pulau Koba, yaitu nama jenis kayu untuk bahan perahu. Dinamakan Wangi-wangi karena dulu sering digunakan pedagang rempah-rempah menjemur dagangannya yang basah, sehingga aroma wangi menyebar ke mana-mana. Di pulau ini terdapat pelabuhan yang melayani kapal barang dan penumpang di Desa Wanci. Penduduk Wangi-Wangi sebagian besar pedagang dan pelaut. Adapun mata pencaharian penduduk Kaledupa adalah hampir 35 persen petani tanaman pangan dan perkebunan. Sedangkan Pulau Tomia sementara itu menjadi pintu gerbang transportasi udara. Tak lama lagi Wangi-wangi juga menjadi pintu gerbang transportasi udara, setelah bandara Matahora diresmikan. Sementara Pulau Binongko sebagian penduduknya merantau sampai Singapura dan Malaysia. Penduduk yang tinggal hanya kaum perempuan.

Lantaran mengandalkan laut sebagai kekuatan itulah kabupaten Wakatobi mencanangkan visi pembangunan “Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia.” Untuk mewujudkan visi tersebut, terdapat 3 filosofi proses, yaitu bagaimana surga bawah laut mampu menciptakan surga di pulau (basis daratan), bagaimana surga di pulau mampu menciptakan surga di masyarakat (ekonomi) dan bagaimana surga masyarakat mampu mewujudkan masyarakat masuk surga (religius). “Dengan menyelam Anda akan menemukan surga bawah laut, dan menyelam membuat kita panjang umur, karena jasmani dan rohani kita terasah secara simultan,” kata Hugua, Bupati yang pernah mendapat penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 Agustus 2008.

Kearifan Tradisional Harus Dijaga

Meski Wakatobi membutuhkan investor untuk mengembangkan daerahnya, Bupati Hugua tetap menganut prinsip, bahwa setiap investor harus memperkuat masyarakat lokal. Kearifan tradisional harus tetap dijaga dan dilestarikan serta diberdayakan untuk mengelola lingkungan secara berkesinambungan. Sebagaimana kepercayaan warga agar tidak mengganggu daun, karena jumlah daun di hutan sama dengan jumlah ikan di laut. Memang selama ini banyak persoalan kerusakan lingkungan, terutama perusakan terumbu karang. Mungkin terumbu karang itu mati karena dibom nelayan. Tapi, kata Hugua, itu masa lalu. “Sekarang yang coba-coba mengebom terumbu karang saya sediakan penjara,” ujarnya tegas. Sudah disiapkan penjaga pantai yang siap mengepung seluruh wilayah Wakatobi, menjaga kelestarian lingkungan, melibatkan semua kepala desa dan PNS.

Soal komitmennya menjaga kelestarian lingkungan ini tak perlu disangsikan lagi. Sebelum menjadi Bupati, Hugua dikenal sebagai pendekar lingkungan hidup yang disegani. Dialah yang mengajak masyarakat agar tidak merusak batu karang untuk bahan bangunan. Di tengah maraknya warga mengandalkan batu karang sebagai bahan bangunan rumah, ia tak patah arang. Kepiawaiannya mendekati warga di wilayah-wilayah pesisir dari rumah ke rumah, dengan menawarkan solusi membangun rumah menggunakan bahan kayu, akhirnya beroleh hasil. Tawaran solusinya itu kemudian bisa dipahami warga. Secara berangsur-angsur, masyarakat yang sebelumnya menggunakan batu karang sebagai bahan untuk menimbun laut untuk membangun rumah tempat tinggal, akhirnya beralih ke bahan kayu. Sementara itu, untuk mencegah hantaman ombak, Hugua menganjurkan masyarakat agar di sekitar rumah mereka ditanami pohon bakau, yang bibitnya diberikan Yayasan Bina Insani miliknya, secara cuma-cuma. Melalui yayasan yang sama, masyarakat juga didorong beralih menggunakan batu gunung sebagai bahan untuk menimbun laut dan membangun rumah. Dia juga menyadarkan warga desa agar tidak menebang pohon di kawasan hutan secara serampangan.

Menjaga keutuhan masyarakat, agaknya itulah yang menjadi tugas penting Bupati berjiwa muda ini. Dengan penduduk sejumlah 100.563 jiwa, “Tepatnya 100.562, kemarin meninggal satu,” sela Hugua, ternyata terdapat 11 partai politik yang mendapat kursi di DPRD Kabupaten Wakatobi. Dari 20 kursi, tercatat Partai Golkar paling banyak, yaitu 4 kursi,. Sementara 6 (enam) partai masing-masing mendapat dua kursi, yaitu PPP, PDI Perjuangan, PBR, PBB, dan PNBK. Sedangkan 4 (empat) partai lainnya hanya mendapat satu kursi, yaitu Parta Demokrat, Patriot Pancasila, PKB dan Partai Merdeka. Dapat dibayangkan, mungkin untuk menjadi anggota DPRD setempat, hanya butuh dukungan anggota keluarga dan kerabatnya saja.

Menurut peta bahasa, kabupaten Buton memiliki empat rumpun bahasa, yaitu bahasa Pancana (meliputi daerah-daerah dengan dialek tersendiri, yaitu: Lasalimu, Kamaru, Kapontori, dan Kaesabu), bahasa Cia-cia (meliputi Wabula, Sampolawa, Laporo, Takimpo, Kondowa, Halimombo, Watuata, dan Wali). Juga ada rumpun bahasa Wolio, yang meliputi wilayah pemakaian di Keraton, Pesisir, Bungi, Tolandona, dan Talaga. Dan ternyata dari aspek peta bahasa, ternyata pulau-pulau di Wakatobi disatukan dalam satu rumpun dialek bahasa yang sama, yaitu Suai. Kesamaan bahasa ini seolah semakin menguatkan legitimasi Wakatobi menjadi kabupaten tersendiri, lepas dari Kabupaten Buton.

Sebagai daerah yang mengandalkan wisata, sayang sekali belum dilengkapi dengan sarana yang memadai. Harap maklum, masih baru. Belum tersedia cendera mata yang dapat dibawa wisatawan sebagai oleh-oleh. Kapal reguler belum siap setiap hari. Kendala ini mungkin agak teratasi ketika bandara Matahora sudah siap nanti. Disamping itu, kalau hanya mengandalkan wisata bawah laut, nampaknya lebih berkepentingan dengan wisatawan mancanegara. Sebab, keindahan pantai dan aneka potensi budaya darat, harus bersaing ketat dengan wilayah sekitarnya. Di Buton misalnya, terdapat benteng terluas di dunia.

Dan yang masih jadi ganjalan bagi Hugua adalah bagaimana membuka Wakatobi bagi wisatawan umum. Mencapai kawasan surga laut ini tidak semudah pergi ke Pulau Bali, misalnya. Untuk berlibur ke Wakatobi, diperlukan perjuangan berat, khususnya bagi turis biasa. Mereka harus transit di Makassar, lalu terbang 45 menit lagi ke Kendari. Dari ibu kota Sulawesi Tenggara itu, perjalanan dilanjutkan dengan kapal motor ke pelabuhan Wanci di pulau Wangi-wangi selama 5-9 jam. Bayangkan ketika laut sedang bergelombang besar. Pada saat-saat seperti itu, dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk berlayar ke Wakatobi. (henri nurcahyo)

2 Tanggapan

  1. Yang Terhormat Pak Henry Nurcahyo,

    Saya ingin merelat tulisan Bapak bahwa Raja Kerajaan Tanah Hitu Sebenarnya Bergelar Upu Latu Sitania bukan Talukabessi yang Bapak Maksud. Talukabessi atau Tukang Besi atau Tubanbessi Adalah Kapitan atau Panglima Hitu yg merupakan pengawal Raja Kerajaan Hitu,

    Wassalam
    Salam Hormat

    • Terima kasih ralatnya, info itu saya dapat dari buku yang ditulis sendiri oleh cendekiawan asli Wakatobi. Nanti saya cek lagi bukunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: