Seni Rupa Indonesia Berkembang Tanpa Kendali

Catatan Akhir Tahun 2008

Seni rupa Indonesia berkembang pesat. Seniman perupa tidak lagi identik kemiskinan dan hidup melarat. Banyak pelukis muda kaya raya. Banyak pengusaha beralih jadi art dealer. Kolektor-kolektor baru bermunculan. Galeri seni tumbuh bak jamur di musim hujan. Tiada hari tanpa pameran lukisan. Kurator banyak kerjaan, media massa seni rupa muncul dan berkembang pesat.

Dalam Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2008 tengah Desember lalu, kolektor terkemuka Oei Hong Djien, mengemukakan, bahwa ledakan pasar seni rupa kontemporer yang sangat menakjubkan sekarang ini baru berlangsung kurang dari 2 tahun, dimulai dengan terjualnya karya lukis Putu Sutawijaya (37 tahun) di balai lelang Sotheby’s Singapore April 2007 seharga SGD 114.000, suatu rekor untuk lukisan kontemporer Indonesia. Sebelumnya Indonesia telah mengalami ledakan-ledakan pasar lain, namun hanya terbatas dalam negeri walaupun salah satu faktor yang berperan adalah mulainya balai lelang internasional Christie’s melelang lukisan Indonesia di Singapura tahun 1994.

Boom keempat ini, kata Hong Djien, ikut diramaikan bahkan dipicu oleh pembeli dari luar negeri. Faktor penyebab utama adalah melejitnya harga karya seni rupa kontemporer Cina yang begitu fantastis sehingga menarik harga karya serupa di Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Akibatnya, meminjam istilah Soewarso Wisetrotomo, wacana pasar jauh lebih mengemuka ketimbang pasar wacana. Para perupa lebih banyak berorientasi pada pasar daripada memikirkan bagaimana menciptakan karya yang berkualitas. Parameter kesuksesan adalah manakala banyak karyanya yang diborong dalam sebuah pameran. Bahkan banyak perupa yang karyanya sudah diborong dulu oleh art dealer dan ketika dipamerkan sudah bukan lagi menjadi miliknya. Lukisan sudah terjual sebelum pameran dibuka. Malah ada yang harus dilakukan undian dulu karena jumlah pembeli lebih banyak ketimbang lukisan yang dipamerkan.

Hong Djien memberi kesaksian, tidak ada lagi dikotomi pasar dan wacana. Pasar tidak lagi dianggap inferior dan wacana superior. Sekarang ini pasar dan wacana saling berangkulan. Pasar menjadi dominan, dan wacana menjadi tunduk pada pasar. Ini tak lepas dari peran Balai Lelang yang menentukan trend. Yang laku mahal dianggap selalu berkualitas tinggi.

Masalahnya, menurut Asmujo Jono Irianto, kurator dari Bandung pada kesempatan KKI 2008 di Bogor itu, jika pasar (galeri komersial, lelang dan art fair) menjadi terlalu dominan dan tak mendapatkan persaingan dari institusi seni yang lebih formal, seperti museum misalnya, dikawatirkan akan mereduksi karya seni rupa semata-mata sebagai komoditas estetik. Pasar seni rupa bukanlah hal yang harus ditentang, namun seharusnya pasar mendapatkan komplemennya, sehingga ke depan pasar seni rupa kontemporer di Indonesia tampil lebih canggih dan menarik. Lagi pula selain ruang-ruang komersial dibutuhkan ruang yang dapat menampilkan karya-karya seni rupa kontemporer yang lebih menantang dan eksperimental.

Wacana pasar ini pula yang kemudian menjadikan perupa lebih suka mempekerjakan para “tukang” untuk menggarap karyanya, dan si seniman tinggal menyelesaikan finishing-nya belaka. Padahal, ketika tahun 80-an seorang Made Wianta melakukan hal ini, banyak orang yang mengecamnya.

Yang perlu dicermati, perkembangan pesat seni rupa Indonesia ini, tidak diimbangi dengan kehadiran kritik seni rupa yang memadai. Banyak perupa yang menekuni seni rupa bukan lagi sebagai profesi yang agung, melainkan telah menjadi pekerjaan pertukangan. Dalam posisi seperti ini, maka kritik ibarat serangan dahsyat yang bakal memadamkan asap dapur perupa. Lagi pula, siapa yang punya keberanian jadi kritikus? Perkembangan seni rupa Indonesia saat ini bagaikan tanpa kendali.

Dan karena seni rupa Indonesia modern dan kontemporer lebih banyak diperkenalkan lewat pasar seperti balai lelang dan art fair, maka menurut Hong Djen, karya-karya yang mencapai harga tinggi adalah karya yang digemari pasar dan ada kemiripan dengan karya dari luar negeri, yang pada umumnya justru sedikit kandungan budaya etnisnya. Karya kontemporer yang sarat kandungan budaya lokal dan bermutu tinggi malah kurang bergema di pasar. Sebabnya para pembeli umumnya hanya bermotif investasi dan karya seni hanya dipandang sebagai komoditas belaka. Yang mudah diperjual belikan dan menguntungkan saja yang mendapat respons baik pasar.

“Memang bagaimana mungkin kita mengendalikan perkembangan seni rupa,” jawab Asmudjo. Diakuinya, bahwa euforia seni rupa Indonesia ini telah meminggirkan peran kritikus. Banyak pengamat yang lebih suka menjadi public relation perupa atau masuk dalam peran menjadi kurator. “Kalau mau, kritikus sebaiknya menjadi kurator saja,” saran Asmujo. Padahal, persoalannya bukan tidak adanya ladang bagi kritikus, tetapi apa jadinya seni rupa Indonesia tanpa peran kritikus.

Jadi, apakah perkembangan seni rupa Indonesia sekarang ini sebaiknya dibiarkan begitu saja? Kalau pernah ada seorang HB Jassin dalam sastra Indonesia, apakah seni rupa Indonesia tak perlu ada kritikus? Apakah akan kita biarkan saja seni rupa negeri ini menjadi barang dagangan belaka.

Coba simak paparan Soewarno dalam kesempatan yang sama. Bahwa karya seni rupa merupakan produk kebudayaan yang berpotensi penting. Potensi penting yang dimaksud antara lain, pertama, Potensi Simbolis; bahwa karya seni rupa dari para perupa sebuah bangsa sesungguhnya merupakan identitas kultural, yang dapat menunjukkan derajat keberadaban, narasi sejarah bangsa, dan sipirit heroisme.

Kedua, Potensi Kultural, bahwa dengan ‘mengurusi’ karya seni rupa dengan baik dan benar, menunjukkan keberadaban sebuah bangsa. Bahwa karya seni rupa bukan sekadar benda-benda asesoris yang hanya bernilai ekonomi, tetapi merupakan produk budaya yang kaya makna. Memberikan apresiasi kepada perupa (seniman) dan karyanya, juga kepada peristiwa seni rupa merupakan keharusan.

Ketiga, Potensi Ekonomi, dengan sangat gamblang dan variatif, aspek ekonomi inilah yang hari ini ditunjukkan secara masif oleh “pasar”. Persoalan dalam aspek ini adalah, masih terjadinya kekacauan praktik pasar, akibat belum adanya sistem dan parameter “nilai” yang bisa dijadikan acuan untuk menentukan “harga”. Karena itu yang kemudian terjadi adalah, dunia praktik seni rupa di Indonesia seperti dunia pertanian; senimannya seperti petani yang sangat tergantung pada “musim”. Seni rupa sebagai produk kreatif harus dikelola dengan benar, sehingga kualitas pencerahannya tetap terjaga.

Nampaknya, potensi ketiga itulah yang sekarang ini berkembang dengan subur di negeri ini. Sementara kedua potensi lainnya seakan-akan dianggap tidak penting, belum perlu, atau bahkan tidak usah dipikirkan. Apakah memang demikian nasib senni rupa di negeri ini?

(henri nurcahyo, praktisi budaya)

Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 28 Desember 2008

4 Tanggapan

  1. tulisan bagus. terfokus ke dua pembicara saja. pdhl kalau dirangkum bisa lebih komplit.tk u.

  2. Masyarakat perlu diberi pencerahan, pak. Terutama soal bagaimana mengapresiasi hasil karya seni rupa. Mereka perlu diberi wawasan mengenai karya seni yang adiluhung (sarat nilai) itu yang bagaimana. Sehingga mereka tak didekte pasar dan ‘trapped by’ karya-karya seniman yang sekadar berburu rupiah. Dari pengalaman melukis yang seumur jagung, dan coba memajang lukisan di dunia maya, saya dapat pelajaran bahwa melukis itu sesungguhnya tak mudah, butuh peluh dan darah, serta tak bisa berharap apa-apa dari lukisan. Sebaiknya, melukis itu memang menuangkan idealisme, tanpa pamrih. Kalau ada yang panen, barangkali itu blessing, anugerah (kecuali mereka yang suka nge- ‘trap’ pasar, kolektor, atau masyarakat). By the way, tulisan bapak sangat bagus. Salut! Nuwun.

  3. duhh jadi terharuu ngeliatnya,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: