Ranting Kesenian dalam Pohon Kehidupan

Apakah perlunya kesenian di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan hingga sekarang ini? Apakah dengan kesenian lantas membuat perut menjadi kenyang dan menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Bisakah orang berkesenian ketika perut terasa lapar dan melilit-lilit minta makan?
Apakah perlunya bicara kesenian ketika semburan lumpur belum lagi mereda , semburan gas liar muncul di desa-desa di Porong, sementara ribuan korban lumpur masih juga belum beres urusannya hingga masuk tahun ketiga ini. Apakah kesenian itu penting, ketika di sepanjang jalan dipenuhi ribuan poster, banner, baliho dan spanduk wajah-wajah calon anggota legislatif. Apakah kesenian memang betul-betul suatu hal yang diperlukan ketika semua orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, sibuk mengisi perutnya sendiri, menyikut temannya sendiri, menipu tanpa tahu malu, bahkan juga membohongi dirinya sendiri.

Dimanakah letak kesenian ditengah janji-janji kampanye yang membuncah-buncah itu? Bisakah kita menemukan kesenian di belantara partai politik yang sungguh membuat sumpeg belakangan ini? Tidak adakah sepetak lahan buat kesenian di tengah hamparan persoalan politik, ekonomi, sosial dan kenegaraan?

Jangan-jangan kesenian juga tidak relevan dibicarakan dalam kaitannya dengan teknologi yang serba canggih, komputer yang semakin modern, dunia ilmu pengetahuan yang terus melangit Mungkin kesenian dianggap tidak berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, matematika, biologi, PPKN, dan semua pelajaran di sekolah. Kesenian hanya menjadi salah satu bagian yang tidak akan ada yang merasa rugi ketika kesenian dihapus dari daftar pelajaran sekolah, karena kesenian tidak perlu masuk daftar Ujian Nasional.

Begitulah yang kemudian terjadi dalam keseharian. Kesenian dianggap sebuah pulau terpencil yang hanya dihuni oleh orang-orang yang bernama seniman. Ketika kemudian kesenian dilibatkan dalam khalayak, maka kesenian bagaikan sebuah tontonan sirkus yang aneh, unik dan menarik tanpa ada keterlibatan sama sekali dengan penontonnya. Lebih tragis lagi, kesenian menjadi asing, mahluk aneh dari dunia antar berantah yang tak jelas spesiesnya. Kesenian hanya dipahami sebatas hiburan, lawak dan dagelan. Kesenian adalah dunia hura-hura yang hanya perlu ditanggap ketika ada pesta. Kesenian perlu didatangkan ketika ada kunjungan pejabat, ketika ada perayaan hari besar, ketika ada peresmian gedung, ketika ada pertandingan olahraga, ketika para bangsawan membutuhkan hiburan sambil makan-makan.

Marilah sekarang kita sejenak mengenang kembali masa kecil kita ketika masih bersekolah di Taman Kanak Kanak. Meski hanya sekitar dua jam berada di lingkungan sekolah, anak-anak TK disibukkan waktunya dengan bermain dan bernyanyi. Mereka diajak latihan berbaris, kejar-kejaran, melompat dan berjalan, main ular-ularan, mewarnai, menempel gambar hingga menyanyi dan menari. Di Taman Kanak-kanak, semua pelajaran diberikan dalam bungkus kesenian. Melalui kesenian, anak-anak diajari ilmu logika, psikologi, sosiologi, ilmu hitung, pelajaran tentang solidaritas dan toleransi, dan juga pelajaran tentang agama serta nilai-nilai kehidupan. Semuanya dilakukan dengan cara-cara yang sangat menyenangkan. Masa-masa sekolah di TK ibarat menyelami pendidikan kesenian yang sesungguhnya. Bayangkan, betapa atraktifnya ibu-ibu guru menerangkan soal etika. Betapa mengharukan ketika bercerita soal respon sosial? Ibu-ibu guru TK itu sedemikian mengagumkan ketika mendongeng, bagaikan pemain teater yang professional.

Tetapi, apa yang terjadi ketika anak menginjak bangku Sekolah Dasar? Demikian pula ketika sekolah meningkat jadi SMP, kesenian cukup diposisikan bersama kerajinan tangan. Meningkat ke SMA, kesenian lantas menjadi cabang dari sebuah pohon mata pelajaran. Lama-lama kesenian menjadi cabang kecil, menjadi ranting, yang sama sekali tak ada pengaruhnya pada kehidupan pohon ketika ranting itu kering, patah atau sengaja ditebas. Kesenian menjadi sesuatu yang berdiri sendiri. Ketika masuk perguruan tinggi, kesenian pun lantas diasingkan dalam akademi atau universitas tersendiri. Kegiatan belajar di sekolah lantas mengabaikan pendidikan kesenian dalam berbagai jenisnya. Kesenian dipisahkan dari pendidikan di sekolah. Padahal, kesenian mempengaruhi kehalusan rasa peserta didik di tengah proses belajarnya. Kesenian dapat menggugah dan membentuk rasa dan nurani siswa. Proses belajar tanpa berkesenian dalam berbagai jenisnya, di antaranya akan membuat rasa belajar kering. Siswa pun menjadi pribadi yang lemah dalam apresiasi dan ekspresi. Semua manusia pada dasarnya ingin hidup lebih baik. Namun, juga ingin ketenangan, menjauhi kekerasan, dan menginginkan kebersamaan. Seni budaya penting dalam hal ini.

Alinea terakhir itu saya sunting dari pernyataan Romo E Baskoro Poedjinoegroho, Direktur SMA Kolese Kanisius Jakarta. Dia menambahkan, bahwa pendidikan kesenian menjadi kegiatan wajib di SMA Kanisius dan ada angka penilaiannya. ”Yang penting siswa dapat terlibat dalam berkesenian, tidak harus menjadi mahir,” ujarnya. Karena untuk menjadi manusia unggul di era modern seperti sekarang, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan semata-mata kemampuan otaknya. Setidaknya, harus melibatkan tiga kompetensi, yakni penguasaan ilmu pengetahuan alam dan teknologi (iptek), agama, dan seni budaya.

Pudentia, pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia percaya, bahwa sesungguhnya praktisi pendidikan dan para pengambil kebijakan dalam pendidikan tidak sedikit pun meragukan pentingnya pendidikan seni, apa pun jenisnya. Permasalahan yang terjadi justru pada tingkat implementasinya. Kendala utama yang menghadang kesenian sebagai bahan ajar di dunia pendidikan kita adalah kendala teknis. Kesenian selalu ditempatkan di bagian kebudayaan, sedangkan kebudayaan sendiri merupakan bagian dari pendidikan. Dan ketika sekarang kebudayaan menjadi bagian dari pariwisata, dimanakah posisi kesenian? Pendidikan seni di sekolah-sekolah selama ini masih dianggap sebagai pelajaran sekunder. Kesenian sebagai medium ekspresi intelektual dan kultural manusia belum dipertimbangkan sebagai aspek signifikan dalam perkembangan kehidupan siswa.

Padahal, sebetulnya kesenian dapat memberikan kontribusi pada proses pendidikan di sekolah secara siginifikan. Kemampuan menggambar akan memudahkan belajar biologi dan ilmu alam, kemampuan menulis bukan hanya berguna dalam seni sastra, melainkan juga mendiskripsikan semua pengetahuan yang diterangkan guru. Demikian pula seni musik dan tari, sebetulnya dapat mengasah jiwa untuk peka terhadap ritme, sehingga dapat memperhalus perasaan dan memudahkan menerima semua pelajaran. Bahwa belajar melukis tidak harus menjadi pelukis, belajar menari tak harus menjadi penari, belajar musik tak harus menjadi musisi. Karena kesenian dipelajari memang tidak harus menjadikan seseorang sebagai seniman.

Tetapi sebaliknya, menjadi seniman juga berarti tidak perlu belajar sama sekali. Kemampuan berkesenian memang bisa didapat di dunia pendidikan formal maupun nonformal. Namun hanya dengan bersekolah saja tidak menjamin seseorang menjadi pintar. Ada orang yang rajin sekolah dan rajin sinau, itulah yang memang ideal. Tetapi ada juga yang rajin sekolah namun hanya sinau demi bisa menjawab ujian, maka sebetulnya dia sekolah hanya untuk cari status. Ada lagi yang tidak sekolah tapi rajin sinau, itulah yang disebut otodidak. Dan yang paling celaka, sudah tidak mau sekolah namun juga tidak mau sinau. Golongan yang disebut terakhir ini bukan otodidak. Oto-nya memang iya, didak-nya tidak. Demikian pula halnya dengan seniman, ada seniman akademis, ada seniman status, ada seniman otodidak dan ada seniman yang cukup puas dengan kemampuannya berkesenian namun tidak pernah belajar apa-apa.

Keterasingan kesenian di tengah dunia pendidikan itu, tanpa disadari sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang-orang semakin banyak yang menjadi tak paham bahwa sesungguhnya kesenian telah ada dan dilakukan oleh semua orang. Kesenian telah melekat ketika orang memilih desain baju, sepatu, perabot rumahtangga, memilih rumah, mengecat tembok dan segala urusan kebutuhan sehari-hari. Setiap saat dan setiap orang sesungguhnya telah berkesenian, namun masih saja kesenian dianggap asing dan hanya menjadi urusan seniman.

Kesenian sesungguhnya adalah sebuah media ekspresi dari perasaan, kejiwaan atau ungkapan hati seseorang atau bahkan sebuah respon terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Hanya dengan mengenakan baju yang berbeda, maka tanggapan orang akan berbeda pula menghadapinya. Ada sesuatu yang terpancarkan secara alami dan ditangkap dengan naluri ketika berhadapan dengan ekspresi seni dari seseorang. Dengan kata lain, bahasa kesenian adalah bahasa kesan, yang hanya tertangkap lewat perasaan dan bukan lewat rasio. Itulah yang membedakan lukisan dengan rambu-rambu lalulintas. Jadi, jangan bertanya “apa” terhadap karya seni, melainkan “mengapa” dan “bagaimana”. Karena itu, karya seni yang baik manakala mampu memancarkan semacam abjad perasaan yang dapat dibaca oleh penikmatnya. Dan penikmat yang baik manakala memiliki kepekaan tertentu untuk menangkap kesan yang terpancar dari karya seni. Karya seni, adalah sebuah ungkapan multi-interpretable alias tidak tunggal makna, dimana setiap orang bisa menangkap kesan yang berbeda dari orang lain terhadap karya seni yang sama. Bahkan, keperbedaan itu bisa terjadi dengan yang dimaksud oleh senimannya sendiri.

Karena itu, agar terjadi komunikasi kesenian, maka harus tercipta kesamaan pandang antara publik seni dan seniman. Seringkali terjadi, yang penting itu bukan bagaimana karya seninya, melainkan bagaimana cara memandangnya hingga tercipta makna tertentu. Setiap pertanyaan orang terhadap suatu karya seni, seringkali yang penting bukan bagaimana jawabannya, melainkan “mengapa” dia bertanya seperti itu. Komunikasi kesenian, bukan berjalan linier, sebagaimana berbicara di sebuah mike dan ditirukan persis sama ketika muncul di salon. Komunikasi kesenian adalah sebuah upaya untuk memberikan teks terhadap sesuatu yang telah dikeluarkan dari konteksnya.

Kesenian akan dapat tumbuh dan berkembang manakala berada di sebuah habitat yang mendukungnya. Habitat (ini bahasa biologi) adalah sebuah kondisi lingkungan yang memungkinkan suatu mahluk hidup dapat berkembang di dalamnya. Kalau air selokan dibiarkan kotor dan mampet, maka itu adalah habitat yang baik bagi jentik-jentik nyamuk, tikus dan kecoa. Kalau dibuat menjadi bersih dan terawat, dapat menjadi habitat bagi katak, bahkan ikan hias yang biasa di akuarium sekalipun. Kepala yang kotor tak pernah keramas adalah habitat yang baik untuk kutu kepala dan ketombe. Benih tanaman yang paling unggul sekalipun, tidak akan dapat tumbuh dengan baik kalau tidak berada di habitat yang cocok buatnya. Sebaliknya, selama ada hara, benih yang baik akan tumbuh dimana saja.

Demikian pula halnya dengan kesenian. Kita tak dapat memaksakan kesenian dapat tumbuh subur di lingkungan yang tidak membuka hati bagi berkembangnya bahasa perasaan. Masing-masing jenis kesenian pun memiliki habitat yang berbeda dengan jenis kesenian lainnya. Itulah sebabnya mengapa samroh hidup subur di lingkungan pesisir dan santri, ketoprak di lingkungan yang pernah punya hubungan dengan keraton, ludruk dengan budaya egaliter kerakyatan, dan sebagainya. Dengan kata lain, bahwa kesenian sesungguhnya juga merupakan cerminan jatidiri budaya masyarakat pendukungnya.

Jadi, kesenian telah menjadi bagian kehidupan keseharian. Kesenian adalah aliran getah dari sebuah pohon kehidupan yang mengantarkan makanan dan membersihkan kotoran dari dan ke seluruh bagian pohon. Kesenian adalah aliran darah pada tubuh manusia dan binatang. Hanya dalam prakteknya sajalah maka kesenian sepertinya berdiri sendiri karena memang telah diposisikan dalam fungsi tertentu. Kalau ilmu mampu membuka mata manusia untuk mengerti tentang kehidupan, maka kesenian akan memperhalus jiwa manusia, sementara agama menjadikan manusia mensyukuri karunia Allah Swt.

Sidoarjo, 10 Februari 2009

Henri Nurcahyo

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Manteb pak…
    http://engeldvh.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: