Konservasi Budaya Panji Sangat Relevan Dilakukan

Catatan Diskusi Terbatas Budaya Panji
(maaf ini arsip lama, lupa gak disimpan di blog ini, meski sudah pernah saya sebarkan di facebook)
Jika selama ini sering timbul kekhawatiran dampak negatif masuknya budaya asing, maka sesungguhnya negeri ini pernah mengekspor budaya. Hal ini terbukti dengan penyebaran cerita Panji yang asli dari Jawa Timur, ternyata beredar luas di berbagai negara Asia Tenggara. Karena itu diperlukan langkah Konservasi Budaya Panji agar tidak terjadi klaim oleh negara lain. Konservasi Budaya Panji juga mendesak dilakukan karena cerita Panji bukan sekadar karya sastra atau kesenian belaka, namun memiliki relevansi dengan birokrasi pemerintahan, militer, politik, sosial, ekonomi, lingkungan hidup, religi dan budaya.

Rekomendasi itu disampaikan dalam diskusi terbatas Budaya Panji yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jawa Timur di CCCL Surabaya (2/4). Diskusi yang dihadiri 14 seniman, budayawan dan akademisi dari berbagai kota itu juga direkomendasikan agar secepatnya Jawa Timur mengibarkan bendera untuk mengangkat citra budaya Panji sebagai ikon propinsi ini. Senyampang Jatim masih bingung menentukan ikon budayanya. Bahkan, kalau perlu menjadi salah satu kebanggaan budaya Indonesia.

Ada tiga point besar yang perlu dilakukan dalam konservasi itu. Pertama, dalam tataran konsep diperlukan sebagai pegangan dengan menyusun buku induk mengenai Budaya Panji dari kajian filsafat dan humaniora dari sejumlah penulis multidisipliner. (Dalam diskusi itu sudah dibentuk Tim Penyusunnya.) Kedua, menyelenggarakan Festival dan Seminar Internasional Budaya Panji, yang disarankan diselenggarakan di Kediri sebagai pusatnya, dengan sejumlah kota lain sebagai pendukung acara. Disarankan, acara ini dapat menjadi agenda tahunan. Ketiga, membuat etalase Budaya Panji yang melestarikan karya-karya seni rupa, menerbitkan cerita-cerita Panji dan seni sastra, dokumentasi seni pertunjukan berbasis cerita Panji. Dalam hal ini, DK Jatim diharap dapat menanganinya.

Diskusi tersebut diselenggarakan agar berbagai pihak yang berkompeten dengan budaya Panji memiliki titik berangkat yang sama untuk menjalankan konservasi budaya dari potensi yang lahir di Jawa Timur itu. Sayang sekali, peserta dari Bali (Wayan Dibya) dan dari Bandung (Endo Suanda) berhalangan hadir sehingga forum tidak mendapatkan bahan banding cerita Panji dari perspektif Bali dan Sunda. Karena meskipun lahir di Kediri pada jaman Majapahit, cerita Panji sudah menyebar jauh ke berbagai daerah (terutama berkembang bagus di Bali), menyebar juga ke kawasan Sunda, Lombok, Palembang, Melayu, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Laos.

Tjuk Sukiadi, yang menyebut dirinya sebagai generasi yang dibesarkan dari budaya Panji, mengungkapkan, bahwa kuil terkenal Angkorwat itu inspirasinya dari Borobudur dan Prambanan. Mengutip sahabatnya orang Thailand keturunan Champa, DR. Narongchai, Tjuk mengatakan bahwa Champa itu berasal dari Jawa. Konon pernah ada raja dari Jawa yang berkuasa di Thailand. Karena itu, ekonom yang juga aktivis gerakan sosial budaya ini sangat menyayangkan hilangnya budaya Panji di Jawa Timur sendiri. Sementara di Bali cerita Panji tumbuh subur dalam berbagai kesenian, dan di Jawa Barat seni pertunjukan topeng juga masih Berjaya. Jadi, “mengapa kita sebagai orang Jatim tidak berbuat apa-apa terhadap Panji”, tegasnya. Konon, Malaysia sudah lama berburu cerita-cerita Panji dan sastra Jawa, karena secara budaya keduanya juga menjadi potensi Malaysia.

Asal tahu saja, tambah Tjuk, bahwa semburan lumpur panas Lapindo itu juga terjadi di desa Banjar Panji. Apakah ini ada hubungan historis dengan Panji? Mengingat Raden Panji juga berasal dari Kerajaan Jenggala, yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo. Lantas, mengapa bangsawan Madura menggunakan gelar Raden Panji? Seperti mantan Gubernur Jatim M. Noer itu lengkapnya adalah Raden Panji Muhammad Noer.

Dewan Kesenian Jatim, lantas didesak membuat seruan (appeal) kepada semua kepala daerah di Jawa Timur, khususnya yang memiliki basis historis dengan budaya Panji, agar mengedepankan tema Budaya Panji dalam setiap peringatan Hari Jadi kota/kabupaten masing-masing. Bukan hanya Kediri yang pernah berjaya dalam kerajaan Kadiri, namun juga Sidoarjo (Jenggala), Malang, Jombang, dan sejumlah kota lainnya. Bahkan, Narsen Afatara, dosen UNS Surakarta yang telah melakukan proyek khusus mengenai wayang beber menyarankan, supaya Pemerintah Kabupaten Pacitan minimal setiap tahun menggelar pergelaran Wayang Beber sebagai salah satu seni pertunjukan berbasis cerita Panji. Sebagaimana diketahui, Wayang Beber di Jatim ini hanya tinggal satu-satunya, baik perangkat maupun dalangnya, yaitu hanya ada di Pacitan. Sarnen (almarhum) adalah dalang wayang beber yang mendapat gelar maestro dari pemerintah RI, yang kini diteruskan oleh puteranya.

Satu hal yang menarik sebagai bahan kajian, bahwa cerita Panji lahir pada masa Majapahit, padahal kisahnya menceritakan masa kerajaan Kadiri, sekitar 200 tahun sebelumnya. Yunani Prawiranegara melontarkan pertanyaan, jadi siapa sebenarnya Panji? Apakah dia tokoh historis atau ahistoris? Tokoh sejarah atau sekadar tokoh sastra? Kalau betul tokoh sejarah, hidup tahun berapa? Panji yang mana? Sebab banyak raja dan bangsawan bergelar Raden Panji. Konon, Panji malah sudah ada sejak masa Mpu Sendok pada abad X. Yang jelas, Panji adalah tokoh lokal yang sangat membumi, tidak seperti cerita-cerita India yang serba bangsawan. Panji digambarkan sebagai sosok Raja yang sederhana.

Panji jelas tokoh sejarah, kata arkeolog Dwi Cahyono, namun lantaran Panji populer dalam cerita rakyat atau sejarah lokal, maka satu hal yang biasa jika kemudian terjadi hal-hal yang diakronis. Ada peran-peran lain yang muncul seolah-olah berada dalam satu masa yang sama. Kediri dan Majapahit seperti berada pada satu masa yang sama. Kecenderungan diakronis ini juga terjadi dalam Walisongo, yang banyak orang menganggap semua wali itu hidup pada kurun waktu yang sama. Karena itu, sejarawan dari Unesa, Soemarno, menyarankan agar cerita Panji ini disarankan ditulis genealoginya dulu. Siapakah yang dimaksud Raja Brawijaya dan juga Raja Kadiri waktu itu? Demikian pula cerita tentang Jayabaya, menjadi populer karena ditulis justru jauh setelah masa Jayabaya sendiri.

Seperti juga cerita wayang, cerita Panji adalah sumber yang tak pernah kering. Telah terbukti banyak sastra lisan yang lahir dari cerita Panji, banyak seni pertunjukan yang berbasis budaya Panji, buku besar tentang Panji harus ditulis lintas masa, dengan persepsi yang tidak terjebak masa lalu. Soeprapto Soeryodarmo, seniman dari Surakarta yang berhalangan hadir karena alasan kesehatan, menyampaikan usulan melalui sms, bahwa “budaya Panji dikaitkan dengan kesuburan alam desa. Penting untuk konteks global warming. Konservasi budaya Panji diharapkan tidak hanya untuk kota dan kepentingan pariwisata semata tapi juga untuk masyarakat dan alam desa. Mungkinkah di tiap desa ada pendopo Panji, agar semi dan ada artefak-artefaknya. Jatim masih kuat budaya desa alamnya”.

Usulan ini lantas ditimpali Tjuk Sukiadi, “kenapa kita tidak membuat Desa Panji?” Jadi kalau selama ini ada desa atau nama daerah Kepanjen, dicoba untuk memvisualkannya, tidak hanya berhenti sebatas nama.

Narsen Afatara, seniman yang juga dosen UNS telah membuat terobosan membuat komik Panji dan juga film animasi tentang Panji dengan pendekatan anak muda.”Kita perlu menangkap karakter generasi sekarang,” katanya. Proyek komik dan film animasi itu bahkan sudah dibiayai oleh Ditjen Dikti, namun belum diedarkan. “Sosialisasi cerita Panji dapat dilakukan lewat pementasan kentrung,” ujar Ki Subiyantoro, musisi tradisional yang juga dalang kentrung. (*)

Surabaya, 2 April 2009

Moderator : Henri Nurcahyo

Peserta diskusi:
1. RM. Yunani Prawiranegara (budayawan, Surabaya),
2. Dwi Cahyono (arkeolog, Malang),
3. Henricus Supriyanto (ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang, budayawan)
4. Sumarno, (Masyarakat Sejarah Indonesia, Unesa)
5. Ki Soleh Adipramono, seniman wayang topeng, Malang
6. Arief Rofiq, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur
7. Jil Kalaran, seniman, Surakarta
8. Narsen Afatara, UNS Surakarta
9. Subiyantoro, seniman, Sidoarjo
10. Tjuk Sukiadi, pemerhati budaya
11. Bambang Tetuko, seniman, Kediri
12. R. Joko Prakosa, STKW Surabaya
13. Nasrul Illah, Disparbud Kab. Jombang
14. S. Jai, pengarang, Surabaya
15. (hanya makalah) Aminuddin Kasdi, Unesa

6 Tanggapan

  1. Terimakasih informasinya. Kunjungi juga semua tentang Pakpak di GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  2. Quote:
    “….Karena meskipun lahir di Kediri pada jaman Majapahit, cerita Panji sudah menyebar jauh ke berbagai daerah….”

    Mungkin bisa sedikit di cek mas, setahu saya Kebudaya Panji lahir saat zaman Kerajaan Kediri, bukan saat saat Majapahit. Kerajaan Kediri (Kadiri) dan Singosari (Malang) lah (serta 2 kerajaan lain yang ada pada era yang sama) yang menjadi cikal-bakal tokoh Panji dan Dewi Candra Kirana. Kerajaan2 itu adalah cikal bakal dari Kerajaan Majapahit yang berkembang beberapa abad setelahnya, dengan masih membawa nilai-nilai Panji.

    Kebudayaan Panji muncul dan berkembang hingga ke seantero Nusantara (Nusantara bukan hanya mencakup Indonesia, tapi mencapai Thailand, Myanmar, dsb). Di setiap negara atau daerah tersebut tokoh Panji dan Candra Kirana dimunculkan, sehingga Panji memiliki nama yang sangat banyak, tergantung dari daerahnya; yang menjadikan Panji milik bersama sebuah rumpun (bukan milik negara) memang cukup banyak pendapat dengan bukti kuat yang menyebutkan bahwa Panji berasal dari Jawa Timur namun hal ini pun masih perlu diteliti lebih jauh (bukannya saya tidak percaya, hanya saja ada sedikit ketergelitikan akademik untuk menelitinya). Mungkin Anda bisa membantu saya dalam memberikan referensi?

    Kenapa saya menulis demikian, karena konsep cerita Panji ini sangat umum dijumpai tidak hanya pada negara/ daerah yang memiliki latar belakang Panji, namun juga hingga ke benua lain. Konsep yang saya maksudkan adalah konsep adanya dualitas (Positif-Negatif, Proton-Elektron, Materi-AntiMateri, Baik-Jahat, Yin-Yang, dan, dalam hal ini, Pria-Wanita, seperti halnya Adam dan Hawa). Konsep selanjutnya yang lebih dalam mengenai Manusia dengan Ibu Bumi. Bagaimana Kebudayaan Panji mengajarkan pada manusia untuk selalu mengikuti alur alam dan bersahabat dengan alam. Saya sangat sependapat dengan Bapak Soeprapto Soeryodarmo mengenai ini SMS-nya. Kearifan ini sebenarnya adalah akar dari pandangan mengenai konsep Green Environment, namun dengan teknologi yang masih tradisional.

  3. Hello Mas Henri, perkenalkan nama saya Kandi Windoe. Saya sangat interest mempelajari cerita Panji dlm perjalananku: journey to return (kembali ke akar). Kampungku adalah Kediri dan saya ingin mempelajari Kediri di luar asosiasi dgn produsen rokok dan tahu-nya. Saya ingin menanyakan, dimanakah saya bisa mendapatkan buku: Konservasi Budaya Panji (harta karun cerita panji) yg ditulis bersama oleh: aminudin kasdi, dwi cahyo, lydia kieven, nasrul ilahi, rm uinani prawiranegara. penerbitnya adl dewan kesenian jatim.

    Semoga dapat membantu.

    matur sembah nuwun sanget.

  4. Halo Mas Henri, saya sangat tertarik dengan cerita panji. spt yang sama-sama kita ketahui bahwa salah satu bentuk pertunjukan panji adalah wayang gedhog. saya ingin menanyakan, apakah saat ini masih ada dalang wayang gedhog? kalau masih ada, saya mohon diberi alamat & korespondensinya, terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: