Joni Ramlan Bersepeda

FOTONE JONIJoni Ramlan melukis sepeda. Bukan sepeda biasa, tapi sepeda tua yang sarat dengan kisah. Sepeda yang agak reyot, dengan tempelan stiker di sana-sini, atau cat yang mengelupas. Ada sepeda yang dilukisnya utuh, atau hanya diambil bagian-bagiannya saja. Malah ada yang tak jelas lagi sosok sepedanya. Bagaikan dimutilasi.

Nampaknya memang tak ada yang bertahan lama dalam proses kreatif Joni. Pada awal perjalanannya sebagai pelukis, dia dikenal sebagai pelukis gedung-gedung tua dan suasana kota. Tetapi tidak seperti kebanyakan pelukis, ketika lukisan bertema kota tua itu laris manis, penggemar motor trail ini malah bergeser ke arah lukisan yang lebih mementingkan ekspresi ketimbang sekadar dokumentasi. Joni kemudian hanya tertarik satu bagian kecil dari pemandangan bangunan tua itu yang dilukisnya secara close up. Ada pintu yang kotor, dinding yang kumuh, penuh coretan, ada beberapa jemuran, atau tembok yang sudah keropos.

Kemudian, Joni bergeser lagi, dia melukis rumah-rumah dengan sudut pandang yang unik, yaitu memandangnya dari udara. Dia bayangkan memandang terminal bus dari udara. Lukisannya seperti sebuah peta visual. Kemudian dia membuat lukisan seperti peta betulan. Pada tahapan inilah pelukis otodidak ini menjadi satu-satunya pelukis yang karyanya termasuk dalam 36 finalis karya seni Indonesian Art Award 2008. Untuk masuk final, dia menyisihkan 3.200 karya seni, yang sejumlah 2.900 karya adalah lukisan.

Ternyata, prestasi itu tidak membuatnya terlena. Joni sekarang melukis sepeda. Dia tidak mau terjebak dalam stereotip yang bakal membelenggu kreativitasnya. Kegemarannya menghirup aroma peradaban kota tua membawa langkah kakinya ke komunitas pedagang sepeda. Dia beli sekadarnya, juga sejumlah onderdil dan elemen-elemennya. Joni mengkoleksi beberapa sepeda dari orang-orang yang biasa bekerja di pasar, atau yang ditemuinya di pasar sepeda tak jauh dari rumahnya.

Sepeda-sepeda itu menjadi obyek lukisannya, meski seringkali hanya sebagai pemicu belaka. Namun Joni nampaknya tak rela sepeda itu menjadi seperti apa adanya. Sepeda akhirnya juga menjadi subyek karya seni itu sendiri. Bukan hanya dilukis di atas kanvas, namun sepeda itu sendiri menjadi hasil karyanya. Ada sepeda yang seluruhnya dicat warna pink, termasuk rodanya, lengkap dengan hiasan gambar bunga-bunga, mengingatkan mengingatkan masa pacaran yang manis. Malah ada sepeda yang sengaja dipanjangkan sedemikian rupa hingga mencapai 3,6 meter. Jangan bayangkan bagaimana mengendarainya.

Bagi ayah tiga putra ini, sepeda menggambarkan perjuangan hidup anak manusia. Betapa berjasanya sepeda mengantarkan para penjual sayur, pekerja di pasar, serta orang-orang kecil lainnya. Boncengannya yang dilukis sedang memuat beban, seperti penuh muatan derita. Banyak orang menganggap bahwa sepeda adalah bagian dari masa lalu. Sepeda – dan juga pengendaranya – berarti tidak dianggap apa dan siapa-siapa di tengah keriuhan lalu lalang. I’m no body.

Joni senang melihat sesuatu yang seperti menyimpan cerita sendiri. Seolah menegaskan “Tubuhmu Bercerita” Joni menambahkan nuansa tulisan-tulisan tangan di kanvas, seperti sebuah puisi atau kalimat tanpa arti, lantaran memang tidak mengedepankan aspek keterbacaan. Betapa sebuah sepeda pernah mengangkut muatan cinta, sepeda yang memancarkan kelelahan penumpangnya, menerobos kelam malam, dan sepeda yang tak tetap sabar meniti hidup dengan langkah-langkah kecilnya.

Dalam perkembangannya, sosok sepeda itu kemudian hanya dapat dikenali elemen-elemennya saja. Joni tak lagi melukis semi realis. Toh setiap elemen sepeda memiliki andilnya sendiri-sendiri. Bentuk sepeda yang normal menjadi tidak penting lagi. Sepeda itu telah tercebur dalam lautan kanvas ekspresi Joni.

Dan yang menarik, Joni melukis dengan cara yang atraktif. Dia sandarkan kanvas dalam posisi berdiri, sudah ada lukisan yang belum selesai. Kemudian dia mengambil pisau palet, dicolekkan ke cat akrilik, mengambil jarak tertentu, menatap sejenak, kemudian cat di ujung palet itu dilemparkan ke atas kanvas. Disusul menyempurnakan cat yang menempel di kanvas itu. Sebuah proses melukis yang unik.

Tahap-tahap Perjalanan

Pada mulanya, Joni Ramlan hanya melukis sketsa. Hitam putih. Sesekali belajar menggunakan cat minyak. Ketika lukisan sketsanya laku terjual, dia senang sekali. Mulailah terbayang bahwa hidup dari lukisan sebetulnya dapat diandalkan. Waktu itu, Joni memang menyukai suasana kota tua, menghirup aroma gedung-gedung kuna dengan segala ceritanya, menghanyutkan diri dalam deru peradaban kota bersama masyarakat kelas bawah.

Periode lukisan gedung tua dan suasana kota lantas menjadi ciri khasnya. Berkutat di seputar kawasan Jembatan Merah, Jalan Sasak, Jalan Panggung, dan sekitarnya. Meski ada juga sejumlah pelukis lain yang memilih tema yang sama. Lukisan dengan gaya seperti ini kebetulan disukai oleh pasar. Jujur saja, Joni semakin yakin bahwa hidup sebagai pelukis bukan sebuah keinginan yang muluk-muluk. Penghasilan dari lukisan mulai dapat dirasakan manisnya.

Tetapi naluri senimannya tidak menghendaki dia berada di posisi yang sama. Joni mulai memperhatikan detil gedung tua, hanya mengamati pintunya saja, atau sebagian dindingnya yang kumuh dan terkelupas. Maka sementara periode gedung tua itu masih terus berjalan, lukisan-lukisan model close up tersebut lahir satu demi satu. Lagi-lagi Joni juga tak bisa jenak berada pada satu periode dalam tempo yang lama. Sebab, “pada dasarnya saya merasa tidak bisa betah melukis realis,” ujarnya.

Perkembangan berikutnya, suasana kota tua diangkat ke kanvas dalam garis-garis yang liar. Ekspresif. Nampak sekali gejolak semangatnya yang menggebu-gebu. Joni tidak lagi melukis dengan cara tunduk pada obyeknya, namun bagaimana obyek itu tunduk pada kemauannya. Gejolak ini semakin tak terbendung ketika dia selama sekian lama harus melukis berdasarkan foto lebih dulu. Joni lantas terjun langsung di lokasi, melukis on the spot. Misalnya dia melukis pemandangan Kya Kya di Jalan Kembang Jepun Surabaya. Ada kepuasan tersendiri ketika mampu menyelesaikan lukisan yang menangkap pemandangan dan suasana peradaban kota.

Sementara itu, Joni juga melukis sawah dan suasana pedesaan sebagai selingan mengatasi kejenuhan. Joni melukis langsung panorama desa di Pacet, suasana persawahan, bahkan juga kuburan. Kebetulan lingkungan rumahnya masih beraroma pedesaan, juga tak jauh dari gunung. Apalagi Joni suka berkelana ke desa-desa dan alam pegunungan dengan motor trailnya. Seperti juga ketika melukis suasana kota, semula lukisannya cenderung realis. Suasana pedesaan digambar apa adanya. Namun kemudian bergeser menangkap sawah hanya dengan mengambil orang-orangannya saja, bukan ditelan mentah-mentah seperti sebelumnya. Dia lukis orang-orangan sawah, Mirip jaelangkung, tapi bukan. Tidak persis, namun diekspresikan sedemikian rupa seperti mewakili bagian dari nasib petani, terhempas-hempas dan rapuh. Seperti juga ketika melukis kota, Joni juga pernah beberapa kali melukis suasana pedesaan on the spot.

Pada tahapan ini terjadi sesuatu yang menarik. Joni kemudian menempatkan orang-orangan sawah itu di tengah suasana gedung yang sedang dibangun. Lukisan ini seperti hendak mengingatkan bahwa ada masa lalu yang sengaja dihilangkan ketika ada pembangunan gedung tersebut. Joni sepertinya juga tak betah menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya dalam lukisan-lukisan yang ekspresif. Tahapan-tahapan yang dilaluinya bukan sebuah periodisasi yang kaku. Ada saat-saat tertentu dia melukis sekehendak hatinya, seperti mengalir begitu saja dari dalam kalbunya. Melahirkan karya-karya nonfiguratif.

Tanpa disadari, ketika Joni menceburkan diri dalam keriuhan kota, sepertinya dia merasa terlalu kecil untuk dapat menampung semuanya. Rumah-rumah yang bersliweran di sekitarnya itu dia bayangkan dapat diamati dari pandangan udara. Kebetulan, waktu itu terjadi bencana semburan lumpur panas Lapindo. Rumah-rumah tenggelam, hanya kelihatan atapnya. Joni melukis suasana rumah dalam genangan lumpur itu. Dalam imajinasinya, Joni membayangkan terminal bus Bungurasih dilihat dari atas. Mirip sebuah peta. Hal ini dilakukan berulangkali pada lokasi yang berbeda. Hingga akhirnya rumah-rumah dari pandangan atas itu semakin tak terlihat. Joni seperti semakin terbang tinggi, hingga lukisannya menyerupai peta.

Lukisan-lukisan peta Joni ini sesungguhnya relatif orisinal. Sulit menemukan pelukis yang memilih obyek seperti ini. Tak mengherankan jika kompetisi Arts Awards tertarik padanya. Tetapi dasar seorang Joni, ternyata dia malah meninggalkan periode peta. Joni kemudian melukis sepeda. Sebuah alat transportasi tempo doeloe, yang menyiratkan bahwa lelaki ini memang suka bergerak. Sedemikian asyiknya dengan sepeda, dia leburkan diri dalam “dunia sepeda”, lengkap dengan elemen-elemennya. Dia akrabi sepeda sebagai obyek sekaligus subyek. Dia pamerkan sepeda dalam lukisan, tapi juga sekaligus menghadirkan sepeda sebagai karya seni.

Barangkali hanya sebuah kebetulan belaka ketika Joni sedang berada dalam periode sepeda ini kemudian sempat menggelar pameran tunggal. Bukan tidak mungkin setelah pameran tunggalnya yang perdana ini, Joni kemudian akan lebih dikenal dengan lukisan-lukisan sepedanya. Ketika melihat lukisan sepeda, sangat mungkin orang akan teringat dengan sosok Joni. Tetapi, pada saat itu juga sangat mungkin Joni sudah tidak lagi melukis sepeda. Joni sudah bergerak lagi, entah hal apa lagi yang menarik hatinya. Kita tunggu saja. (*)

Henri Nurcahyo, penulis dan pekerja budaya.

2 Tanggapan

  1. sangat expresif, mmenjejakkan narasi narasi kehidupan si sepeda, bravo

  2. sukses selalu……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: