Lukisan Sketsa Setelah Lim Keng Tiada

Oleh HENRI NURCAHYO
Pelukis sketsa legendaris itu telah tiada. Di negeri ini, pelukis yang setia dengan lukisan sketsa jumlahnya amat sangat sedikit. Dari jumlah itu, tidak ada satupun yang sanggup menandingi Lim Keng. Jebolan ASRI angkatan tahun 1962 itu melukis dengan cara yang tidak biasa. Bukan dengan pena atau kuas, melainkan dengan mulut bekas botol cuka yang berisi tinta. Itu sebabnya karyanya sangat khas. Mengandung beban dan gerak. Sulit ditiru.

Sketsa tidak sama dengan lukisan sketsa. Pengertian sketsa yang pertama adalah gambar rancangan sebelum diwujudkan menjadi karya akhir, baik berupa lukisan atau karya tiga dimensi. Sedangkan lukisan sketsa adalah karya sketsa yang sudah selesai sebagai lukisan. Bukan lagi sebuah rancangan. Lukisan sketsa bisa berupa drawing, ilustrasi, vignet dan sebagainya. Namun dalam prakteknya, lukisan sketsa memang hanya cukup disebut sketsa saja.
Setiap pelukis biasanya memang mampu melukis sketsa. Bahkan pelajaran sketsa dijadikan pelajaran dasar melukis di kelas seni rupa, baik perguruan tinggi, bahkan setingkat sekolah menengah atas. Itu sebabnya (lukisan) sketsa dianggap karya remeh, tidak berkelas, bahkan tidak bisa laku mahal dibanding lukisan biasanya. Amat jarang pelukis mau menekuni sketsa, meski mereka mampu. Rasanya tidak gagah disebut dan menjadi pelukis (spesialis) sketsa.
Selain Lim Keng, ada Ipe Maaruf yang juga dikenal pelukis sketsa. Sementara Tedja Suminar yang pernah berkibar namanya sebagai pelukis sketsa, masih berkarya dengan media yang lain juga. Begitu pula Danarto, yang merambah sampai dunia sastra. Thalib Prasojo yang juga dikenal pelukis sketsa, masih melukis yang lain, termasuk membuat karya ukir dan patung.
Sementara Yusuf Susilo Hartono yang wartawan itu, pernah mengibarkan bendera Sketsa Jurnalistik dalam pamerannya. Ada juga nama X-Ling (alm), yang tak banyak muncul di permukaan. Belakangan muncul nama Hardono, yang berguru pada Lim Keng, hingga terasa ada pengaruh kuat pada garis-garisnya.
Sesungguhnya lukisan sketsa pernah berjaya di Surabaya. Tahun 1969, ketika dilangsungkan PON VII, jaman Acub Zaenal, waktu itu para pelukis Surabaya mendapat job untuk mendokumentasikan peristiwa olahraga tersebut dalam bentuk sketsa. Ini peristiwa luar biasa yang tak pernah dicatat dalam sejarah seni rupa Indonesia. Gara-gara peristiwa itulah maka Armatim ganti mengajak sejumlah pelukis Surabaya keliling Indonesia Timur. Mereka diminta melukis sepanjang perjalanan, juga ketika di atas kapal. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.
Ipe Maaroef dikenal sebagai pelukis sketsa yang memiliki kemampuan “meluncurkan” tangannya tanpa berhenti. Ketika membuat lukisan, dia sanggup menggerakkan garis sejak dari titik pertama hingga terakhir nyaris tanpa mengangkat tangannya sama sekali. Garis-garisnya sangat lentur. Sementara Yusuf SH mengkhususkan diri dalam rekaman peristiwa-peristiwa sebagaimana tugasnya sebagai wartawan.
Sedangkan Lim Keng, adalah pelukis sketsa yang memiliki keunikan tersendiri. Pada mulanya, dia melukis gedung-gedung tua sebagaimana kebanyakan pelukis sketsa lainnya. Stereotipe bahwa sketsa identik dengan potret realis itulah yang pernah dilawan oleh Rudi Isbandi. Sebagaimana gaya lukisannya waktu itu, Rudi membuat lukisan sketsa nonfiguratif. Gambaran tentang Kalimas misalnya, Rudi cukup melukis garis-garis gelombangnya saja.

Lukisan yang Unik
Lukisan sketsa Lim Keng menjadi sangat unik karena tidak menggunakan pena atau kuas sebagaimana pelukis lainnya. Bekas botol cuka diisi tinta, kemudian bagian ujungnya dilubangi, dan langsung ditorehkan ke atas kertas gambar. Bisa dibayangkan, butuh kemampuan yang tinggi untuk dapat melukis cepat dengan cara seperti itu. Prakteknya memang hanya butuh waktu sekitar 15 menit. Beruntung Lim Keng sudah punya bekal, lantaran pernah belajar khusus Chinese Painting pada Lim Wen Twan.
Dengan teknik botol cuka seperti itu, maka garis-garis yang dihasilkan menjadi tebal tipis. Bisa sangat tebal, atau malah tanpa garis sama sekali, yaitu berupa garis imajiner. Dan ternyata, justru di situlah letak kelebihannya. Tinta yang mengumpul menjadi garis tebal itu malah mengesankan adanya beban berat. Hal ini terlihat ketika Lim Keng melukis pedagang atau kuli angkut misalnya, maka kita bisa tahu apakah beban yang diangkutnya berat atau tidak, dengan cara melihat garis-garis tebal itu ada dimana. Biasanya, bagian bawah kakinya terlihat seperti mencengkeram, kokoh di tanah.
Sedangkan garis-garis yang tipis atau garis imajiner dalam sketsa Lim Keng, menunjukkan adanya gerak. Itu sebabnya kita dapat langsung merasakan, apakah sapi yang dilukisnya itu sedang berjalan atau berdiri diam. Begitu pula gerak langkah kaki manusia, gerak tangan para pekerja dan juga roda pedati sedang berputar ataukah sedang diam tak bergerak.
Kombinasi garis tebal, garis tipis atau tanpa garis sama sekali, menjadikan lukisan sketsa Lim Keng sangat dinamis. Lelaki yang selalu tampil sederhana ini setiap hari hanya menjaga tokonya yang menjual sembako. Namun ketika ada waktu luang, kakinya lincah bergerak ke tengah keramaian kota, mendatangi kerapan sapi, berkerumun dengan kesibukan pasar atau kuli-kuli pelabuhan. Pemandangan gedung-gedung tua sudah tidak menarik minatnya lagi. Lim Keng menginginkan karyanya harus “bernyawa”. Bukan hanya sebuah kerumunan orang di pasar, melainkan nafas pasar itulah yang harus tercium.
Kedinamisan dalam lukisan Lim Keng seiring dengan jiwanya yang selalu ingin dekat dengan rakyat jelata. Lim Keng mengagumi mereka, yang disebutnya sebagai para pekerja keras yang tak pernah menyerah melawan nasib. Lukisan sketsa Lim Keng bukan lagi sebagai karya dokumentatif benda-benda atau gedung yang diam. Dia justru mendokumentasikan semangat rakyat yang dinamis tersebut.
Meski demikian, kedinamisan Lim Keng tetap pada jalur lukisan sketsa. Tidak pernah beranjak sedikitpun di luar sketsa. Kesetiaannya pada lukisan sketsa inilah yang sulit dicari duanya di negeri ini. Justru dalam wilayah sketsa itu sendiri Lim Keng membuat terobosan. Selain penggunaan botol cuka tadi, dia tidak hanya menggunakan kertas sebagai media lukisnya, tapi juga tripleks yang telah dihaluskan dan diberi dasaran.
Dalam sejumlah karyanya, sketsa Lim Keng malah sedikit diberi warna-warna tipis. Sketsa yang berwarna inilah bentuk perlawanan Lim Keng dengan anggapan umum bahwa lukisan sketsa selalu harus berwarna hitam di atas media putih. Kalau toh ada yang sebaliknya, lukisan bergaris putih di atas media hitam, pernah dibuat oleh Lie Chen Pang. Sayang pelukis Surabaya itu tidak lagi membuat Chinese Painting dan sketsa-sketsanya yang spesifik.
Lim Keng juga pernah membuat terobosan yang lain, yaitu menempeli asesoris pada lukisan sketsanya yang dibuat di atas media tripleks. Karyanya tentang Barongsai misalnya, diberikan tempelan-tempelan seperti karya kolase. Dalam perkembangannya, eksperimen “lukisan sketsa kolase” ini tidak dilanjutkan lagi.
Dan sekarang, apakah yang bisa dimaknai dengan kepergian Lim Keng untuk selama-lamanya? Bahwa lukisan sketsa tidak boleh diremehkan lagi. Lukisan sketsa seharusnya mampu berada sejajar dengan lukisan lain non-sketsa. Kalau toh dikira belum ada lukisan sketsa yang harganya melebihi lukisan non-sketsa, jangan dikira segepok uang mampu membeli lukisan Lim Keng. Seringkali kolektor harus kecewa karena tak mampu membawa karya Lim Keng meski sudah siap bayar berapapun.
Itu sebabnya, nasib karya-karya Lim Keng ini perlu dipikirkan setelah pelukisnya tiada. Keistimewaannya sebagai lukisan sketsa harus diabadikan dalam perjalanan seni rupa negeri ini. Publik seni rupa perlu tahu, bahwa ada jenis lukisan sketsa yang sangat lain, yaitu karya Lim Keng ini. Perlu dibuat tempat khusus untuk menyimpan karya-karyanya, sebagaimana di Museum Rudana, Ubud, Bali, tersedia satu ruang khusus yang menyimpan karya-karya sketsa Nyoman Lempad.
Sekadar diketahui, selama ini karya-karya Lim Keng hanya tersimpan di ruang kecil di lantai atas toko sekaligus rumahnya di Jalan Undaan Kulon 125 Surabaya. Tidak mungkin di tempat itu disulap menjadi Museum Lim Keng misalnya. Kelangsungan tokonya saja masih mungkin berlanjut. Entah bagaimana dengan karya-karya sketsanya yang luar biasa itu. Siapa mau peduli? (*)

Iklan

4 Tanggapan

  1. y……………………………………………………………………a………….a………..
    bgitu-Lach…………………………….LmayaN mNrik………..

  2. sEp LaGh……………………………
    ha…………
    ha…………..
    ha……………
    I LupH you pHuullllllllllllllllllllllllllllll,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  3. OKe Cak Siip. Hidup Seniman

  4. mohon maaf baru terbaca blog nya Henry Nurcahyo,
    Terima Kasih banyak supportnya selama ini yang memberi masukkan dan wawasan dalam pemberitaan ayahanda
    semoga amal dan ridhonya menaungi dan memberi kita semangat dalam perjalanan hidup ini pada umunya dan dunia seni pada khususnya.

    Sukses selalu buat Pak Henry

    salam hangat,
    iwan. w

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: