Cak Kadar itu Kompor, Bukan Provokator

Oleh HENRI NURCAHYO
Cak Kadar telah pergi untuk selama-lamanya. Ya Cak Kadar, bukan Cak Kandar. Dua nama yang sering terbolak-balik penyebutannya. Mantan ketua Pusura dan penggerak kesenian itu masih memikirkan Festival Seni Surabaya (FSS) pada hari-hari terakhir menjelang kepergiannya. Arek kelahiran Maspati itulah yang membidani FSS ketika masih bernama Pekan Seni Surabaya 700 tahun 1993.

Lelaki kelahiran Jumat Kliwon tahun 1931 itu pula yang ikut membidani Akademi Senirupa Surabaya (Aksera) tahun 1967, dan kemudian yang menghidupkannya kembali tahun 1986, ketika sempat vakum bertahun-tahun. Mantan wartawan dan pembina teater itulah yang menjadi provokator setiap ada gerakan kepahlawanan di segala bidang. Untuk sebutan yang satu ini, arek Suroboyo asli ini sempat menolaknya, “saya ini bukan provokator, tapi kompor,” kilahnya.
Dengan menjadi kompor, kata bapak tujuh putra ini, maka api akan menyala sesuai dengan yang dibutuhkan. Nyala api tidak akan berkobar kemana-mana, membakar apa saja, melainkan hanya memanaskan apa yang memang harus dipanaskan. Api kompor memang panas dan membakar, tetapi tidak akan merusak dan memusnahkan hal-hal yang tidak perlu.
Agaknya, dengan memposisikan dirinya sebagai (api) kompor, bapak tujuh anak ini mulai menjadi arif, sesuai dengan perjalanan hidupnya yang sudah ¬sepuh. Sebab, semua orang tahu, bahwa lelaki yang pernah tinggal di kampung Karangbulak ini dikenal ceplas-ceplos, bicaranya selalu blak-blakan, bernada keras, tanpa tedeng aling-aling, sehingga akan membuat panas telinga yang diserangnya. Cak Kadar tak kenal basa-basi. Langsung menohok pada persoalan inti. Nah, dengan menjadi ”kompor” maka sikapnya yang membara itu justru sangat dibutuhkan supaya masakan menjadi matang, air menjadi mendidih, ndang kenek digawe wedang kopi (biar bisa segera dibuat minuman kopi). Begitu.
Panas api kompor Cak Kadar itu pula yang membakar Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ketika dirasa melempem, membakar Dewan Kesenian Jawa Timur (DK Jatim) yang hingga akhir hayatnya masih menjabat Koordinator Pengurus Pleno, juga membakar semangat mereka yang masih mengaku sebagai arek Suroboyo namun ternyata tidak berbuat apa-apa ketika kota ini semakin dijajah imperialisme dan hedonisme. Api kompor itu juga memanaskan Dewan Kota yang mengaku konsen memperjuangkan aspirasi warga Surabaya. Bahkan api Cak Kadar terus menyala-nyala setiap ada diskusi kepahlawanan, diskusi politik, kesenian dan kebudayaan dan semua mimbar yang pasti dihadirinya sepanjang dia tahu atau diundang sebagai peserta sekalipun.
Sampai dengan usianya yang hampir mencapai kepala 8, semangatnya masih menyala-nyala. “Saya masih sanggup bertahan sampai sepuluh tahun lagi,” katanya optimistis. Juga ketika Bambang Soejiyono (alm) yang usianya lebih muda, sempat pesimis dengan usianya sendiri, anak pertama 11 bersaudara ini justru merasa masih sanggup memberikan darma baktinya lebih lama lagi.
Sikap optimistis itu seringkali tidak ditunjang dengan kesehatan fisiknya. Semua orang paham, bahwa pendengarannya sudah agak berkurang di usia senjanya, toh suami Soepiyati itu mengakalinya dengan memasang alat bantu dengar di telinganya. Dengan cara itu dia masih bersedia menjadi narasumber talk show dan pembicara seminar bahkan sebagai peserta aktif berbagai seminar apa saja.
Cak Kadar memang bukan hanya penggerak kesenian dan budayawan. Mantan aktivis gerakan tahun 1966 dan juga pejuang dalam revolusi fisik itu memiliki sedemikian luas perhatiannya pada berbagai persoalan bangsa. Tak heran ketika melepas jenasahnya kemarin sore, Tjuk Sukiadi yang didapuk memberi sambutan mewakili sahabat menyatakan, ”saya merasa tidak layak mewakili semua yang hadir sekarang ini karena sedemikian luas bidang yang menjadi perhatian Cak Kadar.”
Mantan guru SD ini sangat peduli pada pendidikan, meski dia sendiri tak pernah menamatkan pendidikan formalnya. Hanya pernah kuliah di ekstensi Fakultas Ketataniagaan dan Ketataprajaan Universitas Indonesia, tahun 1956-1958. Namun kepeduliannya yang utama adalah pada persoalan kebangsaan. Nasionalismenya sangat kental. Dia bisa berapi-api kalau dipancing bicara soal kecenderungan masyarakat sekarang yang sudah lupa sejarah, lupa bahwa bangsa ini masih punya kedaulatan.
“Masak di depan Tugu Pahlawan ada rumah yang memajang patung-patung tentara Romawi,” ujarnya suatu ketika. Memang itu rumah pribadi, memang hak sepenuhnya si pemilik mau dihias apa saja. Tetapi karena posisinya yang strategis di seputar area Tugu Pahlawan, maka rumah mewah bercat putih itu sedemikian mencolok. Jangan pernah bosan mendengar omelan Cak Kadar soal yang satu ini.
Demikian pula ketika di kawasan Surabaya Barat didirikan patung Raffles. Cak Kadar meluap kemarahannya karena masyarakat kota ini sudah tidak lagi memiliki kebanggaan sebagai bangsa yang berdaulat. “Mengapa harus ada patung penjajah itu?” sergahnya. Bukan berarti dia anti Belanda, justru Cak Kadar yang selalu tampil ke depan ketika bangunan-bangunan tua yang bersejarah (tentu peninggalan Belanda) dirobohkan atas nama pembangunan.
Cak Kadar memang seorang pejuang sejati. Sepanjang 79 tahun rasanya masih belum cukup untuk merealisasi gagasan dan perjuangannya. Dia cenderung mengedepankan kepentingan umum, persoalan masyarakat dan bangsanya. Dialah arek Suroboyo yang sesungguhnya, bukan hanya semata-mata karena selalu memperjuangkan eksistensi budaya Surabayan, melainkan menjalaninya dalam semangat hidupnya sehari-hari. Hidup yang egaliter, demokratis, jujur, apa adanya, dan tak mementingkan diri sendiri.
Tali duk tali layangan, awak situk ilang-ilangan. Itu parikan ludrukan yang sering diucapkannya. Dan awak situk itu, kemarin memang betul-betul ilang untuk selama-lamanya. Hanya semangat, jasa, pengabdian dan cita-citanyalah yang tetap abadi. Masihkah ada Cak Kadar – Cak Kadar yang sanggup meneruskannya? (*)

Henri Nurcahyo, pengurus pleno Dewan Kesenian Jawa Timur.
(artikel ini dimuat di kompas jatim, 13 april 2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: