Ghostwriter, Para “Penulis Bayangan” Surabaya

Punya Jurus Meniru Tokoh

SIAPA yang membuat pidato para pejabat terasa berbobot dan enak dibaca? Siapa pula yang membuat memoar seorang tokoh menjadi luwes dibaca dan tidak jarang mengungkap sesuatu yang mengejutkan dengan cara penulisan yang canggih?

Jawabannya adalah “penulis bayangan”. Para pejabat itu mempunyai ”hantu” yang membantu mereka menulis apa pun. Mulai dari makalah, opini, pidato, hingga buku. Para ”hantu” tersebut menjadi semacam kebutuhan penting karena mepetnya waktu dan banyaknya aktivitas pejabat atau politikus yang bersangkutan. Dengan seabrek kegiatan, nyaris mustahil bagi para pejabat, tokoh, atau politikus tersebut punya kesempatan menulis.

Belum lagi, politikus, tokoh, ataupun pejabat tersebut tidak mempunyai skill menulis yang mumpuni. Maka, para hantu yang biasa disebut ghostwriter -penulis bayangan- itu menjadi penting bagi para tokoh tersebut. Para ghostwriter itu bisa menjadi kepanjangan tangan para tokoh tersebut untuk menuliskan pemikiran dan kehidupannya sehingga lebih enak dibaca.

Konsekuensinya, layaknya “hantu”, identitas si penulis bayangan tidak muncul sama sekali. Tulisan diberi nama dan diakui sebagai karya si pejabat, tokoh, atau politikus. Kompensasinya adalah honor ataupun fasilitas yang berlebih.

Siapa saja para ghostwriter? Dari penelusuran Jawa Pos diketahui bahwa di Surabaya nyaris tidak ada yang menekuni ghostwriter secara murni. Siapa pun, asal yang mempunyai background kemampuan menulis yang baik (seperti penulis, sastrawan, ataupun wartawan), sering ”merangkap” kerja sebagai ghostwriter sebagai sambilan.

***

NAMA Henri Nurcahyo di belantika para penulis Surabaya cukup dikenal. Mantan aktivis kampus itu dikenal sebagai penulis opini yang andal. Dia pernah menjadi redaktur opini di Memorandum, Surabaya Post, dan almarhum majalah Jakarta-Jakarta.

Selain ratusan opini dan belasan buku yang digarap bersama penulis lain, Henri juga telah menerbitkan empat buah buku dalam kurun waktu 12 tahun terakhir. Terakhir ini, Henri terlibat dalam pembuatan buku Sidoarjo Tempo Doeloe bersama karibnya yang juga penulis terkenal Surabaya, Dukut Imam Widodo. Itu membuktikan bahwa kualitas kepenulisan Henri tidak perlu diragukan lagi.

Henri terang-terangan mengakui kerap menjadi ghostwriter. ”Tapi, motifnya bukan semata-mata uang. Ada beberapa tulisan yang memang sengaja saya buatkan untuk menjaga hubungan baik saja,” cerita bapak tiga anak tersebut. Hanya, dia membatasi membuatkan tulisan untuk hal-hal yang remeh seperti makalah seminar, pembuatan opini, atau sekadar katalog. ”Lebih dari itu, tentu ada perhitungannya sendiri,” urainya.

Henri mengungkapkan, pernah juga dirinya membuatkan tulisan tokoh terkenal negeri ini, yang sebenarnya juga pandai menulis. ”Saat itu, saya mencari artikel pengantar dalam buku Pak Imam Utomo yang berjudul Among Roso,” katanya.

Karena kesibukannya, tokoh yang dimintai artikel pengantar tersebut tidak kunjung dapat menyelesaikan tulisannya. Melalui sekretarisnya, tokoh tersebut meminta Henri untuk menuliskan ide besarnya dan kemudian menyetorkannya untuk dibaca. Ditantang seperti itu, Henri sanggup. Dia kemudian berburu buku tokoh tersebut. Dibacanya, dipelajarinya, dan dihafalnya istilah-istilah yang kerap dipakai tokoh tersebut.

”Itulah salah satu kiat untuk menjadi ghostwriter. Pahami istilah-istilah yang sering dipakai, kumpulkan semua, kemudian baru digabungkan dalam ide yang akan ditulis,” tuturnya.

Dia kemudian bercerita bahwa ilmu itu didapatnya sewaktu mahasiswa. ”Saat itu, saya sering jadi notulis rapat. Karena tidak ada laptop dan saya tak bisa tulisan steno, makanya sering saya hanya mencatat istilah-istilah asing yang dipakai narasumber rapat. Jadinya terbiasa hingga sekarang ini,” tambahnya.

Hasilnya cespleng. Tokoh ternama tersebut ketika membaca sampai geleng-geleng kepala dan menyatakan benar-benar sangat mirip dengan tulisannya. ”Akhirnya, sekretarisnya mengembalikan draf tulisan tersebut tanpa coretan dan langsung dipasangkan sebagai artikel pengantar dalam buku Imam Utomo,” cetus jebolan Fakultas Kedokteran Hewan UGM tersebut.

Karir Henri sebagai penulis hantu dimulai sejak 1993. Pertama, dia diminta untuk membuatkan makalah pidato budaya seorang pejabat tinggi Provinsi Jatim dalam sebuah seminar budaya. ”Awalnya ya merasa aneh saja. Tapi, karena saya pikir adalah untuk menjaga hubungan baik, ya sudah saya bikinkan saja,” terangnya.

Karena berhasil membuatkan makalah bagus dalam waktu yang singkat, selanjutnya Henri menjadi langganan pejabat itu. Bukan hanya pejabat itu, juga relasi, atasan, dan bawahan pejabat itu. Yang cukup lumayan, Henri pernah mendapat order dari seorang mantan bupati di Jawa Timur untuk membuatkan sebuah buku. ”Kalau itu, honornya sangat lumayan,” tandasnya.

Selain para pejabat, temannya sesama seniman pun juga pernah memanfaatkan jasanya untuk membuatkan makalah dalam seminar-seminar. ”Tapi, ini lebih sering gratisan. Maklum, karena untuk para seniman yang sudah ternama, kadang waktunya habis untuk latihan dan menggelar keseniannya saja. Tidak masalah,” katanya.

Henri tidak hanya ahli menulis bidang seni, tapi juga wilayah lain. Pernah, seorang mantan pejabat tinggi di pemkot menantangnya untuk membuat buku olahraga. Tanpa banyak cakap, dua minggu kemudian Henri mengirimkan naskah buku olahraganya. Hasilnya mengejutkan si pejabat. Tak lama kemudian, dua order pembuatan buku pun jatuh pada dirinya.

Buku ghostwriting terakhir yang dibuatnya adalah sebuah buku terbitan 2009. ”Buku ini 95 persen merupakan tulisan saya. Honornya lumayan lah,” ujarnya, sembari menunjukkan buku yang dimaksudnya tersebut.

Soal idealisme, sebenarnya Henri agak sedih juga. ”Tetap ada kepuasan lebih bila menulis buku sendiri dan hasilnya bagus. Tetap ada semacam ketidakrelaan melihat buku ghostwriting saya laris dengan nama pengarang lain,” tambahnya. Apalagi di usianya yang sudah separo abad tersebut, Henri menyebut dirinya seharusnya lebih punya nama. ”Kalau nge-ghostwriting terus, kapan saya dapat namanya,” imbuhnya, dengan nada kecut. (ano/dos)

Jawa Pos, [ Minggu, 28 Februari 2010 ]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: