Berguru pada Televisi

Oleh Henri Nurcahyo

Kalau saya ditanya, acara apa yang paling saya benci di televisi: Pertama adalah Infotainment, kedua adalah sinetron cengeng. Apa boleh buat, masyarakat kita sudah menjadikan TV sebagai “guru” dalam banyak hal. Mulai dari dakwah agama, politik, kriminal, hukum, termasuk “pendidikan” kesenian. Inilah tantangan paling kontroversial abad ini. Baca lebih lanjut

Belajarlah ke Candi Penataran

Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China, kata sebuah hadits. Dan sekitar abad XIV, seorang Bujangga Manik menyerukan, tuntutlah ilmu ke Penataran. Ya, Candi Penataran di Blitar itu, yang dulu dinamakan Rabut Palah. Mengapa China, mungkin bisa dijawab. Tetapi, mengapa juga Penataran? Apa sih istimewanya candi Penataran? Baca lebih lanjut

Keteladanan M. Thalib Prasojo

Oleh Henri Nurcahyo

Munthalib Prasojo telah pergi untuk selama-lamanya. Lelaki yang akrab dipanggil Eyang Thalib itu meninggalkan banyak keteladanan yang dapat dikaji dan ditindaklanjuti oleh kita semua. Bapak empat anak ini meninggal dunia saat berumur 79 tahun, akibat penyakit asma yang sudah menahun. Berikut adalah sejumlah keteladanan itu. Baca lebih lanjut

Bersatu Padu Membela Pemerintah

Oleh Henri Nurcahyo

Ini kasus menarik. Ada eksekusi atas sebidang lahan, berbagai elemen masyarakat justru membela pemerintah yang selama ini mengklaim atas lahan tersebut. Itulah yang terjadi dalam kasus Taman Flora Surabaya alias Kebun Bibit (KB). Padahal, biasanya pemerintahlah yang melakukan eksekusi (baca: penggusuran) dan masyarakat berunjuk rasa melawan pemerintah. Baca lebih lanjut

M. Thalib Prasojo Wariskan Wayang Suket

Oleh: HENRI NURCAHYO

Namanya memang tidak (belum) berkibar dalam peta seni rupa nasional, namun Thalib Prasojo memiliki warisan yang sangat berharga dan hanya satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Peninggalan itu adalah Wayang Suket alias wayang rumput, baik sebagai karya dua dimensi maupun sebagai seni pertunjukan. Belakangan malah dibuatnya wayang tiga dimensi. Baca lebih lanjut

Mengenang M. Thalib Prasojo

Pencipta Wayang Suket, Belum ada Duanya

Oleh Henri Nurcahyo

M. Thalib Prasojo meninggal dunia. Dan orang tidak banyak menyadari, bahwa seniman yang tinggal di Sidoarjo itulah yang menjadi orang satu-satunya pencipta wayang suket atau wayang rumput satu-satunya. Wayang Suket ciptaan Thalib ini bukan sekadar wayang-wayangan sebagaimana dikenal dulu sebagai mainan anak-anak, melainkan wayang betulan yang terbuat dari rumput-rumputan. Bahkan, juga dan pernah dimainkan sebagai pertunjukan. Baca lebih lanjut

Pendidikan Seni Rupa di SMA

Oleh Henri Nurcahyo

Belajar seni lukis tidak harus menjadi pelukis. Bahwasanya seni lukis, dan seni rupa umumnya, bukanlah sebuah pelajaran eksklusif yang tak berhubungan dengan pelajaran lain. Boleh-boleh saja menjadi dokter, insinyur, tentara, bisnisman ataupun politikus, tetapi kesemua profesi itu akan lebih bermakna manakala juga menguasai seni lukis atau seni rupa. Baca lebih lanjut

Guru Kesenian, Berkaryalah

Oleh Henri Nurcahyo
Penulis Seni Budaya

Tugas guru kesenian memang mengajar, bukan menghasilkan karya seni. Tetapi guru kesenian yang mampu menghasilkan karya seni, tentu punya nilai lebih ketimbang guru kesenian yang hanya memberikan pendidikan kesenian. Karena itu, wahai guru kesenian, berkaryalah. Baca lebih lanjut

GreenArt 2010: Belajar Kesenian dan Lingkungan Sekaligus

Oleh Henri Nurcahyo
Ketua Umum GreenArt Indonesia 2010

Untuk kali ketiga, Komunitas Perupa Peduli Lingkungan (KPPL) menyelenggarakan GreenArt, sebuah hajatan kesenian yang berwawasan lingkungan. Pameran seni rupa, pameran produk dan pengelolaan lingkungan, gelar seni pertunjukan, workshop dan seminar, diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, tanggal 22 – 25 Juli 2010. Baca lebih lanjut

Siapakah yang Layak Terpilih?

Sebuah Catatan Penyeleksian

Oleh Henri Nurcahyo

Seperti apakah Guru Kesenian (yang dinilai) Berprestasi? Hampir seluruh kota/kab mengirimkan dua wakilnya, dipilih 20 nominasi, dan akhirnya terpilih 5 terbaik. Memang, karena kendala keterbatasan waktu, sosialisasi kurang maksimal, sehingga sangat mungkin masih ada guru-guru lain yang berpotensi namun tidak bisa dikirimkan mengikuti seleksi ini. Baca lebih lanjut