GreenArt 2010: Belajar Kesenian dan Lingkungan Sekaligus

Oleh Henri Nurcahyo
Ketua Umum GreenArt Indonesia 2010

Untuk kali ketiga, Komunitas Perupa Peduli Lingkungan (KPPL) menyelenggarakan GreenArt, sebuah hajatan kesenian yang berwawasan lingkungan. Pameran seni rupa, pameran produk dan pengelolaan lingkungan, gelar seni pertunjukan, workshop dan seminar, diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, tanggal 22 – 25 Juli 2010.

Bagi kalangan pelajar, hajatan ini merupakan kesempatan untuk belajar mengenai kesenian dan lingkungan hidup sekaligus. Sejumlah workshop yang digelar misalnya mengenai konservasi alam melalui budidaya bambu, hidup sehat dengan makanan ekologis, pentingnya melestarikan hutan mangrove, ataupun bagaimana melukis dengan menggunakan bahan-bahan pewarna alami.

Dalam workshop itu juga, ada presentasi mengenai bagaimana memanfaatkan limbah kaleng menjadi seni kerajinan yang menarik, juga mengenai penanganan sampah kota yang baik. Dalam hal sampah ini, malah peserta workshop diajak untuk membuat karya seni instalasi dengan menggunakan sampah. Tidak hanya itu, ada juga workshop mengenai fotografi yang diberikan oleh mahasiswa STIKOM Surabaya.

Sementara dalam pameran seni rupa juga dapat dipelajari, bagaimana bahan-bahan yang kelihatannya tidak berguna sama sekali ternyata dapat disulap menjadi karya seni yang indah. Ada karya seni rupa yang memanfaatkan jerami, limbah gergaji kayu, kaleng dan botol bekas, kain perca, kayu limbah, pulpen bekas,termasuk juga aneka karya seni kerajinan yang berbahan baku limbah tanaman sebagaimana ditampilkan oleh Aspringta Jatim. Yang unik, ada seni lukis yang menggunakan bahan pewarna berupa getah pohon pisang. Sapu ijuk biasapun, dapat disulap menjadi karya seni yang menarik.

Seakan menegaskan makna GreenArt itu sendiri, dalam pameran seni rupa ini juga disertakan bonsai, yang selama ini hanya dipandang sebagai tanaman hias belaka. Padahal, dalam perkembangannya bonsai adalah juga seni rupa. Bonsai merupakan perpaduan antara aspek tanaman yang hidup dengan seni merekayasa sebagaimana yang dilakukan dalam seni rupa. Itu sebabnya dalam berbagai kesempatan kalangan penggemar bonsai tak cukup hanya menyebut “bonsai” saja, melainkan Seni Bonsai. Dalam kesempatan ini ditampilkan bonsai karya Wahjudi D. Sutomo, yang juga menghadirkan bonsai dalam pameran luar ruang dalam paduan bonsai dalam seni pertamanan.

Seni pertunjukan (performing arts) juga menghadirkan tema-tema lingkungan sebagaimana ditampilkan sejumlah grup teater dari berbagai kota. Siswa-siswa SMP IPIEMS misalnya, mengangkat naskah lawas karya Hardjono WS “Raja Sam Sam”, teater Idi Sumenep dengan tema “manusia plastik”, teater Gress dari Gresik dengan lakon laboratorium bawah tanah, yang memindah aktivitas penambangan batu kubung untuk bangunan yang menjadi khas di Gresik dan kawasan pantura.

Acara ini juga merupakan bentuk kepedulian tersendiri dari Bank Jatim sebagai sponsor utama, dan akan membuka acara pada hari Kamis, 22 Juli 2010, pukul 15.00, di pendopo Taman Budaya Jatim. Kali ini, giliran Sawung Jabo yang menjadi bintang dalam sajian pergelaran musiknya, hari Sabtu, 24 Juli 2010.
Sebagai awal pertunjukan Jabo ini tampil seniman muda bernama Wukir, yang menyajikan musik tunggal dengan instrumen bambu buatannya sendiri yang hingga sekarang belum diberi nama. Alat musik yang masih diberi nama sementara “Bambu Wukir” itu mampu menghasilkan beragam bunyi sehingga menghasilkan komposisi musik yang mengagumkan. Banyak yang terperangah dengan kehebatan alat musik yang hanya satu-satunya ini.

Asal Mulanya

Pada mulanya, GreenArt memang merupakan diversifikasi program pendidikan dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Trawas, Mojokerto, bekerjasama dengan British Council. Acara tahun 1991 itu merupakan pameran karya seni rupa yang menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan. Sayangnya, acara ini tidak berulang kembali, sehingga memunculkan kerinduan sejumlah seniman yang pernah menjadi pesertanya.
Tahun 2008, kerinduan itu mengkristal dengan menggelar hajatan dengan nama sama, GreenArt, yang diselenggarakan di Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Momen ini lantas melahirkan Komunitas Perupa Peduli Lingkungan (KPPL) yang menjadi pelaksana, dengan menggandeng sejumlah elemen seniman dan LSM Lingkungan, termasuk PPLH Seloliman sebagai penggagas pertama.
Sukses dengan acara ini, event yang lebih besar digelar di Taman Budaya Jatim, dengan lebih banyak lagi melibatkan berbagai pihak untuk berpartisipasi, termasuk kalangan perguruan tinggi yang baru kali itu unjuk karya. Intinya, acara utamanya masih serupa, yaitu pameran seni rupa dan produk-produk ramah lingkungan, workshop apresiasi lingkungan hidup, pergelaran performance art yang menyuarakan persoalan lingkungan, pemutaran film dan pertunjukan kesenian lainnya.
Karya-karya seni rupa yang tampil konsisten dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Baik yang berupa limbah pertanian dan flora, maupun limbah industri dan rumah tangga berupa barang-barang bekas dan daur ulang. Misalnya, patung dan instalasi yang menggunakan jerami, serbuk gergaji, daun tebu, batang padi, gabah, yang mewakili sektor agraris. Sementara di sektor perkotaan, diwakili dengan karya-karya seni dengan menggunakan bahan limbah kaleng bekas, kain perca, barang-barang rongsokan.
Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kali ini aspek Green lebih mendapat perhatian dibanding aspek Art yang dirasa terlalu menonjol dalam event sebelumnya. Ada keseimbangan antara aspek lingkungan dengan kesenian sehingga Green dan Art betul-betul menjadi kesatuan. Hal remeh yang dulu belum sempat diperhatikan misalnya, penyediaan tempat sampah (organik dan anorganik) yang harusnya tersebar di berbagai sudut lokasi acara. Penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan untuk kepentingan operasional panitia, misalnya, tidak lagi menggunakan kemasan stereofoam untuk wadah makanan. Dan yang merupakan langkah maju, adalah pembagian tanaman gratis kepada undangan.
Soal tanaman gratis ini bukan hanya dibagikan begitu saja. Ada semacam surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh penerima tanaman itu. Pernyataan bahwa dia bersedia merawat tanaman itu tumbuh subur dan berkembang biak, bersedia membagi-bagikan hasil biakan tanaman itu manakala sudah beranakpinak, bersedia mengajak sanak saudara dan teman serta komunitasnya untuk mencintai kelestarian lingkungan hidup, dan bersedia melakukan apa saja sesuai kapasitas dan kemampuannya demi penyelamatan planet bumi ini dari bahaya pemanasan global.
GreenArt Indonesia, akhirnya tidak lagi hanya merupakan pameran seni rupa berbasis lingkungan atau pertunjukan kesenian yang menyuarakan lingkungan, melainkan menjadi sebuah gerakan moral untuk mengajak berbagai pihak agar secara simultan menyelamatkan planet bumi ini dari bahaya pemanasan global. Karena itu tema yang dipilih adalah “Hanya Satu Bumi”, sebuah slogan lawas yang pernah dikumandangkan Barbara Ward menjelang Konferensi Lingkungan Hidup PBB tahun 1972 di Stockholm. Meski sudah dilontarkan 38 tahun yang lalu, isu tersebut masih terasa aktual dan tetap relevan dikumandangkan saat ini dan sampai kapan saja. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: