Guru Kesenian, Berkaryalah

Oleh Henri Nurcahyo
Penulis Seni Budaya

Tugas guru kesenian memang mengajar, bukan menghasilkan karya seni. Tetapi guru kesenian yang mampu menghasilkan karya seni, tentu punya nilai lebih ketimbang guru kesenian yang hanya memberikan pendidikan kesenian. Karena itu, wahai guru kesenian, berkaryalah.

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan dan Pengembangan Kesenian (Dikbangkes) “Taman Budaya” Jawa Timur bakal memberikan kesempatan pada guru-guru kesenian untuk menampilkan karyanya. Kali ini khusus seni pertunjukan, yang bakal digelar dalam sebuah festival tersendiri. Kalau tidak ada perubahan, nama acaranya adalah Gebyar Kesenian Jawa Timur.

Gagasan festival yang akan digelar Oktober nanti ini dilandasi oleh keinginan bahwa para guru kesenian juga perlu menyalurkan ekspresinya dalam berkesenian. Disamping mengajarkan kesenian yang sudah menjadi tugasnya sehari-hari, namun tak bisa dipungkiri bahwa mereka pasti memiliki potensi terpendam yang perlu diekspresikan menjadi sebuah karya.

Profesi “ganda” ini memang memberikan banyak manfaat, baik bagi gurunya sendiri sebagai seniman, maupun sebagai guru yang bertugas mengajarkan kesenian. Pertama, jiwa seni dan potensi seni yang dikandung guru tersebut mendapatkan saluran yang memadai. Sehingga mampu menghasilkan karya yang dapat memberikan kepuasan batin tersendiri. Bahwa seorang guru, bisa juga seorang seniman.

Kedua, sebagai guru yang sehari-hari mengajarkan kesenian, setidaknya mereka dapat menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa guru tidak hanya mampu mengajarkan teori atau sekadar bercerita di depan kelas, melainkan mampu memberikan contoh kongkrit berupa karya seni yang dihasilkannya sendiri.

Ketiga, dengan potensinya tersebut maka guru kesenian dapat menampilkan karya seninya di luar lingkup sekolah, sehingga mau tak mau juga ikut membawa nama sekolah. Manakala guru tersebut menjadi terkenal atau memenangkan sebuah kompetisi kesenian misalnya, maka nama sekolah juga ikut terangkat namanya.

Dalam prakteknya, banyak seniman potensial di Jawa Timur ternyata keseharian mereka adalah seorang guru kesenian. Mereka selama ini sudah banyak menghasilkan karya, banyak terlibat dalam berbagai festival kesenian, dengan atau tanpa membawa nama sekolah mereka.
Ketika dilangsungkan pemilihan guru kesenian berprestasi beberapa waktu yang lalu misalnya, banyak seniman yang ikut serta dan mereka memang selama ini juga berprofesi sebagai guru. Meskipun, karena titik berat penilaiannya pada aspek keguruannya, maka kualitas kesenimanannya tidak menjadi jaminan bisa terpilih sebagai guru kesenian berprestasi.
Sebaliknya, justru banyak peserta yang nyaris tidak pernah menghasilkan karya seni untuk publik, namun mampu menyajikan metode mengajar yang apresiatif, mampu melakukan inovasi dan terobosan kreatif, berhasil terpilih dalam penjaringan. Idealnya, antara kesenimanan dan profesi guru itu bisa menyatu. Dan ternyata, ada juga peserta yang berhasil memenuhi keduanya.

Festival Seni Pertunjukan

Menurut rencana, ajang gelar kreasi ini dimaksudkan sekaligus untuk memeriahkan Hari Jadi propinsi Jawa Timur. Pesertanya diperuntukkan bagi guru, berupa festival seni pertunjukan. Namun peraganya terdiri dari para pelajar. Sedangkan guru sebagai kreatornya. Bagi seniman yang kebetulan berprofesi sebagai guru, sebetulnya hal seperti ini sudah biasa dilakukan. Namun bagi guru yang belum terbiasa membuat seni pertunjukan untuk publik, ini sebuah tantangan tersendiri.
Memang, dari segi waktu, acara ini sangat mendadak. Hanya dalam hitungan kurang dari dua bulan sudah harus mempersiapkan pertunjukan untuk festival. Bukan soal yang mudah, terutama bagi guru-guru kesenian yang biasa. Bahkan, bagi yang sudah berpengalaman pun bukan soal yang mudah juga, sebab bakal terkendala soal-soal teknis, termasuk penyiapan pemainnya. Tapi, apa boleh buat, program sudah kadung dicanangkan, dan dana juga sudah disiapkan (dan harus habis lho….)
Karena itulah agaknya pihak panitia sudah mengantisipasi sejak awal. Meskipun, secara informal, hal ini sudah pernah disosialisasikan dalam pertemuan antar institusi beberapa waktu yang lalu. Toh sosialisasi ulang dengan edaran aturan mainnya, baru dilakukan akhir Agustus belum lama ini.
Memang tak bisa diprediksi, apakah dengan waktu yang mepet ini bakal banyak peserta nya. Apakah semua kab/kota akan mengirimkan wakil-wakilnya. Sebab, harus diakui, sudah ada beberapa daerah yang sudah kadung menganggarkan mengirimkan tim kesenian untuk acara semacam ini. Tinggal melakukan updating dan memberangkatkan saja. Untuk golongan yang seperti ini, sudah tidak jadi masalah.
Lantas, apakah semua daerah bakal diberi kesempatan tampil? Nampaknya, panitia akan memberlakukan seleksi melalui tim kurator. Dari daftar pengajuan itu, tim akan menilai kelayakan mereka dan hanya akan memilih sekitar 10-15 peserta saja. Ini untuk menjaga kualitas, disamping kesiapan dananya memang tidak mencukupi.
Disamping menunggu pengajuan dari daerah (bottom up), tim kurator juga menyiapkan jurus tersendiri dengan melakukan “penunjukan” berdasarkan peta potensi yang selama ini sudah terbaca dari berbagai kesempatan (top down). Bukankah selama ini sudah sering diselenggarakan festival pertunjukan dalam berbagai bentuknya? Mulai dari festival seni pelajar, PPST, duta seni pelajar, bahkan juga berbagai festival umum yang ternyata senimannya adalah guru kesenian.
Nah, dari nama-nama guru kesenian yang potensial itu, diminta menyiapkan karya mewakili daerahnya dan menggunakan pemain dari daerah masing-masing. Mereka pasti tidak terlalu kesulitan menggarap hal ini. Lagi pula, kualitas pertunjukannya setidaknya sudah dapat diprediksi. Minimal tidak bakal mengecewakan.
Waktu memang tidak lama lagi, mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan pencerahan lebih awal disamping info resmi dari panitia. Coba hubungi dinas terkait yang mengurusi kebudayaan atau pendidikan di daerah masing-masing. Rasanya sudah ada edarannya kok. Atau, langsung kontak UPT Dikbangkes Taman Budaya Jatim, seksi Penyajian. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: