Mengenang M. Thalib Prasojo

Pencipta Wayang Suket, Belum ada Duanya

Oleh Henri Nurcahyo

M. Thalib Prasojo meninggal dunia. Dan orang tidak banyak menyadari, bahwa seniman yang tinggal di Sidoarjo itulah yang menjadi orang satu-satunya pencipta wayang suket atau wayang rumput satu-satunya. Wayang Suket ciptaan Thalib ini bukan sekadar wayang-wayangan sebagaimana dikenal dulu sebagai mainan anak-anak, melainkan wayang betulan yang terbuat dari rumput-rumputan. Bahkan, juga dan pernah dimainkan sebagai pertunjukan.

Atas dedikasi dan prestasinya itulah kemudian saya membuatkan blog khusus wayangsuket untuk Pak Thalib. Dalam situs itulah saya menulis banyak tentang lelaki yang lebih dikenal sebagai pelukis sketsa ini. Termasuk juga, sebagian kliping koran yang memuat dirinya. Berikut ini adalah sebagian dari tulisan itu.

Lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931, sebagai anak keenam dari 9 bersaudara dari pasangan keluarga R. Wiroharjo dan Rr. Rusmini. Ayahnya seorang pamong desa, ibunya adalah juragan batik, keturunan ningrat Bataputih dan kerabat Ampel Surabaya. Namun Thalib lebih merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Wiroprasojo yang tinggal di kawasan Dander, Bojonegoro yang mengangkatnya sebagai anak. Satu hal yang dikenang dari ayah kandungnya adalah, “dia menulis huruf latin dengan logat Jawa, seperti langsung mentranskrip hanacaraka.”

Nama asli yang diberikan oleh orangtuanya adalah Thalib, ya hanya Thalib. Namun oleh gurunya ditambahi awalan Mun, menjadi Munthalib. Penghormatan terhadap ayah angkatnya, dilakukan dengan memberikan tambahan nama akhir Prasojo di belakangnya. Sebetulnya Thalib sendiri ingin tetap mempertahankan nama pemberian orangtuanya, namun dia juga ingin tetap menghormati gurunya. Maka diambil jalan tengah, dia selalu menuliskan namanya M. Thalib Prasojo.

Jadi, kepanjangan huruf M itu bukan Muhammad atau Mas sebagaimana dugaan orang, melainkan kependekan dari Mun. “Biar semua senang,” katanya dengan gaya khas. Karena dia memiliki trah darah biru, ada hak menambahkan huruf R (Raden) di depan namanya. Belakangan, dia mendapat gelar Ki Ageng dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) Surakarta. Maka, kalau ditulis semua, nama lengkapnya adalah Ki Ageng Raden Mun Thalib Prasojo.

Lepas dari Sekolah Dasar (dulu SR), Thalib mendapatkan ikatan dinas untuk masuk Sekolah Guru. Dengan agak terpaksa dia menjalani karena memang tak punya biaya untuk memilih sekolah sendiri. Waktu itu, ada peraturan bahwa siapa saja yang berhasil lulus test masuk Sekolah Guru bakal mendapatkan beasiswa. Tertarik dengan program sekolah gratis inilah maka Thalib mendaftar. Dari 12 temannya yang sama-sama lulusan SR, hanya Thalib sendiri yang lulus.

Sekolah Guru (SGB) hingga 4 tahun yang dipersiapkan menjadi Guru SD (waktu itu Sekolah Rakyat, SR). kemudian ditambah dua tahun lagi, masuk jenjang SGA sehingga berhak mengajar di SMP. Jenjang berikutnya adalah B-1, yang lulusannya berhak mengajar SMA. B-1 itulah yang kemudian menjadi embrio dari IKIP. Menurut Thalib, meski SGB hanya empat tahun, kualitas lulusannya bisa disamakan dengan Sarjana sekarang. Lulusan SGB malah mendapat golongan III kalau menjadi PNS.

Namun Thalib hanya menyelesaikan sekolah hingga tingkat SGA. Lulus dari SGA mengajar SD di Kedungpring, Lamongan. Ketika menjalani sebagai guru selama lebih kurang empat tahun (1949-1953), dia terus menerus gelisah. Setiap kali mendengar ada pameran lukisan, hatinya semendhal. Timbullah keinginan ingin meneruskan sekolah kesenian di Surabaya, namun terhalang oleh kewajibannya menjalankan ikatan dinas. Nekat, Thalib melakukan semacam desersi, pindah ke Surabaya, dan hidup bohemian. Di kemudian hari (sekitar 1954-1955) dia mendapatkan surat pemberhentian dengan hormat sebagai guru.

Selama di Surabaya, semangatnya yang kuat ingin melukis membawa langkahnya menjadi warga komunitas Sanggar Sudhung Gendhela yang dipimpin pelukis Indra Hadi Kusuma, lokasinya di bawah Hotel Olympic, Keputran. Tahun 1961, mulai ikut kegiatan Sanggar Bambu Kerabat Surabaya.

Tahun 1967, Thalib mendengar dibuka Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera), dan dia langsung mendaftar sebagai mahasiswa dengan usia paling tua, 36 tahun. Meskipun, waktu itu dia sudah sering membuat relief. Sehingga begitu masuk, langsung menjadi asisten dosen bernama Rio yang mengajar seni patung. Selama menjadi mahasiswa, dia menunjukkan ketekunannya, serius belajar, tidak pernah membolos, selalu ikut ujian. Bahkan, tidak sebagaimana kebanyakan mahasiswa lainnya, dia tetap rajin membayar uang kuliah. Sikap seriusnya ini tidak lepas dari kemauan kuatnya untuk membuktikan diri di depan saudara-saudaranya, yang sejak awal sudah meremehkan pilihannya menjadi seniman.

Dia bayangkan, kalau sampai berhenti di jalan, wah betapa malunya. Dalam bayangan mereka, yang namanya seniman itu selalu berpakaian lusuh, bersandal jepit, miskin. Itulah sebabnya dia berusaha tampil necis, tidak pernah berpakaian lusuh. Minimal di depan saudaranya tidak memalukan.

Tahun 1972, ketika Aksera bubar, Thalib sudah berada di luar. Toh selama itu dia masih tetap berhubungan dengan komunitas Aksera, termasuk ikut serta mengerjakan proyek besar PON VII (1968/69) yang waktu itu dipusatkan di Surabaya. Dalam perjalanannya, Thalib mampu mencatatkan diri sebagai salah satu alumni Aksera yang masih terus menerus melukis hingga puluhan tahun lamanya.

Setelah beberapa kali tinggal di rumah kontrakan, kawasan Ploso Bogen, kemudian di kampung Kilometer, dan beberapa tempat lagi, kemudian membeli rumah di kawasan Jalan Gresik Surabaya. Ketika istrinya meninggal, Thalib pindah ke Sidoarjo (1996). Di kota inilah lelaki yang juga punya kemampuan membuat patung ini sering menjadi sasaran curhat seniman-seniman muda. Ia seperti tak tega membiarkan anak-anak muda kehilangan pegangan. Dalam usianya yang sudah senja itu, toh dia masih setia menjadi pengajar melukis Sekolah Minggu Aksera di Dukuh Kupang, serta menjadi guru seni rupa di SMKN XI (dulu SMSR) di kawasan Siwalan Kerto Surabaya (1996). Dan ketika usianya memasuki 70 tahun, jabatan sebagai guru yang sejak lama ingin dilepas namun selalu digandoli oleh pihak sekolah itu akhirnya ditinggalkannya.

Atas prestasi dan dedikasi sepanjang hidupnya itulah Thalib Prasojo mendapatkan penghargaan sebagai budayawan Jawa oleh Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi (PLKJ) dengan gelar Ki Ageng dengan konsekuensi wajib mengajar Kejawen dan mendapat Bintang Emas sebagai Pembina Budaya (2004). Penghargaan ini diberikan karena pengabdiannya terhadap kebudayaan Jawa lebih dari satu dekade dan secara terus menerus. Dengan predikat tersebut, dia berkewajiban mengajarkan kebudayaan Jawa pada orang lain. Satu tahun kemudian (2005), Penghargaan Seni Budaya diterima dari Gubernur Jawa Timur atas dedikasinya terhadap seni budaya di Jatim.

Menjadi Manusia
Bagi seorang Thalib, meski telah bertekad menjadi seorang pelukis, tidak berarti lantas menyisihkan tanggungjawabnya sebagai kepala rumahtangga. Tujuan hidup yang dicanangkannya adalah untuk menjadi manusia. Sesuai dengan fitrah. Tidak jadi yang lain, misalnya jadi malaikat, jadi demit dan sebagainya. Jangan melanggar kodrat. Qadla dan Qadar. Usahalah sekuat tenaga, terserah hasilnya seperti apa. Yang penting terus melukis, mbuh dadine. Entah bagimana jadinya.

Sebagai seniman, katanya, mestinya tidak boleh patah arang. Gagal sekali atau dua kali bukan menjadi alasan perupa tidak berkarya. Kegagalan mestinya menjadi guru yang terbaik. Karena itu dia sering menyampaikan pada perupa lain, termasuk yang muda, agar menerapkan “ilmu petani”. Panen padi boleh saja gagal, namun petani selalu menanam lagi. Gagal panen karena dimangsa tikus misalnya, tidak membuat petani jera, namun justru masih menanam lagi. “Coba kalau petani mutung tidak mau menanam padi lagi, mau makan apa orang sebanyak ini,” ujarnya.

Bahkan, dia rela gagal menjadi pelukis ketimbang gagal menjadi kepala rumahtangga. Dan itu terbukti, hanya dengan mengandalkan profesinya sebagai pelukis dan perupa, dia telah berhasil mendidik keempat anaknya menjadi sarjana semua.

Pertama, Nunik Sri Rahayu, sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Negeri Surabaya, mengajar di SMKN XI Surabaya.
Kedua, Basuki Triono, sarjana Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret Surakarta, wartawan
Ketiga, Ninil Kurniawati, sarjana pendidikan Matematika IKIP Negeri Surabaya, ibu rumahtangga.
Keempat, Teguh Kurniawan, sarjana Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.
Anak ketiga dan keempat itu sebetulnya pintar menggambar, namun tidak ada yang berani menjadi pelukis. Mereka tidak yakin bahwa menjadi pelukis dapat dijadikan sandaran hidup. Buktinya, “Bapak sendiri sering telat membayar SPP…” kata anaknya. Itu kan dulu….

Kepada empat anaknya itulah Thalib selalu bertindak hati-hati agar dapat menjadi contoh yang baik bagi mereka. Baginya, kalau orangtua kurang prihatin, maka bakal cures keturunannya. Artinya, kalau orangtua berbuat aib, maka anak-anaknya akan ikut menanggung malu sehingga berakibat buruk pada masa depannya. “Kalau saja bapak saya tidak seperti itu…..” kan ada anak yang berpikiran begitu. Bahkan tidak jarang ada cerita anak yang sampai keluar dari sekolah hanya gara-gara dampak kelakuan ayahnya yang tidak terpuji.
Dalam usianya yang sudah lanjut itu, semangat dan gairah untuk berbagi ilmu dan pengalamannya bagaikan air yang terus mengalir. Ketika mengajar di SMSR (SMKN XI) dan juga Kursus Melukis di Sanggar Aksera, honor yang diterimanya tentu tidak seberapa, bahkan nyaris tak sebanding dengan transportasinya. Bukan sekadar ongkosnya, tetapi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan jauh dari rumahnya di kawasan Celeb Sidoarjo menuju Siwalan Kerto Surabaya itulah yang membutuhkan perjuangan tersendiri. Apalagi, Thalib dikenal sebagai orang yang disiplin, selalu tepat waktu.

Dan belakangan kesehatannya yang menurun, membuat tak mampu lagi berjalan kaki berlama-lama seperti dulu. Itulah alasannya ketika dia harus pamitan berhenti mengajar di SMKN XI Surabaya. Sampai akhirnya, Thalib Prasojo meninggal dunia, Rabu tengah malam, 4 Agustus 2010. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: