Seleksi Siswa dan Guru Kesenian Berprestasi

Bisa Jadi Program Percontohan Nasional

Oleh Henri Nurcahyo

Hajatan seleksi Guru Kesenian dan Siswa Berprestasi Kesenian Jawa Timur ini memang baru kali pertama diselenggarakan. Sebagai sebuah upaya, kompetisi ini setidaknya sudah menjadi hal yang bagus. Sebab baru provinsi Jawa Timurlah yang memiliki hajatan seperti ini. Bisa jadi, ini akan menjadi percontohan di tingkat nasional.  Bukankah selama ini provinsi Jawa Timur beberapa kali sering menjadi percontohan nasional dalam dunia pendidikan? Karena itu, seleksi siswa dan guru kesenian berprestasi ini adalah sebuah terobosan kreatif yang patut mendapat apresiasi sebagaimana mestinya.

Meskipun penyiapan waktu yang terbatas, menjadikan hasil seleksi ini belum maksimal. Tentu masih banyak guru kesenian dan siswa yang memiliki prestasi namun justru tidak masuk dalam penjaringan. Fakta di lapangan, banyak seniman potensial di daerah yang berprofesi menjadi guru. Dengan segala kekurangannya, hajatan ini perlu dilakukan lagi tahun-tahun berikutnya dengan sejumlah penyempurnaan.

Mengapa pemilihan ini perlu diadakan? Bahwasanya semangat cinta kesenian perlu ditumbuhkembangkan di kalangan siswa guru sebagai sebuah sarana untuk pendidikan karakter. Bukankah selama ini apa yang disebut “pendidikan karakter” telah lama dilupakan dalam pendidikan formal? Dulu pernah ada yang disebut “Pendidikan Budi Pekerti” namun sekarang menjadi sesuatu yang usang dan tidak merasa penting untuk diajarkan. Kesenian, sesungguhnya memiliki potensi untuk diberdayakan sebagai sarana pendidikan karakter.

Kompetisi ini juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa dan guru kesenian  untuk mengembangkan potensinya masing-masing dalam bidang kesenian. Meskipun, memang tidak wajib bahwa seorang guru kesenian adalah sekaligus menjadi seniman. Guru kesenian bisa saja seorang pengamat kesenian, atau pelaku aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi kesenian. Tetapi manakala seorang guru kesenian adalah juga seorang seniman, setidaknya memiliki pengalaman empiris bagaimana menjalani proses berkesenian.

Guru kesenian yang juga seniman, setidaknya merupakan kesempatan bagi guru yang bersangkutan untuk mengembangkan potensinya sebagai seniman. Dan manakala kemudian siswa atau  guru tersebut mencetak prestasi, maka nama sekolahnya akan diuntungkan. Ada prestise tersendiri manakala guru kesenian tersebut ternyata juga seorang seniman berprestasi. Karena itu, kompetisi ini juga bisa diharapkan menemukan talenta dan potensi lokal di kalangan siswa dan guru kesenian.

Selama ini, kesenian sebagai aktivitas kegiatan oleh rasa masih belum terlalu dipentingkan, dibanding aktivitas olah raga dan olah pikir sebagai aktivitas intelektual.  Dan kalau mau dilebarkan capaiannya, maka kompetisi ini dapat mendorong terciptanya ketahanan budaya bangsa dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.

Parameter Guru Kesenian

Selama ini ada anggapan,  karena pelajaran kesenian tidak termasuk Ujian Nasional, maka kesenian lantas pantas diabaikan.  Padahal kesenian dapat berfungsi sebagai sarana untuk menumbuhkan kreativitas, mengolah rasa dan kehalusan jiwa serta sebagai sarana pendidikan karakter agar memiliki kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan dan kebangsaan yang multikultural.

Itulah sebabnya dengan adanya kompetisi ini, agar kesenian tidak hanya diajarkan sebagai pengetahuan teoritis belaka. Juga, supaya kesenian bukan hanya dipahami sebatas persoalan ketrampilan teknis berkesenian, tetapi harus juga dimaknai sebagai sarana penyeimbang untuk melatih mengendalikan emosi, menghormati adat istiadat dan mengajarkan budi pekerti bahkan juga kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup serta semangat juang dan kebangsaan.

Jadi, memang bukan sederhana yang disebut kesenian (di sekolah) itu. Dalam lingkup pendidikan formal di sekolah, guru kesenian punya tugas untuk menjadikan para peserta didik juga mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan ekspresinya dalam berkesenian, atau menjadi apresiator yang baik, dan bukan hanya mendapatkan pelajaran kesenian di dalam kelas saja.

Kesenian juga harus dipahami secara menyeluruh, minimal dalam hal konsep dan pemahamannya, dan bukan dipersempit menjadi salah satu bidang kesenian saja sesuai dengan bidang kesenian yang kebetulan dikuasai oleh guru kesenian yang bersangkutan. Jangan hanya karena guru sarjana seni tari misalnya, maka siswanya hanya diajari menari melulu. Guru tidak tahu dan tidak mau tahu disiplin kesenian yang lain. Memang tidak harus menguasai semua cabang kesenian, tetapi minimal tahu persis bagaimana memberikan pendidikan kesenian pada siswa diluar yang menjadi bidangnya itu.

Jadi, yang dibutuhkan adalah guru kesenian yang berwawasan global. Guru yang bukan hanya menjadi penyalur ilmu belaka (transfer of knowledge), melainkan benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pendidik. Bahwa pendidikan itu tidak sama dengan pengajaran. Seperti kata Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara, bahwa hakekat pendidikan adalah menciptakan situasi dan kondisi agar potensi masing-masing peserta didik dapat tumbuh kembang dengan baik.

Itulah makna sesungguhnya yang terkandung dalam kata “berprestasi” sebagai guru kesenian. Bukan prestasi dalam arti menjadi juara dalam kompetisi kesenian, menjadi selebriti kesenian, atau sering menggelar acara kesenian.

Kreativitasnya sebagai guru kesenian juga menentukan. Hal ini mengacu, apa saja yang dilakukan guru kesenian di sekolahnya terkait dengan tugasnya mengajarkan kesenian. Apakah mereka punya inovasi dan/atau kreativitas dalam mengajarkan kesenian? Apakah ada kelompok kesenian di sekolah? Apakah pernah/sering menggelar acara-acara kesenian di sekolah? Apakah pernah mendatangkan narasumber seniman/pakar kesenian dari luar, baik sebagai narasumber rutin atau temporer. Dan juga, apakah pernah/sering menugaskan siswa menyaksikan pertunjukan dan/atau acara-acara kesenian di luar sekolah.

Guru kesenian yang ideal adalah guru yang bukan hanya terkungkung dalam dinding gedung sekolah. Padahal, kesenian di luar sekolah berkembang sedemikian pesat. Nah, sejauhmana guru-guru kesenian berinteraksi dan/atau mengikuti perkembangan dunia kesenian di masyarakat?

Apakah guru kesenian juga aktif mendorong siswa-siswanya meraih prestasi dalam bidang kesenian? Baik prestasi dalam lomba, pergelaran atau publikasi di media massa. Apakah guru kesenian memiliki aktivitas dan/atau prestasi dalam bidang kesenian.

Parameter Siswa Berprestasi

Sementara siswa berprestasi kesenian, bukanlah hanya dimaknai sebagai siswa yang sering menjadi juara, melainkan ada sejumlah parameter lainnya. Misalnya saja, sejauhmana pemahaman siswa mengenai hakekat kesenian, apakah hanya sebatas pengetahuan teoritis, sebagai ketrampilan teknis, ataukah lebih luas dari itu. Khusus untuk tingkat SMA atau yang sederajat, hal ini dinilai melalui pembuatan karya tulis. Sedangkan tingkatan SMP dan SD tidak diwajibkan.

Apakah siswa sering berinteraksi dengan guru keseniannya dalam mengembangkan pengetahuannya tentang kesenian? Ini juga jadi parameter untuk mengetahui, apakah siswa tersebut hanya menjalani pelajaran kesenian sebagai kewajiban belaka, ataukah memang ada minat dan keinginan yang kuat untuk tahu lebih banyak mengenai kesenian.

Minat dan kemauan yang kuat ini juga dapat diketahui apakah siswa menjadi anggota (lebih-lebih sebagai pendiri atau aktivis) kegiatan kesenian di sekolahnya. Nah, baru bicara soal prestasi yang dihasilkan siswa tersebut. Apakah siswa mampu menghasilkan karya seni tertentu? Apakah pernah mendapatkan penghargaan atau kejuaraan? Jadi, soal prestasi kejuaraan ini hanyalah salah satu parameter belaka. Artinya, meski seorang siswa menjadi juara berkali-kali sampai tingkat internasional sekalipun, akan mendapat nilai rendah manakala kepinterannya hanya dimilikinya sendiri. Siswa sang juara tersebut lantas menjadi egois dan arogan misalnya.

Karena itu, parameter yang lain adalah, apakah siswa pernah/sering terlibat dalam acara-acara kesenian di sekolah? Sebagai apa? Aktivitas seperti ini untuk mengetahui semangat untuk membangun kelompok, rasa empati pada sesama, dan menunjukkan jiwa kepemimpinannya dan kemampuan organisasinya.

Ada lagi parameter, apakah siswa pernah/sering menghadiri acara-acara kesenian diluar sekolah? Pertanyaan ini untuk mengetahui seberapa besar siswa tersebut memiliki minat terhadap kesenian. Mungkin dia tidak merasa cukup puas dengan pelajaran kesenian di sekolahnya, kemudian sering nonton pertunjukan kesenian di luar sekolah misalnya.

Lebih-lebih, bukan hanya sekadar nonton atau menjadi pelaku pasif, melainkan  apakah siswa terlibat dalam kegiatan kesenian diluar sekolah. Misalnya saja, membentuk grup band atau kelompok tari dan teater. Atau juga, menjadi penggerak atau panitia aktivitas kesenian di tempat tinggalnya.

*) Penulis adalah Ketua Dewan Juri Seleksi Guru Kesenian Berprestasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: