Siapakah yang Layak Terpilih?

Sebuah Catatan Penyeleksian

Oleh Henri Nurcahyo

Seperti apakah Guru Kesenian (yang dinilai) Berprestasi? Hampir seluruh kota/kab mengirimkan dua wakilnya, dipilih 20 nominasi, dan akhirnya terpilih 5 terbaik. Memang, karena kendala keterbatasan waktu, sosialisasi kurang maksimal, sehingga sangat mungkin masih ada guru-guru lain yang berpotensi namun tidak bisa dikirimkan mengikuti seleksi ini.

Demikian pula katagori siswa. Dari ratusan nama yang masuk seleksi, akhirnya dipilih 20 nominator, masing-masing tingkatan SD, SMP dan SMA atau yang sederajat. Dari jumlah itu kemudian dipilih masing-masing 2 (dua) peserta terbaik. Semua peserta terbaik, baik guru dan siswa, masing-masing mendapatkan hadiah berupa trofi Gubernur Jawa Timur dan uang pembinaan sebesar Rp 5 juta rupiah, yang akan diserahkan pada peringatan HUT Provinsi Jatim bulan Oktober nanti.

Lima guru kesenian berprestasi non rangking itu, akhirnya berhasil ditetapkan setelah Dewan Juri melakukan wawancara intensif dengan 19 dari 20 nominator. Satu-satunya nominator yang berhalangan hadir, adalah Achmad Rosidi, dari SMKN 1 Pasuruan. Seleksi dilakukan selama tiga hari (27-29 Juni) di hotel Tretes Raya, Kab. Pasuruan. Sebagai pelaksana hajatan ini adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan dan Pengembangan Kesenian “Taman Budaya” Jawa Timur, bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jawa Timur.
Persaingan ketat terjadi diantara para nominator Guru Kesenian, sehingga Dewan Juri yang terdiri dari Henri Nurcahyo dan Drs. Aribowo MS, harus berdebat untuk menentukan lima terbaik. Apalagi, anggota Dewan Juri lainnya, Prof Joko Saryono dari Malang, yang sudah menyatakan kesediaannya hadir, bahkan mengaku sedang dalam perjalanan dan mengatakan “sudah sampai Pandaan”, ternyata tidak muncul sampai acara selesai. Tanpa penjelasan apa-apa.

Lima Guru Kesenian Berprestasi Jawa Timur itu adalah Jarumi (Kab. Ponorogo), Suko (Kota Blitar), Sujarmo (Kab. Pacitan), Suyanto (Bojonegoro) dan Yuni Rusdiyanti (Kab. Probolinggo). Masing-masing mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 5 juta yang akan diberikan pada saat peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur, Oktober mendatang, beserta Piagan dan Trofi. Seluruh Nominator mendapat Piagam Penghargaan dari Gubernur Jawa Timur.

Sedangkan katagori siswa berhasil terpilih: Rosalina Abhi Pawestri (SDN Kesamben V Kab. Blitar), Muhammad Khoirul Rizal (SBI Kauman I Kota Malang), keduanya untuk SD. Syaifudin Al Majid (SMPN 2 Gempol Kab. Pasuruan) dan Ragilda Rachma (SMPN I Kota Malang), terpilih dalam katagori SMP. Dan katagori SMA berhasil dipilih Esa Pradhita (SMAN I Trenggalek) dan Barce Dian Mardany (SMAN I Puri Kab. Mojokerto).
Dewan Juri yang menyeleksi Siswa Berprestasi ini terdiri dari Drs. Peny Puspito,M.Hum, Drs. Robby Hidayat, dan Achmad Fauzi.

Tahapan Seleksi

Seleksi siswa dan guru kesenian berprestasi ini dimulai dari penyusunan konsepnya. Hal ini dilakukan oleh pihak Dinas Pendidikan Jawa Timur, dalam hal ini UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian “Taman Budaya”. Diskusi-diskusi intensif beberapa kali dilaksanakan dengan melibatkan kalangan akademisi dan seniman serta institusi Dewan Kesenian Jawa Timur. Hasil rumusan yang ditelorkan, kemudian dijadikan bahan baku Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) yang kemudian disebarluaskan ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.
Sejumlah nama-nama diluar pihak Diknas yang terlibat dalam penyusunan konsep ini adalah, Drs. Peny Puspito, M.Hum dari Unesa, Pambuko (seniman), Abdul Ro’uf (seniman, RKPD), Harwi Mardiyatmo (guru SMKN IX Surabaya), Heri “Lentho” Prasetyo (Dewan Kesenian Jatim), dan Henri Nurcahyo (penulis dan aktivis budaya).
Keenam nama tersebut kemudian dipercaya melakukan seleksi berikutnya. Tahapannya adalah, masing-masing kab/kota diminta mengirimkan nama-nama siswa dan guru kesenian yang dinilai berprestasi. Dan ternyata, sambutan peserta luar biasa. Terutama guru-guru kesenian, rata-rata mengirimkan berkasnya sedemikian lengkap. Mungkin berkas itulah yang selama ini dipergunakan untuk persyaratan mendapatkan sertifikasi guru, sehingga tinggal foto copy ulang saja.
Memeriksa satu persatu kelengkapan administrasi ini tentu tidak mungkin. Apalagi ada kecenderungan peserta untuk mengirimkan berkas selengkap-lengkapnya, sampai ada yang setebal bantal, persis tesis Doktoral. Belum lagi lampiran foto, CD dan VCD sampai segebok. Kesemua berkas ini akhirnya hanya menjadi berkas pelengkap, yang sewaktu-waktu diperiksa teliti manakala diperlukan. Lagi pula, mengecek keaslian dokumen tersebut juga tidak mungkin.
Untuk melakukan seleksi, cara yang paling mudah adalah memeriksa kelengkapan syaratnya, terutama ada tidaknya karya tulis. Bagi guru yang tidak mengirimkan karya tulis, langsung disisihkan. Meski sudah jelas disebutkan dalam juklak, pemahaman terhadap karya tulis ini ternyata beragam. Ada yang kirim naskah drama, cerpen, naskah pementasan tari dan ada juga yang mengirimkan hasil penelitian. Padahal, yang diminta adalah sebuah esei dengan tema “kesenian menurut saya”.
Dengan esei seperti itu, maka diharapkan dapat diketahui, sejauh mana pemahaman guru mengenai kesenian. Ternyata jumlah esei yang memenuhi syarat sangat sedikit, sehingga seleksi kemudian dilonggarkan, dengan mencari esei yang ada hubungannya dengan pendidikan kesenian. Masih juga belum memenuhi kuota, maka dicari esei apa saja mengenai kesenian, sehingga lebih dari 20 karya yang berhasil dikumpulkan. Ini masih belum memeriksa isinya, hanya membaca selintas judul, tema dan topik bahasannya.
Mungkin karena waktu yang terbatas, sehingga nampaknya mereka kesulitan menulis esei. Dari sini saja dapat diketahui, bahwa sesungguhnya dibutuhkan semacam pelatihan menulis esei kesenian bagi para guru. Sebab kemampuan menulis ini sangat penting, bukan hanya sebagai persyaratan sertifikasi, melainkan bisa untuk bahan pengajaran di kelas, untuk penulisan artikel di media massa, bahkan juga untuk membuat buku. Baik buku pelajaran maupun buku bacaan umum.
Yang kemudian sangat disesalkan, ternyata ada peserta yang terang-terangan melakukan penjiplakan karya tulis. Kalau sekadar copy-paste dari internet mungkin saja ada beberapa peserta, itupun sebatas kalimat atau paragraph. Tapi yang satu ini, seratus persen menjiplak, lengkap dengan foto-fotonya, langsung difoto-copy begitu saja, hanya diganti nama penulisnya. Sangat disayangkan, ada guru punya mentalitas seperti ini.
Tibalah saat wawancara langsung dengan 20 nominator tersebut. Peserta diminta mempresentasikan secara ringkas esei yang dibuat, meski seringkali waktunya tidak memadai, karena semuanya tidak bisa langsung ke pokok masalah. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan sesuai dengan isi juklak. Dari sini baru kelihatan, mana guru yang hanya asyik dengan dunianya sendiri, mana guru yang mengikuti perkembangan dunia kesenian secara umum. Ada guru yang memiliki segudang pengalaman sebagai seniman, dan mencetak banyak prestasi. Tetapi bukan Guru-Seniman seperti ini yang dicari, meski ada baiknya juga kalau guru kesenian sekaligus juga seniman.
Yang lebih diutamakan adalah bagaimana guru tersebut mampu mengatasi berbagai persoalan keterbatasan mengajarkan kesenian dan lebih mementingkan siswa-siswanya untuk dapat memahami kesenian dengan baik. Karena itu, dalam seleksi ini tidak diperbandingkan antara guru yang ada di pusat kota, dengan guru yang kebetulan mengajar di desa terpencil misalnya. Ibarat bermain golf, maka setiap orang “bertanding melawan dirinya sendiri”.
Ada guru dari daerah terpencil, dia mengaku tidak terlalu menguasai persoalan kesenian diluar seni rupa. Kondisi daerahnya juga sulit akses internet. Tetapi guru yang satu ini memiliki kemampuan lebih dalam hal teknologi informasi (program komputer hingga audio visual). Maka yang dilakukannya adalah membuat sendiri metode pengajaran melalui VCD dan menayangkannya di depan kelas. Setidaknya ada belasan materi pengajaran yang berhasil diproduksi sendiri oleh Sujarmo, guru dari SMPN 1 Nawangan, Pacitan ini.
Guru yang lain, melakukan pemberdayaan seni tradisi yang sudah menjadi ikon di daerahnya. Seni pertunjukan tradisional itu dijadikan sarana untuk mempelajari berbagai cabang kesenian sekaligus. Berbagai alat peraga dia gunakan untuk memudahkan pengajaran kesenian, baik yang pernah didapatkannya semasa kuliah dulu, atau juga yang sudah dimodifikasi. Jarumi, nama guru SMPN 2 Bungkal Ponorogo itu, sedemikian energik memperagakan bagaimana dia telah memberdayakan reyog sebagai sarana pendidikan kesenian di sekolahnya.
Cara yang hampir sama dilakukan oleh Suko, guru SMPN 1 Kota Blitar. Guru yang juga seniman laris ini mampu memberdayakan seni pertunjukan sebagai sarana untuk pembelajaran semua cabang kesenian. Siswa-siswanya menjadi bersemangat belajar kesenian karena mereka merasakan sendiri manfaat berkesenian, baik sebagai bahan ajar pendidikan maupun mendapatkan banyak pengalaman beraktivitas kesenian di luar sekolah.
Bahwa kesenian mampu membawa harum nama sekolah, berhasil dibuktikan Yuni Rusdiyanti, guru kesenian dari Sukapura, Probolinggo. Posisi sekolahnya yang ada di puncak gunung kawasan Bromo, sangat jauh dari pusat kota. Secara akademis, prestasi sekolahnya kurang menonjol. Hal ini karena kondisi sosial ekonomi murid-muridnya memang tergolong kurang beruntung. Namun ibu guru yang kreatif ini mampu mencetak prestasi dalam pendidikan kesenian, sehingga SMPN 1 Sukapura tempatnya mengajar mendapatkan banyak bantuan dari pemerintah karena prestasi keseniannya.
Sedangkan Suyanto, dari SMPN 1 Bojonegoro, sangat beruntung karena sekolahnya tergolong Sekolah Berbasis Internasional, sehingga semua kelengkapan teknologi informasi sudah tidak jadi masalah lagi. Tetapi bukan karena itu lantas menjadi manja, tetapi justru karena itulah yang dijadikan sebagai titik awal keberangkatan. Dia tak puas dengan berbagai fasilitas yang berlebih itu, tetapi justru menjalin networking yang kuat diantara guru-guru kesenian sekolah lainnya.
Sementara guru lainnya, ada yang menguasai banyak hal, mirip supermarket ilmu, namun hanya setengah point saja yang menjadikannya tersisih sebagai lima besar. Ada lagi guru yang aktif berinteraksi dengan seniman lain, namun angka yang diraihnya masih belum bisa menempatkannya sebagai guru yang terpilih. Ada yang menarik, “mengajar dengan hati” sebagai semboyannya. Kelemahan guru yang satu ini adalah masih kurang mengikuti perkembangan dunia kesenian secara umum. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: