Belajarlah ke Candi Penataran

Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China, kata sebuah hadits. Dan sekitar abad XIV, seorang Bujangga Manik menyerukan, tuntutlah ilmu ke Penataran. Ya, Candi Penataran di Blitar itu, yang dulu dinamakan Rabut Palah. Mengapa China, mungkin bisa dijawab. Tetapi, mengapa juga Penataran? Apa sih istimewanya candi Penataran?

Soal belajar ke China itu, mungkin sekadar perumpamaan saja. Artinya, jangan tanggung-tanggung menuntut ilmu, kalau perlu kejarlah sampai ke tempat yang jauh. Posisi negeri China memang lumayan jauh dari negeri Arab dalam ukuran pada saat itu. Tetapi kalau dipikir-pikir, mungkin bukan sekadar kebetulan disebut Negeri China. Banyak hal yang menjadi keunggulan China yang masih tetap layak dikagumi. Mulai soal pengobatan tradisional, akunpuntur, ilmu Fengshui, Astrologi (Shio), beladiri (kungfu), ilmu berhitung (sempoa), ilmu perang kuno (dari Sun Tsu misalnya) yang digunakan untuk marketing bisnis dan politik. Bahkan juga olahraga (bulutangkis) yang selalu merajai turnamen internasional (WNI pun berasal dari etnis China).

Jadi sebetulnya dalam konteks sekarang ini pun masih relevan untuk menyerukan “belajar ke negeri China”. Soal produksi barang murah meriah “made in China” telah mampu menggoncangkan pasar dunia. Etos kerja warganya, yang seolah tak pernah nganggur. Ibu-ibu sambil momong bayi pun masih nyambi mengerjakan pekerjaan ringan yang kemudian disetorkan ke perusahaan. Juga soal hukuman mati bagi koruptor.

Lantas, apa menariknya Penataran? Inilah kompleks candi terbesar di Jawa Timur yang masih terawat hingga sekarang, dibangun dalam kurun waktu sekitar 250 tahun, mulai tahun 1197 M sampai dengan abad XIV. Ratusan panel reliefnya masih bisa dinikmati dengan baik, yang memuat cerita Kresnayana, Mahabarata, dan cerita-cerita klasik seperti Sri Tanjung. Bubuksah-Gagang Aking, Cerita Panji, atau juga cerita Tantri (fabel) seperti kura-kura yang sombong, cerita sapi dan buaya, dan sebagainya.

Drs. M. Dwi Cahyono,M.Hum, arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UNM) dalam sarasehan Cerita Panji di Penataran, beberapa waktu yang lalu, membeberkan bahwa kompleks Candi Penataran memiliki potensi yang luar biasa besarnya. Sebagai candi terbesar di Jawa Timur, Candi di kawasan Nglegok, Blitar ini, ibarat “sumber air yang tak pernah kering” untuk ditimba oleh siapapun yang bermaksud mendapatkan informasi, imajinasi dan makna keteladanan. Candi Penataran dapat berfungsi sebagai sumber eksplorasi seni. Yaitu kesenian masa lampau, yang berbentuk seni-bangun candi beserta kompleksitasnya. Bagi seniman masa kini, kesenian masa lalu dapat didayagunakan sebagai sumber eksplorasi (exploration resources) untuk memperoleh pengalaman baru dan situasi baru.

Sebagai karya seni, candi adalah perwujudan ekspresi seni rupa pada suatu masa yang lampau. Ragam ekspresi seni yang hadir di dalamnya, antara lain meliputi ekspresi: Seni Bangun (arsitektural), Seni Pahat (Ikonografi), Seni Sastra Visual dalam bentuk relief cerita, serta Seni Keagamaan (religious art). Ragam ekspresi seni yang demikian, secara lengkap dapat dicermati di kompleks Candi Penataran sebagai sebuah candi yang paling spektakuler di Jawa Timur. Disamping itu merupakan contoh signifikan mahakarya seni rupa masa Hindu-Buddha yang inovatif dan kreatif, sehingga mampu menampilkan gaya khas, yang disebut “Gaya Jawa Timuran”.

Dibanding candi secara umum, candi Penataran ini merupakan contoh yang sangat jelas mengenai candi yang bergaya seni “Jawa Timuran”. Indikator gaya Jawa Timuran di candi antara lain adalah: (a) berpola diskonsentris, (b) halaman candi terbagi menjadi tiga, (c) kepala kala berahang bawah, (d) tampil wayang style di salah sebuah reliefnya, yaitu pada cerita Ramayana, (e) berorientasi ke timur, yakni ke Gunung Kelud, (f) Candi Induk berpola arsitektural berundak (berteras tiga), dsb.

Candi sebagai suatu produk seni-bangun masa lampau, tepatnya dari masa Hindu-Buddha, tidak hadir secara serta merta dalam waktu singkat. Terlebih jika candi tersebut secara fisik terbilang sebagai bangunan besar, kompleks, dan berfungsi amat penting bagi khalayak luas pada jamannya. Dalam hubungan itu pembangunan maupun pemanfaatannya tidak sekedar menelan waktu singkat, sebaliknya tak tertutup kemungkinan butuh waktu lama, bahkan bisa jadi hingga lintas masa. Candi Penataran adalah salah satu contoh tepat mengenai itu. Candi terbesar di Jawa Timur ini merupakan subuah candi kerajaan. Tidak tanggung-tanggung, Candi Penataran meupakan candi kerajaan (candi negara) pada tiga jaman, yaitu sejak akhir masa pemerintahan kerajaan Kadiri, melintasi masa pemerintahan kerajaan Singhasari, hingga menembus akhir masa Majapahit. Oleh karena itu, keberadaan Candi Penataran hendaknya dilihat sebagai hasil dari proses budaya yang panjang, lintas masa. Terkait dengan itu, ada cukup alasan untuk menyatakan bahwa Candi Penataran merupakan: (1) Candi Lintas Masa, dan (2) Candi Nagara atau Candi Kerajaan.

Perpustakaan Hidup

Jadi, Candi Penataran adalah sebuah “perpustakaan hidup” dan dapat menjadi inspirasi untuk melahirkan pemimpin bangsa. Sebagaimana makna kata Penataran itu sendiri, berasal dari kata pa-natha-ayrya-an. Kata natha berarti pemimpin/raja, sedangkan ayrya menggambarkan sesuatu yang tinggi dan dipersonifikasikan pada orang yang berkedudukan tinggi. Dengan demikian kata Panataran dapat diartikan sebagai tempat seorang pimpinan/raja. Fungsi sebagai tempat menimba ilmu ini bahkan sudah disebutkan dalam naskah Bujangga Manik, seorang bangsawan Sunda, bahwa Rabut Palah (nama lama candi Penataran), setiap harinya banyak pengunjung yang melakukan puja dan belajar agama. Bujangga Manik bahkan menetap untuk sementara waktu di Penataran untuk belajar beberapa kitab agama dan hukum. Penataran adalah tempat pendidikan agama yang disebut mandala atau kadewaguruan yang dipimpin oleh seorang Siddharsi atau Dewan Guru yang marak di Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Kalangan pelajar yang selama ini hanya melakukan rekreasi di Candi Penataran, maka Dewan Kesenian Jawa Timur telah memfasilitasi mereka dengan cara melukis bagian-bagian candi, setidaknya telah terjadi interaksi visual yang dapat mendorong untuk mempelajari lebih jauh setidaknya mengenai apa yang telah dilukisnya. Acara itu digelar dengan nama Festival Seni Rupa Penataran, tengah bulan lalu.

Sementara Lydia Kieven, arkeolog dari Jerman, semakin mempertegas potensi Candi Penataran sebagai sumber ilmu pengetahuan yang maha kaya. Dalam thesis doktoralnya, dan dilanjutkan dengan penelitiannya khusus mengenai Candi Penataran, menegaskan bahwa relief-relief yang ada tidak hanya sebagai hiasan candi belaka, melainkan sebagai simbol. Kandungan sastra cerita Panji, Ramayana dan Kreshnayana takkan pernah habis digali sebagai sumber belajar. Belum lagi cerita-cerita Tantri (fabel) yang juga banyak terdapat di Penataran. Deskripsi cerita-cerita tersebut perlu disosialisasikan ke kalangan pelajar sebagai bahan ajar pendidikan karakter bangsa.

Fungsi sebagai tempat menimba ilmu ini bahkan sudah disebutkan dalam naskah Bujangga Manik, seorang bangsawan Sunda, yang sempat menyinggahi Gunung Kampud (nama arkhais dari Gunung Kelud), tepatnya di Rabut Pasajen – satu tempat suci bagi Majapahit, yang disucikan oleh orang Jawa. Bujangga Manik adalah penyair kelana dari Pakuan (di dekat Bogor kini) yang hidup pada abad ke-16. Sebetulnya, dia adalah ahli waris tahta kerajaan dari Istana Pakuan di Cipakancilan, dengan gelar Pangeran Jaya Pakuan, tapi dia lebih suka menempuh jalan hidup asketis. Sebagai rahib Hindu, dia berziarah menyusuri Pulau Jawa hingga Bali. Sosok dan kisah perjalanan Bujangga Manik dikenal oleh publik modern berdasarkan sebuah naskah dalam bahasa Sunda Kuna di atas daun lontar, karya sang rahib. Naskah itu didapatkan oleh seorang saudagar dari Newport, bernama Andrew James, lalu diserahkan kepada Perpustakaan Bodleian, di Oxford, Inggris, yang diperkirakan berlangsung pada 1627 atau 1629.

Ia tinggal di Palah hingga setahun lamanya untuk belajar beberapa kitab agama dan hukum. Bahkan sempat membaca Darmaweya dan Pandawajaya. Menurutnya, kala itu para peziarah dan pengunjung dari perkotaan datang tiada hentinya. Artinya, pada abad ke-15 atau ke-16, Candi Palah masih ramai diziarahi orang yang melakukan puja dan belajar agama. Penataran adalah tempat pendidikan agama yang disebut mandala atau kadewaguruan yang dipimpin oleh seorang Siddharsi atau Dewan Guru yang marak di Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Bahkan karena dirasa sudah “terlalu ramai” itulah maka Bujangga Manik lantas meninggalkan Penataran, mencari tempat lain yang sepi hingga bisa belajar dengan tenang.
Nah, pertanyaannya sekarang, apakah kita masih tetap menyia-nyiakan potensi Penataran yang luar biasa ini? Kalau Borobudur sudah terkenal dengan keindahan reliefnya, maka Jawa Timur memiliki Candi Penataran. Ke sanaah kita musti belajar banyak hal. Bujangga Manik saja sudah menjadikan Penataran sebagai perpustakaan, juga mereka yang hidup jaman Majapahot. Dan “perpustakaan” itu sampai sekarang masih ada dan terbuka lebar-lebar pintunya. Masihkah kita malas membacanya? (*)

Henri Nurcahyo, pengurus pleno Dewan Kesenian Jawa Timur.
Tinggal di: henrinurcahyo@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: