Berguru pada Televisi

Oleh Henri Nurcahyo

Kalau saya ditanya, acara apa yang paling saya benci di televisi: Pertama adalah Infotainment, kedua adalah sinetron cengeng. Apa boleh buat, masyarakat kita sudah menjadikan TV sebagai “guru” dalam banyak hal. Mulai dari dakwah agama, politik, kriminal, hukum, termasuk “pendidikan” kesenian. Inilah tantangan paling kontroversial abad ini.

Televisi (tentu saja siarannya), memang bisa menjadi sarana atau media ekspresi seni. Televisi juga dapat menjadi media pendidikan seni. Persoalannya, “seni” seperti apa yang diekspresikan melalui televisi? Juga, “pendidikan” seperti apa yang diharapkan dari (siaran) televisi? Barangkali selama ini kita terlalu banyak berharap pada televisi, sehingga (pengelola) televisi menjadi arogan karena program televisi sudah kadung menjadi trendsetter yang menghegemoni pikiran masyarakat. Apa-apa yang disajikan televisi dianggap sebagai kebenaran. Televisi adalah “tuhan” baru yang nyaris tak terbantahkan. Subhanallah.

Dalam konteks televisi dan kesenian, yang selama ini terjadi, bahwa televisi memang menjadi acuan pokok. Sepanjang pengalaman saya beberapa kali menjadi juri/pengamat Festival Teater SD dan juga SMP se-Jawa Timur, hampir semua peserta menyajikan tontonan yang sangat “tivi centris.” Mulai dari dialognya, aktingnya, busananya sampai dengan propertinya. Celakanya, yang dijadikan acuan itu justru sinetron kebanyakan yang rata-rata memang cengeng itu. Bahkan pembawa acaranya pun meniru gaya televisi yang kemayu itu. Mereka tidak paham esensi, hanya sekadar meniru belaka.

Inilah dilemanya, bahwa televisi (selanjutnya disebut: tivi saja yaa, hn) telah menjadi bagian keseharian masyarakat, sehingga tak pelak lagi menjadi acuan tunggal ketika membutuhkan referensi seni pertunjukan. Apalagi, tivi nyaris tak pernah menyajikan tontonan teater-teater bermutu sebagaimana yang dipentaskan di gedung-gedung pertunjukan. Sesekali TVRI menayangkan rekaman teater serius itu, toh tidak ada penggemarnya, antara lain pilihan terhadap materinya sendiri cenderung asal-asalan. Coba kalau misalnya yang disiarkan adalah rekaman pertunjukan Teater Koma misalnya, pasti banyak mendulang iklan. Sebuah tontonan yang bermutu sekaligus bernilai komersial.

Memang ada sinetron bagus yang sebetulnya dapat dijadikan acuan, karena memang digarap profesional, tidak asal-asalan, dan dikerjakan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Si Doel Anak Sekolahan (diterusnya menjadi serial Anak Gedongan), adalah salah satunya. Juga beberapa serial sinetron karya Deddy Mizwar, seperti Lorong Waktu atau Kiamat Makin Dekat misalnya. Tayangan yang masih agak lumayan justru sitkom seperti Bajay Bajuri.

Menurut pengamatan, para pelajar yang bermain teater dengan berguru pada sinetron itu sangat kentara pada aktingnya. Antara lain: Marah-marah selalu membentak-bentak, teriak-teriak, mata melotot, membanting apa saja, bahkan menempeleng lawan mainnya dengan alasan yang sangat sepele. Kalau mau nangis juga nangis betulan sampai-sampai tidak jelas lagi apa yang diomongkan. Dan, logat bicaranya sangat standar, tidak menguarkan karakter peran yang dimainkannya.

Jangan bicara soal ceritanya, karena pasti seenaknya saja, asal sampai dan langsung pada sasaran. Penggampangan dan pembodohan. Misalnya saja, ada TKW yang tiga bulan pulang langsung pamer kekayaan (kontrak minimal kan dua tahun). Atau ada anak bekerja di Jakarta, kirim uang ke orangtuanya, langsung dimasukkan amplop, dan orangtuanya menerima surat tanpa dilem itu langsung dibuka di depan petugas pos. Bahkan, kirim HP juga cukup dibungkus seadanya. Lagi-lagi cukup lewat pos dan dibuka begitu saja. Banyak contoh kejadian tak masuk akal, sulit dinalar, yang penting pemainnya cantik dan ganteng. Kalau toh ada yang gendut atau bermuka kurang beruntung, biasanya diposisikan jadi tokoh yang menjadi sasaran ledekan. Termasuk juga (ini yang menjengkelkan) selalu saja ada peran banci yang memuakkan itu.

Jangan bertanya apa-apa kalau ada tokoh dalam sinetron yang kaya raya, rumah tingkat yang mewah, mobil beberapa buah, tapi tak jelas kerjanya apa. Celakanya, tokoh yang kaya raya ini seringkali tidak nampak kecerdasannya sama sekali. Bagaimana mungkin direktur perusahaan atau konglomerat itu hanya bermodal tampang namun bodoh. Dari gaya bicaranya saja menunjukkan intelektualitasnya yang rendah. Sangat mudah percaya omongan orang lain, dan gampang dibodohi.

Ah sudahlah, tak usah memperpanjang “dosa-dosa” sinetron cengeng itu. Tak heran kalangan keluarga tertentu langsung mengharamkan tontonan sinetron cengeng itu di keluarganya. Ada seorang teman di Jakarta yang membuat aturan ketat untuk pembantu rumahtangganya. Kalau sampai ketahuan nonton sinetron sambil momong anak asuhnya, langsung dipecat. Betapa mengkhawatirkan dampak psikologis sinetron terhadap perilaku dan kejiwaan anak-anak dalam keluarga.

Pembodohan Infotaitment

Selain sinetron cengeng, infotainment adalah acara televisi yang sesungguhnya juga merupakan pembodohan masyarakat. Anehnya masyarakat juga asyik-asyik saja dibodohi, dan menganggap sebagai hiburan yang mengairahkan. Pembodohan pertama: Sebutan infotainment itu sendiri. Asal katanya: Informasi dan Entertainment (hiburan). Tapi yang terjadi adalah informasi mengenai penghibur (artis) bukan tentang hiburannya sendiri. Misalnya, jarang sekali diberitakan konsernya, melainkan penyanyinya. Hampir tak pernah dirilis sinetronnya, tapi lebih menonjolkan pemainnya. Jadi nama yang tepat mustinya Infotainer.

Pemdodohan kedua: Sebutan selebritis. Makna katanya adalah orang terkenal, pembuat berita. Orang yang jadi public figure. Tapi dalam infotainment, selebritis disempitkan maknanya menjadi artis, lebih sempit lagi sebagai pemain sinetron, penyanyi, peragawati, presenter. Harusnya, selebritis juga tokoh politik, juara olahraga, pelukis dan penari serta dramawan dan sebagainya. Malah ada sebutan Seleb Cilik, ini ngaco. Ada presenter yang menertawai artis yang menolak disebut selebritis karena merasa dirinya belum terkenal. Dan dengan gayanya yang kemayu, presenter laki-laki itu meledek artis tersebut dengan kalimat, “eh dia kan pemain sinetron, masak gak mau disebut selebritis?”

Pembodohan ketiga: Banyak acara infotainment yang bicara gosip, bahkan terang-terangan menyebut nama acaranya Gosip. Apa arti Gosip? Bukankah gosip itu rumor, kabar burung, alias berita yang belum jelas ujung pangkalnya? Yang terjadi, ada berita si A melahirkan, main sinetron, pergi Haji, menikah, mendapat hadiah dan semacamnya, yang semuanya itu jelas-jelas fakta, bukan gosip. Anehnya, ketika diberitakan yang betul-betul gosip, seringkali tanpa ada konfirmasi. Kalau toh ada konfirmasi, dan dibantah oleh yang bersangkutan, tetap saja diberitakan aspek gosipnya ketimbang bantahannya. Jadi, mengapa harus diberitakan kalau memang “fakta” yang bakal disiarkan itu memang jelas-jelas tidak benar? Hasilnya, penonton lebih percaya gosip itu sendiri ketimbang bantahannya.

Pembodohan keempat: Berita infotainment selalu bertele-tele. Hanya memberitakan peristiwa kecil saja, misalnya si A sedang pacaran (mereka menyebutnya “jadian”) maka beritanya dicarikan tanggapan dari berbagai pihak sampai pada orang-orang yang asal ketemu, termasuk tetangga kanan kiri, teman sekolah dan siapa sajalah. Berita kecil itu membutuhkan waktu bermenit-menit sampai menjengkelkan.

Pembodohan kelima: Beritanya cenderung mengobok-obok masalah privacy. Tidak salah kalau NU pernah mengharamkan tontonan Ghibah seperti ini. Celakanya, banyak artis yang justru senang bahkan mempublikasikan masalah pribadinya sendiri. Saya salut dengan Guruh Soekarno Putra dan Christine Hakim misalnya, yang selalu menolak privasinya diberitakan. Demikian pula Yenni Rachman, Dewi Yull, meski kadang kecolongan juga.

Kalau sudah demikian, maka kalangan artis selalu saja jadi sasaran tembak para pekerja infotainment yang meminta pengakuan disebut juga sebagai wartawan itu. Ada kasus Parto Patrio yang sampai mengeluarkan pistol, ada Luna Maya yang sampai dilaporkan Polda, ada Desy Ratnasari yang selalu saja jadi bulan-bulanan sehingga sampai dijuluki Ms No Comment lantaran selalu menolak berkomentar.

Guru Televisi

Siaran televisi seperti itulah yang menjadi media “pendidikan seni” kita selama ini. Kita tidak lagi mendapatkan pelajaran “mari bermain drama” sebagaimana yang dulu menjadi acara favorit di TVRI Surabaya. Tidak lagi ada acara “mari menyanyi”, melainkan ajang kompetisi idol-idol yang sangat stereotype itu.

Tidak bisa disalahkan memang, karena kehadiran tivi bagi masyarakat memang berada di posisi sebagai sarana hiburan. Apapun yang disajikan harus menghibur. Idealnya, acara yang mendidik dan bermutu pun akan menjadi sangat menarik kalau disajikan dengan cara-cara yang menghibur. Tetapi yang terjadi, yang penting menghibur, soal kualitas isinya EGP (Emang Gue Pikirin, kata anak muda).

Acara-acara tivi yang tidak mendidik ini sudah lama menjadi kegelisahan kalangan cendekiawan dan para pemerhati masa depan generasi muda negeri ini. Dan para pengelola tivi itu, masih saja belum tergerak kreativitasnya menyajikan acara (kesenian) bermutu namun tetap bisa menghibur. Padahal, kalau mau, sebuah langkah kecil dapat dilakukan untuk menjadikan siaran tivi sebagai media ekspresi dan pendidikan seni yang baik.

Hanya sebuah langkah kecil, misalnya memanfaatkan jeda waktu saat commercial break dapat menayangkan cuplikan acara baca puisi, potongan kecil adegan teater atau seni tari, atau kutipan kalimat bagus dari puisi-puisi penyair kita. Penayangan acara tivi perlu bekerjasama dengan komunitas terkait agar mereka yang berkepentingan dapat melakukan penggalangan penonton dan sekaligus bermakna pemasaran secara cepat dan tepat sasaran.

Banyak inovasi yang sesungguhnya dapat dilakukan oleh pengelola tivi untuk menjadikan sebagai media ekspresi seni dan pendidikan seni. Para SDM pengelola tivi itu sendiri sebetulnya sanggup dan sangat mampu melakukan hal itu, karena mereka professional. Tetap bisa menyajikan acara yang berkualitas namun tetap menghibur. Persoalannya, apakah mereka mau? Ini persoalan good will alias niat baik saja kok. Itu saja masalahnya. (*)

Biodata:
Henri Nurcahyo, pengurus pleno Dewan Kesenian Jatim, penulis buku, aktivis budaya. Lahir di Lamongan 22 Januari 1959, tinggal di Sidoarjo. Kontak: mobile: 0812 3100 832, email: henrinurcahyo@gmail.com. blog: http://www.henrinurcahyo.wordpress.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: