Keteladanan M. Thalib Prasojo

Oleh Henri Nurcahyo

Munthalib Prasojo telah pergi untuk selama-lamanya. Lelaki yang akrab dipanggil Eyang Thalib itu meninggalkan banyak keteladanan yang dapat dikaji dan ditindaklanjuti oleh kita semua. Bapak empat anak ini meninggal dunia saat berumur 79 tahun, akibat penyakit asma yang sudah menahun. Berikut adalah sejumlah keteladanan itu.

Pertama. Sesuai dengan namanya, Prasojo, dia selalu bersikap sederhana, rendah hati, tidak mau berlebihan. Bagi Thalib, yang penting hidup cukup, bukan menjadi kaya. Tidak menjadi terkenal bukan masalah. Apa yang dilakukannya memang hal-hal yang kecil, bukan yang sensasional, bukan mencari popularitas, namun semuanya dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Kedua. Hormat kepada yang lebih tua, itu sikap yang utama. Bapak, ibu, kakak dan saudara lainnya. Mereka sudah pernah berjasa pada yang lebih muda. Ibaratnya, kakak kita pernah menceboki saat kita buang hajat ketika kecil. Jadi harus bersikap hormat sampai kapanpun.
Ketiga. Menghargai anak dan mereka yang lebih muda juga tak boleh diabaikan. Anak-anak tidak boleh sampai merasa malu karena bapaknya telah berbuat yang kurang terpuji. Mereka harus banga bahwa orangtuanya patut diteladani. Tak bisa membayangkan, apa yang ada dalam hati anak-anak dari orang yang dipenjara karena tindakan yang dihujat masyarakat dan dipublikasikan keburukannya di media massa.
Keempat. Tidak penting bisa berhasil menjadi seniman, yang lebih penting adalah menjadi manusia. Lebih baik gagal menjadi seniman ketimbang gagal sebagai kepala rumahtangga. Keempat anaknya semua berhasil dididik hingga menjadi sarjana, semuanya dari hasil melukis dan aktivitas budaya (menjamas keris, konsultasi spiritual).
Kelima. Pernah ada yang menjuluki sebagai seniman kelas orong-orong. Terbang tak bisa tinggi, lari tak bisa cepat, suaranya juga tidak bisa keras. Tanpa tersinggung, Thalib mengakuinya sebagai hewan orong-orong itu.”Memangnya kenapa kalau orong-orong?” tanyanya balik. Thalib memang sengaja melakukan hal-hal kecil sebagai tugas hidupnya. Bahwa yang kecil itu juga sangat bermakna.
Keenam. Memberi itu jauh lebih baik ketimbang menerima. Maka Thalib selalu berbagi rejeki bagi siapa saja. Koran-koran bekasnya tak pernah dijual, diberikan gratis pada pengepul. Dia beli makanan dari penjual apa saja yang lewat depan rumahnya semata-mata menolong si penjual (makanan itupun sering diberikan orang lain lagi). Selalu tersedia uang receh di balik pagar rumah, untuk pengemis dan pengamen. Dia suka mengundang orang-orang terdekatnya hanya sekadar untuk berbagi rejeki yang tak seberapa.
Ketujuh. Kreativitas kesenian tidak mengenal batas. Dia melukis dengan menggunakan alat dan media apa saja, mulai dari pensil, tinta cina, balpoin, arang, krayon, akrilik, cat minyak dan sebagainya. Lukisannya dibuat di atas kertas, kanvas, gerabah, alat-alat dapur, limbah tanaman, atau kayu bekas. Dia membuat patung dari semen, batu, kayu, gips, bahkan juga dari ketela pohon. Termasuk juga, membuat wayang dari merang, jerami, akar wangi, daun pandan, juga dari daun lontar.
Kedelapan. Dalam usianya yang ke-75, dia pamerkan semua jenis karyanya dalam pameran tunggal. Dia tunjukkan bahwa sudah setua itu masih terus berkarya dan kreatif. “Berangkat dari Wayang,” judul pamerannya itu, menunjukkan bahwa asal mula kreativitasnya memang bermula dari kecintaannya terhadap wayang.
Kesembilan. Berkesenian saja tidak cukup, harus memiliki kemampuan lain yang menjadi dasar kreativitas dan pijakan filosofis. Maka dia belajar kejawen secara serius, pewayangan, keris (termasuk kemampuan menjamasnya). Lelaku spiritual sudah menjadi kebiasaannya, sehingga dia dikaruniai kebijakan dan sikap yang waspada.
Kesepuluh. Menjadi guru adalah kepuasan batin yang tak terukur. Selama sepuluh tahun (1996-2006) Thalib mengajar di SMKN XI (dulu SMSR) di kawasan Siwalankerto tanpa berpikir gaji. Toh masih juga mengajar kelas privat ibu-ibu di Sanggar Aksera Dukuh Kupang. Lantaran alasan kesehatan saja yang kemudian menghentikan pekerjaan formalnya ini. Toh Thalib tetap tak tinggal diam.
Kesebelas. Ketika usianya sudah menginjak 77 tahun, Thalib justru baru memulai mendirikan sanggar seni rupa, bernama Padepokan Akar Rumput. Dia menjadi pengajar utama, semua yang belajar di situ tidak dimintai bayaran sama sekali, gratis, termasuk beberapa anak muda yang numpang tinggal di situ, harus ditanggung kebutuhan hidupnya sehari-hari. Padahal, tidak ada pemasukan tetap dari manapun yang layak.
Kedua belas. Tetap berkarya sampai menjelang ajal. Dalam kondisi tak bisa berjalan, dia menyewa becak, keliling kota, dan melukis sketsa dari atas becak. Banyak orang yang belum tahu, bahwa stadion Bung Tomo di Pakal yang baru diresmian itu, ada karya patung Suro dan Boyo dan relief karya M. Thalib Prasojo. Sayang, dia tak sempat mengetahui sendiri saat peresmiannya.
Ketiga belas. Humor itu penting, agar hidup tidak suntuk. Maka Thalib juga dikenal punya banyak anekdot dalam mensikapi kehidupan. Mulai dari pura-pura bisu agar gratis naik bus kota, menggertak orang dengan “pangkat” yang dia sebetulnya tidak punya, atau juga menyenggol betis wanita cantik sebagai taruhan dengan teman-temannya.
Apalagi, rasanya tidak cukup ditulis di sini. Selamat jalan Eyang, semoga jasa-jasa baikmu terus bertumbuh dan memberikan manfaat bagi orang banyak. Gusti Allah mboten sare Yang.

*) Henri Nurcahyo, sahabat dan kerabat Thalib Prasojo.

Iklan

3 Tanggapan

  1. semoga nama dan karyanya terus dikenang dan dilestarikan generasi penerus bangsa

  2. salam kenal pak henri nama saya aditya,saya tahu website ini saat membuka website alm Eyang Thalib
    Yang saya ingin tanyakan,dimanakah lokasi dari padepokan akar rumput,karena saya berminat dengan wayang suket karya alm Eyang Thalib dan apakah masih ada yg meneruskan pembuatan wayang suket?
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: