M. Thalib Prasojo Wariskan Wayang Suket

Oleh: HENRI NURCAHYO

Namanya memang tidak (belum) berkibar dalam peta seni rupa nasional, namun Thalib Prasojo memiliki warisan yang sangat berharga dan hanya satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Peninggalan itu adalah Wayang Suket alias wayang rumput, baik sebagai karya dua dimensi maupun sebagai seni pertunjukan. Belakangan malah dibuatnya wayang tiga dimensi.

Pada mulanya, wayang suket adalah sebutan untuk mainan anak-anak desa, saat panen padi, dan mereka membuat mainan wayang-wayangan dari batang padi atau rerumputan. Karena hanya sebagai permainan, maka bentuk wayang itu asal-asalan saja. Yang penting sudah menyerupai wayang kulit, kemudian dilakonkan dengan tokoh yang diinginkan.
Sebutan Wayang Suket memang sudah dipopulerkan oleh Slamet Gundono, namun wayang yang dimainkannya tidak betul-betul menyerupai wayang kulit. Bahkan Slamet bisa mengambil benda apa saja (terong, timun atau peralatan dapur) dan memainkannya seperti wayang kulit. Slamet pun mengukuhkan wayang suket sebagai nama komunitasnya.
Sedangkan wayang suket ciptaan Thalib memang dibuat sedemikian rupa sehingga hampir sama dengan wayang kulit. Asal orang kenal tokoh wayang saja, sudah dapat langsung menebak nama tokoh itu ketika melihat wayang suket karya Thalib. Penguasaannya terhadap pewayangan memang tidak diragukan. Selain menggemari wayang sejak anak-anak, Thalib juga banyak melukis tokoh-tokoh pewayangan.
Jasa besar Thalib adalah menghadirkan wayang suket dari mainan anak sebagai karya seni rupa dan seni pertunjukan. Karya wayang suketnya ini beberapa kali dipamerkan dalam pameran bersama seni rupa. Baik yang dikemas dalam pigura maupun ditancapkan seperti wayang kulit biasa. Bahkan dalam beberapa pameran terakhir, wayang suket itu dipajang bersama wayang kayu, patung dan karya pahat.
Lelaki kelahiran Bojonegoro (sebetulnya masuk Lamongan, Kedungpring, perbatasan) 17 Juni 1931 ini memang tak pernah menyerah dalam kreativitasnya. Selain melukis, dia juga membuat karya pahat, membuat patung, relief, bahkan suka tanaman dan seni bonsai. Karya pahatnya malah menghadirkan kaligrafi (huruf) Jawa. Kaligrafi seperti ini sangat langka. Dulu M. Roeslan (alm) pernah membuatnya, tapi di atas kertas. Tapi Thalib memahatnya di kayu.

Sementara kalangan seniman memang lebih banyak mengenalnya sebagai pelukis sketsa. Di Surabaya, namanya suka disebut-sebut sebagai sketser disamping Lim Keng (alm). Dalam kondisinya yang masih sakit belakangan ini, Thalib tak bisa menyimpan geloranya untuk membuat sketsa. Meski tak bisa berjalan, dia memaksakan diri keluar rumah, berburu obyek sketsa dengan menumpang becak. “Pokoknya saya bayar Rp 50 ribu, sampai saya bosan,” ujarnya.

Dan seperti kebanyakan pelukis sketsa, dia suka berburu obyek. Bukan hanya di berbagai penjuru kota, namun bahkan sampai ke desa-desa. Konsekuensinya, tidak jarang bapak empat anak ini berurusan dengan pihak yang berwajib, karena dianggap mengabadikan lokasi strategis (dari sisi keamanan).

Pernah suatu ketika melukis pabrik kapur, seorang petugas keamanan lokal memarahinya sambil berkacak pinggang di depannya. “Kamu tahu pabrik ini ada yang punya? Kamu harus ijin?” Dengan serius Thalib balik bertanya, “kamu tahu langit juga ada yang punya? Saya gak perlu ijin untuk melukisnya”. Kemudian, Thalib menggertak, “kamu tahu pangkatku apa?” Lelaki tadi menggeleng. “Minggir….” tegas Thalib. Lelaki tadi kecut, pergi, Thalib menahan senyum, tapi sudah kehilangan mood untuk melukis.

Karena berbagai hambatan itulah maka sempat Thalib minta surat keterangan ke Dewan Kesenian Jatim yang menerangkan bahwa yang bersangkutan adalah pelukis. “Harap dibantu seperlunya dalam menjalankan profesinya.” Surat itu kemudian dilaminating. Unik tapi nyata.

Mengangkat Derajat
Kembali ke wayang suket, warisan Thalib ini sungguh sangat berharga. Setidaknya dia telah mengangkat derajat wayang suket dari sekadar mainan anak menjadi karya seni yang serius. Sayang karyanya ini belum dikenal di forum yang lebih menasional, sehingga masih dianggap sebagai karya lokal.
Dalam perkembangannya, dia buat wayang dari daun lontar. Maka jadilah wayang tiga dimensi itu. Biasanya, meski namanya wayang suket, bahannya menggunakan merang, daun pandan, atau akar wangi. Kesemuanya tidak menggunakan bahan pengawet kimia.

Keseriusannya menggarap wayang suket ini lantaran dia tidak ingin dianggap bahwa wayang suket hanya sekadar mainan anak-anak atau hanya sebagai wayang-wayangan. Karena itu, untuk memperkuat keinginannya, suatu ketika sejumlah wayang suketnya dibawa ke jurusan pedalangan SMKI Surabaya (sekarang SMKN IX). Para guru dan juga dalang langsung bisa mengenali betul satu persatu sosok wayang yang dibuat oleh Thalib ini.

Tindak lanjutnya, maka dalam suatu kesempatan pentas seni sekolah, digelarlah pertunjukan wayang purwa dengan dalang Ki Supriyono dan menggunakan wayang suket buatan Thalib ini. Serius, bukan pentas wayang guyonan. Meskipun, hanya berlangsung tiga jam, bukan semalam suntuk.

Kesempatan berikutnya, dalam Festival Agraris di Candi Pari yang diselenggarakan oleh Taman Budaya, karya wayang suket Thalib juga dipentaskan oleh dalang sebagai seni pertunjukan dengan dalang Ki Subiyantoro. Sayang Thalib kurang cocok dengan gaya pementasannya, karena mencampur-adukkan dengan wayang kulit, dan juga pentas tari di panggung. Kalau begini caranya, menurut Thalib, wayang suket masih hanya sebagai mainan belaka.

Kali ketiga, pementasan wayang suket dilakukan di sebuah sekolah internasional di kawasan Wiyung. Sebagaimana juga di candi Pari, pementasan dilengkapi dengan workshop membuat wayang suket.
Keinginannya untuk mengangkat wayang suket sebagai seni pertunjukan juga masih sering menggelisahkan dirinya. “Tolong hubungi Heri Biola, saya mau ajak dia kolaborasi pementasan wayang suket,” ujarnya menyebut nama seniman musik yang memang suka memainkan instrumen biola. Dan sampai meninggalnya, keinginan kolaborasi itu belum sempat dia wujudkan.

Saat berhasil menciptakan wayang tiga dimensi, terlihat betapa cerianya wajahnya. Bahannya menggunakan daun lontar. Sebetulnya, bahan-bahan yang sama masih dapat ditemui digunakan sebagai mainan anak-anak terutama dari desa-desa yang memiliki habitat pohon siwalan. Daun lontar memang lentur, cocok untuk boneka, kereta mainan, burung-burungan dan sebagainya. Namun di tangan Thalib Prasojo, daun lontar itu disulapnya menjadi wayang tiga dimensi. Meskipun, belum bisa dikenali secara gampang identitas tokohnya sebagaimana wayang suket dua dimensinya.

Sayang sekali, belum sempat dipromosikan secara luas perihal wayang lontar tiga dimensi ini, lelaki yang suka menjamas keris ini, pengagum Sunan Kalijaga, telah pergi untuk selama-lamanya. (*)

• Henri Nurcahyo, praktisi budaya

Iklan

4 Tanggapan

  1. permisi mas henri
    saya ingin bertanya apakah sekarang padepokan akar rumput masih dibuka?
    saya masih ingin belajar banyak mengenai wayang suket dari penerus beliau, apakah ada yang menguasai? terimakasih

    • Padepokannya memang masih buka, tetapi tidak ada yang menguasai pembuatan wayang suket dan bisa mengajarkannya. Maaf, terima kasih atas perhatiannya.

  2. Thank you for posting this story about the Great Master.
    I am very sad that I never had the chance to meet him and learn from him.
    Can you tell me the address of his studio so tha tI may visit it when I visit Indonesia?
    Thank you!

    Terima kasih atas posting ini cerita tentang Guru Besar.
    Saya sangat sedih bahwa saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dan belajar dari dia.
    Dapatkah Anda memberitahu saya alamat studio nya sehingga ti tha dapat mengunjungi ketika saya mengunjungi Indonesia?
    Terima kasih!

    • silakan kontak saya saja, nanti saya bantu. studionya hanya untuk anak-anak muda belajar melukis saja. tidak ada yang membimbing.

      please contact me, I’ll help. his studio is only for young children just learning to paint. without a teacher.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: