Keluhan Klise Nasib Bahasa Jawa

OLEH HENRI NURCAHYO

Setiap kali bicara nasib bahasa Jawa, yang terdengar adalah keluhan memelas dan langsung menyalahkan generasi muda. Banyak orang Jawa sudah kehilangan Jawanya, katanya. Maka solusi yang kemudian diusulkan adalah, memasukkan (kembali) bahasa Jawa ke dalam kurikulum sekolah. Apakah memang harus itu solusinya?

Coba simak keluhan di Kompas Jatim (Senin, 20/9), halaman A, berjudul: “Bahasa Jawa Harus Diajarkan Kembali”. Seorang pengurus Rapat Koordinasi Persiapan Kongres Bahasa Jawa ke-V menyatakan kegelisahannya, karena anak-anak sudah blank dengan bahasa Jawa dan tidak mengerti nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa Jawa, seperti mengajarkan unggah-ungguh dan tatakrama. Anak generasi sekarang sudah tidak lagi mengerti dan memahami bahasa Jawa dengan nilai-nilai filosofisnya yang mengandung ajaran moral, etika dan karakter.

Jujur saja, keluhan seperti ini sudah klise. Sudah terlalu sering dilontarkan oleh orang-orang tua yang langsung menyalahkan generasi muda. Orang-orang tua itu dari dulu sambat terus, tapi tidak mau memahami psikologi generasi muda dan tantangannya pada masa kini. Mereka tidak mau bersikap empati, bahwa bahasa Jawa dalam perspektif sebagaimana yang pemahaman tersebut di atas sudah ketinggalan jaman. Out of date. Anak-anak muda tidak akan mempan dituduh tak punya etika hanya gara-gara tidak paham bahasa Jawa. Emang Gue Pikirin (EGP).

Ada beberapa hal yang harus diklarifikasi lebih dulu dalam persoalan ini.
Pertama, apakah sebetulnya yang menjadi tujuan supaya bahasa Jawa dikenal oleh anak-anak muda? Kalau tujuannya hanya “sekadar” supaya anak muda memahami etika luhur, maka bisa dipastikan di sini, bahwa pengajaran bahasa Jawa bukan satu-satunya cara. Dalam jaman kemudahan sumber informasi seperti sekarang ini, banyak cara ditemukan untuk belajar etika tanpa harus mutlak dengan belajar bahasa Jawa.
Kedua, kalau pengajaran bahasa Jawa dimasukkan kurikulum, apakah sekolah (formal) menjamin bahwa anak-anak muda akan memahami bahasa Jawa dengan sebaik-baiknya? Jujur saja, pengajaran bahasa Inggris di sekolah formal selama puluhan tahun (sejak SD hingga sarjana non Inggris tentunya) terbukti tidak mampu menjadikan anak didik memahami bahasa Inggris. Mereka yang selama ini menguasai bahasa Inggris justru didapatkan dari pendidikan nonformal dan informal, bukan sekolah formal.

Ketiga, terkait dengan hal di atas, menjadikan sekolah formal sebagai obat mujarab semua persoalan sudah saatnya diakhiri. Tas sekolah anak-anak kita sudah terlalu berat karena mengangkut banyak buku yang seharusnya tidak terlalu penting untuk menyiapkan sebagai generasi bangsa yang berkualitas. Jumlah pelajaran sekolah sudah saatnya dikurangi, bukan malah ditambah lagi. Apa dikira hanya bahasa Jawa yang sedemikian penting dikuasai anak-anak sekolah? Setiap kalangan bisa saja mengusulkan bidang minatnya menjadi kurikulum sekolah dengan alasan-alasan yang sedemikian filosofis. Pandangan egosentris seperti ini sudah tidak jamannya lagi.

Keempat, bahasa Jawa memang sebuah pusaka budaya (intangible heritage) yang perlu diselamatkan. Pertanyaannya, perlu dideskripsikan hal-hal yang menarik, penting dan mengundang minat banyak orang agar bahasa Jawa memang layak diselamatkan. Bukan dengan cara menyebarkan klangenan, melainkan dengan hal-hal yang rasional sebagai pendekatan awal bagi masyarakat masa kini.

Asal tahu saja, belum lama ini di Surakarta ada pameran lukisan Kaligrafi Jawa. Pengunjung yang didominasi anak-anak muda diberi kesempatan langsung di tempat pameran untuk merasakan betapa asyiknya melukis kaligrafi Jawa. Mereka akhirnya merasakan kenikmatannya sebagaimana belajar membatik, tanpa terasa belajar dan mampu memahaminya.

Kelima, daripada terus menerus mengeluh bahwa anak-anak muda tidak lagi menguasai bahasa Jawa, mengapa tidak langsung saja membuka Kursus Bahasa Jawa, sekaligus pengenalan penguasaan huruf hanacaraka-nya? Kalau ada kursus berbagai bahasa asing, termasuk Mandarin yang semakin digemari itu, mengapa tidak ada kursus bahasa Jawa? Jangan salahkan anak-anak muda sekarang yang lebih menguasai bahasa asing ketimbang bahasa Jawa, karena memang tidak (belum) ada kursus bahasa Jawa. Dan Lembaga Javanologi, sudah sepantasnya membuka kursus ini. Lembaga inilah yang paling bertanggungjawab, bukan hanya bisa menyalahkan dan mengeluh belaka.

Jangan dikira anak-anak muda (dan masyarakat awam lainnya) tidak tertarik belajar bahasa dan huruf Jawa kalau memang ada lembaga kursus yang mengajarkannya. Selama dikelola secara profesional dan marketing yang bagus, kursus tersebut akan dibanjiri peminat.

Keenam, cobalah belajar dari masa lalu, ketika para Sunan menyebaran agama Islam di tanah Jawa, ketika waktu itu masyarakat Jawa masih lekat dengan Kejawen. Sunan Kalijaga dan Sunan Giri menciptakan tembang-tembang dan cerita rakyat bernafaskan Islami, Maulana Makdum Ibrahim berdakwah dengan gamelan, hingga akhirnya dijuluki Sunan Bonang. Lakon-lakon wayang disusupi sedemikian rupa sehingga lahir carangan baru yang Islami, seperti lakon Dewa Ruci misalnya. Bahkan, para Wali itu dengan sukses menggeser kepercayaan masyarakat Jawa yang politheisme menjadi monotheisme.

Pertanyaannya sekarang, apakah yang sudah dilakukan pemangku bahasa Jawa itu agar anak-anak muda tertarik belajar bahasa Jawa? Jangan paksa mereka memahami isi kepala orang tua, tetapi justru orang tualah yang harus memahami isi kepala anak muda. Pada jaman Sunan Bonang itu, gamelan dan wayang adalah produk budaya “modern” pada masanya, dan para Wali itu tidak memusuhinya, tidak menyalahkan penggemarnya, tetapi bersikap empati terhadapnya.

Ketujuh, pelajarilah psikologi anak muda (dan juga masyarakat awam lainnya), mengapa mereka tidak tertarik lagi memperlajari bahasa Jawa. Dunia anak-anak muda sekarang memang sudah bukan dunia krama inggil yang manggut-manggut. Mereka lebih bebas berekspresi dengan idiom-idiom masa kini. Apa pentingnya belajar bahasa Jawa? Sekali lagi, jangan gunakan alasan filosofis yang ndakik-ndakik seperti di atas. Tidak akan digubris.

Pengenalan membatik dapat dijadikan contoh, betapa sekarang semakin banyak orang yang senang mengenakan batik dan belajar dengan tangan sendiri bagaimana rasanya membatik. Bandingkan dengan sekian puluh tahun yang lalu, ketika batik masih dianggap sebagai warisan leluhur yang bernilai tinggi bla-bla-bla. Persis seperti pandangan terhadap bahasa Jawa sekarang ini.

Analog dengan membatik, yang diperlukan adalah menumbuhkan rasa kebanggaan belajar bahasa Jawa, belajar bertutur dan sekaligus menguasai tulisan Jawa. Mengapa kaligrafi (huruf) Arab lebih banyak peminatnya? Sementara kaligrafi Jawa tidak ditoleh sama sekali? Padahal, jujur saja, banyak orang yang memiliki lukisan kaligrafi Arab dipajang di dinding rumahnya, namun tidak bisa membacanya. Apalagi sampai tahu artinya. Lebih-lebih kaligrafi yang dibuat sedemikian rupa artistiknya sehingga memang sulit dapat dibaca orang awam. Nah, apa bedanya dengan kaligrafi Jawa?

Kedelapan, banyak orang yang bangga bahwa Surabaya memiliki 2 (dua) majalah berbahasa Jawa, terbit rutin mingguan, bahkan mengalahkan Yogyakarta yang mengklaim sebagai pusat kebudayaan Jawa. Pertanyaannya, apakah kontribusi kongkrit kedua majalah tersebut dalam pembudayaan bahasa Jawa? Mengapa Surabaya hanya menjadi kantor redaksinya belaka?

Yang dilakukan pemerintah kota Yogya dengan menuliskan huruf-huruf Jawa di bawah papan nama-nama jalan, adalah salah satu cara menghadirkan huruf-huruf Jawa dalam keseharian masyarakat. Setidaknya akan ada orang yang mencoba mengeja, bahwa tulisan Jalan Malioboro itu (misalnya) dapat diketahui bagaimana penulisannya dalam huruf Jawa.

Sudahlah, berhentilah mengeluh, jangan lagi sambat, tidak usah malu terhadap orang asing yang lebih fasih berbahasa Jawa. Lakukan tindakan kongkrit. Percuma saja digelar Kongres Bahasa Jawa kalau isinya hanya retorika belaka. Jangan-jangan hasilnya nanti hanya berupa rekomendasi, petisi dan himbauan belaka. Just do it.

HENRI NURCAHYO
Pekerja Budaya

Satu Tanggapan

  1. wah mas sekarang generasi muda jawa sudah sangat ngetrend bahasa gaul jadi mo gimana lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: