Ludruk yang (tidak) Membosankan

Catatan pertunjukan: Ludruk Warna Jaya Sidoarjo, 25 Maret 2011, Taman Krida Budaya (TKB) Jatim, Kota Malang dan Ludruk RRI Surabaya, 26 Maret 2011, di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), Surabaya.

Oleh Henri Nurcahyo

Sebagai sebuah seni pertunjukan, tantangan ludruk adalah bagaimana dapat tampil sebagai tontonan yang tidak membosankan. Ludruk harus mampu memikat dan mengikat penonton sampai dengan pertunjukan berakhir. Persoalan cerita yang dibawakan memang penting, namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana membawakannya. Ludruk menghadapi tantangan stagnasi di tengah laju perkembangan zaman yang sedemikian pesat ini. Baca lebih lanjut

Babad Tunggorono, Ludruk Budi Wijaya Jombang

Catatan Pengamatan Pentas Periodik
Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu 26 Februari 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Sekilas Cerita

Tersebutlah seorang lelaki bernama Subanjar yang terkenal brutal, suka berkelahi, menggoda wanita bahkan sampai memperkosa dan membunuh tanpa merasa berdosa. Keluarganya tentu saja resah, apalagi ayahnya adalah pemimpin Padepokan Tunggul Wulung yang disegani. Berdasarkan berbagai masukan, akhirnya Subanjar disarankan agar segera dinikahkan saja. Baca lebih lanjut