Babad Tunggorono, Ludruk Budi Wijaya Jombang

Catatan Pengamatan Pentas Periodik
Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu 26 Februari 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Sekilas Cerita

Tersebutlah seorang lelaki bernama Subanjar yang terkenal brutal, suka berkelahi, menggoda wanita bahkan sampai memperkosa dan membunuh tanpa merasa berdosa. Keluarganya tentu saja resah, apalagi ayahnya adalah pemimpin Padepokan Tunggul Wulung yang disegani. Berdasarkan berbagai masukan, akhirnya Subanjar disarankan agar segera dinikahkan saja.

Subanjar adalah anak sulung dua bersaudara dari seorang bapak bernama Cahyo Tunggal, yang sudah ditinggalkan istrinya. Saudara atau adik perempuannya bernama Sekar Dinulih. Ketika Subanjar diminta menikah, dia menolak sebelum dirinya menjadi orang sakti. Maka berangkatlah Subanjar bertapa di pesarean Asam Boreh.

Sementara itu, di pesarean tersebut berdiam mahluk lelembut bernama Nyi Blorong dan Gendruwo Putih. Mengetahui ada manusia yang bertapa, Gendruwo Putih langsung merasuk dalam raga Subanjar, dengan maksud agar dapat mendekati Sekar Dinulih menjadi isterinya. Begitu Subanjar kembali ke rumah, mengutarakan keinginannya hendak menikah, keluarganya gembira. Namun tentu saja keinginan itu kandas karena yang hendak dinikahi adalah adik kandungnya sendiri. Subanjar dengan teganya memukul ayahnya yang menentangnya.

Sekar Dinulih melarikan diri, dikejar Subanjar, sempat bertemu dan dihalangi oleh Ki Tunggo , bertanding dengan Joko Piturun, dan akhirnya bertemu kembali dengan sang ayah, yang telah mendapatkan selendang pusaka dari Nyi Blorong. Dalam pertarungan kali kedua dengan Joko Piturun. Subanjar akhirnya dikalahkan dengan sabetan selendang pusaka Jalarante yang dipinjami Cahyo Tunggal. Saat Subanjar terjatuh, keluarlah mahluk halus bernama Gendruwo Putih dari raga Subanjar, yang langsung dihajar dengan pusaka selendang yang sama.

Subanjar tersadar, maka sadar pulalah sang ayah, bahwa semua ini adalah kesalahannya sendiri, karena memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, namun belum pernah meruwatnya.

Bahasan Cerita

Judul lakon ini mengisahkan tentang asal usul daerah yang bernama Tunggorono di Jombang. Ternyata Tunggo itu nama orang (Ki Tunggo) yang pekerjaan sehari-harinya membuat rono (semacam sketsel dalam rumah). Karena dianggap menembunyikan Sekar Dinulih di rumahnya, Ki Tunggo harus berhadapan dengan Subanjar (yang telah kesusupan gendruwo), sehingga tewas. “Suatu ketika nanti desa ini saya namakan Tunggorono,” ujar Subanjar. Ternyata cerita tidak selesai sampai di sini. Ada cerita asal usul nama Rawa Jali (?), tempat tenggelamnya Subanjar yang kemudian bisa muncul lagi. Ada juga asal muasal dusun (desa) Sambi Gereng, tempat Nyi Blorong terjepit kayu di pohon Sambi sehingga nggereng (mengerang).

Tidak seperti cerita ludruk pada umumnya, judul cerita tidak menjadi adegan pungkasan dari lakon yang dibawakan. Babad Tunggorono hanyalah sebuah folklore atau cerita rakyat mengenai desa Tunggorono dan hal-hal yang terkait dengannya. Mengapa nama Tunggorono menjadi (dianggap) penting? Ini karena dalam cerita rakyat mengatakan bahwa desa Tunggorono merupakan gapura keraton Majapahit bagian barat. Sedangkan letak gapura sebelah selatan batas wilayah kraton Majapahit ada di desa Ngrimbi (kecamatan Bareng sekarang), dimana sampai sekarang masih berdiri candinya. Cerita rakyat ini dikuatkan dengan banyaknya nama-nama desa dengan awalan “Mojo” (Mojoagung, Mojotrisno, Mojolegi, Mojowangi, Mojowarno, Mojojejer, Mojodanu dan masih banyak lagi). Soal yang satu ini memang tidak diuraikan dalam lakon ludruk ini.

Itu sebabnya, ketika Joko Piturun pamit dengan ibunya, dia mengatakan hendak mengabdi menjadi prajurit kerajaan Majapahit. Dari satu hal ini dapat diperkirakan setting waktu cerita rakyat ini, yaitu sekitar abad XII-XIV. Meski nama Majapahit disebut, tidak lazim cerita ludruk mengisahkan suasana keraton, berbeda dengan ketoprak. Ludruk adalah sebuah sisi pandang rakyat terhadap sebuah masa berkuasanya para raja. Tidak relevan lagi menceritakan Majapahit dalam lakon ini. Yang jelas, ternyata Jaka Piturun tidak paham rute jalan menuju pusat kerajaan, entah menuju mana, sampai akhirnya “tertabrak” Sekar Dinulih yang sedang berlari dikejar kakaknya.

Dalam kondisi tubuh Subanjar dirasuki arwah Gendruwo Putih, memang menjelma menjadi manusia tanpa tanding. Ayahnya yang pimpinan perguruan saja dipukul hingga pingsan, Ki Tunggo ditewaskan dalam sekali gebrak. Demikian pula pusaka Ketela Maya milik Joko Piturun hanya mampu melemparkan Subadar ke danau, yang kemudian berhasil mentas lagi. Padahal pusaka itu, kata ibunya, sanggup menghancurkan gunung dan mengeringkan lautan.

Subanjar baru dapat dikalahkan dengan pusaka Jalarante, yaitu sebuah selendang milik ayahnya sendiri, hasil pemberian Nyi Blorong, sebagai ucapan terima kasih telah ditolong dari jepitan kayu Sambi. Yang menarik dari hal ini, Jalarante itu adalah pemberian Nyi Blorong, “teman” sesama penghuni pasarean Asem Boreh bersama Gendruwo Putih. Mengapa Nyi Blorong sampai memberikan pusaka ampuh itu untuk mengalahkan Gendruwo Putih? Bisa jadi, Gendruwolah yang menyebabkan Nyi Blorong sampai terjepit di kayu Sambi tersebut. Mungkin terlalu panjang untuk diceritakan, hingga tak ada penjelasannya, dan memang tidak terlalu penting untuk dikemukakan.

Pusaka Jalarante itu sendiri dalam dunia ilmu kanuragan namanya adalah Jalak Rante. Bukan berupa selendang, melainkan penggabungan antara ilmu kesaktian dan kekuatan tenaga dalam. Intinya dengan ilmu ini orang dapat menguasai secara keseluruhan jiwa dan raga orang lain, bahkan bila musuh menyerang dengan senjata tajam dengan gerakan tertentu, penyerang tersebut bisa berbalik menyembelih lehernya sendiri. Ilmu ini juga bisa untuk menghantam dari jarak jauh dengan kekuatan konsentrasi dan pikiran. Bila seseorang sudah menguasai betul ilmu ini dia akan bisa memecahkan botol dari jarak puluhan meter hanya dengan kedipan mata saja. Ilmu ini sangat ampuh untuk menghadapi musuh dari bangsa manusia ataupun mahluk halus, baik musuh tersebut sendiri ataupun orang banyak sekalipun. Dengan ilmu ini semua gerakan tubuh berupa kibasan tangan, kedipan mata, gelengan kepala, gerakan jari-jari menjadi suatu yang berbahaya bagi musuh.

Makna tersirat dari hal ini adalah, bahwa pengenalan, pemahaman dan penguasaan terhadap diri sendiri merupakan hal penting yang dapat menjadi kekuatan untuk mengalahkan apa saja. Sedulur papat lima pancer adalah intisari pusaka Jalak Rante ini. Subanjar (dalam kondisinya sebagai Gendruwo Putih) dapat dikalahkan dengan mudah karena menggunakan pusaka Jalak Rante yang sesungguhnya “hanya” berfungsi seperti cermin yang membalikkan setiap sinar yang menerpanya.

Maka menyimak lakon ini, bukan lagi mencari jawab pertanyaan mengenai asal usul nama Tunggorono, karena itu sudah terjawab di pertengahan cerita. Dan ternyata, pamungkas dari lakon ini adalah sebuah pesan ruwatan. Betapa pentingnya orangtua melaksanakan hajatan ruwatan manakala memiliki sepasang anak lelaki dan perempuan, atau disebut Genthana Genthini.

Bahasan Penyajian

Ludruk, adalah seni pertunjukan (teater) rakyat Jawa Timur yang dalam penampilannya memiliki ciri khas format/struktur: Remo, Kidungan, Lawak dan Cerita Utama, dengan musik iringan Jula-Juli. Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa sebetulnya keempat unsur tersebut merupakan sebuah kesatuan yang utuh. Ludruk bukan sekadar pertunjukan drama rakyat yang diawali dengan remo, kidungan dan lawak. Namun ketiganya menyatu dalam satu bagian tak terpisahkan dengan cerita utama.

Tetapi dalam sajian ludruk Budi Wijaya ini, dalam adegan lawakan justru diakhiri dengan kalimat (kurang lebih) “mari kita saksikan pertunjukan ludruk Budi Wijaya……” Bangunan psikologis yang sudah terbangun sejak awal bahwa penonton sedang menyaksikan pertunjukan ludruk menjadi buyar dengan adanya kalimat tersebut. Mereka seperti mendapat kesan pertunjukan ludruk belum dimulai, itu tadi hanya acara pembuka saja. Lantas, apa bedanya dengan sajian pembuka berupa tarian Pasar Turi dan Suramadu oleh Sanggar Tydiff yang mengawali acara ini?

Secara keseluruhan, kentara sekali sajian pertunjukan ini hanya mengejar waktu agar semua cerita dapat disampaikan di atas panggung. Dengan demikian, beberapa adegan yang mustinya menarik sebagai tontonan, gagal dihadirkan. Sebut saja beberapa kali pertarungan antara Subanjar dengan Ki Tunggo yang sakti itu, dengan Joko Piturun yang melemparnya hingga ke danau oleh sabetan pusaka dari ibunya, juga pertarungan pamungkas antara Subanjar melawan Joko Piturun lagi yang sudah berganti pusaka ampuh pinjaman dari ayah Subanjar sendiri. Tentu saja, jatah durasi yang sangat terbatas memang menjadi kendala, tetapi kreativitas sutradaralah yang seharusnya mampu memecahkan kendala waktu itu.

Salah satu alternatifnya adalah, tidak semua memvisualkan cerita tersebut menjadi adegan di atas panggung. Beberapa bagian dapat disampaikan cukup secara naratif untuk mengisahkan (misalnya) siapa Ki Tunggo, siapa Joko Piturun dan asal-usul senjata pusakanya, juga pemberian pusaka Jalak Rante dan bahkan apresiasi mengenai pentingnya ruwatan anak genthana-genthini. Semua narasi itu dapat disampaikan ketika adegan perkelahian tengah berlangsung. Misalnya, sambil berkelahi Joko Piturun dapat saja berkata pada Subanjar, “oo kamu belum tahu kesaktian pusaka dari ibuku ini yaa. Namanya Ketela Maya, yang sanggup menghancurkan gunung….” Dan seterusnya. Dengan demikian adegan seorang ibu memberi wejangan pada Joko Piturun dapat dihilangkan demi efisiensi waktu.

Perkelahian di atas panggung adalah sebuah tontonan yang atraktif dan sangat tidak membosankan ketimbang dialog yang bertele-tele. Itu sebabnya pemain ketroprak sampai perlu belajar kungfu agar dapat bertarung secara atraktif di panggung. Sementara itu iringan musik dapat dibuat dinamis sehingga sanggup membangunkan penonton yang ngantuk atau membuat bersemangat mereka yang jenuh. Dalam sebuah pertunjukan ludruk di Jombang, iringan musik sampai menggunakan seperangkat drum dan bersuara gemuruh seperti musik rock. Dalam iringan musik yang seperti ini, maka fluktuasi suasana yang tercipta menjadi terbuka lebar, sehingga iringan musik mampu menggiring emosi penonton dan memberikan diksi yang tepat terhadap dialog atau adegan yang perlu ditonjolkan. Tentu saja, dinamisasi musik seperti ini tidak lagi menjadikan pertunjukan monoton. Musik bukan lagi sekadar ning-nong-ning-gung yang menjadi pelengkap sebuah pertunjukan. Posisi musik memiliki perannya sendiri yang sangat vital.

Memang, mungkin tidak semua adegan perkelahian dipertunjukkan lebih lengkap, namun setidaknya saja saat Subanjar berkelahi untuk kali kedua dengan Joko Piturun, merupakan adegan terakhir yang menegangkan, karena menentukan hidup matinya Subanjar. Apakah Subanjar ikut mati ketika disabet Jalak Rante? Apakah hanya mengusir gendruwo itu saja dari dalam tubuhnya? Dalam suasana psikologis seperti itulah maka penyampaian dialog yang menjadi pesan penting dari cerita dapat disampaikan secara bermakna. Dan bukan hanya sekadar berkata-kata tanpa diksi yang jelas. Tentu saja iringan musiknya musti tanggap dengan hal ini.

Biasanya, segmen cerita utama dalam pertunjukan ludruk menjadi membosankan karena ceritanya hanya itu-itu saja, dialognya tidak menarik, cenderung datar. Maka dengan mengeksplorasi adegan perkelahian, tentu menjadi tontonan yang segar. Sama seperti pertunjukan wayang kulit, yang menjadi dinamis ketika adegan perang. Tetapi, tentu itu bukan satu-satunya cara menjadikan pertunjukan menarik.

Alternatif lainnya adalah dengan cara tetap mengikutsertakan pemain dagelan dalam sepanjang pertunjukan. Biasanya berperan sebagai pembantu, yang bebas nyeletuk sesukanya sehingga membuat pertunjukan sedikit menyegarkan. Dan ini sudah dilakukan oleh pemain Citro, yang menjadi “pembantu” dalam perguruan tersebut. Yang kemudian menjadi dilemma adalah ketika pemain utama ikut-ikutan ndagel. Pilihan ini harus ditentukan sejak awal karena menyangkut format pertunjukan secara keseluruhan. Apakah para pemainnya tetap serius, sementara hanya pemeran pembantu saja yang ndagel? Kalau semua pemain bisa dan diperbolehkan ikut ndagel, jangan-jangan ada yang menggugat ini bukan ludruk. Itu sebabnya Kartolo langsung mengklaim pertunjukannya sebagai Ludruk Banyolan. Tidak ada yang “serius” sepanjang jalannya cerita, meski sebetulnya ndagel itu sesungguhnya butuh keseriusan juga.

Celakanya, pemain yang semula dikesankan sebagai sosok yang berwibawa, disegani, dalam penampilan berikutnya malah cengengesan. Itulah yang terjadi pada sosok Guru Cahyo Tunggal. Ketika kali pertama muncul, Cahyo Tunggal tampil dingin, tidak ada celetukan sedikitpun yang mengganggu kewibawaannya sebagai pemimpin sebuah padepokan. Tetapi dalam penampilan berikutnya, lha kok malah ikut-ikutan ndagel. Sangat disayangkan perubahan karakter ini. Kalau mau melucu, juga tidak total. Terbukti ketika ada penonton anak-anak yang nyeletuk dialog pemain, tidak ada respon balik sedikitpun. Padahal ini peluang untuk menjebol tembok batas penonton dan pemain. Andai hal ini terjadi pada Kartolo, langsung jadi dialog interaktif dengan penonton. Jadi, format seperti apakah yang hendak ditawarkan ludruk Budi Wijaya ini? Ludruk serius atau Banyolan? Atau setengah-setengah? Pilihan harus ditentukan, dan semuanya mengandung konsekuensi tersendiri. Kartolo sudah menentukan pilihan dengan berani. Namun itu bukan pilihan satu-satunya.

Pilihan karakter ini juga ikut menjadi parameter dari sudut mana hendak melakukan penilaian. Misalnya saja, apakah “wajar” masih ada kursi di panggung ketika menceritakan suasana Pasarean Asem Boreh? Mana ada kursi di pekuburan? Kursi ini juga tiba-tiba menjadi properti di rumah Ki Tunggo, sebagai tempat meletakkan barang dan bahan membuat rono. Dalam format Ludruk Banyolan, keberadaan kursi di kuburan ini dapat menjadi bahan dagelan yang menarik, meski sebetulnya sebuah kecelakaan properti. Dalam format ludruk banyolan, kesalahan dapat ditoleransi dengan enaknya. Seorang pemain bisa saja merespon kesalahan itu “pancen tak gawe ngono kok”.

Demikian pula ketika Sekar Dinulih telat muncul di panggung, Cahyo Tunggal sudah berkomentar soal kedatangannya. Adegan demi adegan yang berlangsung seperti memburu keterbatasan waktu, meluncur begitu saja sehingga membuat pemain tak berkutik memainkan kreativitasnya. Aspek cerita sedemikian menguasai seluruh permainan kali ini.

Padahal, ciri khas ludruk adalah kekuatan improvisasi. Bagaimana membangun suasana interaktif dengan penonton, dilakukan dengan merespon celetukan dan reaksi penonton atau justru sengaja memancing agar penonton berkomentar. Termasuk pula, manakala ada adegan yang tak direncanakan dalam permainan. Peluang improvisasi ini terbuka lebar saat segmen dagelan.

Tetapi yang terjadi dalam lakon ini, para pemain dagelan Budi Wijaya nampaknya berpegang teguh dengan “skenario” semula sehingga sama sekali tidak memberikan kesempatan penonton merespon banyolannya. Bahkan, ketika Citro melemparkan topinya pada panjak gamelan, dan kemudian ada penonton di luar yang kembali melemparkannya ke atas panggung, Darmaji yang terkena lemparan tidak memberikan reaksi apapun, juga Joker. Citro juga dengan santainya kembali mengambil topi dan mengenakannya lagi. Sangat disayangkan, tidak muncul improvisasi celetukan sedikitpun dalam adegan topi ini.

Catatan Penutup

Ludruk adalah sebuah pertunjukan rakyat yang saat ini sedang menghadapi tantangan jaman. Dibutuhkan penyiasatan yang cerdas untuk dapat bertahan di tengah kompetisi pertunjukan lain yang lebih memikat. Dalam pementasan periodik yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jatim ini, seharusnya dapat menjadi semacam laboratorium bagaimana menyajikan pertunjukan yang menarik. Batasan waktu yang disediakan seharusnya bukan menjadi hambatan, namun justru sebagai tantangan kreativitas. Dengan kata lain, kalau misalnya hanya dengan durasi waktu dua jam saja sudah membosankan, apalagi kalau sampai 4-5 jam sebagaimana pertunjukan sesungguhnya.

Beruntung sajian ludruk Budi Wijaya ini sanggup mengikat penonton hingga pertunjukan berakhir. Lawakan-lawakan mereka memang lucu dan sanggup menggetarkan pendopo tempat pertunjukan berlangsung. Bahkan penonton anak-anak kecil masih tetap bertahan di depan panggung meski sesi dagelan sudah lama berlalu. Tentu saja, hal ini tidak seharusnya menjadikan cepat berpuas diri. Perbaikan demi perbaikan harus terus dilakukan agar ludruk tidak hanya berjalan di tempat, sementara penontonnya sudah jauh di depan.

Kedua, Budi Wijaya musti memilih format secara jelas apakah menampilkan semacam ludruk banyolan mengikuti genre Kartoloan, ataukah serius dengan memisahkan antara dagelan dan adegan utama, atau juga perpaduan antara keduanya. Ketika pilihan sudah ditentukan, maka penonton akan siap dan mengenalinya sebagai ciri ludruk tersebut.

Yang terakhir, perlu ada terobosan kreatif agar ludruk tidak semakin tersekat-sekat antara dagelan dan cerita utama. Sudah menjadi rahasia umum bahwa segmen dagelan disukai penonton, tetapi ketika masuk cerita utama penonton pelan-pelan meninggalkan arena. Itu sebabnya kemudian sosok pelawak lebih dinantikan penonton ketimbang aktor utama yang sebetulnya bermain prima. Bagi ludruk yang “tidak kuat iman” maka memperbesar porsi dagelan sehingga tetap memikat penonton. Padahal, justru karena adegan dagelan itu disukai penontonlah maka mustinya dapat dimanfaatkan menjadi sarana promosi agar penonton penasaran hingga tetap bertahan mengikuti jalannya cerita.

Selama ini, materi dagelan sama sekali tidak ada hubungannya dengan cerita utama. Kemunculan pemain berkarakter Madura bersama istrinya yang bukan Madura dalam segmen dagelan, semula dikira merupakan bagian dari cerita utama. Ternyata bukan. Kemunculan mereka hanya untuk lucu-lucuan belaka. Dalam seluruh dialog segmen dagelan, tidak satu katapun menyebut Tunggorono, demit, gendruwo, Nyi Blorong, pusaka Ketela Maya atau Jalak Rante dan sebagainya. Itu semua adalah kata-kata kunci yang dapat “dimainkan” dalam dagelan sehingga penonton penasaran untuk mengikuti babak utama dalam permainan ludruk ini.

Apakah selama ini sudah ada grup ludruk yang menjadikan segmen dagelan sebagai sarana promosi untuk menonton cerita utama? Inilah pertanyaan penting yang perlu dikaji agar ludruk tidak semakin ndagel dan menjadikan pelawak mendominasi. Karena sejatinya ludruk adalah seni teater rakyat yang kaya variasi, bukan semata-mata berisi dagelan. Bagaimana caranya seusai pertunjukan penonton justru terkesan dengan sosok Subanjar, dan bukan malah Citro atau Joker. Itulah tantangan ludruk sekarang ini. (*)

Surabaya, 27 Februari 2011

Iklan

5 Tanggapan

  1. puanjang dik tulisannya

  2. dl Anda Nara sumbernya yg di wawancara siapa??? dan d tempat mana?

  3. Ini ARTIKEL, bukan wawancara. Di atas sudah ditulis: Catatan Pengamatan Pentas Periodik
    Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu 26 Februari 2011. Mudah2an sudah jelas..

  4. bgussssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss jelas

  5. baguzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz……………………. baguz baguz baguzzzzzzzzzzzzzz……………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: