Ludruk yang (tidak) Membosankan

Catatan pertunjukan: Ludruk Warna Jaya Sidoarjo, 25 Maret 2011, Taman Krida Budaya (TKB) Jatim, Kota Malang dan Ludruk RRI Surabaya, 26 Maret 2011, di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), Surabaya.

Oleh Henri Nurcahyo

Sebagai sebuah seni pertunjukan, tantangan ludruk adalah bagaimana dapat tampil sebagai tontonan yang tidak membosankan. Ludruk harus mampu memikat dan mengikat penonton sampai dengan pertunjukan berakhir. Persoalan cerita yang dibawakan memang penting, namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana membawakannya. Ludruk menghadapi tantangan stagnasi di tengah laju perkembangan zaman yang sedemikian pesat ini.

Penampilan Ludruk Warna Jaya Sidoarjo di TKB Malang dan Ludruk RRI Surabaya di TBJT dalam dua pertunjukan di hari yang berurutan, menarik dikaji untuk memahami bagaimana ludruk dapat tampil menarik sebagai sebuah seni pertunjukan. Penampilan keduanya layak dibandingkan untuk dapat memberikan gambaran persoalan ludruk saat ini. Meski sama-sama dipentaskan oleh lembaga formal pemerintah (TBJT) namun pergelaran ludruk Warna Jaya dilakukan dengan menggunakan setting teropan sebagaimana pentas untuk tanggapan. Sedangkan ludruk RRI sepenuhnya menggunakan setting panggung standar professional seni pertunjukan.

Disamping itu, kedua grup ludruk tersebut sama-sama memiliki sejarah yang panjang sebagai grup tua, namun dalam perjalanan nasibnya sungguh berbeda. Berdiri sejak tahun 1963, ludruk Warna Jaya (WJ) telah beberapa kali pecah dan melahirkan kelompok ludruk baru. WJ telah melewati masa-masa keemasannya. Sementara ludruk RRI dengan statusnya sebagai “ludruk negara” kesejahteraan anggotanya sudah terjamin sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Bedanya lagi, ludruk WJ berada dalam komunitas pedesaan di Balung Bendo, perbatasan Sidoarjo dan Mojokerto,dengan idiom-idiom yang khas kehidupan agraris. Sedangkan ludruk RRI bermukim di pusat kota yang sangat akrab dengan isu-isu aktual. Belum lagi kualitas pemainnya, dimana RRI masih utuh dan malah bertambah kuat dengan tenaga-tenaga muda yang terdidik. Sementara ludruk WJ sudah banyak ditinggalkan pemain berkualitasnya dan mendirikan ludruk baru.

Masih ada beberapa hal lagi yang membedakan antara keduanya, namun keduanya sama-sama berhadapan dengan “pakem” yang menyebutkan, bahwa Ludruk adalah seni pertunjukan (teater) rakyat Jawa Timur yang dalam penampilannya memiliki ciri khas format/struktur: Remo, Kidungan, Lawak dan Cerita Utama, dengan musik iringan Jula-Juli (dalam ensembel gamelan Jawa). Pakem inilah yang kerapkali membelenggu banyak kelompok ludruk sehingga sulit menghadirkan inovasi dan kreativitas yang seharusnya dilakukan. Pakem dipahami hanya secara tekstual belaka, tanpa ada upaya untuk menyiasatinya. Ludruk RRI dan WJ menunjukkan bagaimana perbedaan menyikapi pakem tersebut.

Tidak Lagi Berjaya

Ludruk Warna Jaya yang berpusat di desa Suwalo, Kec. Balongbedo, Sidoarjo ini, boleh dikatakan telah melewati masa-masa kejayaannya. Kondisi terakhir hanya mampu pentas sekitar 5-7 kali sebulan, padahal dulu pernah hampir sebulan penuh tanpa jeda. Sedemikian seringnya tanggapan ini sampai-sampai ludruk Warna Jaya dulu selalu membayang-bayangi kelarisan ludruk Karya Budaya Mojokerto, yang sampai sekarang masih tetap laris dan bertahan itu.

Soal sepinya tanggapan itu agaknya juga dipengaruhi oleh hujan yang sepertinya tidak pernah berhenti. Bukan hanya Warna Jaya, ludruk laris Karya Budaya pun harus bersabar karena order tanggapan juga jauh menurun seiring dengan turunnya hujan. Bagaimanapun pihak penanggap biasanya adalah orang-orang desa kaya yang berbasis pada usaha pertanian. Dalam musim hujan yang tak teratur ini sangat mengganggu masa panennya, sehingga juga berimbas pada minatnya mendatangkan ludruk. Dan bukan rahasia lagi bahwa anggota ludruk WJ juga ikut dalam tanggapan grup-grup ludruk lain demi mempertahankan tegaknya periuk nasi mereka.

Warna Jaya didirikan tahun 1963 oleh Supardi (alm) yang bertahan menjadi ketua selama 15 tahun. Meski sejak awal berada dalam binaan Koramil setempat, namun tidak berpengaruh secara signifikan dalam perkembangannya. Peran Koramil sebagai pelindung keamanan sangat dirasa manfaatnya ketika masa-masa awal ludruk ini berdiri, karena waktu itu banyak ludruk yang terseret dalam pertarungan politik. Tidak sedikit grup ludruk yang menjadi corong Lekra, onderbouw PKI, sehingga kemudian membawa kehancurannya. Dalam lindungan Koramil inilah WJ bisa selamat, sebagaimana ludruk-ludruk lain yang dilindungi oleh tentara dan polisi.

Namun sejak sepeninggalnya Supardi, secara perlahan WJ menunjukkan tanda-tanda kemundurannya. Tahun 1970 grup ini pecah dengan melahirkan ludruk baru bernama Bintang Jaya yang berlokasi di Krian. Tahun 1990-an pecah lagi dengan lahirnya grup baru Bintang Warna yang dipimpin oleh Hasan. Setelah itu juga masih muncul pecahan-pecahan baru seperti Sumber Jaya, Warna Baru, juga Ludruk Arjuno yang kemudian berubah nama menjadi Warna Jaya Abadi.

Dari catatan perjalanan perpecahannya itu saja dapat dibaca bahwa yang masih bertahan dalam WJ adalah “sisa-sisa laskar Pajang”. Padahal dari WJ inilah pernah bercokol pelawak ludruk legendaris, Basman. Pada masa-masa itulah WJ mengalami masa booming sampai akhirnya Basman membentuk grup sendiri bersama Kartolo cs. Dan sebelum hijrah ke RRI, nama-nama seperti Agus Kuprit dan Momon adalah alumni Bintang Jaya, pecahan Warna Jaya.

Dalam penampilannya di TKB Jatim Malang itu (25/3) kelihatan sekali WJ sudah tidak mampu menunjukkan kedigdayaannya. Pemain utamanya harus ngebon dari Jombang, tandaknya dari Mojokerto, demikian pula sejumlah pendukung lainnya. Tidak ada bintang yang layak dibanggakan dari grup ini. Satu-satunya yang masih membuat sedikit daya tarik adalah pelawak Congek, yang penampilan, vokal dan gayanya sangat mirip dengan pelawak Joker dari ludruk Budi Wijaya Jombang.

Soal bon-bonan ini memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan ludruk, bahkan juga dalam semua pertunjukan tradisional. Pemain dari grup yang satu ikut main di grup yang lain itu sudah biasa. Bahkan pada tingkatan tertentu sampai harus berkompetisi saling menaikkan honor untuk dapat merebut pemain handal, terutama pelawak. Ada yang mudah tergoda, namun ada juga yang tetap setia dengan grupnya meski dengan imbalan yang lebih menggiurkan. Menurut pengakuan Edi Karya, grup ludruk Karya Budaya dapat mengklaim tidak pernah ada anggotanya yang keluar dan kemudian mendirikan grup ludruk baru. Kewibawaan dan kharisma Cak Bantu (alm) sebagai pendirinya masih tetap membekas hingga sekarang, meski ludruk ini kemudian dipimpin oleh Edy Karya, anak Cak Bantu.

Persoalan sumberdaya manusia (SDM) itulah yang membelit semua grup ludruk. Sangat manusiawi ketika ada pemain ludruk yang ikut bermain atau bahkan pindah ke grup lain dengan pertimbangan jaminan kesejahteraan yang lebih menjanjikan. Dalam hal ini ludruk RRI tidak dapat dijadikan ukuran, karena semua pemainnya, termasuk pemusik, sudah mendapatkan gaji tetap sebagai pegawai RRI. Konsekuensinya, mereka juga diberdayakan menjadi penyiar, terutama dalam siaran-siaran yang bernuansa tradisional.

Tidak heran jika kemudian banyak pemain ludruk asal luar kota yang bergabung dengan ludruk RRI yang tentunya berpusat di Surabaya ini. Menurut penggiat ludruk RRI, Hengki Kusuma, hanya sekitar 30 persen atau empat orang saja pemain yang betul-betul berdomisili di Surabaya, yaitu Momon, Alimin Tunggal, Gunawan dan Muali. Selebihnya dari luar kota semua, terutama Sidoarjo. Potensi pemain ludruk Sidoarjo ini memang menjadi persoalan tersendiri, sehingga ¬¬eman-eman kalau ternyata kondisi ludruk di Sidoarjo sendiri kini boleh dikatakan lumpuh. Sejak sepeninggalnya Djoko Handojo, pensiunan tentara yang menjadi ketua Paguyuban Ludruk Sidoarjo (Palsi), potensi ludruk Sidoarjo nyaris terabaikan.

Representasi ludruk Sidoarjo sekarang ini memang hanya tinggal Warna Jaya. Meski ada beberapa grup lain yang ternyata malah lebih memprihatinkan kondisinya. Warna Jaya dipimpin oleh Drs. Mulyo Mustofa, kelahiran tahun 1957, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SDN di Ngglatik, Ngoro, Mojokerto. Mulyo memimpin grup ini sejak tahun 1979, setelah sebelumnya beberapa kali ganti ketua sepeninggal pendirinya. Menurut Mulyo, dalam grup ini ada tradisi pemilihan ketua setiap tahun sekali, namun ketua lama dapat dipilih kembali. Sulit memprediksi, apakah Warna Jaya masih akan mampu bertahan atau dapat meraih kembali masa kejayaannya ketika manajemen pengelolaannya dibuat model “setengah juragan” sebagaimana yang dituturkan Mulyo.

Daya Tarik Dagelan

Tidak dapat dipungkiri, bahwa daya tarik pertunjukan ludruk memang pada aspek dagelannya. Sudah jamak terjadi, begitu selesai babak dagelan, penonton berangsur-angsur meninggalkan arena dan pulang. Apalagi kalau ada pelawak yang sudah populer, maka kemunculannya sangat dinanti dan setelah itu ditinggalkan. Tidak heran Kartolo Cs lantas mengklaim sebagai Ludruk Banyolan, karena sepanjang lakonnya memang sarat dengan dagelan belaka. Bahkan boleh dibilang semua pemainnya memang dikonstruksi sebagai pelawak semua.

Biasanya, untuk menyiasati kecenderungan penonton yang tertarik pada dagelan itu, sutradara ludruk mempertahankan kemunculan pelawak dalam adegan-adegan selanjutnya hingga babak terakhir. Dan biasanya pula, posisi pelawak selalu menjadi pembantu rumahtangga karena dalam posisi itu mereka dapat dengan bebas bermain cengengesan (cenderung seenaknya, berkomentar asal-asalan, yang penting dapat memancing penonton tertawa).

Pada ludruk Warna Jaya, andalan satu-satunya pada pelawak Congek, yang mampu mengundang tawa pada babak dagelan, dan sedikit-sedikit menolong tawarnya pertunjukan ketika dia juga berperan sebagai orangtua dari pemeran utama. Namun hanya dengan mengandalkan Congek ternyata belum memadai, masih belum mampu mencairkan adegan-adegan yang berlangsung datar dan khas ludruk.

Berbeda dengan ludruk RRI dengan bintang pelawak Agus Kuprit dan Tawar, yang masih mendapatkan porsi kuat sepanjang pertunjukan, meski mereka juga berperan sebagai pembantu dan pemain pendukung biasa. Dan yang sangat menarik, babak dagelan dalam ludruk RRI ini sama sekali tidak dibuat terpisah dengan babak cerita. Pelawak Momon, Agus Kuprit dan Tawar dalam adegan dagelan itu ternyata juga sekaligus memberikan informasi pada penonton soal peran mereka dalam pertunjukan utama. Bandingkan dengan pertunjukan ludruk Budi Wijaya Jombang bulan lalu (dan juga banyak grup ludruk lainnya) yang mengakhiri babak dagelan ini dengan kalimat: “Selamat menyaksikan”.

Memaksimalkan babak dagelan sebagai promosi cerita utama ini merupakan kelebihan ludruk RRI. Bukan hanya pemerannya, namun juga sekilas cerita yang bakal disajikan ikut dipromosikan. Sehingga babak dagelan menjadi sama sekali tidak terpisah dengan babak cerita utama, yang sudah seharusnya memang menjadi satu keutuhan dengan Ngremo, dan Kidungan Jula-juli. Ludruk RRI Surabaya telah membuat terobosan dengan menjebol sekat-sekat tersebut.

Dalam babak dagelan inilah pelawak memiliki kebebasan penuh untuk bicara mengenai apa saja. Kalau dalam pertunjukan wayang kulit, setara dengan babak Gara-gara, yang biasanya berisi pesan-pesan sponsor, menyindir sana-sini dan tentunya juga mengedepankan dagelan. Justru karena kebebasanya itulah maka sudah selayaknya pelawak dapat memanfaatkan secara maksimal demi daya tarik ludruk itu sendiri.

Pemanfaatan itu misalnya, sebagaimana yang sudah dilakukan RRI, dengan cara mempromosikan intisari atau gambaran sekilas dari cerita utama. Kedua, melemparkan lawakan-lawakan segar yang terkait dengan isu aktual sebagaimana berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, karena kedekatannya dengan komunitas perkotaan, dan juga mungkin karena pentas di Surabaya, maka ludruk RRI menyelipkan isu mengenai teror bom buku, sesekali nyerempet soal Gayus Tambunan dan sebagainya.

Kreativitas pelawak juga diuji dalam babak dagelan ini, sejauh mana mereka mampu memunculkan banyolan-banyolan (humor) baru, atau hanya sekadar mengulang-ulang banyolan lama sehingga mudah ditebak penonton. Apalagi, seolah sudah menjadi ciri khas banyolan ludruk, selalu ada banyolan teka-teki, banyolan mengenai bahasa asing atau bahasa daerah lain, dan banyolan mengenai dunia hewan.

Dalam hal mengelola banyolan lama ini masih belum ada yang mengalahkan Kartolo, sehingga tetap mampu mengecoh penonton dengan plesetannya ketika ada banyolan lama yang diulang kembali. Sungguh ironis, misalnya, kalau saja pelawak memunculkan banyolan lama, kemudian ada penonton nyeletuk dan berhasil menebak, kemudian pelawak itu sama sekali tidak merespon. Soal merespon penonton inilah yang menjadi kekuatan Kartolo, yang seharusnya juga menjadi andalan semua pertunjukan ludruk.

Mengelola Cerita

Bagaimana menyajikan cerita dalam pertunjukan ludruk, sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang isi ceritanya itu sendiri. Apalagi dalam lakon-lakon legendaris seperti Sarip Tambakoso, Jaka Berek, Sawunggaling dan sebagainya, yang sudah sangat dihapal isinya oleh penggemar ludruk. Demikian pula kalau ludruk menghadirkan cerita dari legenda yang juga sudah diketahui secara umum.

Ludruk Warna Jaya Sidoarjo, menyajikan cerita “Kabut di Gunung Penanjakan” namun ternyata isinya sangat mirip dengan legenda terciptanya kawah Tengger. Nama-nama tokoh seperti Ki Bromo, Jaka Seger dan Rara Anteng, bukan hal yang asing selama ini. Dan ternyata, Warna Jaya hampir tidak memberikan inovasi dalam penyajiannya sehingga penonton tidak mendapatkan sesuatu yang menyegarkan.

Menurut Mulyo, cerita yang disutradarai oleh Sawono ini terhitung sangat jarang dipentaskan, dan kali ini diangkat kembali karena dinilai relevan dengan peristiwa Gunung Bromo yang masih terus menyemburkan awan dan debu itu. Memang menjadi pertanyaan, mengapa ludruk yang berasal dari Sidoarjo justru mengangkat legenda dari kota lain. Katanya atas pesanan panitia, namun setelah ditelusuri ada salah persepsi terhadap “pesanan” itu. Maksudnya, angkatlah cerita yang berbasis daerah setempat.

Mengapa tidak memilih cerita terkait dengan Lumpur Lapindo misalnya. Katakan saja dongeng Timun Emas, ini salah satu alternatif lakon yang dapat dieksplorasi sedemikian rupa terkait dengan semburan lumpur panas tersebut. Bukankah dalam dongeng itu dikisahkan si gadis Timun Emas melemparkan terasi yang kemudian menjelma menjadi lautan lumpur? Masih banyak dongeng lain yang dapat digali, seperti legenda Candi Pari, Sarip Tambakoso, dan juga Cindelaras atau dongeng-dongeng lain berbasis Cerita Panji. Ingat, Sidoarjo adalah pusat kerajaan Jenggolo yang justru menjadi asal muasal Raden Panji Asmorobangun, tokoh utama dalam Cerita Panji.

Kisah dalam ludruk Warna Jaya ini menghadirkan sosok Ki Bromo, lelaki sakti mandraguna namun memiliki sifat kurang terpuji. Demi menggenapi kesaktiannya, dia nekat harus menikahi Rara Anteng meski gadis itu sudah punya tunangan bernama Jaka Seger. Untuk menolak secara halus, Rara Anteng mengadakan sayembara, bahwa Ki Bromo harus mampu membuat kawah dengan hanya mengunakan tempurung kepala (bathok) dalam tempo kurang dari semalam. Sudah dapat diduga, berkat kesaktiannya kawah itu hampir saja diselesaikan ketika kemudian terdengar kokok ayam (yang memang direkayasa) sehingga Ki Bromo merasa gagal menjalankan tugasnya.

Sebelum menghembuskan nafas, Ki Bromo mengeluarkan kutukan bahwa pasangan Rara Anteng – Jaka Seger akan punya 25 anak, dimana setiap tahun harus mengorbankan satu demi satu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo. Dalam perjalanan waktu, korban anak itu kemudian diganti dengan kepala hewan dan aneka makanan, namun ternyata banyak yang menadahnya di bibir kawah. Ketika kemudian belakangan ini Bromo suka meletus, ini adalah sebuah isyarat bahwa ada sesuatu yang salah. Bukankah pesannya agar manusia selalu ingat janjinya, harus rajin bersedekah, dan selalu merawat alam?

Upaya untuk menarik minat penonton ini bukan berarti tidak dilakukan ludruk Warna Jaya. Adegan-adegan perkelahian nampaknya dijadikan andalan sehingga mendapat porsi waktu yang lumayan banyak. Lompatan demi lompatan salto dilakukan pemain untuk memberi kesan bahwa mereka memang memiliki kelebihan sendiri. Sayang kondisi panggung yang kurang menunjang sehingga masih sering suara glodhakan ketika pemain melakukan salto. Kualitas panggung kurang menunjang untuk adegan-adegan lompat-lompatan ini.

Sementara ludruk RRI Surabaya sama sekali menyajikan lakon yang sama sekali baru. Kisah kepahlawanan dari kampung Rungkut ini semata-mata fiktif, meski mengambil inspirasi dari daerah setempat. Pola ceritanya nyaris sama saja dengan kisah kepahlawanan lainnya, yaitu perlawanan rakyat pribumi menghadapi penjajah Belanda, yang diwarnai oleh kisah pengkhianatan dan penjilatan oleh bangsa sendiri. Tak lupa pula ada kisah asmara yang menjadi pemanis dalam lakon “Tragedi Bumi Rungkut” ini.

Sebagaimana lakon-lakon ludruk selama ini, sosok Belanda cenderung ditampilkan dengan lelaki yang selalu bilang en kamu, en kamu, kowe orang ekstrimis dan sebagainya. Namun dalam lakon ini sama sekali berbeda. Tidak ada tokoh Belanda sama sekali. Hanya ada sosok Mantri Kawedanan yang pribumi sebagai representasi penjajah Belanda, disamping antek-anteknya yaitu tukang pukul dan anak buahnya, Momon si pembantu setia, dan Carik Darpo yang menjadi orang kepercayaan Mantri.

Sosok Giman yang menjadi tokoh utama dalam lakon ini seperti menyampaikan pesan-pesan kepahlawanan dalam diri anak muda, yang tidak mau tunduk pada penguasa, tidak gila jabatan dan fasilitas, serta bersikap ksatria menghadapi musuh-musuhnya. Giman adalah anak lelaki yang patuh pada orangtua, siap berdiri paling depan dalam membela kehormatan keluarga maupun bangsanya.

Diceritakan, Giman berpacaran dengan anak Lurah, namun si gadis juga menjadi incaran Carik. Ibu Giman kemudian disiksa Carik Darpo karena berani melamar orangtua gadis untuk dijodohkan anaknya. Carik Darpo seperti menemukan alasan sangat tepat untuk melenyapkan Giman, juga Mat Gender, ayah Giman yang melarikan diri ke hutan Wonoayu. Itu semua demi upaya mencari muka dari penjajah Belanda karena Mat Gender dan Giman memang selalu menunjukkan perlawanan terhadap pemerintah.

Ibu Giman, Lurah Rungkut dan istrinya, ditawan Manteri Kawedanan, yang akhirnya dibebaskan semua oleh Giman setelah mendapatkan keris pusaka dari ayahnya. Pertarungan Giman dan Carik, juga antara tukang pukul Manteri dengan anak buah ayah Giman, menjadi atraksi yang menarik dalam pertunjukan ini. Apalagi keras pusaka itu dapat mengeluarkan sinar dan asap sehingga lumayan atraktif. Demikian pula ketika Ibu Giman dihajar oleh Carik Darpo, dahinya mengeluarkan (cairan yang menyerupai) darah. Ini menarik.

Kisah yang sederhana ini mampu disajikan dengan pendekatan teater modern sehingga mampu mengecoh penonton ketika pertunjukan hampir berakhir. Ketika sebagian pengunjung hendak beranjak, tahu-tahu dari arah penonton muncul Momon, antek Belanda, dalam keadaan terikat tanpa baju, digiring Agus Kuprit ke atas panggung sambil dipukuli. Ini sebuah ending yang kreatif meski tidak sama sekali baru.

Kreativitas dan Inovasi

Dua hal itu menjadi faktor utama bagi pertunjukan ludruk manakala masih ingin bertahan di masyarakat dalam perkembangan arus informasi dan hiburan yang sedemikian deras sekarang ini. Kreativitas bukan hanya dalam bentuk dan isinya, melainkan juga bagaimana cara menyajikannya. Sajian Tragedi Rungkut ludruk RRI ini menjadi salah satu alternatif bagaimana menyajikan cerita baru namun sama sekali masih “terasa bau ludruknya” (pinjam istilah almarhum Bawong SN).

Pertunjukan ludruk yang biasanya dimulai dengan tari Remo ternyata didobrak oleh RRI dengan potongan adegan perkelahian. Sajian tablo seperti ini memang bukan hal yang baru di kalangan pentas ludruk, Budi Wijaya juga melakukannya, namun setidaknya mampu memberi efek kejut bagi penonton. Permulaan pertunjukan tidak lagi berjalan lamban dan monoton.

Dan yang menarik, tari Remo sebagai pembuka acara dibawakan oleh dua penari, lelaki dan wanita. Inilah kreativitas yang menyegarkan di tengah tampilan ludruk yang begitu-begitu saja. Mereka bukan hanya sekadar menari berdua, namun menunjukkan kemampuannya menari dengan saling mendukung. Gerakan-gerakan penari lelaki yang menangkap dan melempar kembali selendang penari wanita menunjukkan ketangkasannya sebagai penari Remo yang bagus.

Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, kreativitas dan inovasi itu juga ditunjukkan dengan mempromosikan isi cerita dalam babak dagelan, serta mendobrak sekat babak antara dagelan dan cerita utama. Sama sekali tidak ada sekat, karena tahu-tahu pemain utama masuk dalam adegan dagelan tanpa harus ikut melucu. Penonton tidak menangkap adanya batas yang memang tidak perlu itu.

Masih dibutuhkan lagi upaya untuk terus menerus melakukan inovasi dan kreativitas agar ludruk dapat bertahan menghadapi tantangan zaman. Seorang peneliti ludruk, Henricus Supriyano pernah berujar, “listrik nyala ludruk mati”. Hal ini dimaksudkan ketika desa-masih masih belum teraliri oleh listrik, ludruk dapat hidup subur. Tetapi ketika aliran listrik menyala, masyarakat meninggalkan ludruk dan beralih ke kotak kaca bernama televisi. Ketika televisi masih menjadi barang baru di negeri ini, mungkin saja begitu, tetapi ketika masa transisi sudah berlalu sedemikian jauh, masihkan televisi membelenggu sedemikian kuat perhatian masyarakat sehingga enggan menonton ludruk?

Ludruk sudah selayaknya menjadi tontonan alternatif, bukan hanya di pedesaan, melainkan juga di kota. Penampilan ludruk Warna Jaya dan RRI Surabaya ini memberikan pelajaran berharga soal alternatif hiburan tersebut. WJ tampil dengan teropan utuh sebagaimana halnya ketika diundang hajatan di kampung, sementara RRI tampil di panggung yang sengaja dikemas sedemikian rupa untuk pertunjukan modern. Ludruk Warna Jaya semestinya dengan tampilan yang seperti itu mampu menghadirkan suasana pedesaan bagi masyarakat kota yang haus hiburan dan ingin merasakan klangenan terhadap desanya. Sementara RRI murni seperti pertunjukan kesenian modern lainnya.

Barangkali perlu dipikirkan, bagaimana menghadirkan kemasan teropan seperti Warna Jaya (yang menggunakan perangkat panggung milik Karya Budaya itu) namun dikelola secara professional dan dipentaskan di Surabaya. Misalnya, membuat panggung yang tidak pating gelodhak, mengatur tata suara yang bagus, tidak asal pasang mike sehingga berulangkali kesampluk pemain. Juga pengaturan layar belakang yang memang sesuai dengan adegannya. Tidak seperti kali ini, layar bergambar simbol Sura dan Buaya serta gedung-gedung bertingkat yang memberikan informasi bahwa kejadian itu sedang berlangsung di kota Surabaya. Padahal, mustinya tidak begitu.
.
Catatan Akhir

Lantaran keterbatasan waktu, maka sajian pentas periodik ludruk ini bagaikan pertunjukan “dalam satu helaan nafas” belaka. Tidak cukup menyajikan cerita yang rumit dan lengkap hanya dalam tempo dua jam saja. Namun justru menjadi tantangan tersendiri kalau hanya dalam tempo singkat itu ternyata tidak dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Terutama pertunjukan di TBJT yang notabene dihadiri orang-orang kota (meski mereka juga urban) musti mampu mengelola waktu dengan sebaik-baiknya agar tidak menjemukan. Dialog berpanjang-panjang saja sudah mengundang komentar “ngomong thok rek, kapan tukarane”.

Kepedulian pemerintah menggelar pertunjukan ludruk pada musim hujan ini sangat membantu pemasukan grup-grup ludruk karena mereka sepi tanggapan. Apalagi dengan pentas periodik setiap bulan, sehingga memberi kesempatan grup ludruk tampil. Belum lagi nanti ada festival ludruk yang memungkinkan banyak ludruk berkompetisi meningkatkan kualitas penyajiannya.

Pilihan tempat di pendopo Taman Budaya, dan bukan di dalam gedung Cak Durasim, mampu mendekatkan penonton kelas bawah untuk tidak sungkan-sungkan mendekat. Sudah sejak sore ada beberapa becak yang sengaja di parkir di halaman, para pedagang kaki lima juga leluasa menggelar dagangan di pelataran. Dan yang menggembirakan, panitia justru memberikan tempat lesehan persis di depan panggung meski harus membelakangi tamu-tamu kehormatan (kali ini kedatangan Sekdaprov Jatim, DR. H. Rasiyo, M,Si).

Terkait dengan beberapa catatan di atas, barangkali pelatihan Manajemen Panggung yang baru saja dilakukan selama dua hari oleh dan di Taman Budaya Jatim, setidaknya dapat diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme para pekerja ludruk. Sudah pada tempatnya sajian ludruk tidak dihadirkan asal-asalan belaka. Bahwa penonton ludruk makin kritis dan dewasa. Mereka akan segera beralih ke pertunjukan lain, terutama televisi, manakala ludruk tidak mampu memberikan santapan jiwa yang menyegarkan. (*)

Sidoarjo, 30 Maret 2011

Henri Nurcahyo
Pengamat Seni

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: