Kritik Sosial dalam Ludruk

Catatan Pengamatan Pementasan Bandit Blandong Wiroguno, Ludruk Wahyu Budaya Lamongan di Taman Budaya Jawa Timur, 28 Mei 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Mangan sepur lalap truck gandhengan
Anak pitik dipangan wulung
Nek wong ndhuwur-ndhuwur seneng gegeran
Dadi wong cilik tambah bingung

Itulah kidungan pertama yang dilontarkan ludruk Wahyu Budaya dari Lamongan dalam pementasan di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) Sabtu malam (28/5). Sebuah kidungan yang menyentak, justru pada kesempatan pertama. Sampiran pada kidungannya saja sudah “absurd” dan isinya menyuarakan keprihatinan rakyat kecil terhadap prilaku elit negeri. Dan tawa yang kemudian pecah adalah tawa yang satir, sebuah ekspresi menertawakan (nasib) diri sendiri sebagai rakyat kecil yang tak berdaya berhadapan dengan para pembesar negara.

Mereka hanya bisa mengeluh:

Iwak bethik akeh erine
Dadi wong cilik kok cik abote

Sepanjang lakon berjudul “Bandit Blandong Wiroguno” ini memang sarat dengan jeritan kemiskinan rakyat kecil, khususnya penduduk desa yang tinggal di desa tepi hutan di kawasan Lamongan. Jerit kemiskinan ini dicontohkan pada sebuah keluarga dengan dua anak kecil yang sampai pada kondisi tidak mampu memberi makan apa-apa kecuali air dalam kendi. Si ibu adalah buruh mencuci pakaian tetangga-tetangganya, sedangkan ayahnya seorang pengojek sepeda motor. Nasib nahas semakin mendera ketika sepeda motor sewaannya itu harus ditahan polisi dengan alasan tanpa kelengkapan surat-surat.

Adalah seorang Wiroguno yang dikenal sebagai bandit yang suka mencuri kayu jati milik negara. Bukan sekadar mencuri, namun kebiasaannya suka menolong warga desa dalam banyak hal. Mulai dari membetulkan pintu, memberi uang tunai, sampai dengan mewakili berurusan dengan kepolisian terhadap warga desa yang bermasalah. Isterinya sendiri tidak suka dengan kelakuannya, sehingga menggugat kembali janji sebelum menikah, bahwa dia tidak akan mencuri lagi kalau menikah.

Sosok Wiroguno adalah sang Dewa Penolong, mengingatkan pada Robinhood, atau Sunan Kalijaga ketika masih muda. Dia sadar betul bahwa perbuatannya merusak hutan, melanggar hukum dan harus berhadapan dengan aparat. Tapi dia punya logikanya sendiri ketika berhadapan dengan Polisi Hutan. Dikatakannya:

Sing nyolong kayu iku penduduk
Senjatane cuma pecok
Sedino durung tentu oleh sitok

Menurut logika Wiroguno, para perusak hutan sesungguhnya bukanlah orang-orang desa, yang hanya bersenjata kapak, melainkan para petugas sendiri yang dipercaya negara. Dan dengan sangat gamblang dipertontonkan bagaimana kelakuan Polisi Hutan yang terang-terangan menyuap aparat polisi agar meloloskan kayu curiannya. Sementara aparat polisi itu sendiri sudah terbiasa menerima dan meminta sogokan dari siapapun yang dapat diperalatnya. Atas nama hukum, rakyat kecil dipermainkan dan dibuat tidak berdaya. Segala sesuatu harus diukur dengan uang.

Kolusi, korupsi dan perilaku menyimpang hukum terang-terangan dipertunjukkan dalam pergelaran ludruk ini. Memang terlihat vulgar, bagaimana seorang polisi langsung minta “uang administrasi” untuk menyelesaikan sebuah urusan. Sampai-sampai ada penonton nyeletuk, “Polisi Lamongan.” Artinya, memang seperti itulah kelakuan oknum polisi dari Lamongan, daerah dimana ludruk ini berasal. Bisa jadi, seandainya pementasan ini dilangsungkan ketika Soeharto berkuasa, sangat mungkin pertunjukan dihentikan di tengah jalan, dan penontonnya digiring ke kantor Kodim.

Tapi itulah buah reformasi, ketika rakyat kecil mendapatkan ruang yang leluasa mengkritik penguasa tanpa tedeng aling-aling. Hal ini dapat dilakukan melalui pementasan ludruk, sebuah seni pertunjukan rakyat yang memang menjadi ekspresi rakyat kecil mengungkapkan aspirasinya dengan cara-cara yang polos. Mereka tidak membungkus kata-katanya dengan metafora apapun ketika harus menyuarakan kegelisahannya, ketidak-puasannya atas pelayanan aparat negara, atau ketika harus berhadapan dengan penguasa yang korup.

Ludruk sebagai wahana kritik sosial ini mengingatkan jaman Cak Durasim, tokoh ludruk legendaris yang terkenal dengan parikannya:

Pagupon omahe doro
Melok Nippon tambah soro

Ludruk lahir sebagai sebuah kesenian anti kemapanan dalam suatu struktur masyarakat Jawa Timur feodal dengan corak kekuasaan yang scandalous dan korup. Dalam dominasi corak kekuasaan tersebut, alih-alih melakukan gerakan perlawanan frontal di titik ekstrem, ataupun bersikap masokistik di sisi yang lain, masyarakat lantas menemukan bentuk sindiran (pasemon) sebagai pintu artikulasi yang populer dalam hal kritik dan kontrol kebijakan penguasa saat itu yang dipraktikkan dengan ludruk sebagai medianya, dengan parikan sebagai pisau yang secara tajam mblejeti kebejatan-kebejatan moral sosial politik penguasa. (Paring Waluyo, “Berebut Kuasa atas Ludruk”, http://www.averroes.or.id)

Catatan Pementasan

Ludruk Wahyu Budaya merupakan ludruk yang masih eksis di Lamongan meski anggotanya sebagian berasal dari kota lain. Pilihan ceritanya sangat kontekstual dengan kondisi desa dimana ludruk ini berada. Sebuah kawasan hutan jati yang nyaris gundul akibat illegal logging yang dilakukan aparat kehutanan sendiri. Sementara penduduk desa sudah lama dan jamak menjadi kambing hitam atas gundulnya hutan ini. Kolusi dan korupsi sudah biasa terjadi di depan mata kepala penduduk desa yang sehari-harinya dililit kelaparan, penderitaan dan penindasan psikologis oleh bangsanya sendiri.

Seperti ludruk lainnya, Wahyu Budaya mengawali pertunjukan dengan Remo, Kidungan, Lawak dan cerita utama. Ada yang menarik dalam sesi Dagelan ini, yaitu setelah berlangsung sekian lama, tiba-tiba muncul seorang lelaki berwajah sangar berkumis lebat dengan sorot mata tajam berjalan melintas sambil memanggul balok kayu. Hanya lewat, masuk ke panggung dan keluar lagi. Dialog lawak saling ledek langsung berhenti. Percakapan langsung beralih topik membahas sosok lelaki misterius ini. Siapa dia?

Seorang pemain lawak lantas menceritakan dengan mimik serius siapa lelaki yang memanggul kayu tadi. Dan adegan pun langsung masuk ke dalam babak cerita utama. Tidak ada pemisah dengan menyatakan “selamat menyaksikan” misalnya. Kemunculan lelaki misterius yang ternyata menjadi tokoh utama dalam cerita ini adalah sebuah “kreativitas” yang menarik.

Dalam lakon “Bandit Blandong Wiroguno” ini Wahyu Budaya berhasil mempertontonkan kelakuan brengsek aparat negara itu. Tidak ada kebencian, tidak perlawanan sama sekali dari penduduk, seolah-olah kebejatan seperti itu memang sudah demikian adanya. Bahwa kalau sepeda motor ditahan polisi itu membutuhkan duit untuk dapat menebusnya. Syarat ini seakan sudah menjadi keniscayaan. Tetapi ketika Karman, lelaki miskin yang jadi pengojek itu, hendak meminjam uang pada Wiroguno untuk menebus sepeda motornya, Bandit Dermawan itu dengan bijak berkata:

Meski aku sendiri tidak punya uang banyak, aku rela memberikannya untuk makan keluargamu. Tetapi kalau aku harus memberikan uang ini untuk polisi, emmhh gak sudi.

Keberhasilan lainnya, ludruk ini juga mampu melukiskan keperihan perut penduduk didera kelaparan. Dua anak kecil bersaudara, mendadak pulang sekolah sebelum waktunya lantaran perutnya sakit akibat belum terisi makanan sama sekali. Tidak ada makanan apapun di rumah yang dapat diberikan oleh ibu kedua bocah itu. Hanya air putih dalam kendi yang dipaksakan minum kepada dua anaknya.

Minumlah air ini anakku, tidak ada makanan sama sekali yang dapat ibu berikan buat kalian berdua. Tapi jangan lupa, ucapkan “Bismillah” dan bayangkan makanan yang enak-enak yang kalian inginkan. Semoga air kendi ini dapat mengusir rasa laparmu.

Betapa mengharukan, membuat hati teriris-iris mendengar kata-kata ibu itu. Dia berusaha menghibur kedua permata hatinya, bahwa nanti ketika ayah mereka sudah pulang kerja, tentu akan membawa uang untuk dapat dibelikan makanan. Dan ternyata, tak lama kemudian sang ayah datang, kedua bocah itupun menubruknya dengan rasa gembira. Tetapi wajah murunglah yang dipertunjukkan sang ayah. Isterinya pun heran, tidak biasanya bapak dua anak itu pulang secepat ini. Ternyata, sepeda motor sewaan yang dipakai mengojek ditahan polisi. Maka pecahlah tangisan keluarga miskin.

Wiroguno tiba-tiba muncul sebagai dewa penolong. Di sinilah pertarungan ketahanan moral keluarga miskin ini diuji. Mereka bersedia menerima uang pemberiannya, tapi tidak dianggap hutang. Mereka juga bersedia dibantu memperbaiki rumahnya, tapi tidak dengan kayu curian. Mereka juga mau diajak mendapatkan pekerjaan, tetapi bukan mencuri kayu.

Apalah artinya uang pemberian Wiroguno yang hanya sebesar Rp 6.000,- Dibelikan beraspun tidak cukup, belum lauk dan minyaknya. Tapi itu tetap saja uang, sesuatu yang langka berada di tangan mereka:

Sampek aku lali rupane duwik….

Saran dan Komentar

Ludruk dengan muatan kritik sosial adalah sebuah genre tersendiri, meski sesungguhnya memang seperti itulah hakekat ludruk sebagai seni pertunjukan rakyat. Jika grup ludruk Wahyu Budaya dengan sengaja memilih kecenderungan ludruk kritik sosial, maka dibutuhkan penyutradaraan yang rapi agar tidak nampak kedodoran. Juga dibutuhkan modal untuk memahami persoalan-persoalan sosial agar tidak asal kritik.

Persoalan illegal logging misalnya. Apakah betul penebangan kayu hutan berimplikasi dengan kelestarian alam, pemanasan global, bencana alam longsor dan banjir? Bukankah hutan yang dimaksud adalah hutan jati? Bukan hutan lindung? Hutan jati adalah hutan produksi, hutan yang sengaja ditanami pohon sebagai komoditas produksi. Cepat atau lambat, semua pepohonan itu akan ditebang juga, karena memang demikianlah yang menjadi tujuannya.

Jadi sebetulnya persoalan pencurian kayu hutan sebagaimana diceritakan dalam lakon ini semata-mata adalah persoalan “kriminal” dan tidak ada hubungannya dengan kelestarian alam dan semacamnya. Perdebatan yang mengemuka adalah bagaimana memaknai kriminalisasi ini secara sosiologis. Sebagaimana kata Wiroguno, “senjatanya penduduk hanya dengan kapak, tidak mungkin mampu menghabiskan hutan…..”

Maka perdebatan soal kontekstual hukum itu seharusnya menjadi menarik sebagai bahan dialog. Di sinilah pentingnya sutradara, sebagaimana ketika harus mengakhiri cerita ini. Digambarkan, sosok Wiroguno yang puluhan tahun jadi bandit itu tiba-tiba berubah total sikapnya hanya karena ditegur oleh komandan polisi. Demikian pula sosok polisi korup yang juga mendadak tobat ketika atasannya datang. Membuat ending yang pas inilah yang perlu dipikirkan, agar ujung pertunjukan tidak kedodoran.

Surabaya, 29 Mei 2011

Henri Nurcahyo
Pengamat Kesenian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: