Ludruk Rasa Ketoprak

Catatan Pementasan “ Asal Usul Reyog Ponorogo “ Ludruk Suro Menggolo, Ponorogo Taman Budaya Jawa Timur – 23 April 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Perbedaan mencolok antara ludruk dan ketropak adalah sajian ceritanya. Ketoprak biasa menampilkan cerita seputar keraton, para raja dan bangsawan dengan dialog bahasa Jawa Mataraman. Sedangkan ludruk lebih bernuansa kerakyatan dengan cerita seputar kehidupan sehari-hari, legenda atau cerita rakyat, dengan dialog yang egaliter. Lantas, bagaimana jadinya kalau ludruk menghadirkan cerita kerajaan dengan dialog cenderung Mataraman? Itu namanya Ludruk Rasa Ketoprak.

tulah yang terjadi dalam pementasan ludruk Suro Menggolo dari Ponorogo dalam pementasan periodik di Taman Budaya Jatim, 23 April 2011. Ludruk dari Ponorogo ini baru berdiri sekitar delapan tahun yang lalu. Pendiri dan sekaligus ketuanya adalah Juri, 57 tahun, yang mengaku sebagai mantan bandar dadu. Dia mengaku tergugah ketika banyak seniman yang kehilangan panggung. Sebagian besar dari mereka adalah pelaku ludruk dan seni tradisi yang kelimpungan akibat grupnya bubar. Maka bapak dua putra ini tergerak hatinya mendirikan ludruk bernama Suro Menggolo, terinspirasi dari kota kediamannya yang identik dengan reyog.

Maka seiring dengan perjalanan waktu, pemain terus bertambah, bukan hanya dari kotanya sendiri, namun berdatangan dari Madiun dan sekitarnya, bahkan sebagian juga dari Jombang, termasuk Supi’i, yang kali ini bertindak selaku sutradara. Apalagi, satu demi satu grup-grup ludruk yang semula punya nama besar ternyata juga gulung tikar, seperti ludruk Kopasgat dari Madiun. Sebagian pelakunya juga berlabuh dalam ludruk Suro Menggolo ini.

Ludruk Suro Menggolo adalah salah satu dari 5 (lima) grup ludruk yang tergolong sebagai Ludruk Tobong, alias bermain dalam Tobong, bukan Ludruk Teropan. Selain Ludruk Irama Budaya yang nobong di THR Surabaya, keempat grup ludruk tobong itu ada di seputaran Ponorogo dan Madiun. Ini yang menarik, sehingga keempatnya musti pandai-pandai memilih tempat untuk menetap sementara (nobong) dan bermain setiap hari selama beberapa bulan. Kompetisi ini tak jarang menimbulkan gesekan sehingga berbuah SMS kepada pihak keamanan yang mengakibatkan perijinan dipersulit.

Pengakuan Juri, selain nobong di depan rumah sendiri, kelompok ini biasa nobong di Madiun, Trenggalek, sampai ke Wonogiri Jawa Tengah. Dari tiket masuk seharga Rp 3000, dalam satu malam bisa didapatkan pemasukan sekitar Rp 600 ribu, kecuali Sabtu malam dapat mencapai Rp 1,5 juta sampai Rp 1,6 juta. Meski masih terbilang belum mencukupi, angka ini tergolong sangat bagus untuk sebuah ludruk tobong, yang berarti setiap malam ditonton 200 – 500 orang. Bandingkan dengan nasib mengenaskan ludruk tobong yang seringkali hanya ditonton beberapa gelintir penonton saja.

Satu hal lagi yang menarik adalah keberadaan pavestri alias waria sebagai pelaku ludruk. Semua grup ludruk dari Ponorogo dan Madiun banyak memiliki pavestri sebagai pemainnya. Suro Menggolo sendiri, dari 60 pemainnya, 32 diantaranya pavestri. Nampaknya ini menjadi kecenderungan kuat bagi ludruk di kawasan tersebut, yang sangat mungkin karena pengaruh tradisi gemblak dalam reyog. Para lelaki yang berprilaku kewanita-wanitaan itu merasa mendapatkan habitatnya dengan menjadi pemain ludruk.

Mungkin faktor ini pula yang menjadikan ludruk di Ponorogo dan Madiun selalu ramai penonton. Para pavestri yang kecantikannya tak kalah dengan wanita itu menjadi daya tarik utama menyedot penonton. Pertunjukan dikemas sedemikian rupa sehingga kehadiran pavestri yang lumayan banyak itu dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin tampil di panggung. Mereka tidak hanya berjajar sampai sepuluh orang dalam Bedayanan sebagai pembuka pertunjukan, namun tampil menghibur dalam sesi Manasuka.

Tak jarang sesi manasuka ini terasa berlarut-larut sehingga mengalahkan babak cerita utamanya. Ludruk menjadi tontonan hiburan yang mengandalkan para pavestri. Ada sebagian yang menyayangkan mencairnya ludruk ini, namun hal ini sesungguhnya merupakan siasat jitu yang dilakukan pengelola ludruk agar dapat bertahan di tengah kompetisi hiburan lainnya. Ini adalah upaya kreatif mereka sebagaimana yang menjadi penyebab menjamurnya tontonan Campursari selama ini. Apa yang dilakukan para grup ludruk dengan menonjolkan babak manasuka tak bisa disalahkan sepenuhnya. Justru di sinilah sebetulnya yang menjadi daya tarik utama bagi ludruk dari seputar Ponorogo. Persoalannya hanya terletak bagaimana mengemasnya menjadi pertunjukan yang tetap menarik, dengan tak menggeser terlalu jauh karakter ludruknya. Fenomena ini perlu dicermati lebih jauh.

Bagaimana jika kecende-rungan manasuka ini menjadi berlarut-larut? Jangan-jangan nanti malah akan menjadi Ludruk Campursari. Di satu sisi, siasat kreatif ini memang memunculkan fenomena baru dalam dunia ludruk dalam upaya menyiasati menarik penonton. Namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran karakter ludruknya semakin luntur. Sesungguhnya, mereka tak dapat disalahkan, karena itulah yang mampu mereka lakukan ketika pemerintah tidak memberikan perhatian yang mencukupi agar ludruk masih dapat tetap bertahan. Selama pemerintah tidak cukup upaya untuk melakukan pembinaan terhadap ludruk, jangan salahkan jika mereka mencari cara sendiri agar tetap bertahan. Sudah cukup banyak kelompok ludruk yang gulung tikar karena ditinggalkan penonton, maka wajar saja kalau muncul upaya agar dapat tetap bertahan.

Tidak terkecuali, Ludruk Suro Menggolo ini. Dengan jumlah penonton minimal 600 orang setiap malam, sudah sangat membanggakan sebagai pertunjukan rakyat yang menghibur. Padahal, dengan jumlah pelaku 60 orang, berapakah yang bisa didapatkan masing-masing pelakunya? Kalau dibuat merata saja masing-masing hanya mendapatkan Rp 10.000 setiap malam, kecuali Sabtu Malam dengan pengunjung mencapai 500 – 550 orang. Prakteknya, tentu tidak seperti itu, karena masih banyak beaya operasional yang harus dikeluarkan, termasuk “upeti” kepada aparat keamanan atas nama menjaga ketertiban. Belum lagi beaya untuk membangun tobong dan segala peralatannya.

Bandingkan dengan grup Ludruk Teropan yang mampu mematok harga sekitar Rp 6 juta semalam hanya untuk pelakunya saja. Angka ini sudah sepuluh kali lipat dari penghasilan semalam pertunjukan nobong. Persoalannya, siapa yang mau menanggap? Karena persoalan yang membelit ludruk selama ini bukan karena tidak ada penonton, melainkan tidak ada atau sedikitnya pihak yang mau dan mampu menanggap. Penonton pasti ramai, apalagi di daerah-daerah. Tapi jangan harap mendapatkan masukan yang lumayan dari karcis penonton. Harga tiket masuk di Ponorogo dan sekitarnya sejumlah Rp 3 ribu saja itu sudah terbilang bagus untuk sebuah pertunjukan ludruk. Jangan berharap bisa lebih dari angka itu.

Sesekali, ludruk Suro Menggolo ini memang menerima order teropan, dengan bandrol sekitar Rp 7 juta untuk pemainnya saja. Kalau mau lengkap sekitar Rp 10 juta. Seperti ketika diundang pentas di TBJT ini, maka kelompok ini libur sehari dari aktivitas nobong, untuk kemudian langsung balik dan nobong lagi. Pemasukan yang masih belum mencukupi untuk kebutuhan operasional ini setidaknya dapat disubsidi silang oleh Juri yang bertindak sebagai juragan. Dia juga menyewakan peralatan tatasuara, panggung dan peralatan pentas lainnya. Dari pemasukannya itulah kebutuhan operasional ludruk masih dapat disubsidi.

Satu hal yang menjadi keinginannya adalah, bagaimana bisa mendapatkan bantuan seperangkat gamelan dari bahan kuningan sehingga dapat menghasilkan musik iringan yang bagus. Bukan seperti yang terjadi selama ini, harus puas dengan iringan seperangkat gamelan terbuat dari perunggu.

“Kalau saya mendengar gamelan kuningan yang seperti ini hati saya semendhal,” tururnya menjelang pertunjukan dimulai.

Catatan Pengamatan

Dalam pementasan di Taman Budaya Jatim (23/4) Ludruk Suro Menggolo tak ubahnya ludruk pada umumnya yang setia pada pakem. Berangkat dari sesi Bedayanan, Remo, Kidungan dan Lawak, dipungkasi dengan cerita utama. Nyaris tak ada kreativitas sama sekali, bahkan lawakan yang tersaji masih jauh dari kelucuan. Kidungan yang semula menyindir petani, pedagang, seniman, yang dihubungkan dengan perilaku “lupa sholat”, giliran menyinggung pejabat cukup disebut sebagai gak isa turu nek wayahe pemilu.

Yang jelas, berangkat dari judul “Asal Usul Reyog Ponorogo” ternyata telah menjebak ludruk Suro Menggolo menjadi “ludruk rasa Ketoprak”. Cara menyajikan cerita ini tak ubahnya pementasan ketoprak, lengkap dengan tata busananya, bahkan kecenderungan dialognya. Andaikata mengabaikan remo dan kidungannya, pementasan kali ini tak ubahnya sebuah pergelaran ketoprak. Rasanya wagu sebuah grup ludruk mementaskan dengan cara seperti ini. Karena sesungguhnya ludruk adalah sebuah pertunjukan yang melekat dengan semangat dan karakter kerakyatan, berseberangan dengan budaya feodal dari keraton yang biasa dipertunjukkan oleh seni ketoprak.

Ceritanya sendiri sudah menjadi legenda di Ponorogo, perihal puteri Raja Kediri yang yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit. Namun sayang Dewi Sanggalangit nampaknya belum berhasrat untuk berumah tangga. Sehingga membuat pusing kedua orangtuanya. Sampai akhirnya, Sang Puteri mengajukan syarat, bahwa dia bersedia menikah asal calon suaminya mampu menghadirkan suatu tontonan yang menarik.
Tontonan atau keramaian yang belum ada sebelumnya. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan. Dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor sebagai iringan pengantin. Terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.

Tentu saja, banyak yang tidak berani menjawab tantangan tersebut, kecuali dua orang raja bernama Singabarong dari kerajaan Lodaya dan Raja Kelana Sewandana dari kerajaan Bandarangin. Kedua raja ini masing-masing memiliki sifat kurang terpuji. Raja Singabarong dikenal sebagai raja yang keji, memiliki banyak selir namun belum punya permaisuri, dan digambarkan memiliki kepala menyerupai harimau yang penuh dengan kutu. Itu sebabnya dia memelihara merak untuk memangsa kutu-kutu tersebut. Sedangkan raja Kelana Sewandana punya kebiasaan menyukai lelaki muda yang diperlakukannya sebagai gadis (gemblak).

Dalam pertarungan antar dua saudara seperguruan itu, tanpa sengaja penampilan Singabarong dengan seekor merak yang betengger di atas kepalanya justru menjadi syarat pelengkap bagi Kelana Sewandana untuk mendapatkan binatang berkepala dua. Berikutnya, Kelana Sewandana mengarak Singa Barong yang telah berubah menjadi binatang berkepala dua dengan iringan musik bambu dan kayu. Pertarungan dua raja dan pasukannya inilah yang menginspirasi lahirnya pertunjukan reyog Ponorogo.

Pilihan cerita ini memang berdasarkan “pesanan” pihak Taman Budaya Jatim agar menampilkan legenda atau cerita rakyat dari daerah setempat masing-masing. Karena Ponorogo identik dengan reyog, maka tidak salah jika kelompok ini kemudian mengangkat cerita mengenai asal-usul reyog Ponorogo, sebuah lakon yang sama sekali belum pernah dipentaskan sebelumnya. Hanya saja, nampaknya sutradara gagap untuk menggarap cerita ini menjadi pertunjukan yang sesuai dengan karakter ludruk. Sama sekali tidak terasa nuansa kerakyatan sebagaimana yang menjadi ciri khas pertunjukan ludruk.
Sutradara kentara sekali hanya menghadirkan cerita “sebagaimana adanya” sehingga tampil urut dan “sesuai dengan aslinya” tanpa perlu melakukan interpretasi kreatif agar menjadi tontonan yang menarik. Padahal, kreativitas itu dapat diawali dari bagaimana sudut pandang terhadap cerita ini. Tidak harus bahwa cerita seputar keraton juga disajikan dari kacamata keraton juga. Akan menjadi menarik kalau saja disajikan dari sudut pandang rakyat memandang keraton. Kecuali, kalau saja lakon ini dibawakan oleh Kartolo Cs, bakal menjadi pertunjukan yang penuh gelak tawa, karena setiap pemain memiliki peluang untuk mbanyol. Tapi Suro Menggolo tampil sebagai ludruk yang tertib, sehingga lakon berjalan linier tanpa greget sama sekali.

Padahal, dari sisi pilihan cerita itu saja tidak harus seperti di atas untuk menghadirkan asal usul reyog Ponorogo. Setidaknya ada 5 (lima) versi mengenai asal usul reyog ini. Selain versi di atas, ada versi lain, yaitu penggambaran tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reyog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bhre Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reyog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reyog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.

Populernya reyog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reyognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi lainnya, adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.

Begitulah, ludruk Suro Menggolo nampaknya belum menjelajah cukup luas untuk dapat menemukan versi yang lebih cocok dijadikan cerita ludruk. Cerita yang berjalan lempeng-lempeng saja menjadikan tontonan menjemukan. Biasanya, dalam berbagai pertunjukan ludruk, untuk menyiasati kejenuhan cerita yang linier ini dihadirkan sosok pelawak yang diposisikan sebagai pembantu atau figuran yang bertugas membuat pertunjukan menjadi segar. Celetukan-celetukan dan tingkah konyol pelawak itu sengaja dimaksudkan untuk memancing pengunjung tertawa sehingga cerita berjalan tidak menjemukan. Tetapi, tidak ada upaya ini dari ludruk Suro Menggolo. Sutradara kesulitan memposisikan peran pelawak yang mampu mengawal sepanjang pertunjukan agar masih ada ketawa penonton yang terdengar.

Satu-satunya selingan yang membuat penonton tertawa adalah ulah seorang pavestri yang berperan sebagai emban dalam lingkungan keraton. Hanya saja dia bertindak over acting, cenderung dilucu-lucukan dalam tingkah polahnya, dan bukan sengaja diposisikan menjadi lucu. Dalam konteks pertunjukan, pavestri yang satu ini sebetulnya malah mengganggu.

Nampaknya, potensi kuat dari sisi pavestri ini tidak dapat dikelola dengan baik. Mungkin karena secara kualitas, mereka juga bukan pemain yang baik. Mulai dari tari Remo misalnya, yang membawakan remo gaya putera, tidak menunjukkan kepiawaiannya menari. Remo tunggal ini gagal menjadi suguhan yang menarik, apalagi dengan kidungan yang pas-pasan. Ada banyak saat-saat berdiam diri seperti kehilangan inisiatif untuk akting di atas panggung.

Ketika mengawali pembukaan dengan Bedayanan, ada 10 (sepuluh) pavestri tampil berjajar. Cara kemunculannya ke atas panggung nampaknya sudah dikreasi sedemikian rupa sehingga terlihat menarik, setidaknya tidak itu-itu saja. Mereka membawakan beberapa lagu, dan pada lagu terakhir mereka sedikit berjoget. Kalau mau, mustinya sesi Bedayanan ini juga dapat diumaksimalkan sedemikian rupa sehingga potensi para pavestri yang sedemikian banyak ini dapat tersalurkan.

Upaya ini bukan belum dilakukan. Setidaknya ketika adegan Puteri Dewi Sanggalangit sedang bermuram durja, para emban menghiburnya dengan nyanyi dan tari. Sekali lagi patut disayangkan, adegan ini juga tidak digarap dengan koreografi yang menarik, sehingga blokingnya tidak tertata, sampai-sampai Sang Puteri harus berada di balik para pavestri tersebut. Tingkah konyol seorang pavestri menjadi selingan lucu-lucuan, juga tiba-tiba muncul seorang pelayan lelaki yang ikut menari, dan kemudian hilang begitu saja. Adegan ini saja mustinya dapat menjadi sajian yang menarik kalau digarap lebih serius lagi.

Bayangkan, dari sekitar 50 pemain yang tampil dalam pertunjukan ini, separuhnya adalah pavestri alias waria. Itulah sebabnya ketika ada adegan di singgasana keraton, para pavestri ditampilkan cukup banyak dengan peran sebagai emban. Sayang blokingnya kurang diperhitungkan dengan masak, sehingga seringkali terjadi pemandangan yang kurang enak di mata.

Catatan Saran

Nampaknya pihak Taman Budaya Jatim harus melakukan pendampingan terhadap grup-grup yang sudah ditunjuk mengisi pertunjukan periodik sepanjang tahun ini. Mereka tidak cukup hanya dibekali pesan untuk mengangkat cerita lokal begitu saja, tetapi harus ada supervisi bagaimana mengangkat dan mengemas cerita lokal itu agar mampu tampil menjadi pertunjukan yang menarik.

Bagi ludruk yang sudah rutin tampil sebagaimana Suro Menggolo ini, mungkin tidak terbiasa mengadakan latihan. Bagi mereka, yang namanya latihan yaa pentas tiap hari di tobong itu, Sutradara cukup membuat treatment dan para pelaku sudah dengan lancar menjalankannya di atas panggung. Tetapi manakala memang ada keinginan untuk dapat tampil dengan baik, maka sesi latihan ini merupakan kebutuhan mutlak.

Pada tahapan latihan inilah dapat dipantau secara langsung oleh pihak Taman Budaya, untuk berdiskusi bagaimana menjadikan tontonan yang berkualitas sekaligus menghibur. Dalam program pentas ludruk periodik di TBJT, baru berjalan 3 (tiga) kali pertunjukan, ditambah satu pertunjukan di Taman Krida Budaya (TKB) Jatim di Malang. Rasanya belum terlambat untuk memberlakukan adanya pemantauan terhadap persiapan grup ludruk yang akan tampil pada giliran periodik berikutnya.

Apa boleh buat, memang itulah yang harus dilakukan kalau tidak mau dikatakan, bahwa acara gelar periodik pertunjukan ludruk ini hanya sekadar menghabiskan anggaran belaka. Sajian pertunjukan grup Ludruk Suromenggolo ini adalah pelajaran mahal, dan sebaiknya hanya terjadi sekali ini saja untuk grup-grup ludruk yang bakal tampil sesudahnya. (*)

Sidoarjo, 25 April 2011

Pengamat

Henri Nurcahyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: