Soebiyantoro, Enco Gamelan Performance

Catatan Pengamatan Gelar Musik Periodik
Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu, 2 Juli 2011

Oleh Henri Nurcahyo

Pentas musik periodik di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) kali ini tergolong istimewa, karena kebetulan ada rombongan grup kesenian dari Kalimantan Timur. Tak pelak pementasan bertambah semarak karena sebelum pertunjukan diawali dengan sajian musik Campursari dari Kediri. Sementara yang menjadi sajian utama acara rutin ini adalah Soebiyantoro dengan grupnya yang bernama Enco Gamelan Performance dari Sidoarjo.

Kelompok musik campursari dari Kediri itu bernama Kosro Budaya, Kosro adalah sebuah akronim dari: Kompak, Serasi dan Romantis, yang berada di bawah pimpinan Suroso. Sajian berbagai langgam Jawa memang cocok disajikan sebagai pengantar sambil menunggu seremonial acara. Musik campursari ini tampil sebagai pembuka dan sekaligus menutup acara setelah acara utama usai. Pada sesi terakhir inilah yang tersedia bagi pengunjung untuk berinteraksi menyanyi di pentas atau sekadar ikut bergoyang secukupnya. Musik campursari memang sajian untuk menciptakan keakraban.

Sementara rombongan Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur menjadi bonus tersendiri bagi acara periodik ini. Agenda utamanya adalah mengisi acara pembukaan Olimpiade Seni Siswa Nasional (OS2N) di Grand City hari berikutnya. Mereka menampilkan beberapa tarian yang menceritakan kehidupan masyarakat Samarinda yang tinggal di sepanjang Sungai Mahakam (Tari Jepin Tepian Mahakam), juga Tari Ngajiak Alas yang berasal dari suku Dayak Kenyah, mengisahkan sekelompok pemuda yang berladang di hutan lantaran lahan tempat asalnya sudah tidak produktif.

Sajian yang cukup menegangkan adalah Tari Parang Maya, berasal dari suku Dayak Kenyah dan Dayak Tunjung. Ini soal cinta segitiga, dimana pemuda yang tersisihkan menggunakan ilmu hitam. Namun korban yang jatuh sakit dapat terselamatkan nyawanya berkat bantuan dukun Belian. Penampilan rombongan Kaltim ini diakhiri dengan alunan lagu dari seorang penyanyi.

Maka tibalah Soebiyantoro tampil sebagai pengisi acara utama. Komposer musik tradisi yang berulangkali meraih penghargaan itu tampil dengan dukungan isterinya (Sri Mulyani) sebagai salah seorang penyanyi, seperangkat instrument pentatonic dan diatonic, serta dua pembawa acara yang berbusana pedesaan Jawa. Peranan pembawa acara ini cukup meredakan emosi penonton dengan celotehan yang menghibur.

Begitu tampil, Enco Gamelan Performance Art langsung membawakan lagu yang pernah dijadikan iringan seni pertunjukan berjudul “Panji Klaras Keboan Sikep”. Musik yang dinamis, nuansa tradisi yang kuat, dan menguarkan semangat heroik. Sajian ini pernah meraih predikat terbaik nasional dalam Festival Seni Pertunjukan” di Jakarta untuk semua katagori, termasuk musiknya. Inspirasinya berangkat dari perjuangan Kyai Hasan Mukmin, pimpinan pesantren dari desa Keboan Sikep, Gedangan, yang gugur bersama murid-muridnya melawan penjajah Belanda.

Usai lagu pertama, seluruh pendukung pertunjukan langsung turun ke trap panggung, meninggalkan semua instrumennya, dan duduk lesehan. Inilah nomor sajian dengan judul “Rerasanan”, sebuah pertunjukan yang hanya mengandalkan suara mulut sendiri. Dalam nomor ini bukan hanya lagu yang dinyanyikan secara akapela, melainkan cetetukan dan obrolan ringan antar pendukung berselang-seling dalam pengaturan yang ritmis. Di sinilah Soebiyantoro membuktikan, bahwa Rerasanan alias Ngerumpi itu sendiri bisa dikemas menjadi sajian pertunjukan (musik) yang menarik. Senggolan kritik sosial kesana kemari memang menjadi ciri Soebiyantoro. Maklum, Ki Toro (julukannya) adalah juga seorang dalang.

Dalam nomor berjudul “Matahari” semakin menunjukkan kepiawaian komposer asal Sidoarjo ini. Sebagaimana semua nomor sajiannya, Ki Toro mampu memainkan ritme dengan gelombang sinusoida, bukan asal bergemuruh yang menyiksa telinga. Kadang terdengar lembut, ngelangut, mendayu-dayu, namun saat yang tepat menggelombanglah suara-suara yang gegap gempita bagaikan barisan tentara maju ke medan laga. Dia tahu persis, kapan saatnya sebuah instrument harus dominan mengedepan, kapan harus tampil bersama yang saling mengisi. Tak heran, sebuah bass elektrik pun tidak hanya menjadi sekadar pelengkap.

Dan yang menarik, Toro tidak ingin terjebak dalam stereotip pemusik Jawa tradisi. Dia juga menjelajah etnik Madura dalam sajian berikutnya, sampai akhirnya menutup pertunjukan dengan dengan nomor sajian berjudul “Beban”.

Satu-satunya kekurangan dalam Gelar Musik Periodik ini adalah pemasangan backdrop yang buruk. Sudah bukan zamannya lagi memasang backdrop sebuah pertunjukan kesenian yang terikat dalam kaidah skenografi. Atas nama pembuatan foto laporan kegiatan, mustinya backdrop dapat ditempatkan yang tidak menganggu pemandangan. Apalagi bahan backdropnya glossy sehingga langsung memantul begitu kena sorot cahaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: